
Mereka yang sejak tadi menunggu Jihan membereskan pakaian merasa lama.
" Kenapa Jihan lama sekali?" ucap Bu Farah.
" Aku akan melihatnya" ucap Maya. Bu Farah mengangguk.
Maya pergi ke kamar Jihan, namun saat sampai di sana dia tidak melihat Jihan sama sekali.
" Di mana Jihan?" gumam Maya. Ia melangkah masuk dan mencoba mengecek di kamar mandi.
" Tidak ada juga. Lalu di mana dia?" gumam Maya. Ia keluar dari kamar dan mencari di sekitar.
"Bik nur liat Jihan nggak?" tanya Maya pada bik Nur.
" Bibik tadi melihatnya ke taman belakang dengan Tama" jawab bik nur.
" Dengan kak Tama?" tanya Maya. Bik Nur menganguk.
" Baiklah, terimaksi, bik" ucap Maya.
Lalu ia pergi ke taman belakang untuk mengecek apakah benar ada Jihan di sana, namun saat sudah dekat dengan pintu penghubung taman, ia mendengar suara Jihan yang terdengar seperti menahan tangisannya.
Apa anda bilang? merawatnya bersama? Haha... kenapa anda ingin merawatnya? bukankan anda tidak menginginkan bayi ini, karena anda menggap saya, sayalah yang datang menemui Anda?"
" Maksud Jihan apa berbicara seperti itu? apa kak Tama yang melakukannya?" gumam Maya. Ia menebak-nebak nya sendiri. Ia mengintip apakah benar Jihan berbicara dengan Tama dan ternyata itu benar.
" Anda dengan entangnya bertanya tentang harga kepada saya. Anda jelas-jelas MENGANGGAP SAYA SEORANG PEL***R dan anda meninggalkan selembar cek kepada saya, lalu Anda pergi begitu saja"
Mendengar perkataan Jihan, Maya sangat kaget sampai menutup mulutnya tidak percaya.
" Jadi benar kak Tama adalah ayah dari bayi yang di kandung oleh Jihan, tapi bagaimana bisa mereka bertemu? Kak Tama benar-benar setega itu dan menggap semua wanita itu sama" gumam Maya. Ia mendengar semua jawaban Tama yang di beri pertanyaan menohok dari Jihan.
" Anda jangan coba-coba mengikutiku. Cukup hari ini kita bertemu. Jangan pernah mencariku, jika kita bertemu di luar anggap saja kita tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Aku sudah sangat nyaman dengan hidupku. Ada ibuku yang akan membantuku merawat bayi ini, aku tidak butuh bantuanmu"
" Itu adalah jawaban yang di berikan Jihan padaku waktu itu. Jadi ini alasan Jihan tidak ingin mencari tahu siapa ayah dari bayinya, karena dia sudah tahu dan bagaimana prilaku kak Tama terhadapnya" gumam Maya.
__ADS_1
Mendengar suara langkah yang berlari ke arahnya, Maya bersembunyi di balik pilar yang ada di dekat pintu penghubung taman. Maya melihat Jihan yang menghilang di balik kamarnya. Ia melihat Tama yang masih diam mematung di taman setelah kepergian Jihan.
"Kasihan Jihan, dia pasti sangat berat menjalani kehamilannya. Aku yang akan menghukummu kak Tam" ucap Maya, kemudian kembali bergabung bersama yang lain.
"Lah, Jihan di mana, May?" tanya Bu Farah.
" Masih di kamar Bu. Tidak lama lagi dia selesai" jawab Maya.
" Kenapa dia lama sekali?" tanya Bu Farah.
" Ohh..itu..Jihan mencari pakaiannya. Ada pakaian yang tercecer sehingga itu membuat Jihan lama" jawab Maya bohong.
" Oh.. seperti itu. Ibu akan mengeceknya dulu" ucap Bu Farah, namun baru saja ia ingin berdiri sudah nampak Jihan keluar dengan menenteng tasnya yang berisi pakaiannya dengan sang ibu.
" Maaf, Jihan lama, yah?" tanya Jihan seraya tersenyum.
" Nggak apa-apa, kami hanya menunggu 20 menit saja" jawab Key.
