
Saat ini Bu Sri dan Maya tinggal berdua dimarkas. Markas ini berbeda dari markas lainnya. Mereka tidak pernah melihat para anggota yang sangat banyak disana. Mereka hanya melihat para anggota yang berjaga didepan pintu gerbang.
Para anggota lain berada diruangan khusus dari markas itu. Tempat Bu Sri dan Maya berbeda dengan para anggota. Jadi Bu Sri dan Maya hanya beranggapan, kalau tempat yang mereka tinggali saat ini adalah sebuah rumah.
Maya diperiksa oleh dochtuir saat ini.
"Semuanya mulai membaik nona" Kata dochtuir itu.
"Cairan infusnya bisa dilepas yah nona" Ucap benaltra. Banaltra melepas cairan infus milik Maya.
"Terimakasih altra, doc" Maya mengucapkan terimakasih kepada banaltra dan dochtuir.
"Bagaimana dengan luka dibahunya. Apakah sudah mulai kering?" Tanya Bu Sri yang sejak tadi ada dusampaing Maya saat pemeriksaan.
"Sudah mulai mulai kering nyonya"
"Alhamdulillah" kata Bu Sri
"Jangan panggil saya nyonya panggil saja Bu Sri" Bu Sri tidak ingin dipanggil nyonya, karena menurutnya dia hanya tamu yang datang disini.
"Ahh..baik Bu sri" kata dochtuir.
"Bagaimana dengan kakiku?"Tanya Maya.
"kaki anda juga sudah mulai membaik. Tinggal dilatih kembali untuk berjalan" ucap dochtuir.
"Nanti saya akan membawakan anda sebuah tongkat untuk membantu anda berjalan nantinya" Lanjut dochtuir.
"Benarkah.. Terimakasih" Ucap Maya dengan tersenyum. Ia sangat bahagia mendengar berita jika ia dapat menggunakan tongkat. Dia juga tidak akan menyusahkan orang lain nantinya.
"Sama-sama nona" Dochtuir membalas senyuman Maya.
"Kalau begitu kami keluar dulu Bu, nona" ucap dochtuir kembali.
"Baiklah" Banaltra dan dochtuir keluar dari kamar.
"Istirahatlah may" Bu Sri menyuruh Maya untuk istirahat kembali.
"Maya capek tidur terus Bu..." ucap Maya dengan lesu.
Dia memperhatikan kakinya yang masih dibungkus perban. Akhirnya dia bisa berjalan tanpa meminta bantuan orang lain.Walau hanya menggunakan tongkat.
"Ya sudah kalau begitu"
"Mau makan seseutu?" tanya Bu Sri.
"Enggak Bu.." Maya masih duduk diatas kasur.
"Apa ibu tidak apa-apa tinggal disini. Ninggalin paman suhon disana?" Tanya Maya.
"Enggak apa-apa. Ibu hanya 3 Hari disini" Bu Sri duduk disamping Maya dan memegang tangannya.
"Hah..jadi ibu besok udah pulang?" Maya kaget mendengar perkataan Bu Sri.
"Iya. ibu besok udah pulang" Bu Sri tersenyum sambil mengusap-usap tangan Maya.
"Maya ikut ibu pulang yah?"
"Kenapa?, Disinikan ada suami kamu"
Mendengar kata suami Maya menjadi diam. Dia sudah berstatus menjadi seorang istri saat ia bangun. Ia juga masih merasa sangat asing dengan key dan ia masih bertanya-tanya dalam dirinya apa alasan key menikahinya, apakah karena dia mencintainya atau ada hal lain.
Bu Sri yang melihat Maya hanya terdiam hanya tersenyum. Dia tahu jika Maya saat ini sangat gundah.
"May..." Panggil Bu Sri.
Maya tersadar dari lamunannya
"Akhh..Iyah Bu.."
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan?"
"Bagaimana bisa aku menikah dengan pak key?
"Karena dia ingin menjagamu dan merawarmu dengan baik"
"Hanya kerena itu. maksudku.." Maya bingung bagaimana mengatakannya.
"Mencintaimu?" Bu Sri langsung menebak pikiran Maya.
"Itu...anu.."
"Dia tidak akan menikahimu jika tidak ada rasa cinta dalam dirinya walau hanya sedikit. Itu tugasmu bagaimana caranya agar suami mu jatuh hati sangat dalam padamu dan buat dirimu menyimpan namanya disini" Bu Sri menunjuk dada Maya seperti yang dia lakukan sebelumnya pada key.
Maya mencerna semuanya. Apakah ini pilihan yang benar menjalani pernikahan dengan seseorang yang hanya dia kenal diperusahaan dan tiba-tiba menjadi suaminya saat dia sadar dari koma.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Itu tidak baik buat kesepakatanmu. Semua pasti baik-baik saja. Kau harus menjadi istri yang baik buat suamimu"
"Iyah Bu..Maya mengerti"
"Itu bagus. Kalau begitu ibu keluar dulu" Maya menggangguk dan mengikuti langkah Bu Sri dengan ekor matanya
Maya berbaring dikasur dan akhirnya dia tertidur.
