
Maya sangat sibuk didapur membuat kue muffin untuk suaminya. Dia sangat gembira membuatnya. Walaupun pernikahan mereka tidak dilandasi oleh cinta, tapi setidaknya key selalu menjaganya dan tidak pernah berbuat kasar padanya.
Selalu memperlakukan dengan baik layaknya istri yang dia cintai. Maya pun belum tahu tentang perasaanya sendiri pada suaminya, apakah cinta itu sudah tumbuh untuk suaminya atau hanya sekedar kenyamanan belaka.
"Tada... jadi deh" ucap Maya pada dirinya.
Dari arah belakang ada bik nur yang berjalan kearah Maya.
"Kue muffinnya sudah jadi nyonya?"
"Sudah bik, bibik mau coba?" Maya menawarkan kue buatannya untuk dicoba oleh bik nur.
"Enggak usah nyonya"
"Cobalah bik" Maya memohon.
"Baiklah. bibik akan mencobanya" Maya sangat senang dan memberikan kue itu.
Bik nur mengambilnya dan memakannya. Maya menunggu dengan harap-harap cemas. Dia sangat penasaran dengan rasa kue buatannya.
"Bagaimana bik, enak gak?"
"Emmm... Ini sangat enak nyonya"
"Benarkah, bibik gak bohong kan?" Maya tidak percaya ucapan bik nur.
"Benar nyonya,saya gak bohong. Nyonya coba kalau tidak percaya ucapan bibik"
Maya mengambil dan mencobanya, matanya terbelalak.
"Woahh... ini benar-benar sangat enak bik"
"Benarkan nyonya saya gak bohong?"
"Kau benar bik. Ini sangat enak, artinya aku berhasil yeeyii...." Maya bersorak bahagia.
"Pasti tuan akan mengahabiskannya"
"Semoga bik"
"Bibik ambillah sedikit buat bibik makan" lanjut Maya.
"Gak..." Belum selesai bik nur berucap Maya langsung memotongnya.
"Perintah bik"
Akhirnya bibik mengambilnya sedikit. setelah di ambil oleh bik nur. Maya menyimpannya di toples agar aman dan tidak digigit semut nantinya.
***
Key yang sangat sibuk berada di kantor. Matanya yang selau fokus pada leptopnya.
Tok tok tok
"Masuk" sahut key.
"Ini laporan tentang perkembangan hotel MUA tuan" Ucap sekertaris Kia. KIA adalah pengganti Maya sebagai sekertaris.
"Letakkan disitu" Ucap key tanpa menoleh sama sekali.
Sekertaris KIA masih berdiri didepan key, dia memperhatikan key dengan sangat intens. Tampan itu yang digambarkan tatapan kia saat ini. Warna kulitnya yang tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam membuat dia terlihat sangat macho.
Key yang menyadari KIA masih berdiri didepannya langsung menatapnya tajam.
"Kenapa kau tidak keluar"
"Emm.. saya menunggu perintah anda pak" KIA tersenyum penuh. Dia berharap key dapat meliriknya.
"Tidak ada. Kau silahkan keluar" Perintah key
"Baik pak" Key menggeleng dengan tingkah kia. Dia selalu mantapnya seperti itu. Key masih menghiraukannya, karena kita belum melakukan tindakan yang lebih.
KIA melangkah keluar dan tersenyum licik
"Kau akan jatuh dalam pelukanku tuan keylbert" ucap KIA dalam hatinya.
Jam mulai berputar dan kini menunjukkan jam 5 sore. waktunya para karyawan KPS pulang kerumah mereka. Masih ada juga yang tinggal disana, karena masih ada pekerjaan mereka yang belum selesai.
Key yang sudah menyelesaikan semua pekerjaannya bersiap-siap untuk pulang. Ia mengenakan jasnya kembali yang dia simpan di sandaran kursi kerja miliknya.
