
Keesokan harinya
Hari ini adalah hari spesial di mana Jihan dan Tama akan menikah. Mengikat janji suci kepada Tuhan yang maha esa dan disaksikan oleh seluruh tamu undangan yang hadir. Walaupun pernikahan ini bisa dibilang sangat telat, karena sudah ada si jabang bayi di dalam kandungan Jihan.
Tapi itu bukan menjadi sebuah masalah bagi mereka. Mereka akan tetap melangsungkan pernikahan secara meriah seperti pernikahan pada umumnya.
Dan disinilah jihan, berjalan menghampiri Tama yang sudah sah menjadi suaminya, setelah beberapa menit yang lalu Tama mengucapkan janjinya. Dengan perut yang sudah membuncit dan terlihat sangat jelas dari gaun yang dia kenakan, tapi itu tidak mengurangi kecantikan yang terpancar dari wajah Jihan.
Di dampingi oleh sang ibu, Jihan bisa sampai dengan mulus di hadapan Tama. Terlihat sebuah senyuman terlukis di bibir Jihan. Setelah sang ibu melepaskan gandengan tangannya pada sang putri, kini giliran Jihan mencium tangan Tama.
Setelah Jihan mencium tangan Tama, kini giliranTama yang mencium kening Jihan. Suara riuh tepuk tangan terdengar sangat menggema di tempat itu. Para tamu undangan yang menyaksikan ikut terharu dan bahagia.
" Terimaksi sudah mau menerimaku. Terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya " bisik Tama di depan Jihan. Ia berkata dengan sangat dalam dan tulus.
Tatapan matanya sangat dalam menatap mata Jihan yang sangat syahdu.
Jihan hanya mengangguk menanggapinya. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Ia juga tidak menyangka akan menikah dengan Tama, mengangat dulu ia sangat membencinya. Takdir berkata lain, Tuhan menyatukan mereka walaupun sedikit terlambat.
Tama hanya tersenyum melihat Jihan yang mengangguk. Tama kemuadian berjongkok di depan perut Jihan.
" Maafkan daddy yang terlambat mengetahui mu. Maafkan daddy, karena sempat menolak kehadiranmu. Tapi sekarang tidak lagi, daddy sangat senang dengan kehadiranmu. Sehat-sehat yah di dalam sana, jangan membuat ibumu kesusahan " Tama berbicara pada bayinya dan kemudian mencimumnya.
Inilah yang selala ia ingin lakukan pada perut Jihan. Mengusap, menciumnya, maupun berbicara, akhirnya sudah bisa ia lakukan tanpa takut Jihan akan marah.
Kenapa Tama ingin di panggil daddy dan bukan ayah, karena ia tidak suka dengan panggilan itu. Walaupun sebenarnya itu terdengar tidak nyambung, ibu dan daddy. Di mana seharusnya ibu dan ayah atau mommy dan daddy, tapi kali ini mereka berbeda.
Jihan yang ingin di panggil ibu dan Tama tidak mempermasalahkannya. Tidak mungkin Tama dan Jihan bertengkar hanya karena sebuah panggilan saja. Bagi mereka, itu semua sama saja. yang penting adalah tanggung jawab mereka dalam merawat calon bayi mereka.
Setelah selesai, Tama kembali berdiri dan merangkul bahu Jihan. Mereka berbalik menatap para tamu undangan.
Kini giliran para tamu dan keluarga yang akan memberikan ucapan selamat.
Satu persatu para tamu mulai naik dan bersalaman dengan si pengantin. Dan tibalah saat di mana Maya menemui mereka. Maya langsung memeluk Jihan dengan sangat terharu.
" Selamat Ji.." ucap Maya di sela pelukan mereka seraya mengusap punggung Jihan.
" Terimakasih " ucap Jihan setelah pelukan mereka terlepas.
" Akhirnya Ji. Pria brengsek ini mau bertanggung jawab " Maya menyinggung Tama yang mendengarkan pembicaraan mereka pastinya.
" Haha..kau bisa aja, kak " Jihan tertawa renyah mendengar perkataan Maya.
" Siapa yang kau bilang pria brengsek ?" tanya Tama pada Maya.
__ADS_1
" Tentu saja kak Tama. Apa ada yang salah dengan perkataanku ?" Maya terlihat bertanya dengan menantang dan berkacak pinggang di depan Tama.
" Kenapa kau mengatai ku brengsek ? aku tidak pernah berbuat hal-hal aneh " Tama bingung. Ia tidak tahu, kalau Maya menyinggung pada saat ia menolak Jihan dan menuduhnya pada saat itu.