***
"Bu..Mana maya?" Tanya key yang hanya melihat Bu Sri sendiri duduk disofa
Key baru pulang dari perusahaan dan langsung mencari Maya. Dia ingin membicarakan hal yang tadi pada Maya.
Key melangkah kekamar miliknya dan mendapati Maya sedang tertidur.
"Maya" Panggil key pelan saat ia ada didekat maya.Tapi saat dia memanggilnya Maya tidak mendengarnya.
Key yang melihat itu akhirnya membiarkan dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah memakai pakaian dia mendekat kearah ranjang dan berinisiatif untuk istirahat.
Setelah lelah memerhatikan wajah maya, key dengan barani memeluk Maya. Memasukkannya kedalam pelukannya.
"Sangat nyaman" Itu yang dirasakan key saat memeluk Maya. rasa lelah seharian bekerja rasanya hilang seketika. Entah datang darimana keberaniannya memeluk Maya.
Mereka akhirnya tertidur bersama diatas kasur yang sama sebagai sepasang suami istri yang sah.
***
Sedangkan ditempat berbeda seorang gadis sedang bersiap-siap berangkat bekerja.
"Ibu." panggil Jihan.
"Iya nak"
"Jihan pergi kerja dulu yah"
"Baiklah hati-hati"
ibu Jihan mengantar Jihan sampai didepan pintu.
"Maafin Jihan Bu.." kata Jihan dalam hati.
"Jihan enggak kasi tahu ibu kalau Jihan kerja dibar" Jihan menatap nanar pintu yang ditutup oleh ibunya. Ibunya hanya tahu Jihan kerja ditoko dipagi hari. Jihan hanya pergi lebar disaat waktu tertentu saja. Seperti jika ada teman yang memanggilnya.
Jihan sudah tiba di bar, ia melangkah masuk kedalam. Jihan bukan menjual dirinya dibar itu. Dia hanya bertugas melayani jika ada yang memesan minuman. Lebih tepatnya Jihan bertugas mengantarkan minuman saja.
☘️
"Mau kemana lo" tanya Bagas pada Tama saat ia melihat Tama yang memakai baju sangat rapi. Padahal mereka baru saja pulang dari kantor.
"Bar" Sahut Tama singkat.
Bagas akhirnya mengabaikan saja. Tama memang memiliki bar yang sangat terkenal dikota. Dia selalu pergi kesana walau hanya sekedar mengecek perkembangan bar miliknya.
__ADS_1
Tama juga sering celap-celup miliknya diberbagai lubang, tapi dia hanya bermain dengan wanita yang datang dengan sendirinya kepadanya.
Tama masuk kedalam bar
"Sore menjelang malam bos" sapa bartender itu.
Tama hanya mengangguk mendengar sapaan itu. "Bawakan saya wine satu." perintah Tama
"Baik bos"
Tama duduk ditempat yang selalu dia tempati jika ia datang ke bar.
"Ini winenya bos"
Tama langsung meminum wine dari botolnya tanpa menggunakan gelas. Saat sedang bersantai ada seorang wanita datang dan langsung duduk disampingnya. Wanita itu berpakaian sangat seksi. Belahan dada sangat terlihat bahkan seperti ingin jatuh. Roknya yang hanya menutupi separuh bok*ngnya saja.
"Apa anda butuh ditemani tuan" Goda wanita itu. Dia mengusap dada Tama dengan sangat menggoda.
Tama yang melihat itu sangat kesal. Dia kali ini tidak berselera untuk bermain.
"Beraninya KAU..Jangan menyentuhku"
"Kau pasti akan puas jika bermain sebentar bersamaku" Goda wanita itu kembali.
"LEPAS" Tama melepasakan tangannya dari genggaman wanita itu.
Wanita itu merasa ditolak tetap berusaha menggoda Tama. Baginya Tama sangat tampan dia yakin jika pria didepannya itu sangat perkasa.
Wanita itu mengeluarkan obat perangsa dan memasukkan kedalam minuman Tama secara sembunyi-sembunyi.
Tama meminum wine itu sekali teguk
"Siall.." Ia merasa sangat panas sangat ini.
Dia menoleh kearah wanita disampingnya. Tama tahu jika wanita itu lah yang memasukkan obat itu kedalam minumannya.
"BERANINYA KAU" Tama berteriak sangat marah kepada wanita itu.
"Aku akan membantumu tuan" wanita itu tetap gigih untuk merayu Tama.
"Jon." panggil Tama pada bawahannya yang ada disana.
"Iya bos"
"Bawa gadis ini menjauh dari ku"
"Baik bos" Jon membawa wanita itu pergi dari sana.
Tama berjalan dengan hawa yang sangat panas dalam dirinya dibargegas keruangannya yang ada disana.
Brukkkk..
Tama menabrak seseorang saat dia sudah hampir sampai didepan pintu ruangannya.
"Kau tidak apa-apa tuan"
Tama melihat siapa yang menolongnya.Tapi rasa panas membuatnya tidak tahan.
Akhhh..
Tama menariknya dan membawanya masuk kedalam ruangannya.
.
.
.
Lanjut
__ADS_1