
" Boleh kami masuk dulu ? kami sangat lelah"
" Ohh.. tentu. Masuklah. Aku akan buatkan kalian minum " Maya meninggalkan mereka. Walaupun perasaannya kini tidak menentu.
Dia tidak melihat keberadaan suaminya bersama kedua sahabatnya. Maya bertanya-tanya dengan isi hatinya. Hingga dia tidak sadar jika air yang dia tuangkan ke gelas sudah tumpah.
" Astaga..Maya!" pekik bik Nur. Dia mengambil alih gelas itu dari tangan Maya.
" Maaf bik. Maya nggak sengaja "
" Ada apa ?" tanya bik Nur.
" Mereka sudah pulang bik, tapi suamiku tidak ikut pulang dengan mereka " Maya menatap bik Nur sendu.
" Mungkin urusannya belum selesai. Kita tanya mereka nanti, kenapa suamimu tidak pulang " bik Nur berusaha membuat Maya untuk berpikir positif.
Maya hanya membuang nafas lesuh dan mengangguk. Ia mengikuti langkah bik Nur ke ruang tamu di mana Bagas dan Tama ada di sana.
" Kalian mau makan dulu ?" tanya bik Nur.
" Nggak usah bik, kami sudah makan di jalan tadi " tolak Bagas.
" Bibik tinggal kalau begitu " bik Nur meninggalkan mereka dan kembali ke pekerjaannya.
Maya masih duduk di sana dan memperhatikan kedua pria tersebut. Dia ingin bertanya, tapi ia juga takut dengan jawaban mereka nantinya. Ia berusaha berfikir positif, walaupun pikirannya berkecamuk.
" Kak.." panggil Maya ragu.
" Yah..?" kata Bagas.
" Di mana suamiku ? kenapa dia tidak pulang bersama kalian ? apa dia masih punya urasan di sana ? dia baik-baik saja kan ?" berbagai pertanyaan Maya lontarkan kepada Bagas.
Bagas yang di tanya seperti itu menjadi bingung. Dia yang sejak tadi masih mencari cara untuk memberitahu keadaan Key saat ini.
" Tanya nya pelan-pelan, Maya. Aku jadi bingung mau menjawab yang mana dulu " kata Bagas.
" Maaf, kak. Kenapa suamiku tidak ikut pulang bersama kalian ?" tanya Maya sekali lagi.
" Key masih tinggal di sana. Dia belum bisa kembali "
__ADS_1
" Kenapa ?" tanya Maya begitu penasaran.
"Dia punya urusan yang harus Key selesaikan. Key tidak bisa meninggalkannya" Bagas akhirnya memilih berbohong.
Melihat wajah khawatir Maya, membuat Bagas mengurungkan niatnya untuk memberitahunya.
" Kenapa kalian tidak tinggal dan membantunya ? biar urusannya cepat selesai ?" Maya sebenarnya bingung. Kenapa mereka tidak ikut tinggal dengan suaminya, sementara dia hanya sendiri di sana.
Bagas menjadi diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Pertanyaan Maya sangat menjebak dirinya. Dia menyukai Tama yang ada di sebelahnya untuk meminta bantuan.
" Kenapa kalian hanya diam ? beritahu aku ga sejujurnya, kak. Aku menunggu kalian pulang dan saat kalian pulang tidak bersama dengan suamiku. Perasaan mengatakan dia tidak baik-baik saja. Jadi aku mohon beritahu aku bagaimana kondisi sebenarnya " Maya sudah tidak tahan lagi. Ia sangat penasaran bagaimana kondisi suaminya saat ini.
Matanya sudah mulai berkaca-kaca, tapi belum keluar air matanya.
Bagas dan Tama menjadi merasa bersalah pada Maya. Mereka berdua saling pandang dan meminta pendapat masing-masing dari sorotan matanya. Tama akhirnya menggangguk dan setuju untuk memberitahu Maya yang sebenarnya.
" Maafkan kami. Kami tidak bermaksud untuk berbohong dengan kondisi Key saat ini. Kami hanya tidak ingin membuatmu khawatir dan berakibat pada janinmu " Bagas meminta maaf kepada Maya.
