
" Tuan Bagas, anda ada di sini juga ?" Pria yang duduk bersama Maya tadi ternyata mengenal Bagas.
" Tuan Albert, maaf saya tidak melihat anda " Bagas berbalik dan berjabat tangan dengan Albert.
Ternyata pria itu bernama Albert Einstein. Dia adalah salah satu teman kolega bisnis Key yang otomatis Bagas juga mengenalnya, karena dia adalah sekertaris Key yang selalu bersama.
Bagas manggut-manggut. " May, pergilah sama bibik dan Bu Farah!" Perintah Bagas.
" Iya, kak " Maya berdiri dan berjalan dengan membawa piringnya menghampiri kedua wanita itu.
" Apa dia adik anda? " Tanya Albert.
" Kenapa anda bertanya seperti itu?"
" Karena saya mendengar dia memanggil anda kakak"
" Dia memang adik saya" Bagas sudah menganggap Maya sebagai adiknya. Apalagi Maya sudah menikah dengan sahabatnya dan menjadi bagian keluarga mereka juga.
****
Hari-hari kembali berganti. Maya kembali membantu Bagas di perusahaan. Setelah pernikahan Jihan dan Tama waktu itu, hingga kini mereka masih suasana pengantin baru. Sehingga Tama belum terjun membantu anggotanya untuk mencari keberadaan Key.
Hingga detik ini, belum ada tanda-tanda key di temukan. Sudah 3 Minggu key belum juga kembali. Maya tidak mempermasalahkan Tama yang lebih memprioritaskan Jihan, karena ia tahu bagaimana rasanya jauh dari suami sendiri dalam keadaan hamil. Apalagi Jihan sudah memasuki 5 bulan. Perutnya sudah sangat terlihat jelas. Waktu pernikahannya saja, Jihan sudah mulai kesulitan berjalan.
Maya bahkan selalu menanti berita dari para anggota, tapi sampai kini belum ada sama sekali. Maya juga tidak tahu, apakah key sudah siuman atau belum.
Bohong, kalau dirinya tidak merindukan sang sumami. Setiap malam, setiap menit, bahkan setiap detak ia selalu menunggu kedatangan Key.
Setiap bangun di pagi hari, Maya berharap ada Key di sampingnya dan memeluknya, tapi semua itu hanya hayalannya saja.
Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu mengalihkan pikiran Maya yang sedang fokus di depan leptopnya.
" Masuklah, kak" Maya mempersilahkan. Ia sedikit bingung. Biasanya setelah mengetuk pintu, Bagas langsung masuk tanpa menunggu perintahnya, tapi ini berbeda.
" Apa pekerjaanmu belum selesai?" Tanya Bagas saat ia sudah berada di dalam ruangan Key.
__ADS_1
" Sedikit lagi, kak. Memang kenapa ?"
" Ada tuan Albert yang ingin membicarakan tentang produk baru yang akan kita luncurkan besok. Dan kebetulan berkasnya pernah aku berikan padamu" Bagas menoleh ke arah pintu, di mana Albert baru saja masuk.
Maya ikut menoleh.
" Kita bertemu lagi nona Maya" Albert ingin berjabat tangan, tapi Maya tidak menerima uluran tangan itu. Ia hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
" Maaf, tuan Albert " Maya sedikit tidak enak hati, tapi ia tidak mungkin bersentuhan dengan Albert.
" Ahh.. tidak pa-pa, saya mengerti" Albert tidak seagama dengan Maya, tapi walaupun begitu ia tahu sedikit tentang hal itu.
" Silahkan duduk tuan" Maya mempersilahkan Albert untuk duduk di sofa yang khusus untuk menerima tamu. Sudah ada Bagas juga di sana.
" Saya ambil berkasnya dulu"
" Biar aku saja yang ambil, kamu duduklah" Bagas menahan Maya untuk tidak mengambil berkas itu, ia hanya tidak ingin Maya kelelehan.
Setelah mendapatkan berkas itu, Bagas kembali bergabung.
" Satahu saya ini adalah ruangan tuan Key, tapi di mana dia? Kenapa nona Maya yang menempati ruangan ini?" Albert melihat ke arah nama yang tertulis di atas meja.
" Apa anda tidak pernah mendengar berita tentang tuan key beberapa bulan yang lalu?" Tanya Bagas pada Albert.
