Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Setuju


__ADS_3

" Tama, kamu ada di sini juga ternyata, aku tidak melihatmu tadi "


" Ii..Iyah " jawab Tama gugup.


" Masuklah! " ajak Jihan. Ia sudah melangkah lebih dulu menyusul bik Nur dan Maya di dalam.


Tama perlahan masuk ke dalam rumah Jihan. Saat sampai di ruang tamu, sudah terlihat Maya dan bik Nur tengah duduk cantik di kursi. Tama menghampiri mereka dan duduk di kursi yang ada di sebelah bik Nur.


" Bagaimana kandunganmu, Ji ?" tanya Maya.


" Baik. Kata dokter juga dia sehat dan aktif di dalam sini " jawab Jihan dengan tersenyum seraya mengusap perutnya.


" Sudah 4 bulan lebih. Kitakan hanya beda 1 bulan saja"


" Oh Iyah, kamu benar " Maya melupakan hal itu. Jihan lebih tua satu bulan darinya.


Tak berselang lama, keluar Bu Farah dengan membawa nampan di tangannya. Dia menyuguhkan beberapa gelas teh untuk tamunya itu. Setelah meletakkannya di atas meja, Bu Farah duduk di kursi sebelah Jihan.


" Ada perlu apa kalian datang rame-rame seperti ini?" tanya Bu Farah.


Bik Nur menoleh sebentar ke arah Tama yang juga menoleh ke arahnya.


" Maaf mengganggu waktu lagi kalian dengan kadatangan kami yang tidak memberitahu terlabih dahulu "


" Ahh.. tidak apa-apa, bik. Kita juga tidak ada kesibukan lain selain di rumah saja " Bu Farah tidak mempermasalahkan hal itu.


" Jadi begini, saya selaku wali dari Tama, ingin mengutarakan niatnya untuk menikahi Jihan " bik Nur memegang paha Tama agar dia berbicara.


" Emm..aku ingin kembali menagih jawabanmu tentang pertanyaanku waktu itu. Dan seperti yang bik Nur katakan, kalau aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku " Tama menatap Jihan serius.


Jihan tersentak kaget dengan perkataan Tama dan bik Nur. Ia tidak menyangka Tama akan menagih janjinya. Jihan berfikir Tama tidak serius dengannya, karena Tama sudah beberapa lama tidak pernah menemuinya, setelah Tama pamit padanya untuk pergi ke luar kota pada saat itu.

__ADS_1


Bu Farah yang melihat putrinya hanya diam mematung, meraih tangan Jihan dan mengusapnya. Jihan tersadar dan menoleh kearah sang ibu. Bu Farah hanya melemparkan senyuman.


Jihan kemudian beralih menoleh kearah Tama yang masih menatapnya dan terlihat menunggu jawaban darinya.


" Bagaimana Jihan? apa kamu mau menjadi istriku dan merawat bayi kita bersama-sama ?" tanya Tama lagi, saat ia tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Jihan.


Jihan masih diam dan kembali menoleh kearah ibunya. Matanya seakan menyiratkan untuk meminta pendapatnya. Bu Farah yang mengerti arti tatapan itu, kemuadian berbicara.


" Pilihan ada di tanganmu. Apapun yang kamu pilih, ibu akan setuju. Kamu perlu ingat, kamu sekarang tidak sedang sendiri sekarang. Kamu punya bayi di dalam sini yang memerlukan seorang ayah untuknya " Bu Farah mengusap perut Jihan lembut. Ia sebenarnya sangat setuju dengan lamaran Tama, karena bagaimanapun Tama adalah ayah biologis dari anak yang di kandung oleh Jihan.


Tapi, Bu Farah juga tidak ingin memaksakannnya kepada putrinya. Bagaimanapun Jihan lah yang akan menjalani dunia pernikahannya, bukan dirinya.


Jihan menunduk dan mulai memikirkan semuanya. Dia bisa merasakan dan melihat perutnya yang bergoyang, itu tandanya dan bayi dalam perutnya tengah menendang.


" Baiklah. Aku mau, tapi setelah menikah, aku tetap ingin tinggal di sini bersama ibuku. Bagaimana ? " Jihan akhirnya setuju, tapi ia mengajukan sebuah syarat.


