Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Belum ada kabar


__ADS_3

"Boleh saya lihat istri saya, dok?" tanya Key.


"Silahkan, tuan" dokter mempersilahkan.


Key mengagguk dan masuk ke dalam ruang penanganan istrinya. Dia berdiam sejenak di depan pintu melihat istrinya terbaring di brangkar.


Key berjalan dengan langkah pelan ke arah sang istri. Ia mengusap kepala istrinya yang masih melekat sebuah jilbab di kepalanya. Ia mencium wajah Maya dengan bertubi-tubi. tidak ada satupun wajahnya terlewatkan oleh bibir Key.


Setelah puas di wajah sang istri. Key beralih ke perut Maya. Ia mengusap perut itu dengan lembut, lalu menciumnya.


"Maafkan papa ya, nak" ucap Key berbisik di dekat perut Maya.


"Terimakasih sudah bertahan untuk mama dan papa. Papa tidak tahu harus melakukan apa jika kamu tidak bertahan untuk kami. Mama akan membenci papa, kalau kamu kenapa-napa"


Key menjauhkan kepalanya dari perut isterinya. Ia duduk di sebelah brankar Maya untuk menunggunya bangun.


......................


Di sisi Bagas saat ini. Ia juga berada di rumah sakit yang sama di mana Maya di rawat. Ia membawa Kia ke rumah sakit, karena benturan di kepalanya.


Dokter nampak keluar dari tempat perawatan Kia. Bagas mendekat dan dokter ingin menjelaskannya, tapi Bagas lebih dulu bersuara membuat dokter itu bungkam.


"Lakukan saja yang terbaik dan pindah dia ke tempat perawatan yang kosong. Semua biaya kirimkan saja padaku nanti" ucap Bagas. Ia langsung meninggalkan dokter itu tanpa mendengar penjelasannya.


Dokter sangat heran melihatnya. Biasanya, kalau ia sedang menangani pasien, keluarganya pasti akan menanyakan keadaannya terlebih dahulu, tapi kali ini berbeda.


"Aneh..." ucap dokter itu. Ia geleng-geleng kepala dan melanjutkan tugasnya kembali.


Bagas ingin menemui Key di ruangan perawatan Maya saat ini.


Tok tok tok


"Boleh gue masuk?" tanya Bagas pelan saat ia sudah melihat Key yang tengah membenamkan wajahnya di brankar istrinya. Key hanya mengangguk, tanda ia mempersilahkan Bagas untuk masuk.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Bagas. Kia ia sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Mereka baik-baik saja" jawab Key.


"Apa yang kau lakukan dengan perempuan itu?" tanya Key. Ia menanyakan tentang sekertaris Kia.


"Gue membawanya ke rumah sakit ini, karena dia pingsan saat gue ingin memberinya hukuman" jawab Bagas.


"Dia harus di pecat. Kita sudah punya alasan untuk memecatnya" ucap Key.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin memberinya hukuman terlebih dahulu?" tanya Bagas.


"Tidak perlu. Gue akan membuatnya tidak dapat bekerja di tempat manapun" ucap key tajam.


"Ide yang bagus" jawab Bagas tersenyum licik. Key juga melakukan hal yang sama.


"Apa Tama belum ada kabar?" tanya Key. Kini ia sudah berganti topik, karena sahabatnya yang satu itu belum ada kabar sama sekali.


"Belum. Gue ke markas kemarin dan sejak satu minggu yang lalu dia memang sudah tidak ada di markas. Terakhir dia di sana, saat Maya hilang waktu itu" jawab Bagas.


"Lalu, kemana dia?" tanya Key


"Gue juga tidak tahu. Saat gue bertanya sama para anggota di sana, mereka juga tidak tahu sama sekali"


"Apa dia hanya masalah yang tidak kita ketahui?" tebak Key.


" Entahlah, gue juga bingung" jawab Bagas. Ia merebahkan tubuhnya di sofa itu dan meletakkan salah satu tangannya di dahi.


