
" Bagaimanapun , kamu harus berusaha untuk mencoba membujuk Jihan lagi . Mengurus anak itu bukan hal yang mudah , apalagi kalau anak itu sudah besar nantinya . Dia akan di ejek oleh temannya , karena tidak memiliki seorang ayah " ucap bik Nur .
" Tapi Tama tidak tahu harus melakukan apa " ucap Tama .
Sekali lagi bik Nur membuang nafasnya kasar . Ia juga menjadi bingung untuk mencari jalan keluarnya .
" Bibik juga jadi bingung. Nanti bibik akan memikirkannya, bagaimana jalan keluarnya" ucap bik Nur.
" Terimakasih, bik" ucap Tama. Bik Nur hanya tersenyum.
" Makanlah makananmu. Jangan telat makan" pesan bik Nur. Tama mengangguk.
Bik Nur meninggalkan Tama dan kembali melakukan pekerjaannya.
****
Hari sudah siang. Maya dan Bu Sri tengah bersiap untuk keluar bersama.
" Kamu sudah memberitahu suamimu, kalau kau ingin keluar ?" tanya Bu Sri.
" Sudah. Maya sudah mengirimkan pesan padanya " jawab Maya. Bu Sri manggut-manggut, ia hanya khawatir key akan melarang Maya untuk keluar.
" Ayo Bu, kita jalan !" ajak Maya.
Mereka berjalan keluar bersama. Pak Han yang akan mengantar mereka ke manapun mereka mau.
" Kita mau ke mana, nyonya?" tanya pak Han saat melihat sang nyonya sudah duduk di mobil.
" Kita ke mall ya, pak" pinta Maya.
" Baik, nyonya" jawab pak Han.
Mobil sudah berjalan. Membelah ibu kota yang begitu ramai dan padat. Butuh waktu 30 menit untuk sampai di mall.
Mall
" Sebenarnya kamu mau beli apa di sini ?" tanya Bu Sri.
" Bukan aku, tapi Bu Sri" jawab Maya.
" Kok, saya ?" tanya Bu Sri bingung.
" Ibukan sudah mau pulang besok, jadi aku ajak ibu ke sini untuk beli oleh-oleh untuk paman di kampung" jawab Maya.
" Ihh.. tidak usah. Habisin uang kamu aja. Suami ibu tidak butuh itu " ucap Bu Sri.
" Nggak apa-apa, Bu. Ini hadiah untuk ibu, karena sudah mau menghadiri acara resepsi aku" ucap Maya.
" Ahh..kamu ini kayak siapa saja. Tentu saja ibu akan datang. Kamu juga anak ibu kan" ucap Bu Sri.
" Makanya, aku kan anak ibu, jadi aku ingin kasi ibu hadiah sama paman" ucap Maya.
" Ayo Bu, jangan tinggal di sini. Kita kayak orang gila tinggal berdiri di sini " ucap Maya.
Ia menarik Bu Sri untuk berjalan. Mereka sejak tadi hanya berdiri saja di dalam mall. Mereka berjalan ke salah satu toko pakaian.
" Ibu pilih baju yang mana ibu suka. Jangan lupa carikan baju untuk paman juga "ucap Maya.
"Tapi, May..."
__ADS_1
" ibu jangan sungkan gitu dong. Maya juga kecewa kalau ibu nggak mau beli. Aku sudah mengajak ibu ke sini, masa nggak ada yang mau di beli " ucap Maya pura-pura kecewa, agar Bu Sri mau untuk memilih.
" Baiklah-baiklah, ibu akan memilih "
Maya tersenyum mendengarnya. Bu Sri mulai memilih pakaian yang dia suka. Maya selalu di sampinya menemani Bu Sri memilih.
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah selesai di toko itu. Setelah dari sana mereka mencari tempat untuk mereka makan dan beristirahat.
Setelah selesai mereka kembali berbelanja. Kali ini Maya ingin membeli buah, karena dia sering meminta pada bik Nur untuk membuat rujak buah.
Saat mereka berjalan mencari toko itu, Maya merasa aneh. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Kenapa aku merasa ada yang mengikutiku?" batin Maya. Ia menoleh lagi ke belakang untuk membenarkan perasaan.
" Tapi tidak ada yang orang mencurigakan. Apa hanya perasaanku saja" batin Maya
" Maya.." panggil Bu Sri. Maya tersadar dari lamunannya.