" Hehe..maafin Jihan, kak" ucap Jihan cengengesan.
" Jihan memang wanita yang kuat. Pantas saja dia di beri cobaan begitu berat, karena Jihan sanggup untuk menjalaninya. Jihan bahkan masih bisa tersenyum seperti itu dan tidak menampilkan kesedihannya sama sekali, jadi orang tidak akan tahu" batin Maya.
" Semuanya sudah siap, ayo kita berangkat. Nanti kita kemaleman" ajak Key. Yang lain mengangguk dan berjalan keluar dari manssion.
" Boo, ayok! kok bengong" ucap Key saat melihat istrinya yang hanya diam saja.
" Ehh..ayok" ucap Maya. Ia tersadar dari lamunannya.
Mereka naik ke dalam mobil. Bu Farah, Jihan, Maya dan Key yang sebagai supir. Sedangkan Bu Sri, bik Nur dan Bagas di mobil satunya. Dua mobil meninggalkan halaman manssion.
" Tama beneran gak ikut, Bas?" tanya bik Nur.
" Nggak bik. Dia nggak mau" jawab Bagas
" Kenapa Tama nggak mau?" tanya bik Nur.
__ADS_1
" Bibik tahu lah bagaimana sifat anak itu. Bosan-bosan, heran aku kalau sifat seperti itu muncul lagi. Apa-apa Tama nggak mau kerjain" jawab Bagas.
" Mungkin Tama punya banyak pikiran makanya kek gitu. Apalagi Tama pernah gak pulang lebih dari seminggu" filing bik Nur.
Mendengar perkataan bik Nur, Bagas berfikir. Ia mengingat Tama pernah mangatakan, kalau dia punya masalah, tapi Tama belum mau menceritakannya.
" Mungkin, bik. Bibik kan tahu, Tama suka sekali memendam masalahnya sendiri tanpa mau berbagi. Kalaupun Tama mau mengatakannya itupun harus di paksa dulu" ucap Bagas. Bik Nur menganggukan, karena ia pun tahu seperti apa sifat Tama.
" Sebenarnya sejak kapan bik Nur bekerja di manssion?" tanya Bu Sri yang sejak tadi hanya menjadi pendengar di antara keduanya.
" Saya bekerja sudah sangat lama. Sejak kedua orang tua Key menikah. Dulu Ibu saya bekerja dengan kakek dan nenek Key, saya tinggal bersama ibu saya di manssion mereka dan terkadang saya ikut membantu walaupun saya bukan pekerja di sana."
" Kala itu saya berumur sekitar 30 tahun dan tuan Syam berumur 15 tahun. Sampai akhirnya tuan Syam menikah dan saya juga sudah menikah pada saat itu. Tuan Syam dengan istrinya berpindah dari manssion kedua orang tuanya, saya dan suami saya ikut dengan tuan Syam menjadi kepala pelayan di manssion"
"Sampai akhirnya nyonya Syam hamil dan lahirlah Key. Saya yang membantu nyonya Syam merawat Key saat itu, namun ada sebuah kecelakaan besar pada kala itu. Sehingga merenggut banyak nyawa yang ada di manssion termasuk kedua orang tua Key" kata bik Nur sendu. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
" Semuanya tak tersisa. Saya berhasil menyelamatkan Key dan membawanya pergi dari sana, hingga saya yang merawatnya hingga dia dewasa" ucap bik Nur. Matanya berkaca-kaca, tapi dia menatap ke jendela sehingga Bu Sri tidak melihatnya.
Bik Nur tidak ingin menceritakan kejadian kala itu, sehingga bik Nur hanya berkata itu hanya kecelakaan besar bukan sebuah insiden yang mengerikan jika ia mengingatnya.
" Maaf..di mana suami bik nur pada saat itu?" tanya Bu Sri.
"Suami saya juga ikut meninggal saat kecelakaan itu terjadi" jawab bik Nur.
" Perjalanan kalin sangat luar biasa" ucap Bu Sri.
"Begitulah. Begitu banyak rintangan yang kami lalui setelah kecelakaan itu terjadi" ucap bik Nur.
.
.
.
.
__ADS_1
LANJUT...