Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Karena kalian


__ADS_3

" Keluarga pasien " panggil dokter.


" Saya suaminya, dok" ucap Key. " bagaimana keadaan istri saya?" tanya Key. Ia sudah sangat tidak sabar mengetahui kondisi Maya.


Dokter menghela nafas berat dan kemudian berbicara " Maafkan kami tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin"


Deg


" Mak..maksud anda?" tanya Key dengan perasaan campur aduk.


" Kami harus mengeluarkan bayinya sebelum waktunya, karena benturan yang keras membuat istri anda mengalami pendarahan, tapi kondisi bayi anda baik-baik saja. dan saat ini bayinya sudah berada di dalam incubator"


Key bernafas lega anaknya baik-baik saja, tapi ada sedikit kekecewaan pada dirinya karena tidak bisa menjaga istrinya selama kehamilannya hingga Maya keguguran.


" Bagaimana dengan istri saya?" tanya Key lagi.


" Maafkan kami tuan, itulah kabar buruk yang akan kami sampaikan. Kami tidak bisa menjamin istri anda akan cepat sadar akibat benturan yang begitu keras mengenainya. di sini istri anda hanya butuh support dari anda dan seluruh keluarganya, agar istri anda memiliki semangat untuk sadar"


" Dan istri anda mengalami stres dan juga tekanan batin. Hal itu juga yang membuat istri anda tidak ada semangat untuk sadar. Saya hanya mengingatkan anda untuk selalu membuatnya bahagia, jangan membuatnya banyak pikiran" lanjut dokter.


Duarr...


Key bagai di sambar petir. Ia tahu penyebab istrinya mengalami stres dan juga tekanan batin, karena dirinyalah Maya mengalami hal tersebut. Ia tidak berada di sisinya selama menjalani kehamilannya.


Kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. Key menggeleng, karena menyadari kesalahannya. Ia mundur beberapa langkah sampai dirinya bersandar di dinding.


Dokter yang melihat itu tidak mengatakan apapun lagi. Dia kemudian meninggalkan keluarga pasiennya dan kembali melanjutkan tugasnya. Dia akan memberikan ruang untuk keluarga pasien meluapakan kesedihannya.


Sedangkan Key, tatapan menjadi kosong entah apa yang dia pikirkan. Sampai akhirnya Key memukul-mukul kepalanya dengan keras. Hal itu membuat mamah Sheila kaget dan segera menghampiri Key agar berhenti memukul kepalanya.

__ADS_1


" Key, hentikan!! jangan memukul kepalamu seperti itu" Mamah Sheila berusaha menghentikan Key, tapi tenaga Key lebih kuat daripada tenaganya sendiri.


" Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak meninggalkannya selama ini dan pulang lebih cepat. Ini semua karena otak bodoh ini. Kenapa aku bisa melupakan istriku sendiri, Arkhhh..." Key tidak henti-hentinya memukul kepalanya dan berteriak. Ia mengutuk dirinya yang kehilangan ingatan beberapa bulan.


" Key!!" Papah Syam berteriak memanggil nama Key yang berteriak sangat kencang. Ia menahan tangan putranya agar berhenti dan itu berhasil.


Key berhenti memukul kepalanya dan tidak berteriak. Key menatap sang papa dengan tajam begitupun dengan uncle Jang. Key menatapanya sangat tajam.


" Ini semua, karena kalain!!" Key menghempas tangannya dengan kasar agar papah Syam melepaskannya.


Key menjauh dari keluarganya dan menatap mereka satu persatu. " Kenapa kalian membawaku ke Jepang? dan kenapa kalain menyembunyikan aku dari istriku? Padahal kalain tahu aku sudah memiliki istri dan akan memiliki anak juha" Key meyalahkan keluarganya dan bertanya dengan emosi.


Key mengingat dirinya yang berada di Jepang selama berbulan-bulan untuk di rawat. Dan ia bertanya-tanya, kenapa mereka tidak membawanya ke London di mana istrinya berada.


Tama dan Bagas tentu saja kaget mendengarnya. Bagaimana tidak, mereka mencari keberadaan Key di sebrang pulau pada saat itu, tapi tidak ada tanda-tanda alat transportasi yang keluar dari London secara sembunyi-sembunyi. Dan ternyata selama ini Key berada di Jepang, padahal Bagas pernah ke sana karena urusan bisnis.


