Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Aku mohon


__ADS_3

" Ehh..kenapa kamu mencariku tadi ?" tanya Jihan sambil berteriak.


" Nggak jadi, soalnya kamu capek " sahut Amelia.


" Aku sudah selesai kok istirahatnya, jadi aku bisa bantu " ucap Jihan. Ia berjalan mengikuti Amelia.


" Ehh..nggak usah, kamu di kasir aja. Nanti ada pelanggan lagi " ucap Amelia. Ia menahan Jihan untuk tidak mengikutinya.


" Ini lagi sepi, Mel "


" Kamu bandel banget sih" Amelia kesal dengan sikap Jihan yang sangat susah di bilangin. Ia berbalik dan meninggalkan Jihan.


" Kok dia kesal, aneh " Jihan heran dengan Amelia yang kesal padanya. Ia gelang-gelang kepala dan kembali ke kasir.


Tringiing...


Suara lonceng berbunyi. Itu tandanya ada orang yang membuka pintu masuk toko.


" Selamat datang di toko kami dan selamat berbelanja " Jihan mengucapkan selamat datang pada pelanggannya seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Beberapa menit kemudian, pelanggan itu datang dengan mendorong troli berisi barang yang dia beli dan menaruhnya di atas meja kasir. Jihan mengambil dan menghitung harga barang pelanggan yang di beli.


" Totalnya satu juta lima ratus ribu, nyonya " Jihan menyebutkan total harga barangnya, setelah menghitungnya.


Pelanggan mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikannya pada Jihan. Jihan menerimanya dan menggesek kartu itu.


" Terimakasih sudah berbelanja di toko kami " ucap Jihan.


" Ehmm, boleh saya minta tolong ?" ucap pelanggan.


" Kalau saya bisa, saya bisa membantu nyonya " jawab Jihan.


" Saya minta tolong bawa separuh belanjaannya ke mobil saya yang ada di sebrang jalan " pelanggan itu menunjuk mobilnya yang ada di sebrang jalan.


" Mobil warnah hitam itu yah ?"


" Iyah. Apakah anda bisa ?" tanya pelanggan lagi.


" Bisa nyonya. Saya akan membantu " jawab Jihan. Ia keluar dari meja kasir dan mengambil satu kantong kresek besar.


Jihan mengikuti pelanggannya menyebrang jalan dan menaruh belanjaan itu di bagasi mobil pelanggan.


" Terimakasih yah, sudah membantu membawa belanjaan saya "


" Sama-sama nyonya " jawab Jihan tersenyum.

__ADS_1


" Saya permisi " pamit pelanggan itu.


" Iyah nyonya, mari " ucap Jihan.


Setelah mobil pelanggannya pergi, Jihan ingin kembali ke toko. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat.


Setelah merasa aman, Jihan meyebrang jalan dengan santai, karena ia tidak bisa berlari dalam keadaan hamil.


Saat ia sudah hampir sampai di sebrang jalan, tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan melaju ke arahnya. Jihan yang menyadari itu berusaha berlari, namun bagian bawah perutnya terasa sakit saat berlari.


" Ya Tuhan, bantu Jihan " Batin Jihan dalam larinya. Ia berusaha melawan sakit pada perutnya, karena berlari.


Di sela berlari, Jihan merasa seperti di tarik.


" Apa kamu tidak apa ?" ada seseorang yang bertanya padanya. Jihan membuka matanya dan melihat siapa yang bertanya.


Jihan langsung mendorong orang itu, saat ia tahu siapa yang membantunya.


" Aku tidak apa-apa. Terimakasih " jawab Jihan. Ia kemudian berjalan meninggalkan orang itu, namun ia terhenti karena merasakan sakit pada perutnya.


" Awwh..shhh..." desis Jihan saraya memegang bawa perutnya.


" Perutku sakit sekali " gumam Jihan. Ia meraba dinding toko untuk menopang tubuhnya. Ia ingin masuk ke dalam toko dan meminta bantuan pada Amelia.


" Ayo kita ke rumah sakit !" Jihan tersentak, saat secara tiba-tiba ada yang memegang bahunya.


" Ji..aku mohon kita ke rumah sakit. Aku tahu kamu tidak ingin melihatku, tapi ini demi bayi dalam perutmu " Tama memohon.


