Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Sedih


__ADS_3

"Aku ingin kebawah dulu" ucap key. Dia Ingan turun ke bawah.


"Iyah.." Maya menjawab singkat.


"Mau ikut?"


"Enggak" Maya berkata sambil menggeleng.


"Yaudah, aku kebawah dulu" Key bangkit dan dan turun kelantai dasar.


Saat ia berjalan turun, key melihat Bagas yang sedang duduk santay nonton tv.


"Apa Tama belum datang?" tanya key pada Bagas. dia mendekat kearah Bagas dan duduk disebelahnya.


"Udah tadi, tu..lagi makan" Tunjuk Bagas kearah meja makan. Key menoleh dan benar saja ada Tama disana.


"Jam berapa dia pulang?"


"5 menit yang lalu".


Akhirnya mereka duduk menonton tv dan tak berselang lama Tama juga ikut bergabung. Mereka semua fokus menonton berita hari ini.


"Nak.." Panggil Bu Sri.


"Kenapa bu?" tanya key.


"Ibu ingin pulang"


"Kan key bilang besok saja"


"Suami ibu sakit. Jadi ibu harus pulang" Key mulai berfikir, tidak mungkin dia menahan Bu Sri disini. Apa lagi suaminya sakit.


"Baiklah.. Nanti sore key akan mengantar ibu ke bandara"


"ahh.. benarkah. Baiklah kalau begitu ibu siapa-siapa dulu" Bu Sri senang, akhirnya dia bisa pulang. walau harus menjual suaminya. yang sebenarnya tidak sakit sama sekali. Ia hanya berbohong.


key mengangguk dan pergilah Bu Sri dari sana.


**


"Oh ya, mana maya?" tanya Bagas, ia tidak melihat Maya sejak tadi.


"Di kamar"


"Kenapa kau tidak mengajaknya turun?"


"Sudah, tapi dia tidak mau" Key menjawab sambil menonton tv, tanpa menoleh sama sekali.


"CK kau ini tidak peka sekali"


"Memang kenapa?"


"Dia pasti ingin turun tapi dia malu"


"Kenapa harus malu?" key belum mengerti maksud bagas.


"Hais..kau ini. Lo kan tahu dia kesusahan berjalan. Kalau dia ingin turun otomatis Lo harus memapahnya atau menggendongnya"


"Lalu?"


"Hufftt...Dia malu meminta bantuan sama Lo. dia juga tidak ingin menyusahkan Lo terus" Bagas kesal karena key tidak mengerti sama sekali.


Key mulai berpikir, "Apakah benar begitu?".


"Kalau Lo gak percaya, coba Lo tanya dia"


Key akhirnya kembali kekamar dan benar saja dia melihat Maya hanya duduk dikasur termenung. Maya kehilangan hp nya saat penembakan itu terjadi.


"Maya" Panggil key.


Maya menoleh,dia kaget saat melihat Key tiba-tiba ada berdiri didekatnya.


"Iyah..kenapa?"

__ADS_1


"Ayo turun"


"Enggak usah aku disini saja"


"Jangan bandel. Ayo turun, Bu Sri juga ingin pulang sore nanti"


"Hah.. sore ini?" Maya keget mendengarnya.


"Aku kira besok"


"Enggak jadi, katanya suaminya sakit jadi Bu Sri harus pulang hari ini" Maya termenung, dia sedih Bu Sri harus meninggalkannya disini.


"Ayo kebawah" Ajak key.


Maya mengangguk dan mengambil tongkat miliknya.


"Enggak usah pake tongkat. Pakai kursi roda saja" Key melarang Maya untuk menggunakannya.


"Memang kenapa?"


"Nanti kamu jatuh"


"Enggak kok. Aku bisa"


"MAYA" ucap key dengan penuh penekanan. Maya yang melihat itu menunduk. Ia tahu key kesal padanya, karena selalu membangkang.


"Baiklah"


Key mengambil kursi roda itu dan mendudukkan Maya disana, ia mulai medorongnya. Saat sudah didekat tangga, key mengangkatnya ala bridal style.


"Bas..Ambil kursi roda yang ada diatas" perintah key saat dia sudah turun tangga dengan Maya masih dalam gendongannya.


Bagas berdiri dan mengambilnya. key menaruh Maya diatas sofa.


"Bik nur...antar cemilan untuk kami" Panggil key.


"Iya tuan" jawab bik nur.


"Ayo" Ajak key.


"Enggak usah, aku bisa kok"


"Baiklah" Key kali ini mengizinkan Maya untuk pergi sendiri.


Maya membawa kursi rodanya menuju kamar Bu Sri. saat didepan pintu Maya mengetuknya, kemudian memanggilnya.


" Ibu.."


"Iyah. " jawab Bu Sri dari dalam. Bu Sri membuka pintu dan melihat Maya disana.


