Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Kembali setelah sekian lama


__ADS_3

Di sisi yang berbeda. Di mana kedua orang tuan Key serta pamannya kini kembali lagi ke mansion setelah sekian lama mereka meninggalkannya.


Mereka di antar pulang oleh 2 pengawal pribadi Maya. Jika mereka tidak di antar oleh pengawal, maka para penjaga gerbang tentu tidak akan mengenal mereka, karena mereka bekerja setelah kedua orang tua Key dinyatakan meninggal.


Paman Syam dan aunty Sheila sedikit deg-degan saat mereka hampir sampai di mansion. " Kita kembali pulang, pah" ucap aunty Sheila seraya merebahkan kepalanya di pundak sang suami.


" Iya, Ma. Kita pulang" ucap paman Syam ketika melihat gerbang besar di depan. "Pagarnya tidak berubah" tambah paman Syam.


" Tapi kita tidak tahu bagaimana di dalamnya" aunty Sheila ikut melihat gerbang yang ada di depan.


Mobil kini mulai mendekati gerbang dan saat para penjaga melihat mobil salah satu pengawal pribadi nyonya Maya mereka, mereka buru-buru membuka gerbangnya serta membungkukkan badan mereka untuk memberi hormat.


" Apa mereka mengenal kita?" tanya aunty Sheila. Ia berfikir penghormatan itu untuk dirinya dan yang lain. Padahal penghormatan itu untuk nyonya Maya mereka, karena mereka menganggap ada Maya di dalam manik itu.


" Mereka tidak mengenal kita, tapi penghormatan itu untuk Maya istri Key. Apalagi ini mobil pengawal pribadinya" jawab uncle Jang.


" Oh ya, aku melupakannya"


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di halaman mansion. " Kita sudah sampai nyonya, tuan-tuan" kata pengawal di balik kemudi.


Paman Syam dan aunty Sheila tidak langsung turun, berbeda dengan uncle Jang sudah turun lebih dulu. Sepasang suami istri itu berdiam diri melihat mansion yang dulu paman Syam bangun untuk sang istri beserta Key. Mansion itu tidak berubah sama sekali dari pertama kali paman Syam membuatnya. Bahkan warna catnya masih Key pertahankan hingga saat ini.


" Ayok turun! kenapa kalian hanya diam saja?" uncle Jang mengintip keduanya dari pintu mobil.


" Tidak apa-apa" jawab paman Syam.


Paman Syam pun keluar dan membantu istrinya untuk keluar juga. Mereka mengikuti langkah pengawal menuju pintu utama. Mereka hanya diam selama mereka berjala. ke arah pintu.


Sampai akhirnya mereka sudah sampai dan pengawal itu membuka pintu agar para nyonya dan tuan-tuan bisa masuk.


Paman Syam dan aunty Sheila melangkah lebih dulu dan uncle Jang tepat berada di belakang mereka. Saat baru saja mereka melangkah memasuki mansion, mereka kembali berhenti, lebih tepatnya hanya aunty Sheila yang lebih dulu berhenti membuat kedua pria ikut berhenti.


" Mah.." panggil paman Syam saat melihat istrinya diam mematung.


Namun, istrinya tidak memberikan respon apapun. Ia mengikuti arah pandang istrinya dan ternyata dia melihat seseorang yang berdiri lumayan jauh di depan. Terlihat seorang wanita paruh baya, tapi masih terlihat bugar di usianya yang tidak lagi muda.

__ADS_1


" Bik Nur.." panggil aunty Sheila.


Benar. Dia adalah bik Nur, pengaduk Key saat dia masih kecil dan kini sudah menjadi kepala pelayan sekaligus menjadi orang tua bagi Key dan yang lainnya.


" Nyo.. nyonya" panggil bik Nur dengan terbata-bata. Ia melangkah lebih dekat untuk memastikan apa yang ia lihat adalah nyata. Begitu pun dengan aunty Sheila , dia juga melanglang lebih dekat ke arah bik Nur.


" Bibik.." panggil aunty Sheila lirih. Matanya sudah berkaca-kaca.


