
" Kita ke penginapan dulu untuk istirahat, kemuadian mencari alamat dokter Manuel " Tama menjalankan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan rumah sakit.
" Kenapa nggak sekarang, kak ?" Maya sudah sangat khawatir.
" Kamu harus istirahat Maya. Kita juga belum makan " ucap Tama.
Maya menunduk. Dia hampir melupakan jika dirinya belum makan sejak tadi. Dia hanya nyemil saja selama di perjalan tadi, itupun makanan sudah habis bahkan mereka belum memasuki kota M.
Selama 10 menit Tama dan Maya berada di mobil, kini mobil mereka telah sampai di sebuah penginapan.
Tama turun lebih dulu, kemuadian mengambil tas milik Maya di bagasi. Maya yang merasa tidak enak hati, ingin mengambil tas itu, tapi Tama tidak membiarkannya.
Maya pasrah dan membiarkan Tama membawa tasya. Maya mengikuti langkah Tama masuk ke dalam penginapan.
" Ini kamarmu " tunjuk Tama pada salah satu pintu. " Kamarku ada di sebelah sana. Jika kamu butuh sesuatu panggil saja " Tama kemuadian menunjuk pintu yang berada di sebelah kamar Maya.
" Iya, kak " Maya mengerti.
" Setelah kamu menyimpan tasmu, pergilah ke dapur. Aku menunggu di sana untuk makan " ucap Tama.
" Iya, kak " Maya hanya bisa mengangguk saja.
Malam harinya
Maya sedang berada di dalam kamarnya, mengistirahatkan tubuhnya setalah beberapa jam perjalanan. rasa lelah juga terasa pada hatinya, karena memikirkan keberadaan dimana sang suami saat ini.
Khawatir? itu pasti. Maya ingin rasanya segera mencari keberadaan suaminya. perasaan takut akan kehilangan, membuat jantung Maya berdetak lebih cepat. Membuat dia kesulitan untuk tidur. Dia sangat takut tidak dapat bertemu dengan suaminya lagi.
Maya berusaha menepis hal-hal buruk dari pikirannya dan berusaha untuk membuat suasana hatinya membaik agar memudahkan yang untuk tertidur. Helaan nafas panjang keluar dari mulut Maya.
Maya yang masih berusaha untuk tidur, berbeda dengan Tama yang sibuk telponan dengan Bagas.
" Gue saat ini berenca mencari alamat rumah dari dokter Mikael " kata Tama di telpon.
" Kenapa uncle Jang tidak memberitahu kita sama sekali ? dia bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaan Maya sebagai istri Key. Apa uncle Jang sebenarnya tidak setuju Key bersama Maya, sehingga dia tidak menginformasikan pada kita sama sekali " kata Bagas dari seberang telepon.
__ADS_1
" Itu tidak mungkin. Uncle Jang kan belum pernah bertemu dengan Maya sama sekali. Jadi bagaimana dia bisa tahu sifat Maya dan perilakunya"
" Bukankah uncle Jang pernah bilang, kalau selama ini dia selalu mau mata-matai Key selama ini. Jadi dia pasti tahu sejak awal, kalau Key sudah menikah. Bahkan bisa saja dia tahu, kalau Key saat ini memiliki calon bayi" Bagas berfikir uncle tidak menyukai Maya dan berusaha memisahkan Maya dari Key.
Pikiran Tama mulai menerawang. Ia memikirkan perkataan Bagas yang bisa saja ada benarnya. Jika memang uncle jang dengan dengan sengaja memisahkan Key dengan Maya, bagaimana keadaan Maya dan calon bayinya kedepannya.
Mengingat Key saat ini sedang dalam kondisi koma dan ia tidak tahu kapan Key bisa sadar kembali. Ia berfikir jika Key koma dalam beberapa bulan, hal itu akan membuat Maya tertekan nantinya. Tama hanya bisa berharap Key cepat sadar dan kembali ke pelukan istrinya.
" Jadi, apa yang harus gue lakukan sekarang ?" Tama menjadi bingung sendiri.