" Ehh..iya bu?" ucap Maya.
" Kamu cari siapa?" tanya Bu Sri. Ia melihat Maya yang celingak-celinguk sejak tadi.
" Ahh.. tidak Bu. Maya tidak cari siapa-siapa" jawab Maya.
" Tapi, kenapa kamu celingak-celinguk begitu tadi ?" tanya Bu Sri.
" Maya hanya mencari-cari tokonya Bu. Soalnya Maya kayaknya lupa letak tokonya di mana " jawab Maya bohong.
Ia tidak ingin memberitahu kecurigaannya, karena itu belum tentu benar.
" Ayo Bu, kita cari !" ajak Maya.
...----------------...
Di lain tempat, lebih tepatnya di KPS company. Key tampak sibuk mengerjakan berbagai laporan.
Tok.. tok.. tok...
Terdengar suara ketukan pintu, membuat Key mengalihkan perhatiannya dari leptop.
" Masuk !" pinta Key.
" Maaf mengganggu pak, ini ada kiriman untuk anda " ucap respossion . Ia memberikan sebuah kotak kecil pada atasannya.
" Dari siapa ?" tanya Key seraya menerima kota itu.
" Saya tidak tahu pak. Tidak ada nama pengirimnya " jawab respossion.
Key menjadi bingung, " Siapa yang memberimu ?" tanya Key.
" Satpam di depan, pak" jawabnya.
" Kau boleh keluar !" titah Key.
Respossion itu pamit undur diri dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah sepeninggalan karyawannya, Key membuka kota itu.
Di dalam kotak itu ada sebuah plastik di dalamnya dan Key membuka plastik itu. Saat sudah membukanya Key sangat kaget. Ia mengecek ulang isi dari kota itu. Ada sebuah gulungan kertas kecil di dalamnya dan Key membuka gulungan itu. Ia membacanya dan sekali lagi Key sangat kaget.
" Apa maksudnya ini?" ucap Key.
__ADS_1
Ternyata isi kota itu berisi foto istrinya yang sedang berada di mall bersama Bu Sri. Key buru-buru menelpon istrinya untuk mengetahui keadaannya.
Sambungan telepon itu tersambung dan terdengar suara lembut istrinya.
" Halo, Gorge " ucap Maya di seberang sana.
" Halo boo. Apa kamu masih di mall ?" tanya Key.
" Masih, tapi ini sudah mau pulang " jawab Maya.
" Apa kamu baik-baik saja ?" tanya Key.
" Aku baik. Memangnya kenapa ?" tanya Maya.
" Nggak apa-apa, boo. Aku hanya takut kamu kelelahan karena terlalu lama berjalan " jawab Key bohong.
" Ooh. Yaudah aku tutup telponnya, yah " ucap Maya.
Tut...
Key bernafas lega mendengar suara istrinya yang baik-baik saja. Ia kembali mengecek foto itu.
" Apa ini perbuatan borxta ?" tebak Key.
Key memanggil Bagas menggunakan telpon khusus. Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu dan benar saja itu adalah Bagas.
" Ada apa ?" tanya Bagas to the point.
" Lihat ini !" Key memberikan kotak itu beserta isinya.
" Siapa yang mengirimnya ?" tanya Bagas setelah melihatnya.
" Tidak ada nama pengirimnya " jawab Key.
" Apa ini ada hubungannya dengan borxta?" tanya Key.
" Bisa jadi, karena kita tidak punya musuh lain selain dia " jawab Bagas.
" Isi kertas itu membuat gue khawatir " ucap Key seraya mengambil kertas itu lagi dan membacanya.
" Dia bergerak lebih cepat dari yang kita kira " ucap Bagas.
Key membuang nafasnya kasar. Inilah yang ia pertimbangakan sejak awal untuk mengadakan resepsi. Ia takut istrinya akan menjadi sasaran musuhnya dan kelawatiran itu benar terjadi.
" Kita harus memperketat penjagaan pada istrimu dan orang-orang yang di manssion. Gue takut mereka kembali menyerang manssion kembali " ucap Bagas.
" Lo benar, kita harus melakukannya " ucap Key setuju.
.
.
.
.
LANJUT..
Siapa ya kira-kira yang mengirim kota itu?..
__ADS_1