
Setelah mengetahui bahwa dia sedang mengandung, membuat Jihan berfikir. Apakah dia akan mempertahankan anak itu atau melepaskannya, apalagi jika mengingat ayah dari sang bayi yang dia kandung tidak mau bertanggung jawab padanya.
Kejadian dirumah sakit, saat ibunya mengetahui dia hamil diluar pernikahan. Awalnya fahira- ibu jihan, shock mendengar berita itu dan sangat kecewa pada sang anak, tapi saat dia mendengar kronologi kejadiannya, membuat hati Fahira luluh. Dia meminta pada Jihan untuk merawat anak itu.
Flashback
"Siapa yang menghamilimu?" Tanya Fahira dengan sedikit keras.
Jihan yang ditanya seperti itu terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa pada ibunya. Apa lagi laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab padanya.
"JAWAB JIHAN!"
Hiks hiks...
Jihan begitu kaget mendengar suara ibunya. Dia tidak tahu harus memulai dari mana.
Fahira yang melihat anaknya menangis, ada rasa bersalah pada dirinya.
"Ceritakan pada, ibu, siapa yang menghamili'mu?" Ibu Fahira sudah mulai melunak, menurunkan intonasi bicaranya.
"Nak, jawab pertanyaan ibu! apa pria itu tidak mau bertanggung jawab padamu?" Jihan mendongak menatap ibunya, tatapannya seakan mengatakan, benar, Bu.
Ibu Fahira yang melihat itu, mengerti. Dia memeluk anak satu-satunya yang dia punya didunia ini.
"Tidak apa-apa, jika pria itu tidak ingin bertanggung jawab. Ada ibu disini yang akan menemanimu" ujar Fahira, dia membelai rambut anaknya untuk menenangkannya.
"Terimakasih, bu" Fahira tersenyum mendengar ucapan anaknya.
"Tapi, bolehkah ibu tahu bagaimana ceritanya ini bisa terjadi?"
Jihan mulai berfikir, apakah dia akan menceritakannya, dia takut ibunya semakin kecewa padanya.
Jihan akhirnya memberanikan dirinya untuk mengatakannya.
"Sebenarnya, Jihan waktu itu............"
Jihan mulai menceritakan dari A sampai Z.
"Jadi, kau bekerja dibar juga, selain ditoko?"
"Maafin Jihan, bu" Jihan menunduk.
Ibu Fahira menghela nafas, dia ingin marah, tapi tidak ada gunanya sekarang.
"sudahlah, jangan mengingat hal itu. Sekarang, kamu jaga anak ini baik-baik dan jaga kesehatan'mu" ibu Fahira mengusap perut Jihan.
"Apa aku akan sanggup menjalaninya, bu?"
"Kau pasti sanggup,nak. Ada ibu yang salalu mendekung'mu"
"Terimakasih, Bu, sudah memaafkan kesalahan jihan," Ibu Fahira menganguk.
flashback off
Saat ini Jihan tengah berada ditoko sembako. Dia bekerja disana sebagai pencaga kasir, dia sudah tidak mengangkat barang-barang lagi selama dia hamil.
Pemilik toko juga menyarankan Jihan untuk menjaga kasir saja, agar tidak kelelahan nantinya.
Hari sudah sore, waktu Jihan pulang kerumah.
"Mel, aku pulang duluan yah" Pamit Jihan pada Amel.
"Baiklah, hati-hati"
"Oke"
__ADS_1
Jihan ingin pulang kerumahnya, tapi dia mengingat sesuatu, susunya sudah habis.
"Oh Iyah, susunya sudah habis, ke supermarket dulu deh, sebelum pulang"
Di supermarket
Jihan memilih-milih susu yang ada di rak. Dia ingin mencoba rasa lainnya, tapi dia takut tidak menyukai rasanya nanti dan akan terbuang sia-sia. Akhirnya Jihan memilih rasa kacang almond saja seperti yang selalu dia beli.
Jihan pergi ke kasir untuk membayarnya. setelah membayarnya, Jihan berbalik dan ada seorang pria yang menabraknya.
"Maaf-maaf" kata pria itu.
Jihan mengambil kantongan kresek yang berisi susu di tangan pria itu. Jihan kaget melihat siapa yang menabraknya.
"Pria bre***ek ini, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. Semoga dia tidak mengenaliku"
Jihan ingin pergi, tapi ditahan oleh pria itu.
