Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Kimberley ulandari putri Keylbert


__ADS_3

"Mer..Eka seb..enarnya siapa?" tanya Maya setelah semuanya pergi.


Mendengar itu Key menoleh ke arah sang istri dan menarik kursi untuk ia duduk agar bisa lebih dekat dengan Maya. Sebuah senyuman terlukis di bibir Key sebelum ia berbicara.


"Aku tahu banyak pertanyaan di pikiranmu saat ini. Bagaimana bisa aku memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa, sedangkan yang kamu tahu orang tuaku telah meninggal beberapa tahu yang lalu. Seperti itu yang ada di pikiranmu kan?"


Maya mengangguk kecil sebagai jawabannya.


"Pikiranmu memang benar, boo. Aku pun juga berfikir sama sepertimu, tapi ternyata pikiranku salah tentang mereka. Mereka nyatanya masih hidup dan bisa berdiri di hadapan kita tadi"


"Aku juga sebenarnya tidak tahu bagaimana mereka bisa masih hidup sampai sekarang. Padahal aku melihatnya sendiri kala itu, bagaimana mereka tergelatak tak bergerak dengan darah yang mengalir begitu deras dari luka-luka yang ada di tubuh mereka. Aku belum bertanya pada mereka bagaimana bisa mereka masih hidup dan selama ini bersembunyi di jepang"


"Bersem.. bunyi?"


"Yahh... mereka bersembunyi dari orang yang sama membuatku harus berpisah lama darimu"


"Ap..a itu borx..ta?" tanya Maya memastikan.


"Benar, boo. Kini aku kembali dan tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Kita akan hidup bahagia dengan putri kecil kita" ucap Key tersenyum, kemudian mengecup kening Maya.


"Kamu harus istirahat. Jangan sampai kamu lelah. Sejak kamu bangun,kamu belum pernah istirahat sama sekali"


Key menahan punggung Maya dan meluruskan kembali kepala brangkar agar Maya dapat baring dengan nyaman.


"Tidurlah, boo" ucap Key ketika melihat Maya masih diam menatapnya.


"Kamu janji te..tap di sini? jangan tinggalkan aku" Maya menggenggam tangan Key dengan erat. Ia takut saat ia menutupnya dan bangun kembali, ia tidak akan melihat Key lagi di sana. Ia masih takut semuanya hanyalah hanyalah nya.


"Tidak boo. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan beranjak sedikitpun dari posisiku saat ini. Aku akan selalu memegang tanganmu sampai kami bangun" ucap Key dengan tersenyum agar Maya percaya padanya. Ia juga menggenggam tangan Maya, sehingga mereka saling berpegangan tangan.


Mendengar itu Maya mulai sedikit merasa yakin. Ia pun mulai menutup matanya dan semakin mengeratkan pegangannya pada Key.


Key tersenyum melihat mata istrinya sudah tertutup. Key kemuadian mengecup pipi dan bibi Maya.


"Selamat istirahat my boo-boo" bisik Key di telinga Maya.


Maya tersenyum sangat kecil mendengarnya. Ia semakin yakin semuanya bukanlah hayalannya. Maya pun tertidur dengan nyaman tanpa merasa takut Key akan pergi.


Sedangkan Key, dia memperhatikan wajah Maya dengan dagunya sebagai tumpuan di atas brangkar. Key tetap tidak mengalihkan matanya dari wajah Maya sampai dia juga mulai merasa mengantuk dan tertidur.


...****************...

__ADS_1


1 Minggu kemudian


Tak terasa Maya sudah di rawat di rumah sakit 1 Minggu lamanya dan Key begitu setia menemani sang istri selama di rumah sakit. Key tidak pernah meninggalkan rumah sakit sama sekali. Hanya orang tuanya yang selalu datang ke rumah sakit membawa baju ganti untuk dirinya dan Maya.


Selama 1 Minggu ini juga putri mereka masih di rawat di ruang NICU, tapi kesehatan putri mereka sangat cepat meningkat, sehingga putri mereka dapat keluar dari inkubator dan secara langsung Maya bisa menyusuinya.


Seperti saat ini, Maya tengeh duduk di sofa dan memangku putrinya. Putri mereka sangat kuat menyusu. Terkadang Maya merasa sakit pada dadanya.


"Kita belum punya nama untuk Putri kita" ucap Maya seraya melihat ke arah Key yang tepat berada di depannya memperhatikan putrinya.