" Lebih baik lo sekarang juga mencari alamat dari dokter Mikael. Jangan menunda-nundanya. Kita tidak tahu sebenarnya apa rencana dari uncle Jang. Gue takut dokter Mikael sebenarnya bersekongkol dengan uncle Jang " Bagas memiliki pikiran negatif terhadap uncle Jang.
" Baiklah. Lo juga cari informasi nomor handphone uncle Jang. Hubungi dia dan cari tahu keberadaan key saat ini"
" Oke" sahut Bagas di seberang telepon.
Tama kemuadian mematikan sambungan teleponnya dan berjalan menuju pintu kamar Maya. Ia ingin mengetahui apakah maya sudah tidur atau belum. Ia ingin berpamitan untuk mencari alamat dari dokter Mikael.
Tama mengetuk pintu Maya. Maya yang memang sedang kesusahan untuk tidur, mendengar ketukan pintu dia langsung bangunan dan membuka pintu.
" Aku kira kamu sudah tidur".
" Belum. Memang kenapa, kak Tama mengetuk pintu kamarku?"
" Aku ingin pergi mencari alamat dokter Mikael. Kamu tunggu saja di sini, nggak perlu ikut. Ini sudah malam dan itu tidak bagus untuk kehamilanmu "
Maya terdiam. Dia ingin ikut, tapi tidak ingin membantah Tama. Dia juga sebenarnya takut di tinggal sendirian di sini.
Tama yang melihat Maya hanya terdiam, tahu jika Maya sedang bimbang.
" Kamu tidak perlu takut, di depan ada anggota yang berjaga. Jika kamu butuh sesuatu mintalah pada mereka, mereka pasti akan membantumu. Mereka bukan orang jahat, kamu tidak perlu khawatir"
Penjaga yang memang sudah key persiapkan sejak awal untuk istrinya, sampai saat ini mengikuti kemanapun Maya pergi. Walaupun tanpa diperintahkan sama sekali.
" Iya, kak. Aku mengerti "
__ADS_1
" Salah satu penjaga di depan ada yang bernama Rud, panggil saja namanya dia kamu membutuhkan sesuatu "
" Iya, kak"
Tama mengangguk dan meninggalkan maya di sana. Sebelum pergi Tama berpesan kepada penjaga terutama kepada Rud untuk selalu waspada dan menjaga Maya dengan baik.
Tama juga meminta dua dari mereka untuk ikut dengannya mencari alamat dari dokter Mikael.
Mobil Tama mulai meninggalkan penginapan dengan Hud yang menyetir. Setelah hampir 30 menit mereka mencari rumah dokter Mikael, tibalah mereka di salah satu rumah yang berdinding batu bata.
Tama dan Hud serta satu anggota turun dari mobil dan mencoba mengetuk pintu rumah itu. Lumayan lama mereka mengetuk, akhirnya pintupun terbuka. Tampak seorang wanita yang hampir setara denga Bik Nur.
" Permisi nyonya. Maaf mengnggu anda di malam-malam seperti ini " ucap Tama.
" Tidak apa-apa. Ada apa gerangan anda datang ke rumah saya?" tanya wanita tersebut dengan pelan.
" Begini nyonya, saya mendapatkan alamat bahwa ini adalah rumah dari dokter Mikael. Apakah benar ini rumahnya ?" Tama mulain menanyakan maksud kedatangannya.
" Dokter Mikael ?" wanita tersebut memastikan.
" Benar nyonya. Apa ini rumahnya ?" tanya Tama sekali lagi.
" Anda mungkin salah alamat, karena saya hanya tinggal sendirian di sini. Lagipula saya tidak memiliki seorang putra, saya hanya seorang putri "
Tama kaget mendengarnya. Ia berfikir alamat yang di berikan padanya adalah alamat yang salah atau palsu. Tama menajdi bingung sendiri dan berfikir negatif.
" Tapi alamat yang tertulis di sini benar adalah alamat rumah ini " Tama menunjukkan kertas yang di berikan oleh perawat pagi tadi.
" Ini benar adalah alamat rumah ini, tapi tidak ada yang memiliki nama dokter Mikael di sini. Ini adalah rumah saya sejak dulu bersama almarhum suami saya "
.
.
LANJUT..
__ADS_1