Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Itu salahmu


__ADS_3

Bagas dan Tama sudah sampai di bandara Soekarno.Setelah beberapa jam mereka dipesawat. Mereka turun dan pergi menuju hotel ternama yang ada dikota itu.


"Kita istirahat malam ini.Besok kita terbang lagi kebandara Hasanuddin" Ucap Tama.


"Hah..kita masih mau naik pesawat lagi?"Bagas kaget mendengarnya.


"Tentu saja.Jika kau ingin naik mobil yah, silahkan saja"Jawab Tama tak acuh.


"ya enggak lah.."


Mereka telah sampai didalam hotel dan menuju kamar mereka masing-masing.


Tama masuk ke kamarnya dan ingin menutup pintu."Nagapain Lo ngikutin gue"Tama heran melihat Bagas ada didepan pintunya.


"Mau tidur lah"


"Terus ngapain Lo masuk kekamar gue.Kamar lo disebelah" Tama menunjuk kamar yang ada disebelah kamarnya.


"Gue gak mau tidur sendiri.Kita tidur bareng"Bagas mendorong Tama yang menghalang pintu.


"Hey...siapa yang mengizinkan Lo masuk"Tama kesal melihat Bagas nyelonong masuk ke kamarnya.


"gue lah"


" keluar gak" Tama menarik lengan Bagas untuk keluar.


"Nanti orang akan bilang kita gay,bas"


"Biarkan saja" Jawab Bagas acuh.


"haiss kau ini.." Tama mulai pasrah dan membiarkan Bagas berada dikamarnya.


Mereka mulai tertidur diatas kasur yang sama.Hari sudah sangat larut.Sementara perjalanan mereka masih panjang. Mereka harus segera membawa Bu Sri ke London agar Maya segera sadar.


***


Keesokan harinya.Tama membuka matanya,saat menoleh disampingnya dia kaget saat wajah Bagas tepat disamping wajahnya dan yang membuatnya sangat kaget Bagas memeluknya bak bantal guling.


"Heh.bangun lo" Tama memukul kepala Bagas agar segera bangun.


"Lima belas menit lagi" Jawab Bagas dengan suara parau.


"Terserah Lo.Tapi nggak usah peluk-peluk segala" Tama memindahkan tangan dan kaki Bagas dari tubuhnya dengan kasar.Sehingga badan Bagas terguling dari atas kasur.


gudubrak...


Suara Bagas yang terjatuh terdengar sangat sedap.


Hahahaha..


Tama tertawa sangat keras melihat Bagas yang terjatuh dengan wajah tepat mengenai lantai.


"kau...."Bagas memegang hidungnya yang terasa kebas akibat benturan itu.


"Makanya bangun. Kita harus berangkat pagi ini"


Tama menyibak selimut dan pergi kearah kekamar mandi.


**


Pagi berbeda yang dialama key saat ini.Setelah pemeriksaan rutin untuk maha, key masuk kedalam kamar dan melihat perkembangan Maya.


Sudah tiga hari Maya koma.Bagas dan Tama yang pergi menjemput Bu Sri.Tugas key sekarang mencoba untuk mengajak Maya barbicara.


Apa yang harus kubicarakan.

__ADS_1


Key bingung harus mengajak Maya untuk berbicara.Ia bahkan tidak tahu membuka pembicaraan.Biasanya jika ada pertemuan Bagas lah sebagai sekertaris membuka pembicaraan terlebih dahulu, tapi kali ini berbeda.


"ekmh..Hay" Key mulai membuka suara.Ia merasa canggung padahal Maya tidak dapat melihatnya.


"Apa kau tidak ingin bangun?" key menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Ia masih bingung harus membicarakan apa.


"Aku dengar,kamu sangat ingin bekerja di perusahaan dan keinginanmu terwujud, tapi kamu malah tertidur"


"Jika kau masih tertidur seperti ini.Aku akan memecatmu.Kau tidak ingin aku memecatmu bukan?,Makanya kau harus bangun"


"Aku tunggu kamu bangun besok.Kalau kau tidak bangun aku akan benar-benar memecatmu" Ancam key.


Key berbicara mulai serius,seakan Maya duduk didepannya dan ingin memecatnya.


"Baiklah.Aku akan keluar.Kau istirahatlah"


Key berdiri dari duduknya, saat akan melangkah keluar tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Maya.Key menoleh,melihat tangan ada diatas tangan Maya.


Key menatap wajah Maya Dug dug duh jantung key berdetak tak karuan.key memegang dadanya."Ada apa denganku.Kenapa jantungku berdetak begitu cepat".


Key langsung mengangkat tangannya dari tangan Maya. Ia buru-buru keluar dari kamar.


key menghela nafas,ia benar deg degan berada didalam.Jika diperhatikan wajah Maya sangat cantik dan bersih.Key langsung menepisnya dan pergi dari sana.


**


Hari-hari terlah barlalu tak terasa sudah satu Minggu Maya mengalami koma.


Saat ini Bu Sri sudah berada dimarkas.Ia melihat sekelilingnya dan bertanya-tanya dalam hatinya "Tempat apa ini?"


Tempat yang dia lihat semuanya bernuansa hitam dan putih terkesan gelap tapi terlihat klasik.Bu Sri hanya mengejar dibelakang Bagas sementara Tama tepat dibelakang Bu Sri.


"Duduklah terlebih dahulu bu"Bagas mempersilahkan Bu Sri untuk duduk.