" Aku lebih khawatir jika aku tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya. Itu malah membuatku stress "
" Sebenarnya, misi kami sudah selesai. Semuanya sudah tuntas, tapi Key terkena tembakan di kepalanya, sehingga kami harus membawanya ke rumah sakit "
" Kenapa kalian tidak membawanya ke rumah sakit di kota ini ?" Maya kembali bertanya. Jawaban mereka belum memuaskan baginya.
" Tidak bisa. Itu terlalu jauh dan Key sudah kehabisan darah. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dengan fasilitas yang lengkap "
" Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Maya.
"Key dinyatakan koma " Bagas sebenarnya sangat ragu untuk mengatakannya.
Tama dan Bagas menunggu bagaimana reaksi Maya saat ini. Dia hanya diam saja dan menatap mereka, tapi tatapannya seakan tidak berada di sini. Namu, di tempat lain.
Sedetik kemudian, Maya menunduk dan bahunya tampak bergetar. Tama dan Bagas menjadi panik sendiri. Mereka ingin menenangkannya, tapi tidak mungkin mereka untuk memegangnya.
" Bagaimana ini ?" tanya Bagas berbisik pada Tama.
" Lu panggil bik Nur sana, cepat !" perintah Tama.
Bagas berlari kocar-kacir mencari bik Nur. Tak lama kemudian, bik Nur tampak berlari ke arah Tama dan Maya bersama Bagas. Bik Nur duduk di sebelah Maya dan meraih bahunya. Dia mengusap-usap punggungnya untuk memberinya ketenangan. Bik Nur membiarkan Maya untuk menumpahkan kesedihannya.
__ADS_1
Cukup lama mereka hanya diam saja, Maya kini sudah tampak tenang. Ia menghapus air matanya menggunakan jilbab yang ia kenakan.
" Bik.." panggil Maya lirih.
" Bibik tahu "
" Aku ingin melihatnya. Aku ingin di sana bersamanya. Aku ingin menemaninya di sana " Maya ingin menemani Key di rumah sakit. Ia ingin selalu ada di samping suaminya sampi dia sadar.
Bik Nur tidak menjawab pertanyaan Maya. Dia hanya menoleh dan menatap kedua pria depannya, karena hanya mereka yang bisa menjawab pertanyaan Maya.
" Bagaimana ? kalian bisa mengantarnya ?" tanya bik Nur.
" Buk..bukan kamu tidak bisa bik, tapi di sana Maya tidak ada tempat di rumah sakit. Apalagi saat ini, Key tidak bisa untuk di jenguk. Kami hanya melihatnya di pembatas kaca saja " kata Bagas.
" Nggak apa-apa, kak. Aku bisa menunggu di luar saja "
" Itu nggak mungkin Maya. Saat ini kamu sedang hamil. Posisi yang nyaman untuk tidur itu harus bagus. Kamu mau bayimu kenapa-napa nantinya " kata Tama.
Maya menjadi diam. Dia lupa tentang kehamilannya, tapi ia tidak bisa tenang jika tidak melihat kondisi suaminya secara langsung.
" Tapi, aku ingin melihatnya. Aku mohon, kak. Bawa aku ke sana. Aku tidak bisa tenajuka hanya berdiam diri di sini " Maya memohon kepada mereka.
Bagas dan Tama saling pandang. Mereka saling berkata melalui sorot mata mereka saja.
" Kami tidak bisa memastikan untuk membawamu ke sana, tapi kami akan berusaha. Kami akan mencari penginapan atau hotel yang dekat dengan rumah sakit. Jika memang ada kami bisa membawa dan kondisimu memungkinkan untuk pergi " Tama akhirnya mau untuk membawa Maya, tapi itu belum bisa di pastikan.
" Jadi kamu harus menunggu dulu " kata Bagas.
" Nggak apa-apa. Aku akan menunggu, asalkan kita bisa kesana " Maya tidak mempermasalahkan waktunya. Ia hanya ingin menemui suaminya saja.
" Baiklah. Kamu tunggu saja info dari kami. Kamu juga harus menjaga kondisi untuk tetap sehat dan tidak drop. Jika kamu drop, kami tidak akan membawamu " kata Tama.
" Yahh..aku pasti melakukannya "
.
.
LANJUT..
__ADS_1