Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Hancur


__ADS_3

Apa..., kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu pada'ku?


"Menjelaskan tentang apa?" Tanya key bingung.


"Apapun!"


"Aku tidak tahu harus menjelaskan apa! apa aku membuat kesalahan?"


"Tidak, lupakan" Maya kembali meninggalkan key disana, dia pergi ke kamarnya.


Hufft....


Key membuang nafas, dia tidak mengerti dengan sifat istrinya yang seperti itu. Key meninggalkan taman dengan lesuh, disaat ia melewati ruang TV, Tama memanggilnya.


"Why?" Tanya key, saat dia sudah duduk disebelah Tama.


"Gue yang menyampaikan hasil penyelidikan kami!"


"Kita bahas diruang kerja'ku"


Ruang kerja


"Apa yang kalian temukan?" tanya key.


"Ini akan membut'mu kaget" ucap Tama.


"Memang kenapa?"


"Disaat kami mengikuti tukang kebun itu pergi ke sebuah desa yang terpencil. Disana kita menemukan sebuah bungker, tempat tukang kebun itu melakukan pertemuan dengan seseorang.." Tama menjeda ucapan.


"Lalu..?"


"Dan apa yang gue temukan, uncle jang" ucap Tama dengan mata serius menatap key.


"Apa maksudmu menyebut uncle jang?" Key bingung dengan ucapan Tama.


"Tukang kebun itu bertemu dengan uncle jang disebuah bungker yang gue maksud tadi. Tukang kebun itu memberikan sebuah amplop kepada uncle Jang, tapi gue gak tahu apa isi dari amplop itu" Jelas Tama.


"Apa kau tahu uncle ada dinegara ini?" tanya Bagas pada key.


"Tidak, gue tidak tahu sama sekali" Key menjawab seperti orang ling-lung.


"Gue curiga dengan uncle jang" kata Bagas.


Key menatap Bagas, "Kau berfikir uncle Jang bersekongkol dengan tukang kebun itu?"


"Tentu saja gue akan berfikir seperti itu, kita mencurigai tukang kebun itu sebagai pion dan kita mencari siapa yang menyuruhnya, kebetulan tukang kebun itu bertemu dengan uncle jang. Bagaimana bisa, gue tidak curiga dengannya?" ujar bagas.


"Bagas benar, kita patut mencurigainya saat ini" kata Tama.


"Tapi, kita tidak bisa mengambil tindakan saat ini, karena kita tidak memiliki bukti apapun" balas key.


"Huhh..., terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Tama.


"Lo harus mencaritau keberadaan uncle Jang saat ini! apakah dia masih disini atau dia kembali ke negara Z!" kata key.


"Apa kau tidak memiliki nomor telepon uncle jang?" tanya Bagas.


"Tidak, aku tidak memilikinya" balas key.


"Kita bahkan tidak memiliki solusi sama sekali" ucap Tama.


Tama keluar dari sana tanpa mendengar perkataan sahabatnya lagi. Dia merasa kesal, karena tidak menemukan solusi sama sekali, dia merasa muak.


"Lain kali kita membahasnya lagi" kata Bagas. Bagas juga meninggalkan ruang kerja menuju kamarnya.


Hufftt...


Key membuang nafas kasar, dia juga pergi dari sana menuju kamarnya.

__ADS_1


Hari sudah malam, disaat key membuka pintu kamarnya, dia melihat istrinya sudah tertidur. Key membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum dia ikut tertidur disamping sang istri.


Pagi hari


Maya yang membuka matanya pertama kali, dia melihat disebelah ada key yang memeluknya. Maya melepas pelukan itu dengan hati-hati, agar key tidak terbangun.


Maya pergi ke kamar mandi, setelah mandi, Maya turun untuk membuat sarapan.


Disaat Maya sedang sibuk membuat sarapan, key berlari kearah Maya, seperti sedang terburu-buru.


"Boo, aku ke kantor dulu, ada hal penting yang harus aku lakukan pagi ini" Key mengecup pipi Maya dari arah samping, membuat Maya membeku.


"Kau sedang memasak rupanya, antarkan sarapan'ku saja nanti kekantor, yah..!"


"Ahh.. ii..iya" ucap Maya gugup.


Key bergegas meninggalkan Maya dan pergi ke kantor yang sudah ada Bagas yang menunggunya disana.


Tama yang biasa telat untuk sarapan, terlihat pagi ini sudah bangun dan ikut sarapan.


"Bekal siapa ini?" tanya Tama.


"Ohh itu, bekal itu untuk gorge" balas Maya. Tama hanya ber oh ria mendengarnya.


Maya kembali ke kamarnya untuk bersiap membawa makanan untuk suaminya. Maya tidak sarapan dengan Tama, karena dia ingin sarapan dengan suaminya dikantor.