"Tunggu"
"Bukan kah kau gadis yang bersamaku malam itu di bar?" Tebak pria itu.
Jihan kaget, dugaannya salah, pria itu ternyata masih mengingatnya.
"Itu bukan saya tuan, permisi" Jihan buru-buru pergi dari sana.
Hufftt..
Jihan bernafas lega, saat sudah keluar dari sana. Dadanya sangat sesak mengingat hal itu. Jihan mengusap perutnya, air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Maafin mama, nak, saat kamu lahir nanti, kamu tidak akan merasakan kasih sanyang papa'mu"
"Tapi jangan sedih, mama akan selalu ada disisi'mu dan juga ada nenek Fahira yang akan menjaga'mu" lanjut Jihan.
Jihan mengusap air matanya dan menaiki bus yang tengah berhenti di halte tempat dia duduk.
"Assalamualaikum," ucap Jihan.
"Waalaikumsalam," bala Bu Farah.
"Kau sudah pulang, nak?" Tanya Bu Farah.
" Iyah, Bu" balas Jihan, tersenyum.
"Kamu mandi, gih, pasti capek'kan?" Jihan menganguk.
" Jihan masuk dulu, Bu"
Jihan masuk ke kamarnya dan ke membersihkan diri. Setelah membersihkan dirinya Jihan keluar hanya menggunakan sarung yang dililit ditubuhnya.
Ada sebuah cermin didalam sana, Jihan berhenti dan memperhatikan perutnya yang sudah mulai membuncit. Jihan tersenyum melihatnya. Selama kehamilannya, Jihan tidak merasa susah sama sekali. Biasanya diawal kehamilan akan mengalami mual, tapi dia tidak mengalaminya.
"Terimakasih, nak, kamu tidak membuat ibu kesusahan"
Manssion Syam
Bagas dan tama sudah sampai dimanssion, Bagas memarkirkan mobilnya di bagasi.
Mereka melangkah masuk dengan Tama yang menenteng kresek berisi cemilan yang ia beli di supermarket tadi.
"Bik nur" Panggil Bagas
"Dimana Maya?," tanya Bagas.
"Nyonya ada ditaman belakang, tuan"
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih bik"
"Sama-sama tuan," balas bik nur
Mereka pergi ke taman dan saat mereka sampai disana, mereka melihat Maya yang sedang duduk dikursi kayu. Maya tampak melamun disana.
"Hay" sapa Bagas.
Maya menoleh mendengar sapaan itu, tapi dia terlihat kaget melihat Bagas dan Tama ada disana.
"Loh, kok kalian ada disini?" tanya Maya heran.
"Emang kenapa kalau kita ada disini?, gak boleh?" Tanya Tama.
"Buk.., bukan begitu. Aku kira kalian keluar kota dua hari yang lalu?"
"Kaluar kota!," tanya Tama.
"Iyah, emang kakak gak pergi?,"
"Kami gak keluar kota sama sekali, kenapa kamu mengira kami pergi?" Tanya Tama.
"Karena gorge keluar kota dua hari yang lalu"
" Oh Iyah, gue baru ingat. Key memang ke kota H, tapi kami gak ikut" jelas Bagas.
"Hah...." Maya kaget.
" Terus, dengan siapa gorge pergi?"
"Dia pergi dengan sekertaris yang ganti'in kamu waktu itu. Namanya Kia"
"Ap..apa, mereka hanya berdua?"
"Iyah, memangnya key tidak memberitahu'mu?"
Maya terdiam, dia mengingat perkataan suaminya sebelum dia pergi.
"Aku pergi dengan sekertaris'ku"
Deg..
Maya mengira, key akan pergi dengan bagas ternyata dugaannya salah. Maya mulai khawatir, suaminya pergi dengan seorang perempuan. Apalagi mereka hanya berdua, hatinya mulai gundah.
"May" Panggil Bagas.
Maya tersadar, "akh, yah? kenapa?"
" Key tidak memberitahu'mu, kalau dia akan ke kota H?"
" Dia memberitahu'ku, aku mengira kakak yang pergi dengannya, ternyata salah" Jawab Maya lesuh.
" Apa kau taku, key selingkuh dengan sekertaris KIA?"
"Hah.., ti..tidak" jawab Maya bohong, padahal dalam hatinya dia sangat khawatir.
" Kamu tidak perlu takut, aku yakin, key tidak akan menghianati'mu" kata Bagas meyakinkan Maya.
"Semoga" ucap Maya sangat pelan.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...