
Malam harinya
Maya, Bagas dan tema sedang berada diruang TV. Maya yang tengah nonton berita di TV, sedangkan Tama dan Bagas mereka sibuk dengan hpnya.
" Berita menghebohkan hari ini, seorang pengusaha sukses bernama keylbert putra Syam dikabarkan tengah berjalan-jalan dengan kekasihnya di pantai kota H, Mereka terlihat sangat mesra." ucap reporter TV.
Deg
Maya begitu kaget mendengarnya. Tama dan Bagas yang tadinya fokus pada hpnya, menjadi teralihkan mendengar nama key disebut oleh reporter itu.
"Apa ini?" batin Maya.
"Gorge dengan seorang perempuan? dia selingkuh?" batin Maya.
"Tunggu, bukan'kah itu sekertaris yang bekerja di perusahaan key?" tebak Tama.
Bagas memperhatikan perempuan yang ada disamping key.
"Kau benar, itu kia. Sekertaris yang menggantikan maya"
"Apa yang mereka lakukan dipantai?" tanya Tama.
Bagas tidak menjawab pertanyaan Tama, dia memperhatikan Maya yang hanya terdiam melihat berita itu.
"Maya" Panggil Bagas.
Maya menoleh, " yah..?"
"Gue yakin key tidak akan melakukan hal itu, mengkin mereka hanya melepas penat dipantai, karena kesibukan mereka bekerja" Bagas menyakinkan Maya, agar dia tidak mengambil tindakan gegabah nantinya.
Maya hanya diam. Dalam hatinya, apakah dia akan mempercayai ucapan Bagas, tapi benar-benar ragu.
"Sepertinya tuan keylbert akan membelikan sang kekasih sebuah handphone, karena kami mendapatkannya sedang memilih-milih handphone bersama seorang perempuan. Kita akan bertanya pada mereka, apakah benar dia membeli handphone untuk kekasihnya?" ucap reporter.
"Sepertinya iya, karena saat kami bertanya tipe seperti apa yang tuan keylbert inginkan, dia mengatakan untuk seorang perempuan"
Jedarrr ...
Bagaimana disambar petir, Maya begitu shock. Dia yang awalnya ragu, semakin yakin, kalau key menghianatinya.
Maya berdiri dan berlari menuju kamarnya.
Brak...
Maya membanting pintunya begitu keras. Dia menelungkup wajahnya dibantal. Maya tidak dapat membendung tangisannya, dia menangis sejadi-jadinya.
Maya merasa dihianati, perlakuan key padanya membuat dia begitu nyama. Maya merasa begitu dicintai, tapi kali ini dia sadar, key tidak mencintainya. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
"Aku memang bodoh, terlalu mudah mengartikan perasaannya"
"Kenapa kau bisa menyukainya? kenapa maya?" Maya memukul dadanya, ia merasa sangat sesak. Air matanya yang semakin deras, membasahi bantal yang dia peluk.
Ternyata, kenyamanan yang diberikan key padanya, membuat Maya jatuh cinta padanya.Maya mengira, tidak ada salahnya mencintai suaminya sendiri, tapi ternyata salah.
Maya merasa lelah akibat terlalu lama menangis. Dia memilih untuk tidur dari pada harus memikirkan semuanya.
Sementara dilantai bawah, tepatnya di ruang TV.
"Apakah kau berfikir key akan menghianati maya?" tanya Tama.
"Gue rasa tidak, kita mengenalnya, dia bahkan tidak pernah bermain dengan seorang wanita selama ini" ujar bagas.
"Benar juga"
"Gue akan menelponnya!"
__ADS_1
Bagas menelpon key, tapi dia tidak mengangkatnya.
"Dia tidak mengangkat telfonnya"
"Kita tunggu dia besok"
Pagi hari
Maya tengah membuat sarapan pagi. Dia akan menunggu suaminya pulang hari ini dan menanyakan kejadian yang dia lihat di TV semalam.
"Pagi may" Sapa Bagas.
"Pagi kak. Oh ya, dimana kak tama?" tanya Maya.
"Biasa, dia mual dipagi hari"
"Ouuuuhh..."
Bagas mulai mengambil beberapa makan yang sudah dihidangkan.
"Kita gak tunggu, kak tama?"
