Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Istri key


__ADS_3

Kejadian tadi pagi yang sangat panas tetapi terjeda setelah Bagas masuk kedalam kamar. Saat ini semuanya sudah berada dimeja makan.


Hari ini adalah hari sabtu, Key tidak keperusahaan karena hari libur. Mereka semua makan dengan hikmat. Seperti beberapa hari yang lalu key menyuapi maya. Kali ini key melakukannya kembali.


Maya tidak protes sama sekali kali ini. Dia hanya pasrah, mengingat key tadi sempat kesal padanya akibat sebuah panggilan.


Setelah semuanya selesai, mereka berkumpul diruang tengah. Maya duduk disamping key dan Bu Sri duduk dikursi singgel. Ada Bagas juga disana yang duduk didepan Maya dan key.


"May..." Panggil key.


Maya menoleh " Iyah..." Sahut Maya.


"Aku ingin kita pindah dari sini"


"Pindah, kemana?" Tanya Maya bingung.


"Aku punya rumah tidak terlalu jauh dari sini. Apa kamu mau?"


"Aku ikut saja"


"Baiklah. kita pindah hari ini"


"Enggak apa-apa kan?" tanya key kembali.


"Enggak apa-apa" Ucap Maya tersenyum.


"Nak key.." Panggil Bu Sri.


"Kenapa bu?" Tanya key saat Bu Sri memanggilnya.


"Ibu ingin pulang ke kampung ibu" Bu Sri mulai mengatakan keinginannya.


"Memang kenapa ibu ingin cepat pulang?"


"Ibu punya suami. Nanti siapa yang urusin suami ibu.."


"Nanti kalau ibu kelamaan ninggalin nanti tototnya enggak berfungsi lagi, Hahahah" Bu Sri tertawa dengan perkataannya sendiri.


"Hahah..itu bahaya tu bu. Nanti kalau puanya bapak gak berdiri telponin Bagas yah.. Bagas punya obatnya" Bagas ikut tertawa mendengar perkataan Bu Sri dan ikut menimpali candaannya.


Key yang hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan Maya mukanya memerah. Dia mengingat kejadian tadi pagi sebelum mereka sarapan.


"Hahah..kau benar. nanti ibu telpon"


"Sipp Bu.." Bagas mengangkat jari jempolnya.


"Kapan ibu mau pulang?" Tanya key.


" Rencananya ibu ingin pulang hari ini" Key mulai berpikir. Dia ingin membawa Bu Sri terlebih dahulu ke mansion, agar Maya merasa nyaman tinggal disana.


" Jangan hari ini Bu.. Bagaimana kalau lusa aja? Kay tidak ingin Bu Sri pulang hari ini.


"Itu kelamaan. Besok saja yah..?" Jawab Bu Sri tersenyum. Dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan rumahnya. Walaupun alasan sebenarnya, ia ingin memberi ruang kepada Maya dan key untuk saling mengenal lebih dalam.


"Baiklah, kalau itu yang ibu mau. Key juga tidak ingin memaksa ibu" Jawab key pasrah. Ia tidak ingin membuat Bu Sri tidak nyaman dengan sikapnya yang memaksanya untuk tinggal.


"Ya sudah. Bagaimana kalau kita persiapkan semuanya dan pindah!" Kata Bagas.


"Kau benar, ayo" Key mengajak Maya untuk berdiri. Membantunya untuk pindah kekursi roda. Dochtuir belum memberinya tongkat karena dia belum membicarakan dengan key.


Mereka mengemasi barang-barang. Bu Sri yang memasukkan semua pakaiannya yang dia bawa dari kampung. Maya yang memang tidak memiliki banyak pakaian hanya membawa tas ransel kecil.


Maya yang hanya duduk di sofa yang berada dikamar mereka dan key yang mengemasi barang-barang Maya.


Maya merasa tidak enak pada key, tapi key juga melarangnga untuk membantu. Setelah semuanya beres key keluar dan meninggalkan Maya sendiri. Maya termenung disana, dia merasa dirinya tidak berguna dan selalu menyusahkan key.


"Ini, pakailah" Key menyodorkan tongkat kearah Maya.

__ADS_1


Maya kaget melihat tongkat. Dia tidak mendengar langkah key masuk tadi karena melamun.


"Ini untukku?" Tanya Maya untuk memastikan.


"Iyah. Ambillah"


"Benarkah.?" Maya masih merasa tidak percaya. Key mengangguk mendengar pertanyaan Maya.


"Terimakasih" Ucap Maya tersenyum. dia sangat bahagia mendekat tongkat, karena ia bisa berjalan sendirian tanpa meminta bantuan dari siapapun lagi.


Maya mencoba untuk berdiri menggunakan tongkat itu. Maya benar-benar berusaha semaksimal mungkin untuk dapat berdiri.


"Hati-hati" ucap key, ia khawatir Maya bisa jatuh nanti.


"Aku berhasil" Maya bahagia dapat berdiri.


"Baguslah. Cobalah untuk berjalan" Key mengajak Maya untuk mencoba menggerakkan tongkatnya.