" Saya hanya mendengar beritanya yang semakin sukses di dunia bisnis"
" Tidak pernah mendengar berita tentang pernikahan tuan Key?"
" Saya pernah mendengar hal itu, tapi saya sedikit ragu tentang kebenaran berita tersebut"
" Ahh..tapi berita itu benar tuan Albert. Dan istri tuan key adalah Maya" Bagas melirik Maya sekilas, lalu kembali melihat ke arah Albert.
" Ohh.. really, saya benar-benar tidak menyangka tuan key ternyata sudah menikah" Albert melirik Maya yang menunduk.
" Maaf pertanyaan saya sedikit pribadi. Apa perut anda membuncit, karena sedang hamil?" tanya Albert pada Maya.
" Iya " jawab Maya singkat, hanya itu yang bisa ia katakan. Pikirannya tiba-tiba kembali memikirkan keberadaan key saat ini.
__ADS_1
Bagas yang melihat raut wajah Maya yang sudah berubah, mengalihkan pembicaraan Albert.
" Bagaimana kalau kita mulai membahas tentang produk kita yang akan meluncur besok?"
" Tentu, tuan" fokus Albert kini beralih ke arah Bagas, begitupun dengan Maya yang tidak lagi menunduk dan menoleh kearah Bagas.
......................
Sedangkan di lain tempat, tampak beberapa orang tengah berada di satu ruangan. Ada 3 pria di dalam ruangan itu dan 1 wanita. Umur mereka tidak beda jauh, tapi satu di antara mereka terlihat masih muda, tapi bukan remaja.
Di sebuah rumah yang tidak terbilang mewah dan tidak juga terbilang sederhana. Rumah yang hanya berlantai dua dengan cat berwarna putih bersih dengan gaya rumah Jepang. Terbaring seorang pria yang di kelilingi oleh keluarganya.
Pria itu sudah berbaring berhari-hari dan tidak pernah membuka matanya sama sekali. Para keluarganya sangat menghawatirkannya yang tak kunjung bangun.
" Pah, kenapa putra kita tidak bangun juga ? Bahkan tidak ada perkembangan sama sekali darinya" wanita itu menyandarkan tubuhnya di tubuh suaminya. Suami pria itu merangkul bahu istrinya seraya menatap putra mereka yang masih berbaring dia tas kasur dengan peralatan medis yang masih lengkap.
Suara monitor pendeteksi detak jantung masih terdengar kerasa di ruangan itu. Dokter yang menangani putranya masih berdiri tidak jauh dari mereka. Yang dimana dokter yang menangani putranya adalah adik dari suami wanita itu. Masih ada satu dokter yang menangani putranya, tapi dia tidak ada di dalam ruangan itu.
" Papah juga tidak tahu, Mah. Kita seringkali mengajaknya berbicara, tapi semuanya sama saja" pria itu juga pasrah dengan kondisi putranya.
" Seharusnya kita menemuinya dari dulu, bukan hanya bersembunyi di sini dan menganggap kita sudah mati" wanita itu menatap putranya nanar.
" Kita bukan bersembunyi Mah, tapi kita menghindari hal itu terulang kembali " pria itu membalik tubuh istrinya agar menatapnya.
" Tapi itu tetap terulang kembali pah. Bukan kita yang mengalaminya, tapi putranya kita satu-satuny" wanita itu menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Rasa sesak di dadanya melihat kondisi putranya yang sangat memprihatikan. "Semuanya sama saja, yang terkena adalah darah daging kita. Aku merasa bukan Mamah yang baik untuknya" tambah wanita itu, kemuadian ia berbalik menatap putranya.
" Papah tahu Mamah sangat sedih, tapi jangan pernah menyalahkan dirimu. Ini bukan salahmu, Mah. Adik selama ini selalu memantau keadaannya, putra kita menjadi pria yang hebat dan kuat"
" Tapi kalain jahat memisahkannya dari keluarga kecilnya" wanita itu menatap suami dan adik iparnya secara bergantian. Airnya matanya sudah tidak terbendung lagi, sehingga meluncur bebas dari pelupuk matanya.
.
.
LANJUT
Maaf yah, belakangan ini author jarang up. Kali ini author akan up setiap hari lagi seperti sejak awal, tapi kalian juga harus memberikan dukungan yang banyak yah ? agar author semakin semangat.
__ADS_1
Terimakasih juga pada kalian, karena selalu setia membaca karya author dan memberikam semangat.