
" Maaf..di mana suami bik nur pada saat itu?" tanya Bu Sri.
"Suami saya juga ikut meninggal saat kecelakaan itu terjadi" jawab bik Nur.
" Perjalanan kalian sangat luar biasa" ucap Bu Sri.
"Begitulah. Begitu banyak rintangan yang kami lalui setelah kecelakaan itu terjadi" ucap bik Nur.
" Bagaimana bik Nur bisa bertemu dengan Bagas dan Tama?" tanya Bu Sri.
" Key dan Tama dulunya satu sekolah saat di sekolah dasar. Kedua orang tua mereka adalah teman bisnis, hingga akhirnya mereka bersahabat. Kalau Bagas dulunya anak jalanan dan aku bertemu dengan Key dan Tama saat mereka sudah SMP" jawab Bagas. Ia yang menjawabnya, karena ia tahu bik Nur tidak akan menjawabnya dengan alasan tidak ingin mengungkap dari mana ia berasal.
" Hah..kamu dulunya tinggal di jalan? kamu gak bohong sama ibu kan?" Bu Sri sangat kaget, ia tidak percaya.
" Benar, Bu. Bagas memang dulunya dari jalanan dan key mengajak Bagas untuk tinggal di rumahnya bersama dengan bibik" jawab Bagas seraya melihat bik nur dari kaca depan.
" Maafkan ibu yang menginginkanmu kembali ke masa itu" ucap Bu Sri.
" Tidak apa-apa, Bu. Bagas tak masalah" jawab Bagas.
Mereka kembali diam sampai akhirnya mereka tiba di depan gang rumah Bu Farah. Mereka menyimpan mobilnya di depan gang dan berjalan masuk bersama mengantar Jihan dan Bu Farah.
" Kalian duduk dulu" ajak Bu Farah.
" Nggak usah Bu, Ini sudah jam 08:00 dan kami ingin jalan-jalan setelah pulang dari sini" tolak Maya.
" Yasudah kalau begitu, kalian hati-hati" ucap Bu Farah.
" Iya, Bu. Kami pamit" jawab Maya.
Mereka pamit dan pergi ke taman untuk menikmati jajanan yang ada di sana. Bik Nur juga membawa karpet untuk mereka duduk bersama.
" Kok bibik bisa berfikir bawa tikar, sih?" tanya Maya yang marasa lucu duduk di bawah seperti piknik, tapi bedanya ini sudah malam.
" Karena bibik fikir, di sinikan hanya ada bangku yang cukup dua orang saja, sedangkan kita banyak. Masa kita mau duduk berpisah jadi bibik inisiatif bawa tikar ini" jawab bik Nur.
" Hahha..bibik memang cerdas deh" puji Bagas. Ia menyandarkan kepalanya di pundak sang bibik.
" Ahh.. kamu ini buat bibik malu" ucap bik Nur dan memukul pelan pipi Bagas yang berada di pundaknya.
" Bibik sakit tau" ucap Bagas bohong. Padahal bik Nur hanya memukulnya sangat pelan, lebih keras kalau lagi pukul nyamuk.
" Ohh..benarkah. Maafkan bibik, olululu" ucap bik Nur. Ia meladeni kemanjaan Bagas dan mengusap pipi Bagas dengan sayang.
" Heh..Lo ngalahin anak kecil yang di sono noh" Key melemparkan Bagas tisu yang ia pegang dan menunjuk ke arah anak kecil yang sedang barmain lari-larian.
" Lo kenapa si? sensi aja lo" ucap Bagas kesal.
__ADS_1
" Jangan begitu Key. Kasian Bagas ucap bik Nur. Ia menyuapi Bagas yang membuka mulut ke arahnya.
" Bik, jangan di manja terus Bagas-nya. Otaknya lalot kalau nggak di suap dulu. Harus di jelasin sejelas-jelasnya. Mumpung-mumpung kalau kalau dia ngerti, kalau nggak? hmmm..." ucap Key yang menceritakan kebiasaan bagas, tapi walaupun begitu. Bagas selalu profesional dalam bekerja.
" Ohh.. gitu yah? nanti bibik ajarin biar Bagas nggak lalot lagi" ucap bik Nur.
Mereka benar-benar menikmati kebersamaan di malam itu. Berkumpul dengan keluarga adalah impian semua orang. Walau hanya duduk dan bercerita saja, itu sudah membuat bahagia.
Tapi, di tempat berbeda dan lebih tepatnya di manssion. Tama masih berada di taman belakang setelah kepergian Jihan.
Dia hanya diam di sana menatap lampu yang ada di taman manssion. Helaan nafas selalu keluar dari mulutnya. Tama memilih untuk tidak ikut dengan yang lainnya, karena tidak ingin mereka melihatnya tampak kusut.