Dia melangkah keluar dengan gagahnya. Melewati Kia yang bersiap-siap untuk pulang juga. Kia yang melihat atasannya pulang mensejajarkan langkahnya dengan key.
"Pak key sudah ingin pulang" Tanya KIA basa-basi.
__ADS_1
"Hmm" key hanya berdehem sebagai jawaban bahkan key tidak menoleh sama sekali.
"Beloh saya nebeng pak?" Tanya KIA saat mereka sudah memasuki lift.
"Tidak" Jawab key singkat. bersamaan dengan itu suara lift berhenti.
Ting
Lift terbuka dan key langsung melangkah keluar. Kia yang mendengar jawaban key sangat kesal.
"Ihh... Cuek sekali dia" KIA menghentikan kakinya dengan kesal.
"Lihat saja kau akan jatuh kedalam pelukanku. Sejatuh-jatuhnya, hahahhah" KIA tertawa sangat yakin.
****
Mobil milik key memasuki halaman manssion. Dia turun dengan tas yang dia di tangan kanannya.
"Assalamualaikum" Ucap key.
"Kau sudah pulang?" Tanya Maya antusias.
"Iyah" Key memberikan tangannya pada maya untuk disalim.
Mereka melangkah kekamar mereka.
"Mau aku siapakan air?"
"Gak usah. aku oke shower aja"
"Yaudah, aku siapin baju aja yah?" Key mengangguk.
Maya menyiapkan pakaian key dan menaruhnya diatas kasur. Key keluar dari kamar mandi, Maya yang masih berada disana terpana. Tidak bosan-bosan ia menatap tubuh suaminya yang terlihat sangat sexsi.
Key yang melihat Maya diam mantapnya tersenyum. Dia melangkah dan merai pinggang Maya. Maya menatapnya dengan intens.
"Kenapa?, ingin memegangnya?"
"ti...dak..." ucap Maya monolak tetapi hatinya berkata ingin menyentuhnya.
"Benarkah" Key tersenyum menggoda.
"Yahhh..."
Key memegang tangan Maya dan menuntunya untuk menyentuh perutnya. Key tersenyum saat melihat wajah Maya memerah akibat malu.
Maya melepaskan rengkuhan key pada pinggangnya dan ingin berjalan keluar. Tapi sebelum itu terjadi, key kembali menarik tangannya.
"Mau kemana?"
"Ekhh..kebawa" Maya memekik.
"Udah ih lepas" Maya ingin cekalan key.
Cup..
Bibir itu kembali menempel menyatukan sesuatu rasa yang tidak bisa mereka ungkapkan.
Key me***atnya dengan dalam. Menahan tengik Maya agar ciuman lebih terasa.
Ehmmm..
Maya inggin melepasnya, dia kehabisan nafas.
"Hah.. Gorge.." Ucap Maya kesal.
"Apa..hmm?"
"Jangan mencium ku terlalu lama"
"Memang kenapa?" Tanya key yang masih tersenyum setiap menjawab perkataan istrinya.
"Iss.. aku kehabisan nafas. Nanti aku mati gimana?"
"Ehh..tu mulut" key memukul mulut Maya pelan.
"Auu..kok dipukul" Maya memegang bibirnya.
"Makanya itu mulut jangan sembarangan bicara"
"Kamu sihh. nyebelin...." Maya langsung berlari keluar kamar dengan terburu-buru. Dia takut key akan menangkapnya.
key yang melihat Maya bertingkah seperti itu. geleng-geleng kepala. Dia tersenyum melihat Maya.
__ADS_1
Key mengenakan pakaiannya yang disiapkan Maya tadi. Dia turun kebawah untuk menemui Maya.
Key duduk disebelah maha yang sedang menonton film kartun. key heran melihatnya, biasanya perempuan seumuran Maya akan nonton sinetron, tapi ini berbeda.
"Kenapa nonton kartun? gak nonton sinetron?"
