Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Membuka mata


__ADS_3

Setelah sepeninggalan dokter, Key duduk di lantai dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia berfikir Maya akan sadar, tapi ternyata tidak sesuai dengan harapannya.


"Sabarlah Key. Setidaknya Maya memiliki perkembangan yang bagus" ucap Mama Sheila sambil mengusap punggung Key.


Key tidak mengatakan apapun. Ia tetap pada posisinya. Namun, tak berselang lama Key langsung berdiri begitu saja, membuat mama Sheila yang tadi mengusap punggungnya menjadi kaget dengan pergerakan Key tiba-tiba.


"Key, kamu kenapa?" tanya mama Sheila.


Key tidak menjawabnya dan langsung keluar dari ruang rawat istrinya dengan tergesa-gesa. Mama Sheila sedikit berteriak memanggilnya namanya, tapi Key tidak menghiraukannya.


"Mah, biarkan saja" papa Syam menarik lengan istrinya untuk duduk. "Key mungkin butuh sendiri untuk menenangkan pikirannya" lanjut papa Syam.


"Tapi mama khawatir, pah" ucap Mama Sheila seraya menoleh dan menampil raut wajah khawatirnya.


"Key tidak apa-apa, mah. Key tidak mungkin meninggalkan istrinya di sini" Papa Syam menenangkan istrinya agar tidak terlalu khawatir.


Mama Sheila menarik nafas perlahan dan menghembuskannya. Ia benar-benar khawatir pada putranya. Ia takut Key bertidak ya aneh-aneh.


Ruang rawat Maya terdengar sepi, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing.


"Tam.." bisik Jihan. Ia mencolek lengan Tama.


"Kenapa?" Tama menolehkan wajahnya dan dapat melihat wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat, bahkan wajah mereka hampir menempel.


"Aku ingin buang air kecil. Aku sudah menahannya sejak tadi" ucap Jihan sambil memegang perut bagian bawahnya.


"Kenapa nggak langsung ke kamar mandi?"


"Temenin ihh...aku takut tahu" wajah Jihan sedikit cemberut.


"Hmm.. baiklah" Tama pasrah dan berdiri.


Tama juga membantu Jihan untuk berdiri dan menuntunnya berjalan ke kamar mandi.


" Kalian mau ke mana?" tanya mama Sheila ketika melihat Jihan dan Tama berdiri.


"Jihan ingin ke kamar mandi, aunty" jawab Tama.


Mama Sheila mengangguk. Tama dan Jihan kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi Tama membantu Jihan duduk di kloset dan ingin keluar, tapi baru saja Tama ingin berbalik, suara Jihan membuat niatnya terhenti.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Jihan


"Aku tunggu kamu di luar"


"Temani aku di sini sampai selesai. Buat apa aku memintamu menemaniku ke kamar mandi kalau kamu ujung-ujungnya keluar juga"


Tama lagi-lagi membuang nafas pasrah. Ia tidak ingin membantah permintaan Jihan. Jika ia membantah, yang ada Jihan tidak akan mau tidur dengannya malam ini dan bisa saja malam-malam berikutnya.


"Baiklah-baiklah" Tama kini berdiri menghadap ke arah Jihan yang terlihat akan membuka ****** ********, karena Jihan menggunakan dress


Tama dan Jihan saling tatap-tatapan dengan diam. Jihan dengan pikirannya yang sibuk menyelesaikan buang airnya, sedangkan Tama menjadi panas sendiri melihat Jihan di depannya.


Kalau bukan berada di rumah sakit, Tama akan langsung menggendong Jihan keluar dari kamar mandi dan bermain kuda-kuda bersama.


"Udah " ucap Jihan seraya merentangkan tangannya untuk meminta bantuan pada Tama agar membantunya berdiri.


Tama membantu Jihan berdiri dan juga membantunya membenarkan celananya kembali. Mereka pun kembali keluar dan duduk di sofa kembali, tapi Tama tidak karena sudah tidak muat.


Beberapa menit kemudian, pintu ruang rawat Maya terbuka dari luar. Mereka secara bersamaan menoleh dan melihat beberapa suster memasuki ruang rawat Maya. Namun ada hal yang membuat mereka kaget, yaitu melihat Key mendorong sebuah box dengan dinding kaca berisi seorang bayi.