Saat Maya sudah mengganti pakaiannya dan tinggal menggunakan jilbabnya, namun saat dia membuka lemarinya, Maya menemukan sebuah paper bag.


"Milik siapa ini?" Maya membuka paper bag itu dan sangat kaget dengan isi didalamnya.


"Handphone?" Melihat benda itu, dadanya rasanya sesak.


Maya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, tapi melihat benda itu, pikiran Maya samakin kacau.


Maya menyimpan handphone itu kembali, namun dia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi.


"Cincin? apa dia ingin melamar gadis itu?" Tak terasa air matanya keluar. Maya buru-buru menghapusnya dan menyimpan semua kembali.


"Pak, antar saya ke perusahaan" perintah Maya pada supir manssion.


"Baik nyonya"


Perusahaan


"Tidak usah menunggu'ku!" ucap Maya pada supirnya.


Maya melangkah masuk kedalam perusahaan. Respossion yang melihat kedatangan Maya, sungguh kaget.


"Nona maya" Panggilnya.


"Eh.., iyah?"


"Kemana saja anda selama ini? Kenapa anda berhenti berkerja?"


"Akhh..itu, ada masalah waktu itu, jadi saya memutuskan untuk berhenti"


"ouuhh..pantas saja. Saya begitu kaget nona, tiba-tiba ada yang menggantikan nona Maya sebagai sekertaris pak key" Maya hanya tersenyum menanggapinya.


"Oh yah, untuk apa nona kesini?"


"Saya ada urusan dengan pak key, saya juga sudah membuat janji" Maya tidak memberitahu alasan sebenarnya dia datang ke perusahaan, karena pernikahannya belum diketahui oleh publik.


"Baiklah silahkan nona, pak key ada diruangan nya saat ini"


"Terimakasih"


Maya meninggalkan respossion itu dan menaiki lift untuk sampai dilantai atas.


Ting..

__ADS_1


Lift akhirnya berhenti dilantai atas. Maya melatakkan keluar dengan tarikan nafas. Mengingat benda yang dia temukan dilamari membuatnya kembali sesak, ia harus tegar menghadapi key nanti, agar air matanya tidak keluar.


Ceklekkk...


Maya membuka pintu ruangan key tanpa mengetuknya, namun apa yang dia dapatkan saat membuka pintu itu, membuat Maya shock.


Brak...


Maya menjatuhkan kota makanan yang dia bawa.


"Ma..ma.. Maya" ucap key terbata-bata


"Itu siapa sayang?" Ucap seseorang dari dalam ruangan key.


Jedarrrr....


Maya melangkah mundur. Menyaksikan sang suami berada diruang yang sama dengan sekertarisnya. Apalagi dengan sebutan sayang yang ia dengar dari mulut perempuan itu.


"May.. ini tidak seperti yang kau lihat" key berusaha meyakinkan Maya.


Maya menggeleng, dia tidak menyangka dugaan benar-benar terjadi.


"Dia siapa sayang" ucap Kia dengan sengaja menempel pada key.


KIA memeluk lengan key, membuat Maya semakin hancur. Airnya matanya tumpah menyaksikan suaminya selingkuh didepan matanya.


Maya berlari dengan perasaan hancur.


"LEPASKAN" Pinta key.


Key melepaskan pelukan KIA dan menghempaskan dengan kasar. Key berlari mengejar Maya.


"Auu..., siapa perempuan itu? kenapa key sangat kaget melihatnya?" ucap Kia.


"MAYA..." key memanggil Maya dengan sangat kencang.


Maya berlari sangat kencang, agar key tidak dapat menggapainya, namun disaat Maya berlari, tanpa sadar Maya menabrak Bagas yang akan pergi ke ruang key.


Bagas menahan badan Maya agar tidak terjatuh dan melihat wajah Maya yang penuh dengan air mata.


Maya buru-buru melepaskan diri dan berlari kearah lift. Bagas melihat key juga yang berlari kearahnya, menahan lengannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Bagas.


"Nanti saja membahasnya" balas key


"Sial" umpat key, saat pintu lift sudah tertutup.


Key berlari ketangga darurat. Otaknya saat ini benar-benar hanya tertuju pada Maya.


"Jangan lewat tangga, kau ingin mati?"


"Gue tidak akan mendapatkannya, kalau tidak menggunakan tangga"


"Ini lantai tiga puluh key, kau tidak akan sampai, Itu terlalu jauh"


key benar-benar kehilangan akal. Dia harus memberitahu Maya yang sebenarnya, dia juga takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Arkhhh...


Key mengacak rambutnya dengan frustasi.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut..


__ADS_2