Tama mengusap wajahnya kasar dan beranjak dari sana. Dia pergi ke kamarnya dan mengganti bajunya menjadi baju kaos. Tama menyambar jaket kulit yang tergantung di tempat gantungan baju.
Tama mengambil mobilnya yang masih terparkir di halaman manssion dan membawanya keluar menuju bar miliknya.
Tama membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sangat lihai menyalip kendaraan lain yang menurutnya menghalangi jalannya.
Ckitzzz....
Ban mobil bergesekan dengan aspal terdengar nyaring di parkiran bar. Tama keluar dengan aura dinginnya, membuat wanita-wanita berfikir dua kali untuk mendekat.
" Jes, seperti biasa" ucap Tama. Ia sudah berada di dalam bar dan meminta minuman yang salulu ia menum jika datang ke bar ini.
" Siap bos" Jes mengangkat jempolnya. Jes merupakan kepercayaan Tama di bar miliknya sekaligus pembuatan minuman di bar itu, tapi Jes punya asisten di pembuatan minuman jadi ada yang membantunya.
" Sepertinya ada masalah lagi nih" ucap Jes, setelah metakkan minuman itu.
" Ckk.." Tama hanya berdecak.
" Apa kali ini sangat rumit?" tanya Jes.
" Lebih dari itu" jawab Tama seraya meneguk minumannya.
"Woo.. butuh bantuan?" tawar Jes.
" Tidak perlu" jawab Tama.
" Baguslah. Jadi pekerjaan gue gak nambah" ucap Jes. Tama hanya melirik Jes dengan ekor matanya saja.
" Apa ada pekerja baru di sini?" tanya Tama.
" Pekerja apa dulu nih, soalnya banyak sekali pekerja baru yang masuk terutama sebagi pelayan pria ( Pel***r)" ucap Jes.
" Yah..pekerja yang itu" ucap Tama.
" Adalah, kurang lebih ada 20 pelayan baru" jawab Jes.
__ADS_1
" Apa ada pelayan yang baru satu Minggu belakangan ini bekerja?" tanya Tama.
" Ada, tapi hanya dua orang saja" jawab Jes.
"Bagaimana ciri-ciri mereka?" tanya Tama.
" Wahh.. ciri-ciri mereka sama, tapi ketenaran mereka yang berbeda. Ada satu yang sangat banyak pria-pria tua menginginkan pelayanannya" jawab Jes.
" Wow..apa dia sehebat itu?" tanya Tama.
" Mungkin, karena gue tidak pernah memakainya" jawab Jes.
" Why, apa punya sudah tidak kuat?" ledek Tama.
"Enak aja, punya gue masih sangat kuat. Masih bisa meladeni 4 wanita dalam satu malam saja" jawab Jes.
"Hahah..." Tama hanya tertawa.
" Gue juga milih-milih kali. Ya kali gue sama yang sudah ditusuk puluhan orang berbeda-beda" ucap Jes.
" Wah..Dia baru seminggu tapi sudah puluhan orang yang berbeda. Biasanya kalau awal-awal seperti itu hanya jarang di lirik, itupun biasanya hanya orang yang sama" ucap Tama.
" Ya..begitulah. Dia sudah terkenal di bar ini. Sehingga banyak yang mencarinya" ucap Jes.
" Kenapa lo tidak mencobanya saat datang pertama kali?" tanya Tama.
" Nggak mau aja gue, karena gue tahu dari wajahnya saja tampak dia adalah pemburu" jawab Jes.
" Sadis amat lo biling pemburu" ucap Tama.
"Terus julukan apa lagi?" tanya Jes. Tama hanya mengangkat bahunya.
" Panggil dia kemari. Gue pengen tahu seperti apa wajahnya!" pinta Tama.
" Wahh..apa lo ingin mencobanya?" tanya Jes.
" Tentu saja tidak. Gue hanya penasaran saja" jawab Tama. Jes hanya tertawa kecil dan memerintahkan pelayan lain untuk memanggil wanita itu.
Beberapa menit kemudian wanita itu muncul dengan pakaian yang sangat seksi. Bahkan belahan dadanya sudah terpampang dengan jelas. Hanya ujungnya saja yang tidak terlihat.
" Itu dia" ucap Jes. Tama menatap wanita itu dan tersenyum miring.
" Maaf tuan membuat anda menunggu. Saya baru saja selesai bekerja" ucap gadis itu dan duduk di pangkuan Jes.
" Menyingkirlah!" Jes mendorong wanita itu dari pangkuannya.
Wanita itu tidak tersinggung dan hanya tersenyum menggoda. Tama memperhatikan tingkah wanita itu sejak tadi dan memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.
__ADS_1
" Boleh juga dia, tapi sayang kau akan bermain-main denganmu sampai kau meminta tolong untuk berhenti" batin Tama