" Kaupun tahu kami membawamu ke sana, karena kita memiliki dokter yang lebih kompoten" jawab uncle Jang.


Mendengar itu uncle Jang dan papah Syam menjadi bungkam. Begitupun dengan Mamah Sheila yang menangis. Mamah Sheila sejak awal sudah memberitahu tahu suaminya dan adik iparnya agar tidak menyembunyikan keberadaan Key, tapi apa? mereka tetap saja melakukannya.


" Seharusnya aku tidak pernah bertemu dengan kalain. Hidupku sudah cukup berwarna semenjak kehadiran istriku, tapi kalian lagi-lagi merebutnya" Key berkata seperti itu, karena ia sudah dua kali merasakan kehilangan akibat ulah kedua orang tuanya.


" Key..." panggil Mama Sheila lirih. Ia tidak menyangka putranya akan berkata seperti itu. Sakit? tentu saja. Siapa yang tidak akan sakit saat putra kita sendiri menyalahkan kita dan tidak ingin kita hadir kembali di hidupnya.


" Aku sudah cukup merasakan kesepian semenjak kalian pergi meninggalkanku, tapi.... cihhh" Key tertawa sinis. " Kalian ternyata masih hidup dan membawaku pergi dari istriku dengan alasan ingin bertemu denganku. Kenapa kalian tidak muncul lebih awal?"


" Karena kami...." papah Syam ingin menjelaskannya, tapi Key menyuruhnya berhenti dengan mengangkat tangannya. Papah Syam tidak jadi berbicar, apalagi melihat Key tidak ingin mendengar penjelasannya dan pergi dari hadapannya.


Key menghentikan langkahnya dan berbalik "Kalian pulanglah ke mansion! tunggu aku di sana" Setelah mengatakan hal tersebut, Key meninggalkan kedua orang tuanya dan memberi Koda pada Bagas serta Tama untuk mengikutinya.

__ADS_1


Papah Syam, mamah Sheila dan uncle Jang kini menurut perkataan Key untuk kembali ke mansion mereka. Di mana mansion itu tidak pernah mereka injak lagi selama puluhan tahun lamanya.


Para pengawal Maya tetap berada di sana sampai sang nyonya di pindahkan. Sedangkan Albert, ia tidak mengerti apapun dengan kondisi saat ini hanya menjadi pendengar sejak tadi seraya mencerna semua apa yang mereka katakan.


Albert tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka, kini meninggalkan rumah sakit. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin melihat kondisi Maya, tapi ia juga tidak berhak untuk masuk ke dalam lebih dulu, sedangkan ada Key sebagai suami Maya yang lebih berhak menemui Maya lebih dulu.


***


Sedangkan pojok taman rumah sakit, terlihat 3 pria yang sangat gagah tengah duduk di kursi taman rumah sakit. Mereka terlihat hanya diam saja dengan pikiran mereka masing-masing.


Hingga sampai akhirnya Bagas membuka suara lebih dulu.


" Kau tidak ingin melihat anakmu lebih dulu?" tanya Bagas.


Key belum melihat seperti apa bayinya dan bahkan ia juga belum tahu jenis kelamin anaknya saat ini.


" Gue malu bertemu dengannya" jawab Key.


" Buat apa kau malu? dia anakmu, seharusnya kau harus melihatnya dan mengamankannya lebih dulu"


Key menjadi diam. Ia lupa, kalau ia harus mengadzani bayi yang baru lahir di dunia dan pastinya belum ada yang melakukannya.


" Yang dikatakan Bagas benar, Kay. Seharusnya kau melihat anakmu. Siapa yang akan mengumandangkan azan untuknya, kalau bukan kau" Tama ikut menimpali.


Sebenarnya Bagas dan Tama ingin menanyakan tentang kebenaran Key serta kondisi Key beberapa bulan belakangan ini, tapi mereka tahu saat ini Key belum bisa untuk di ajak berbicara. Mengingat kondisi Maya membuta Key menyalakan dirinya.


.


.

__ADS_1


LANJUT


__ADS_2