"Tidak perlu, dia akan keluar jam 8 nanti"
Mereka memuli sarapan hanya berdua. Setelah selesai Bagas pergi ke perusahaan, sedangkan Maya, dia ke taman belakang.
"selamat pagi nyonya" sapa bik nur dan para pekerja kebun.
"Pagi" balas Maya dengan senyum hangat.
"Boleh'kah aku membantu bibik?" tanya Maya.
"Jangan nyonya, nanti tangan anda kota"
"Tidak apa-apa, aku sudah biasa melakukannya"
"Nyonya..."
"Tidak apa-apa, bik"
Mereka akhirnya membiarkan Maya melakukannya. Maya benar-benar menghabiskan pagi harinya dengan para pekerja.
Setelah dia merasa lelah, Maya pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah semuanya selesai Maya duduk di balkon kamarnya. Memperhatikan pepohonan dibawah sana dan pintu gerbang.
Dia akan menunggu sang suami pulang dan menjelaskan semuanya padanya. Angin yang selalu menerpa wajahnya membuat Maya tertidur.
Ceklekkk....
Suara pintu kamar milik Maya terbuka. Ada seseorang yang masuk kedalam sana. Dia melihat Maya yang tengah tertidur di balkon, mengangkatnya dan memindahkannya keatas kasur.
Dia ikut berbaring disamping Maya dan memeluknya. Maya yang merasakan kehangatan, membekas pelukan itu tanpa sadar.
Hari sudah mulai sore Maya membuka matanya.
"Astaga, aku ketiduran"
Maya ingin bangun, namun dia merasakan sesuatu yang berat berada diperutnya.
Maya melihat asal tangan itu, membuatnya kaget.
"Gorge..." Batin Maya.
Dia terharu melihat key ada disebelahnya. Maya mengusap wajah itu, membuat sang empunya terusik. Maya buru-buru mengangkatnya tangannya melihat key yang mulai terbangun.
"Ma..maaf, aku mengganggu'mu" Key tersenyum.
__ADS_1
"Tidak apa-apa"
Key ingin menyentuh wajah Maya, tapi Maya menghindari. Key kaget melihat itu.
"Kenapa?" tanya key
"Tidak apa-apa" balas Maya.
Key ingin menariknya, tapi lagi-lagi Maya menghindari. "Ada apa dengan'mu? kenapa kamu menghindari?"
Maya tidak menjawabnya dan langsung pergi dari sana. key yang melihat itu sangat bingung, dia mengejar Maya keluar dari kamar.
Hufft.....
"Ada apa dengan'ku? kenapa aku tidak menyukai jika gorge meyentuh'ku? apa karena, aku begitu kecewa padanya, tapi aku belum mendengar apapun dari mulutnya" batin Maya.
Maya saat ini tengah duduk ditaman belakang. Perasaannya saat ini tidak menentu, ia tidak ingin gegabah, ia harus mendengarkan keterangan suaminya mengenai apa yang dia tonton semalam.
Namun, hatinya berkata lain, dia merasa jijik saat suaminya ingin menyentuhnya.
"May.." Panggil key.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu lari? apa aku membuat kesalahan pada'mu?" Tanya key dengan penuh kebingungan.
"Kenapa gorge memanggil'ku dengan nama?" batin Maya.
"Aku gak apa-apa, aku mengingat ada sesuatu yang tertinggal ditaman tadi" Jawab Maya bohong.
"Benarkah?" Key merasa ragu dengan jawaban sang istri.
"Iyah"
Mereka terdiam satu sama lain, seakan merasa canggung untuk membuka suara, tapi Maya membuka suara kembali.
"Emmm...boleh aku bertanya?" tanya Maya.
"Bertanya tentang apa?"
"It..itu, anu.." Maya bingung harus memulai seperti apa, dia takut mambuat key tersinggung.
"Kenapa?"
"Apa..., kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu pada'mu?"
.
.
.
.
.
Lanjut.
Buat para pembaca, author mengucapkan terimakasih sudah mendukung karya author.
Ini adalah karya pertama author, jadi author minta maaf jika dalam penulisan masih banyak yang salah dan alur cerita yang masih kurang.
Author akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat cerita ini semakin seru. Untuk para pembaca, janga bosan-bosan ya... menunggu up selanjutnya.
Sekali lagi author ucapkan terimakasih pada kalin. Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...., setelah membaca ceritanya .
__ADS_1
Like, komen, and vote.