"Kenapa nak?"


"Maya ingin bicara sama ibu, boleh?"


"Tentu saja. Ayo masuk" Maya masuk kedalam. Ia melihat barang-barang Bu Sri sudah ada didalam tas.


"Ibu benar mau pulang sore nanti?"


"Iyah nak, bapak sakit, jadi ibu harus pulang"


"Sungguh, bapak sakit apa?" Tanya Maya dengan khawatir.


"Dia demam dan sudah beberapa hari demamnya tidak turun-temurun" Ucap Bu Sri dengan pura-pura sedih.


"Kasian bapak" Maya merasa kasihan dan prihatin.


*****


Sore hari


Mereka semua sudah berada dibandara saat ini. Semuanya pergi mengantar Bu Sri untuk pulang ke kampungnya, termasuk Maya. Dia menggunakan kursi roda saat mengantar Bu Sri dengan key yang mendorongnya.


Maya sangat sedih harus melepas Bu Sri pergi. Bu Sri adalah pengganti mamanya yang telah meninggal.

__ADS_1


"Hati hati Bu..." Ucap Maya lirih. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata Maya.


"Heyy.. jangan menangis nak" Bu Sri berjongkok didepan Maya dan menangkup wajahnya.


"Kamu bisa jalan-jalan nanti kesana. Bukankah disana ada tempat tinggal mu" Maya masih berusaha menahan tangisannya.


"Maya sendiri disini. Tidak ada yang menemani Maya lagi..hikss..." Air matanya akhirnya meleuncur membasahi pipinya.


"Kau punya banyak disini. Ada suamimu, ada nak Bagas dan nak Tama juga" Ucap Bu Sri sambil menghapus air mata Maya yang belum berhenti untuk keluar.


"Bahkan banyak pekerjaan dirumahmu" lanjut Bu Sri kembali.


"Tapi Maya belum akrab dengannya." ucap Maya lirih.


"Biasakan dirimu nak. Berusalah menerima keadaan mu. buat dirimu akrab dengan mereka. kamu adalah seorang nyonya keylbert" Bisik Bu Sri dengan tersenyum.


"Suamimu sangat mencintai mu. Ibu yakin itu" Bu Sri sangat yakin jika key mencintai Maya.


"Enggak Bu...key hanya melakukan tanggung jawabnya saja" Ucap Maya tidak percaya.


"Itu berbeda nak.. Dia selalu menjagamu, tidak menginginkanmu terluka sama sekali. Jika dia tidak mencintaimu, pasti dia akan mengabaikanmu" Maya terdiam mencerna semuanya.


Perhatikan pesawat xxx akan segera berangkat dimohon para penumpang untuk segera naik kedalam pesawat.


Suara panggilan keberangkatan yang ditumpangi Bu Sri akan segera lepas landas.


"Ibu pergi yah... jaga dirimu baik-baik disini. Banyak yang menyayangimu disini" Bisik Bu Sri.


Dia berdiri melangkah masuk dalam pesawat.


"Ibu pamit yah.." ucap Bu Sri kepada key,Tama dan Bagas.


"Iyah..bu" ucap mereka bertiga serempak.


Bu Sri melambaikan tangannya dan dibalas oleh mereka. Sedangkan Maya dia hanya diam dan menatap sedih kearah Bu Sri. Bu Sri yang melihat itu hanya tersenyum.


"Ayo kita pulang" Ajak key pada Maya.


Maya menoleh dan mengangguk. mereka semua akhirnya kembali ke mobil dan pulang ke manssion.


.


*****


1 Minggu kemudian


Setelah kejadian di bar, Jihan kembali ke aktifitasnya kembali. Dia berusaha berdamai dengan keadaannya, walaupun terasa sangat sulit. Jihan berusaha bangkit, ia bahkan tidak memberitahu pada ibunya kejadian malam itu.


Laki-laki bre**sek yang tidak ingin bertanggung jawab dan menganggap dia hanya menginginkan uangnya. Jihan berhenti bekerja di bar, dia memilih fokus untuk bekerja di toko saja.


"Ji..barang yang dibelakang gudang sudah kamu angkat?" Tanya teman Jihan bernama Amelia.


"Belum kak. Setelah ini baru aku angkat"


"Ohh..oke". Amelia meninggalkan Jihan.


"Akhh..selesai. tinggal yang barang yang berada dibelakang gudang".


Maya mulai mengangkatmya satu persatu. Saat akan mengangkat barang yang terakhir tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing.


"shhh.. kenapa Kepalaku sangat sakit" Jihan berusah mengabaikan rasa sakitnya.


Jihan melangkah dengan pelan, dia berusah menyelesaikan semua pekerjaannya dan beristirahat. Pandangannya mulai buram dan...


Brakk....


JIHAN......


.


.


. Lanjut

__ADS_1


__ADS_2