"Dimana Maya ?"Tanya Bu Sri saat bokongnya suduh duduk diatas sofa.


Bu Sri mengangguk dan Bagas bergegas pergi mencari key.


**


"Hallo Bu sri" Sapa key saat sudah berada diruang tengah.Mereka berjabat tangan.


Bu Sri tersenyum mendengar sapaan itu dan menerima uluran tangan key.


"Terimakasih ibu sudah mau datang jauh-jauh kemari"


"Kamu tak perlu sungkan nak.Saya tidak mungkin tidak datang kesini jika itu berhubungan dengan nak maya"


"ibu benar"Jawab key tersenyum.


"Kalau begitu dimana maya?" Tanya Bu Sri yang sejak tadi mencari keberadaan Maya.


"Mari saya tunjukkan" Key mengajak bu Sri kekamar rawat Maya.


Bu Sri mengambil barang-barangnya yang dia bawa dari rumahnya.


"Letakkan saja tas ibu disini.Nanti Tama akan membawanya" Tama yang disebut namanya menunjuk dirinya dengan menatap key seakan berkata aku.


"Iyah.lo bawa tas itu kekamar bagas"


Kali ini bagaslah yang kaget mendengarnya.Bagas menatap key dengan tatapan kenapa harus kamarku .Tama mengulum senyumnya.Ia berusaha menahan tawaya agar tidak pecah.


"Ayo Bu" Ajak key kepada Bu Sri.


Mereka melangkah kekamar rawat Maya.Saat akan membuka pintu, key membukanya dengan pelan.Bu Sri melangkah masuk dan sangat kaget melihat keadaan Maya.

__ADS_1


"Ya Allah.Apa yang terjadi padamu nak"Bu Sri langsung berlari mendekati kearah tempat tidur Maya.


Melihat begitu banyak peralatan medis menempel ditubuhnya. Bu Sri meneteskan air matanya.Ia melihat tiga laki-laki yang ada dibelakangnya.


"Bisa kalian jelaskan.apanyang terjadi pada maya?" Bu Sri menoleh dengan sisa air mata yang masih menempel di pipinya.


Kali ini key yang bingung, ia melihat kedua sahabatnya.


"Apa kalian tidak memberinya sebelum kalian membawanya?"Tanya key dengan berbisik.


Mereka berdua serempak menggeleng.Key yang melihat itu menghela nafas.


"Kalian jelaskan padanya"


"Bu..kita bicarakan sambil duduk disana" Key mengajak bu Sri duduk disudut kamar itu.


Kamar yang ditempati Maya memang terbilang luas dengan kasur berukuran king size dan tiga sofa di sudut kamar.


"Kenapa bisa Maya mengalami seperti itu.Aku lihat kaki dan bahunya diperban?" Bu Sri melihat mereka satu per satu.


"Begini Bu......."Bagas mulai menceritakan semua yang terjadi dari awal mereka berang sampai akhirnya Maya mendapatkan tembakan.


"Dan......tembakan dikaki Maya, sebenarnya bukan di arahkan untuk nya tapi kepada key" Bagas menunjuk kearah key.


"Tapi peluru itu melesat,karena kamu ingin memberhentikannya.Tapi gagal" Bagas tertunduk setelah mengatakannya.


sementara Key yang mendengar itu merasa kaget.Sejak kejadian itu kedua sahabatnya bahkan tidak menjelaskaannya sama sekali.


Tiba-tiba rasa bersalah kembali menyeruak dalam diri key.


"Jadi sebenarnya, yang ingin ditempat itu dia?"Tanya Bu Sri kembali sambil menunjuk kearah key.


"Benar Bu" sahut Bagas.


"Dan dia mengalami trauma dan membuatnya koma hingga satu Minggu?"


"Benar bu"


Bu Sri menghela nafas kasar mendengarnya.Rasa sesak mendengar berita dari seorang anak yang dia sangat sanyangi.Yang selalu ia panggil kerumahnya untuk makan.


Bu Sri menoleh kearah Maya dengan tatapan teduh.Rasa kasihan melihat Maya yang mengalami masuk seperti itu.


"Jadi tujuan kalian membawaku kesini sebenarnya apa?" Tanya Bu Sri kembali.


"Kami ingin ibu membantu Maya untuk sadar dan...." Tama mengentikan ucapanya sejenak kemudian melanjutkannya kembali.


"Dan....merawatnya setelah dia sadar"


Mereka bertiga menatap Bu Sri bersamaan.


"Kalian mau aku merawatnya?" Bagas dan Tama mengangguk bersamaan.sedangkan key hanya diam saja.


"Kalian yang membuatnya seperti itu.Jadi itu tugas kalian yang merawatnya" Bukan jawaban yang mereka tunggu malah keluar dari bibir bu Sri.


"Tapi Bu...jika kami yang merawatnya itu tidak mungkin.Karena kami seorang laki-laki dan tidak mungkin kami merawat seorang perempuan yang bukan muhrimnya" Ucap key.


"Siapa bilang jika kau tidak bisa merawatnya" Bu Sri menatap key dalam.


Mereka bertiga bingung mendengar jawaban Bu Sri.


"Kau harus menikahi Maya,dia terbaring disana itu karena salahmu" Ucap Bu Sri tepat didepan wajah key.


Mereka yang mendengar itu sangat kaget.


.

__ADS_1


Lanjut.


Jangan lupa tinggalkan jejak yah...


__ADS_2