Sontak saja mereka sama-sama berdiri dari duduk mereka, tak terkecuali Jihan. Walaupun dia sedikit kesusahan.


Key hanya melirik mereka dan mengangguk. Salah satu suster membuka penutup kaca itu dan mengeluarkan bayi kecil yang terlihat cantik dan memberikannya pada Key. Dengan hati-hati Key menerimanya dan mendekati Maya.


"Boo..aku membawa malaikat kecil kita. Dia sangat cantik sepertimu. Apa kamu tidak ingin membuka matamu dan melihat putri kita?" Key tersenyum getir dan berusaha menahan tangisannya.


Key lalu meletakkan putri kecilnya di sebelah Maya. "Dia ada di dekatmu saat ini. Lihatlah, dia juga sangat merindukanmu"


Putri kecil mereka terlihat mencari sumber air susunya. Dia seakan tahu jika dia sedang berada di samping sang ibu. kepalanya menoleh kearah Maya dengan mulut yang menganga mencari sesuatu. Tangannya juga bergerak sana sini mengenai tubuh Maya.


Ketika bayi itu tidak berhasil mendapatkan apa yang dia cari, dia pun menangis sangat kencang.


"Key, putrimu menangis" ucap Mama Sheila ketika melihat Key diam saja.


"Biarkan saja, mah. Dia ingin minum susu dengan Mamahnya, tapi mamanya tidak mau membuka matanya. Mamanya membiarkan putrinya kelaparan dan tetap memilih untuk tidur"


Key melakukan hal tersebut, karena ia berfikir dengan suara putri mereka akan membuat istrinya bangun.


Suara bayi itu tidak henti-hentinya menangis. Para suster merasa kasihan melihatnya, tapi Key masih tetap kekeh.

__ADS_1


"Key, putri tidak berhenti menangis, kasihan dia" ucap Mama Sheila khawatir.


Key tetap diam dan tidak menggubrisnya.


Tak berselang lama, suara Maya yang terdengar lirih membuat mereka kaget.


"Put..ri..ku.." ucap Maya


"Putri..ku.."


"Bangunlah boo. Putri kita lapar, apa kamu tidak kasihan padanya?" mata Key sudah berkaca-kaca.


Mata Maya kini mengerjap. Dia kemudian menoleh ke samping di mana dia bisa melihat Key berdiri dan melihat seorang bayi yang menangis.


Tidak ada suara yang keluar dari mulut Maya. Entah apa yang Maya rasakan dan dia fikirkan, Maya meraba dadanya dan berusaha membuka kancing bajunya pasiennya dengan tangan bergetar.


Key yang melihat Maya kesusahan membantu Maya untuk membukanya. Maya pun mengeluarkan gumpalan kenyal itu dan mengatakannya pada putrinya. Bayi mereka kini sudah diam dan terlihat sangat rakus menghisap sumber makanannya.


Mereka yang ada di dekat sofa tahu apa yang sedang Maya lakukan, tapi mereka tidak bisa melihat bagaimana Maya menyusui putrinya, karena ada Key yang menghalanginya.


Para pria selain Key memilih keluar dari sana agar Maya bisa lebih leluasa. Key yang melihat putrinya begitu lahap menyusu dan melihat istrinya sudah sadar membuat Key merasa lemas. Key langsung membenamkan wajahnya di atas brangkar dan menangis.


Tak berselang lama, Key berhenti dan mengangkat kepalanya menatap Maya. Ia melihat Maya yang akan menutup matanya kembali, hal itu tentu saja membuat Key panik.


"Boo, jangan tutup matamu, boo" ucap Key panik. Ia juga mengusap pipi Maya.


"Ke..Key" ucap Maya lirih.


"Iya, boo. Aku ada di sini. Aku mohon jangan tutup matamu lagi"


"Ap..apa..kah i..ni mi..mpi?" Maya masih sangat lemah dan kesusahan berbicar dengan lancar. Ia juga mengangkat tangannya dengan sangat pelan ingin menyentuh wajah Key.


"Bukan. ini bukan mimpi boo" Key meraih tangan Maya dan meletakkan di pipinya.


"Be..nar..kah?" Maya menggerakkan jari-jarinya untuk memastikan apa yang ia sentuh adalah nyata.


.


.

__ADS_1


LANJUT


__ADS_2