" Aku setuju. Setelah menikah, kita akan tinggal di sini selamanya " tanpa pikir panjang Tama pun setuju dengan persyaratan Jihan.


Kenapa Tama setuju dengan persyaratan itu ? karena baginya, itu bukanlah masalah yang perlu untuk di perdebatkan. Lagi pula tidak ada salahnya satu rumah dengan mertua, apalagi mertuanya hanya satu. Tama juga berfikir, Jihan tetap ingin tinggal bersama ibunya, karena nanti ibunya akan kesepian.


" Jihan, tidak bisa seperti itu. Setelah kamu menikah, kamu harus mengikuti kemanapun suamimu pergi. Kamu juga bisa berkunjung kesini kapan-kapan" ternyata Bu Farah kurang setuju dengan persyaratan putrinya.


" Aku gak mau, Bu. Ibu akan kesepian di sini dan aku tidak akan meninggalkan ibu. Lebih baik aku tidak menikah daripada harus meninggalkan ibu "


" Jangan berkata seperti itu Jihan "


" Aku tidak akan pernah meninggalkan ibu sendirian. Lagipula Tama setuju dan tidak mempermasalahkannya "


" Tapi Jihan...." Bu Farah Ingin protes lagi, tapi Tama mengehentikannya.


" Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak mempermasalahkannya. Ibu tidak perlu merasa khawatir. " Tama menggeleng. " lagipula aku akan senang, jika setalah menikah kamu tinggal di sini. Karena dengan hal itu, akan ada yang membantu kami mengurus bayi kami setelah dia lahir. Jujur, aku sangat minim pengetahuan tentang hal itu "

__ADS_1


Bu Farah menghela nafas berat. Ia melihat ke arah bik Nur yang mengangguk ke arahnya. Bik Nur juga setuju dengan perkataan Tama yang tidak mempermasalahkannya.


" Baiklah. Itu terserah kalian. Kalian sendiri yang akan menjalaninya, ibu tidak akan ikut campur urusan kalian, kalau bukan kalian yang meminta pendapat pada ibu "


" Baiklah, karena semuanya sudah setuju, sekarang kita menuntun kapan baiknya mereka menikah. Jihan, kamu punya keinginan ?" tanya bik Nur.


" Aku ikut saja " Jihan melihat ke arah Tama sekilas, kemudian beralih melihat bik Nur kembali.


" Tama, kamu punya keinginan ?" tanya bik Nur.


" Bagaimana kalau besok " Tama sudah sangat tidak sabar, lagipula itu bukanlah hal yang sulit untuk ia persiapkan.


" Kebelet amat, kak " Maya yang sejak tadi diam, akhirnya menimpali.


Bu Farah dan bik Nur tertawa renyah mendengar perkataan Maya. Mereka juga berpikir sama seperti Maya. Sepertinya Tama sudah sangat tidak sabar untuk satu kamar dengan Jihan.


" Mempersiapkan pernikahan tidak bisa satu malam saja Tama " ucap Bu Farah.


" Untuk saya bisa, Bu. Itu adalah hal yang mudah untukku "


" Bagaimana Jihan ? apa kamu mau menikah besok ?" tanya Bu Farah.


" Seperti yang aku katakan tadi, aku ikut saja " baginya, kapan pun waktunya ia akan siap. Seberapa lama waktunya, ia akan tetap menikah juga. Lagi pula jika terlalu lama itu juga tidak baik, kita tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa hari kedepan, jadi lebih cepat lebih bagus.


" Yasudah, kalau kalian sepakat, ya silahkan. Tama yang akan mengurusnya, benarkan ?" Bu Farah menoleh kearah Tama.


" Iya, Bu. Aku yang akan mengurus semuanya, kalian hanya terima beres saja "


" Baiklah kalau begitu, terima barang yang kami bawa atas lancarnya lamaran yang sangat mendadak hari ini" tunjuk bik Nur ke arah pintu di mana pak Han terlihat masuk membawa barang tersebut, disusul dengan beberapa anggota yang mengawal Maya.


.

__ADS_1


.


NEXT


__ADS_2