
Tama akan mengantar Jihan sampai di depan rumahnya dan Jihan tidak protes sama sekali, karena sejujurnya ia butuh bantuan untuk berjalan. Rasa sakit pada perutnya belum juga hilang. Jihan tidak menggunakan kursi roda sepulang dari rumah sakit, karena ia tidak mau.
Saat keduanya sudah hampir sampi, terdengar suara yang membuat mereka kaget.
" Kalian..."
" Ibu " ucap Jihan kaget.
" Kami kenapa Jihan ? kenapa dengan perutmu ?" Bu Farah panik melihat putrinya yang di papah dengan memegang perutnya.
Tama membawa Jihan duduk, lalu Jihan baru menjawab pertanyaan ibunya.
" Perut Jihan sakit, Bu " jawab Jihan masih dengan sedikit meringis.
" Apa yang terjadi? apa kau yakin melakukan ini pada putriku ?" Bu Farah menuduh Tama.
" Eh..bukan saya, bu " Tama menggeleng dan menggoyangkan kedua tangannya di depan dadanya, seperti melambai.
" Lalu, kalau bukan kau siapa lagi ? putriku datang bersamamu dan bisa saja kau yang melukainya kan " Bu Farah masih menuduh Tama dan tidak mempercayainya.
" Mana mungkin aku mencelakai Jihan dan anakku, Bu "
" Tapi..." Bu Farah tidak melanjutkan perkataannya, karena Jihan menarik tangannya.
" Ibu duduklah dulu. Dengarkan cerita Jihan " pinta Jihan.
Bu Farah menghela nafasnya dan akhirnya duduk di sebelah putrinya. Jihan memberi perintah pada Tama untuk duduk dengan menggerakkan tangannya.
" Perut Jihan sakit bukan karena tuan Tama, tapi Jihan berlari " Jihan menjelaskan penyebabnya pada sang ibu.
" Kenapa memang kamu lari ? kamu itu lagi hamil Jihan . Apa kamu lupa ?" tanya Bu Farah.
" Mana mungkin Jihan lupa. Jihan tadi hampir saja di tabrak mobil, tapi tuan Tama menyelematkanku "
Bu Farah kaget dengan jawaban putrinya.
" Astaghfirullah..apa ada yang sakit ? katakan pada ibu ?" Bu Farah memeriksa semua badan putrinya. Sampai-sampai ia mengangkat bajunya. Jihan sampai malu, karena di sana masih ada Tama.
" Bu.. hentikan. Di sini masih ada tuan Tama " Jihan menyruh ibunya berhenti.
" Maaf, ibu lupa " Bu Farah mengehentikan tindakannya.
" Jihan baik-baik saja. Hanya perut Jihan yang sakit. Tapi, kata dokter itu tidak apa-apa. Besok pasti sakitnya hilang dan dokter juga sudah memberikan obatnya " Jihan menjawab pertanyaan ibunya yang sebelumnya.
" Syukurlah kalau begitu " Bu Farah bernafas lega.
__ADS_1
Tama yang sejak tadi hanya diam, akhirnya angakt bicara.
" Maaf mengganggu pembicaraan kalian, aku ingin pamit pulang "ucap Tama.
" Pulanglah " ucap Bu Farah.
Tama berdiri dan menganggukkan kepalanya pada Jihan tanda ia pamit. Jihan hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Bu Farah mengikuti Tama sampi di depan pintu.
" Bu, izinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku pada anak ibu " Tama meminta izin pada Bu Farah untuk memperbaiki kesalahannya.
" Ibu menyerahkan semuanya pada Jihan. Kalau dia mau menerima mu maka ibu akan begitu. Begitupun sebaliknya " jawab Bu Farah. Ia menyerahkan semuanya pada putrinya, karena yang akan menjalani adalah putrinya sendiri.
Tama merasa senang mendengar jawaban Bu Farah. Ia bertekat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan nya pada Jihan selama ini.
Setelah mendengar jawaban Bu Farah, Tama merasa lega dan berjalan keluar dari gang. Ia menjalankan mobilnya kembali ke manssion dan tidak sabar bertemu dengan bik Nur.
Mansion
Tama sudah sampai di halam mansion. Ia buru-buru keluar dari mobil dan berlari mencari bik Nur. Ia mencarinya ke dapur terlebih dahulu, tapi ia tidak menemukannya di sana.
" Di mana bik Nur ?" tanya Tama pada salah satu pelayan.
" Bik Nur berada di taman belakang, tuan "
Mendengar itu, Tama berlari ke belakang. Pelayan itu benar, bik Nur sedang mengawasi tukang kebun yang memangkas bunga bonsai.