Tama lah yang menolong Jihan. Ia tidak merasa tersinggung dengan tolakan Jihan, karena ia tahu Jihan sangat membencinya. Saat mendengar Jihan meringis dan memegang perutnya, Tama panik dan menghampiri Jihan dan menawarkan untuk ke rumah sakit.


Mendengar perkataan Tama, Jihan mulai berfikir. Ia tidak boleh egois demi mementingkan egonya. Ia harus memeriksa keadaan perutnya dan mengetahui kondisi janinnya.


" Baiklah, aku mau, tapi lepaskan tangan anda dari bahu saya " Jihan akhirnya setuju dan mau untuk ikut dengan Tama ke rumah sakit.


" Izinkan aku membawamu duduk dulu, baru aku akan melepasmu "


Tama tidak mengkin melepas Jihan dalam keadaan seperti ini. Apalagi Jihan menahan tubuhnya dengan berpegang pada dinding toko.


Jihan pun mengangguk. Tama menuntun Jihan dengan pelan ke kursi panjang yang tidak jauh dari mereka.


Setelah Jihan duduk, Tama berlari mengambil mobilnya yang tidak jauh dari toko. Sekitar 5 meter saja dari tempat Jihan duduk.


" Sebenarnya sangat melas ketemu dengan pria bre****k, tapi kalau tidak ada dia, aku tidak tahu apa yang terjadi denganku dan bayiku " batin Jihan sambil melihat Tama berlari menjauh mengambil mobilnya.


**

__ADS_1


" Aku bantu masuk ke dalam mobil " Tama ingin membantu Jihan dengan mengulurkan tangannya. Ia berharap Jihan mau menerima uluran tangannya.


Jihan yang sebenarnya tidak ingin meraih tangan Tama, tapi mengingat ia tidak bisa berdiri akibat rasa sakit pada perutnya dengan hati terpaksa, Jihan menerima uluran tangan Tama.


Tama tersenyum melihat itu. Ia membantu Jihan berdiri dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Tama mendudukkan Jihan di depan, lebih tepatnya di sebelahnya.


Tama menaiki mobilnya dan membawa Jihan ke rumah sakit terdekat. Ia melajukan mobilnya agak kencang. Ia khawatir melihat wajah Jihan yang tampak menahan sakit sambil mencengkram kursi yang di duduknya dengan kuat.


" Tahan yah, sebentar lagi kita sampai " ucap Tama.


Jihan tidak menyahut. Ia menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya untuk berusaha mengurangi rasa sakitnya.


Tak berselang lama, mereka telah sampai di rumah sakit. Tama berputar dan membuka pintu di mana Jihan duduk.


" Pelan-pelan" Tama membantu Jihan turun.


" SUSTER.." teriak Tama.


Para suster yang melihat itu, berlari ke arah mereka dengan membawa kursi roda.


" Dia sedang hamil dan perutnya sakit " ucap Tama pada suster .


Mereka berjalan cepat menuju ruang obgyn. Setelah sampai, Tama mengangkat Jihan naik ke atas brankar. Jihan tidak protes sama sekali.


Dokter mendekat dan ingin memeriksa Jihan, tapi Jihan menahan tangan dokter yang ingin menyikap baju bagian atasnya.


" Kenapa nyonya ?" dokter heran saat Jihan menahan tangannya.


" Anda keluar !" Jihan menyuruh Tama keluar.


" Ohh..maaf.." Tama salah tingkah dan buru-buru keluar.


Dokter semakin heran melihat pasangan itu. Ia menggap mereka adalah suami istri dan istrinya malu di lihat oleh suaminya sendiri.


Dokter mulai menuangkan gel pada perut Jihan. Sensasi dengan yang dirasakan Jihan pada perutnya. Jihan menatap layar yang manmpilkan bayi dalam perutnya dengan diam, entah apa yang dia pikirkan.


" Semuanya baik-baik saja. Rasa sakit pada perut bagian bawah yang anda rasakan, karena pertambahan ukuran rahim dapat membuat ligamen ini menegang, sehingga muncul rasa nyeri pada perut bawah " dokter menjelaskan penyebabnya.


" Bukan karena saya berlari ?Tadi saya sempat lari dan membuat perut saya sangat sakit "


" Tidak. Itu bukan penyebabnya, kecuali anda terlalu memaksakan untuk berlari dengan kencang. Itu bisa berpengaruh pada perut anda " jelas dokter kembali.


.


.

__ADS_1


LANJUT..


__ADS_2