" Apa kak Tama tidak mengingatnya? Saat kak Tama tidak mau bertanggung jawab pada Jihan. Makanya julukan itu sangat cocok untuk kak Tama. Kami menyebutnya seperti itu. Benarkan, Ji? " Maya menoleh ke arah Jihan.
" Iya, kak "
" Tapi kan aku sudah bertanggung jawab "
" Memang, tapi pada dasarnya kak Tama memang pria brengsek " terdengar sangat menyebalkan di telinga Tama, tapi ia tidak membantahnya.
Maya meninggalkan Tama yang menghela nafas berat, karena perkataannya.
" Kenapa dia menjadi menyebalkan " ucap Tama seraya melihat ke arah Maya yang sedang berjalan ke meja yang penuh dengan makanan.
" Mungkin kak Maya kesal padamu"
" Entahlah" Tama mengangat bahunya acuh.
Beralih ke arah Maya yang sibuk menaruh beberapa makanan di atas puringnya. Setelah merasa cuku, Maya pun berjalan ke kursi dan makan.
Saat sedang asik makan, ada seseorang yang menghampiri Maya.
" Boleh aku duduk di sini ? " Tanya pria itu.
" Kau terlihat sangat suka mochi " ucap pria itu tatkala melihat piring Maya yang berisi berbagai macam rasa mochi.
" Yahh.. ini sangat sweet dan lembut " jawab Maya seraya memasukkan mochi ke dalam mulutnya.
" Kau sendirian datang ke sini?"
" Tidak. Aku bersama keluargaku " Maya melihat bik Nur, Bu Farah dan Bagas yang sedang duduk bersama.
" Kenapa kau tidak gabung dengan mereka?"
" Tidak apa-apa" Maya benar-benar menikmati mochi di depannya. Ia sampai menjilan jari-jarinya, karena saking enaknya. Ia ingin menambahnya lagi beberapa.
Maya berdiri dan kembali ke meja makanan. Pria yang duduk bersama Maya tersentak kaget melihat perut Maya yang sedikit membuncit.
Banyak sekali dia makan, perutnya sampai membesar seperti itu. Biasanya wanita akan menjaga perutnya agar tidak membuncit, tapi dia berbeda_ batin pria itu_
Pria itu mengira perut Maya membuncit, karena makanan. Padahal itu isinya seorang bayi.
__ADS_1
Maya kembali ke tempat duduknya di mana pria itu berada. Pria itu tersenyum sangat kecil, sehingga hanya dia yang tahu. Ia tersenyum melihat mulut Maya yang belepotan akibat mochi.
" Oh ya..boleh aku tahu namamu ? " Pria itu ingin berkenalan
" Namaku Maya "
" Sepertinya kamu bukan orang sini " tebak pria itu.
" Kenapa anda bisa tahu ?" Maya mengalihkan matanya dari piring ke arah pria itu.
" Karena namamu tidak seperti nama-nama orang di negara ini"
" Haha...Anda memang benar, aku bukan dari negara ini "
" Oh ya? Kau memang berasal dari negara mana ?" Pia iru semakin penasaran dengan Maya. Ia ingin menggali lebih.
" Aku dari Indonesia "
" Kenapa bisa kau ada di negara ini? "
" Aku datang ke...." Perkataan Maya terhenti, karena ia mendengar nama di panggil.
" Maya" Maya menoleh.
" Iya, kak " jawab Maya saat melihat Bagas berjalan ke arahnya.
" Kenapa kamu di sini? " Bagas mencari keberadaan Maya tadi.
" Aku sedang makan mochi " Maya menunjukkan piringnya.
" Kenapa tidak duduk dengan kami di sana?" Bagas menunjuk ke arah bik Nur dan Bu Farah.
" Aku duduk di sini agar lebih dekat dari meja itu. Jadi saat aku ingin nambah akan lebih dekat"
Bagas ingin berbicara lagi, tapi suara di belakangnya membuatnya menoleh.
" Tuan Bagas, anda ada di sini juga ?" Pria yang duduk bersama Maya tadi ternyata mengenal Bagas.
" Tuan Albert, maaf saya tidak melihat anda " Bagas berbalik dan berjabat tangan dengan Albert.
Ternyata pria itu bernama Albert Einstein. Dia adalah salah satu teman kolega bisnis Key yang otomatis Bagas juga mengenalnya, karena dia adalah sekertaris Key yang selama bersama.
.
__ADS_1
.
LANJUT