" Oh astaga.." pekik bik Nur. Ia belum tahu siapa yang memeluknya, karena ia tidak sempat menoleh saat namanya di panggil.
" Hehe..maaf bik. Tama terlalu bersemangat " Tama cengengesan dan menggaruk kepalanya. Ia menonjolkan kepalanya kedepan, sehingga ia bisa melihat wajah bik Nur.
" Oh astaga..Tama.." pekik bik Nur lagi, setelah melihat wajah Tama.
" Iyah, bik. Ini Tama " Tama masih belum melepaskan pelukannya.
" Ada apa ? kamu ada maunya yah, sana bibik ?" tebak bik Nur.
" Bibik tahu aja. Ada yang ingin ku ceritakan pada bibik, tapi kita duduk di gazebo dulu "
" Yaudah, kita kesana " bik Nur mau. Ia akan menjadi pendengar yang baik jika ia dibutuhkan. Apalagi di manssion ini dialah yang paling tua.
Mereka telah duduk di gazebo. Tama menatapa bik Nur yang masih keheranan. Senyuman belum hilang sejak tadi, membuat bik Nur bingung.
Apa yang membuat anak ini begitu senang batin bik Nur.
" Kamu kenapa ? Bibik lihat kamu sangat senang sekali ?" tanya bik Nur.
__ADS_1
" Bik, aku berhasil .." ucap Tama gembira, seperti memenangkan lotre.
" Berhasil apa ?" bik Nur masih belum mengerti.
" Jihan, bik. Aku berhasil " kali ini Tama berbicara sangat pelan, sehingga hanya mereka berdua saja yang mendengarnya.
Mendengar nama Jihan, bik Nur akhirnya mengerti maksud dari keberhasilan yang Tama maksud.
" Serius ? apa yang dia bilang ? " tanya bik Nur sangat penasaran.
" Dia menyuruh Tama untuk membuktikannya. Aku juga sudah meminta izin sama Bu Farah dan dia juga setuju "
" Ahh...bibik ikut senang mendengarnya " bik Nur merentangkan tangannya dan Tama masuk ke dalam pelukan nya.
Bik Nur lah yang menjadi pengganti sosok Mamah dalam hidupnya. Yang memberikan pengertian padanya dan selalu ada untuknya.
" Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan Jihan padamu. Buktikan padanya kalau kau benar bersungguh-sungguh " ucap bik Nur lembut. Ia juga membelai rambut Tama.
" Iyah, bik. Tama tidak akan menyia-nyiakan nya "
"Terimakasih bik, karena bibik memberiku usulan untuk berjalan-jalan pagi tadi, sehingga aku bisa bertemu dengannya " ucap Tama lagi.
Ia mendongak melihat wajah bik Nur . Wajah yang sudah tidak muda lagi dan terlihat kerutan di bagian pipi dan matanya, tapi itu malah terlihat lucu, karena pipinya berisi. Pipi bik Nur jatuh ke bawah, sehingga saat di cubit akan sedikit kenyal, tapi sudah mengendur.
" Sama-sama. Bibik akan membantumu sebisa bibik " bik Nur tersenyum, sehingga kerutan itu semakin jelas.
" Terimakasih bik, sudah menjadi sosok Mamah untuk Tama"
Bik Nur hanya mengangguk dan tersenyum untuk menanggapi perkataan Tama. Ia menepuk-nepuk pahanya, tanda ia meminta Tama untuk berbaring di sana. Tama dengan senang hati melakukannya.
Usapan lembut sangat di rasakan Tama pada kepalanya. Itu membuatnya nyaman. Ia menutup matanya untuk lebih merasakan kelembutanya.
" Selalu berbagi pada bibik. Sesibuk apapun bibik, bibik akan selalu mendengar ceritamu. jangan pernah lagi menyembunyikan masalahmu "
" Carilah bibik jika kau butuh sandaran, butuh teman, dan butuh sosok Mama dalam hidupmu. Bibik akan menjadi semuanya jika kamu membutuhkannya " kata bik Nur tulus.
Tama sangat terharu mendengarnya. Ia meraih tangan bik Nur yang mengusap kepalanya. Ia mengarahkan tangan keriput itu ke mulutnya dan menciumnya. Ia memeluk tangan itu dengan masih memejamkan matanya.
.
.
LANJUT..
Cerita Tama sudah berakhir samlj sini dulu yah. Di bab lain kita membahasnya lagi. Bagaimana perjuangannya untuk membuktikan kesungguhannya pada Jihan .
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya... Dan juga jangan lupa untuk selalu...