" Nyonya, apakah ini benar-benar anda?" tanya bik Nur saat ia sudah berdiri di hadapan aunty Sheila. Ia memegang bahu aunty Sheila dan juga air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


" Iya, bik" aunty Sheila mengangguk. " Ini benar aku, Sheila" Sheila tersenyum menatap wajah bik Nur serta air mata yang sudah mengalir.


" Ya ampun nyonya..." bik Nur langsung memeluk Sheila dengan erat. Bahkan ia sedikit berteriak kerena sangat shok melihat Sheila ada di hadapannya saat ini.


Bagaimana bik nur tidak kaget, ia melihat bagaimana nyonya dan tuannya di bunuh di mansion ini. Dan kini mereka ada di hadapannya dengan keadaan yang masih baik-baik saja, bahagia? itu pasti.


" Ba.. bagaimana bisa?" tanya bik Nur setelah pelukannya terlepas.


" Ceritanya sangat panjang, bik. Lain kali aku akan menceritakannya"


Bik Nur mengangguk dan tersenyum. Ia menghapus air matanya dan mengajak mereka untuk duduk.


Mereka mengangguk dan mengikuti bik Nur ke sofa. " Saya buatkan Anda minuman dulu" bik Nur kembali berdiri dan pergi ke dapur tanpa mendengar persetujuan mereka.


" Mansion tidak berubah sama sekali. Letak barang-barangnya pun begitu. Hanya ada beberapa barang tambahan saja" ucap paman Syam setelah bik Nur pergi. Ia saat memperhatikan sekita ruang tamu yang ia lewati dan ruang keluarga di mana ia duduk saat ini.


" Kamu benar, pah. Key tidak merubah sedikitpun yang ada di mansion ini" aunty Sheila membenarkan.


" Bahkan...." perkataan paman Syam terhenti saat mendengar suara.


Greeekk.. ehh..


Mereka sama-sama menoleh ke sumber suara. Mereka bisa melihat seorang wanita berdiri di dekat tangga tengah berusah mengambil handphonenya yang terjatuh.


Aunty Sheila mendekati wanita itu dan membantunya mengambil handphonenya yang terjatuh.

__ADS_1


" Terimakasih, nyonya"


" Sama-sama. Oh yah, siapa namamu?" tanya aunty Sheila saat ia sudah memberikan handphone wanita itu.


" Nama saya Jihan, nyonya" Handphone Jihan lah yang terjatuh. Ia tidak bisa mengambil handphonenya sendiri, karena kesusahan membungkuk ataupun berjongkok. Mengingat dirinya yang tengah hamil besar.


" Sudah berapa bulan kandunganmu?" tanya Sheila saat melihat perut Jihan yang sangat membuncit.


" Sudah 8 bulan, nyonya " Jihan mengusap perutnya dan tersenyum mengingat dirinya yang sebentar lagi akan melahirkan dan akan bertemu dengan buah hatinya.


" Ternyata sebentar lagi" aunty Sheila ikut tersenyum melihatnya.


" Ehh..Jihan" ucap bik Nur saat ia sudah kembali dari dapur dan melihat Jihan serta Sheila tengah berdiri di dekat tangga.


" Iya, bik Nur" Jihan menoleh.


" Kamu duduklah! nyonya minumannya sudah jadi " bik nur mengajak kedua-nya dan juga meletakkan minuman di atas meja.


Aunty Sheila mengangguk dan mengajak Jihan dengan menarik tangannya. " Ayo bergabung!" Jihan pun mengangguk dan mengikuti langkah aunty Sheila.


Mereka pun duduk kembali dengan Jihan duduk di sebelah bik Nur. Ia sedikit canggung bergabung dengan mereka.


" Oh ya Jihan, kenalkan mereka adalah kedua orang tua Key serta pamannya" bik Nur memperkenalkan mereka dengan menunjuk menggunakan 5 jarinya.


Jihan kaget mendengarnya, matanya bahkan membulat. Bukankah mereka sudah meninggal _ batin Jihan_


" Dan nyonya, tuan, ini adalah Jihan sekaligus istri Tama" bik nur kembali memperkenalkan Jihan pada mereka.


" Ohh..kamu istrinya Tama" ucap aunty Sheila.


" Iya, nyonya"


" Kalau begitu jangan panggil nyonya dong, panggil aku aunty seperti Tama memanggilku"


.

__ADS_1


.


LANJUT


__ADS_2