"Semoga, dia baik-baik saja" ucap Key


" Semoga"


"Oh yah. Bagaimana penyelidikan kita tentang pembunuhan itu, sementara kau ingin membuat pesta pernikahan empat hari lagi. Bukankah kau ingin masalah itu terpecahkan terlebih dahulu baru kau mengungkapkan statusmu saat ini?" tanya Bagas. Seketika ia kembali terbangun mengingat hal itu.


"Tapi dia gak ada saat ini" ucap Bagas


"Gue yakin dia akan muncul sebelum pesta pernikahan gue berlangsung. Tama tidak mungkin mengingkari janjinya padaku" ucap key.


"Kau benar. Tama selalu menepati janjinya pada kita" ucap Bagas. Dia kembali membaringkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan matanya.


"Heh.. jangan tidur!" ucap Key. Ia melemparkan jas miliknya ke arah Bagas.


"Ckk..gue ngantuk, key" ucap Bagas. Bukannya bangun Bagas malah merubah posisi tidurnya dan membelakangi Key.


"Lo harus kembali ke perusahaan. Tidak ada siapa-siapa di sana!" perintah Key.


"Masih banyak karyawan lain di sana" jawab Bagas. Ia hanya mengibaskan tangannya.


"BAGAS" ucap Key geram. Ia berdiri dan mengguncang tubuh Bagas agar dia mau bangun.


"Heiii..HENTIKAN" pekik Bagas. Suaranya sangat keras dan memenuhi ruang perawatan Maya.


Ekhhh...

__ADS_1


Suara lenguhan terdengar dari tempat tidur Maya saat ini. Key terbelalak mendengar itu. Ia menoleh dan ternyata istrinya nampak sudah mulai membuka matanya.


Key beralih menatap Bagas tajam yang sedang menampilkan deretan giginya ke arahnya.


Pukkkk


Key memukul wajah Bagas, kemudian ia mendekat ke arah sang istri. Bagas yang di pukul seperti itu meringis.


"Perih banget muka gue" ucap Bagas pelan. Ia mengusap-usap wajahnya yang di pukul oleh key.


"Kalau nggak ada istrinya, sudah gue tendang tu bokongnya" ucap Bagas menggerutu.


Bukannya meninggalkan sepasang suami istri itu. Bagas kembali melanjutkan tidurnya dan membelakangi mereka, agar dia tidak dapat melihat apa yang di lakukan keduanya.


"Boo, apa kamu mendengarku?" tanya Key. Dia melihat mata Maya yang mulai mengerjab .


"Gor...ge.." ucap Maya lirih.


"Iya boo, aku di sini. Apa perutmu sakit?" tanya Key. Ia mengusap dahi istrinya yang tampak mengeluarkan keringat.


"Aku merasa ingin muntah" ucap Maya. Mulutnya nampak bulat dan memonyong, membuat Key panik. Dia buru-buru mencari sesuatu di kamar mandi untuk menampung muntah sang istri.


"Apa yang harus aku ambil. Tidak ada apa-apa di sini" ucap Key didalam kamar mandi sendirian.


"Ini saja lah" Key menemukan sebuah gayung di dalam kamar mandi dan dengan berlari dia kembali menghampiri Maya.


Uekkkk..


Tepat waktu, Key berhasil menaruh gayung itu di dekat mulut istrinya. Terlambat satu detik saja, muntah Maya akan mengenai brankar.


"Udahh..." ucap Maya. Ia mendorong gayung itu menjauh darinya.


"Minum dulu" Key menyodorkan Maya air mineral dengan pipet kecil di ujung botol agar Maya lebih mudah saat meminumnya.


Maya meminum airnya dan menatap wajah key sayu.


"Kenapa?" tanya Key. Ia menyimpan air itu di atas lemari kecil yang ada di dekat brankar.


"Aku pengen makan yang manis-manis" ucap Maya. Lidah terasa pahit setelah mengeluarkan isi perutnya tadi.


"Pengen makan manis?" tanya Key memastikan.


Key menoleh ke arah Bagas yang tertidur. Maya juga mengikuti arah pandang suaminya.

__ADS_1


"Jangan menyuruh kak bagas! kasian dia, dia pasti kelelahan" ucap Maya. Key menatay Maya tersenyum dan mengusap ubun-ubun nya.


__ADS_2