"Kamu belum punyanya nama untuk Putri kita?"


"Belum" Maya menggeleng.


"Aku kira kamu sudah punya nama sendiri untuknya"


"Aku belum pernah memikirkan nama untuknya, karena aku menunggumu untuk memberikannya nama" Maya mengusap pipi putrinya dengan lembut.


"Maafkan aku" Key kembali merasa bersalah. Ia membayangkan Maya yang selalu menunggunya sampai-sampai lupa untuk memikirkan nama putrinya.


"Lupakan" Maya tidak mau mengingat lagi kenangan buruk itu.


"Apa kamu juga belum punya nama untuk Putri kita?" tanya Maya.


"Siapa?"


Key mendongak dan tersenyum ke arah Maya. "Aku memberinya nama Kimberley ulandari putri Keylbert" ucap Key seperti senyum yang sangat lebar.


"Bagaimana? apa kamu setuju?" tanya Key pada Maya.


"Iya. Aku setuju. Nama yang cantik" Maya juga tersenyum.


Key mengecup pipi putrinya dengan gemas. Ia merasa lucu melihat mulut putrinya yang menghisap asi Maya.


"Terimakasih, sayang. Sudah memilih mama dan papa sebagai orang tuamu. Terimakasih baby Kim" ucap Maya tulus.


"Kim?" Key memperjelas apa yang ia dengar saat Maya berbicara.


"Iya. Kita bisa memanggilnya Kim. Apa kamu tidak suka?"


"Aku suka. Apapun yang kamu inginkan, aku akan selalu setuju"

__ADS_1


"Benarkah?" ucap Maya seakan tidak mempercayai ucapan Key, tapi ia hanya sengaja melakukan itu untuk menggoda suaminya.


"Yahh..apa kamu tidak percaya?"


"Bagaimana kalau aku meminta untuk pergi meninggalkanmu?"


"Ckk.. permintaan apa itu" Key mendadak menampilkan wajah marah. "Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi dariku. Satu jengkal pun tidak akan kubiarkan"


"Tapi kamu sendiri yang mengatakannya tadi. Kamu bilang akan selalu setuju dengan semua keinginanku"


"Yahh..aku memang mengatakan itu, tapi untuk mengizinkanmu untuk pergi dariku tidak akan pernah ku izinkan"


"Berarti kamu tidak bisa menepati perkataanmu sendiri" Maya pura-pura kesal dan memalingkan wajahnya.


"Ckk" Key berdecak. Ia kemudian memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah Maya.


"Dengar boo. Ketika kamu meminta untuk pergi meninggalkanku, walaupun kamu meraung-raung di depanku, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi. Aku akan mengurungmu di kamar dan tidak akan membiarkanmu menginjak lantai. Aku akan memelukmu dengan erat di atas kasur, kalau perlu aku akan mengikatmu agar kamu tidak bisa kemana-mana"


Key mengatakannya dengan mata tajamnya dan tidak mengalihkan bola matanya dari bola mata Maya.


Setelah mengatakan hal itu, Key langsung menarik dagu Maya dan mencium bibir Maya dengan lembut. Walaupun hatinya bergemuruh mendengar permintaan Maya.


Ciuaman itu semakin lama semakin dalam. Key masukkan lidahnya kedalam mulut Maya dan mengapsen setiap sudutnya. Key menekan tenguk Maya dengan kuat agar tidak terlepas.


Hamppmtt...


Maya berusaha mendorong dada Key dengan satu tangannya, karena tangan satunya memegang baby Kim.


Setelah Key merasa Maya sudah kehabisan nafas, Key akhirnya melepas ciumannya.


"Aku sangat merindukan bibir ini" ucap Key seraya mengusap bibir Maya.


"Kamu apa-apaan si? ada baby Kim di sini" Maya menepis tangan Key dari bibirnya, karena kesal dengan gerakan Key yang tiba-tiba.


"Tidak apa-apa. Dia tidak melihat kita" ucap Key seraya melihat baby Kim yang sedang tertidur.


"Tapi itu tetap saja nggak bagus. Baby Kim sedikit tergencet tadi, karena kamu"


Bukannya merasa bersalah Key malah terjemah melihat raut wajah kesal istrinya. Tanpa aba-aba Key kembali manarik tenguk Maya dan menciumnya. Bahkan bibir Key sudah turun ke leher Maya.


.

__ADS_1


.


LANJUT


__ADS_2