Maya mengangkat tongkat itu secara perlahan-lahan. Langkah demi langkah, Maya dapat menggunakan tongkatnya.


"Aku bisa" Maya bersorak.


Saat melangkah kembali tiba-tiba tongkatnya tidak simbang sehingga membuat Maya oleng dan mau jatuh.


Akhhh..


Maya kaget saat tongkat itu jatuh dari tangannya. Kay yang melihat itu segera menangkap Maya.


Hap....


Key berhasil menangkapnya. Maya yang sangat takut terjatuh, tapi tidak merasakan apapun membuka matanya.


Dia dapat melihat wajah key dengan sangat dekat.


Deg Deg


Jantung mereka berdetak sangat cepat. Kay merasakan itu akhirnya tersadar dan membantu Maya untuk berdiri kembali.


"Enggak papah aku bisa kok" Ucap Maya ngeyel.


"Tidak boleh nanti kamu jatuh lagi" key masih kekeh dengan pendiriannya.


"Tapi..."


" Enggak ada tapi-tapian"


"Gunakan ini!" Key mengambil kursi roda kembali dan membawa Maya untuk mendudukinya.


Maya merasa kecewa, dia pikir akan menggunakan tongkat tapi ternyata tidak.


Mereka melangkah keluar dan pergi menuju mobil. Bagas dan Bu Sri sudah berada dimobil. Setelah semuanya siapa mobil itu akhirnya berjalan menuju manssion.


"Oh..ya. Mana tama?" Tanya key pada Bagas, saat dia baru sadar jika satu temannya tidak ada.


"Gue juga enggak tahu, tapi semalam dia bilang ingin kebar dan sampai sekarang belum pulang" ujar Bagas


"Tumben. Biasanya dia akan pulang saat menjelang pagi" Key heran Tama belum pulang sampai sekarang.


"Entahlah. Mungkin ada masalah dengan bar miliknya"


"Mungkin"


Akhirnya semuanya kembali terdiam sampai didepan manssion. Mobil itu berbelok kedepan gerbang.


Tin tin


Bagas mengklakson satpam yang ada disana. Satpam yang melihat mobil tuan mudanya asa didepan buru-buru membukanya.

__ADS_1


Mobil itu masuk sampai di halaman depan. Mereka semua keluar. Key membantu Maya untuk keluar sedangkan Bagas menurunkan kursi rodanya dan barang barang lainnya.


Key mendorong kursi roda itu masuk kedalam manssion.


Woahhh...


Maya terperangah melihat rumah sebesar inj. Ini pertama kali dia melihatnya. Maya menoleh kearah key. "Rumah siapa ini?"


"Rumahku. kita akan tinggal disini"


"Serius...besar sekali" Maya tidak menyangka akan tinggal dirumah sebesar ini.


Pintu utama terbuka, mereka semua melangkah masuk. Para pekerja yang ada di manssion kaget saat melihat tuan muda mereka datang tanpa memberi tahu sama sekali. Apalagi tuan mudanya membawa tamu.


"Tuan muda" Ucap bik nur


"Hallo bik. Apa kabar?" tanya key.


"Bibik baik. Kenapa tidak memberitahu jika ingin datang?"


"Akhh.. ini dadakan soalnya. Jadi key tidak sempat memberi tahu bibik" key menjawab dengan tersenyum.


"Yasudah. ayo masuk" Ajak bik nur.


Mereka duduk diruang keluarga.


"Bibuk ambil minuman dulu tuan" key mengangguk mendengarnya.


bik nur pergi mengambil minuman dan cemilan untuk tuannya beserta para tamunya.


"Nak.. apa benar ini rumahmu?" Bu Sri masih tidak menyangka melihat semua ini.


"Benar Bu.. ini rumah key"


"Besar sekali rumahmu. Ruang ini saja masih besar dari rumah ibu" Bu Sri membandingkan rahnya dengan ruang yang mereka yang mereka tempati saat ini.


"Ibu bisa saja"


"Ibu benar loh. ruangan ini lebih besar dari rumah ibu"


Key hanya tersenyum mendengar perkataan Bu Sri.


Bik nur akhirnya datang membawa minuman dan cemilan. "Silahkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya"


"Terimakasih bik" ucap Maya.


"Sama-sama nyonya"


Setelah membawa minuman itu bik nur berinisiatif kembali kedapur.


"Bik.. duduklah sebentar" Panggil key.


Bik mendengar itu kembali duduk tapi dia duduk dibawah.


"Duduklah disofa bik" Pirintah key.


"Enggak usah tuan. saya duduk disini saja" tolak bik nur.


"Ini perintah bik" Bik nur akhirnya duduk disofa dengan perasaan tidak enak.


"Key akan tinggal menetap disini"


"Benarkah tuan" Bik nur sangat bahagia saat mengetahui key ingin menetap dimanssion kembali.


"Benar bik, tapi kali ini key tidak sendirian" key menoleh kearah Maya yang ada disampinya.


Bik nur juga menatap Maya yang ada disebelah key. Dia heran kenapa ada seorang perempuan disebelah key.

__ADS_1


"Key akan tinggal dengan istri key" Lanjut key.


"Hah..."


__ADS_2