"Aku lebih suka kartun, itu lucu. Kalau sinetron Maya malas. terlalu banyak drama" Key manggut-manggut mendengarnya. Dia juga ikut memperhatikan kartun yang dinonton istrinya.
Saat sedang asik nonton, Maya mengingat kue muffin yang dia buat tadi siang.
"Mau kemana?" Tanya key saat melihat Maya berdiri dari duduknya.
"Aku mau ambil sesuatu" Maya berlari kearah dapur dan membawa kue itu kehadapan key.
"Tara..." Maya menunjukkan kuenya didepan key.
"Kue?"
"Iyah.. aku buat tadi siang buat gorge" Ucap Maya tersenyum.
"untuk ku?" Maya mengangguk.
" Cobalah" Maya memberj key 1 buah muffin.
Key menerimanya dan mencobanya. Maya memperhatikan raut wajah key saat memakan kue buatannya. Tapi wajah itu tidak berubah sama sekali, tetap datar. Maya masih menunggu tanggapan key, tapi sudah 5 menit dia menunggu dan key sudah menghabiskan 3 kue muffin, tapi belum ada tanggapan sama sekali.
Maya mulai kesal melihatnya.
"Ihh.. GORGe.." Maya berteriak memanggil key.
Key sampai menjatuhkan kue muffin ditangannya akibat teriakan Maya. Bagas dan Tama yang baru saja tiba juga kaget mendengar teriakan dari dalam. mereka bergegas berlari untuk mengetahui teriakan itu.
"Astaga.. MAya" Key juga mengeraskan suaranya, tapi diakhir kata nama Maya dia memelankan suaranya.
" kenapa?"
"Kamu nyebelin.."
"Apa lagi ?" Key tak habis pikir dengan Maya yang selalu mengatakannya nyebelin.
"Aku nungguin pendapat kamu dari tadi" Maya menyahut masih kesal.
"Pendapat tentang apa?" key masih belum mengerti.
"Ihh... kue muffinnya. Enak apa enggak?"
"Aku udah nunggu 5 menit tapi kamu belum beri pendapat" Maya mengeluarkan unek-uneknya.
Key yang mendengar itu menganga, da tidak percaya hanya karena pendapat kue muffin, dia berteriak sampai segitunya.
"Mana aku tahu jika kau butuh pendapatku"
"Ihh..sebel" Maya menghentakkan kakinya dan menyandarkan punggungnya dengan keras.
"Kuenya enak"
Kali ini Maya yang menganga mendengar jawaban key. Key yang ingin memasukkan kue muffin kembali kemulutnya, heran melihat Maya yang menganga melihatnya.
"Kenapa? kok mulunya mangap gitu?"
"Jawabnya hanya itu?"
"Apa?" Key Bingung dengan pertanyaan Maya.
"Tentang kuenya?"
"Ohh.. iyah. Emang mau kayak gimana?"
Maya menaikkan bibinya kesamping. Jawaban key diluar ekspektasinya. Maya mengira key akan antusias menjawabnya.
"Kasian sekali diriku. Ekspektasiku terlalu tinggi" Maya sampai menggeleng mengingatnya.
Key melihat Maya yang terdiam menatapnya dan menggeleng, semakin bingung.
"Kamu kenapa sih?"
"SEBEL...." Maya langsung berdiri dan berlari kekamarnya dengan kesal.
Key yang melihat itu tambah bingung lagi. "Apa lagi salahku?.oh astaga..."
key benar-benar pusing dibuat oleh istrinya. Dia bergegas mengejar Maya kekamar mereka.
Sedangkan Bagas dan Tama yang sejak tadi berdiri dibelakang mereka menyaksikan perdebatan mereka, saling pandang.
__ADS_1
"Orang kalau udah nikah aneh yah?" Tanya Bagas pada Tama.
"ho oh" Tama membenarkan perkataan Bagas.