
"Kenapa kau melakukannya pada putriku"
"Itukan suara ibu, Kenapa dia terdengar sangat marah?" gumam Jihan. Saat mendengar suara ibunya.
Jihan menghentikan langkahnya di sana, karena ia ingin mendengar semua ucapan ibunya.
"Maafkan saya, Bu. Ini semua salahku. Aku tidak tahu, kalau dia bisa hadir akibat perbuatanku"
"Suara siapa itu, kenapa terdengar seperti suara pri?" gumam Jihan. Ia kembali mempertajam pendengarannya.
"Tentu saja itu salahmu. Sekarang apa tujuanmu datang menemuiku setelah lebih dari sebulan kau melakukannya"
" Aku ingin memintanya darimu"
"Meminta? apa yang dia minta?" gumam Jihan.
Jihan yang semakin penasaran, akhirnya melangkah mendekat kearah ibunya dan Bu Sri. Semakin dekat ia melangkah, Jihan dapat melihat raut wajahnya ibunya yang nampak marah. Bu Sri yang duduk di dekat Bu Farah hanya diam saja menyaksikan ibunya. Seorang pria yang ia dengar suaranya membelakangi dirinya.
"Ibu, bu Sri" panggil Jihan. Keduanya menoleh kearah dirinya.
"Nak!" Bu Farah kaget melihat anaknya berdiri disana.
Mendengar suara yang tidak asing baginya, pria itu menoleh kebelakang dan betapa kagetnya dia saat mengetahui siapa yang berdiri di belakangnya.
"Jihan" Panggil Tama pelan. Ia berdiri dan mendekat kearah Jihan.
Jihan kaget melihatnya. Dia mundur saat Tama melangkah kearahnya.
"Ap..apa yang anda lakukan di sini?" ucap Jihan.
"Aku benar-benar minta maaf untuk apa yang aku lakukan padamu" ucap Tama. Ia terus melangkah mendeka ke arah Jihan.
"Kumohon berhenti di situ, jangan mendekat terus!" ucap Jihan.
Jihan meminta Tama untuk berhenti, tapi dia tidak menghiraukannya dan tetep berjalan mendeka. Bu Farah yang melihat itu merasa geram dan langsung menarik lengan Tama untuk berhenti.
"Apa kau tidak dengar apa yang di katakan putriku?" ucap Bu Farah. Tama terdiam.
"Dia tidak ingin kau berada di sini. Kalau kau ingin meminta maaf, lakukan yang benar, jangan membuat putriku tidak nyaman dengan tingkahmu" kata Bu Farah.
Tama tersadar dengan perilakunya yang terlalu memaksa. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu dan membuat Jihan tidak nyaman padanya. Ia yang baru mengetahui, bahwa seorang perempuan yang tidur dengannya di bar waktu, ternyata tengah mengandung anaknya.
"Maafkan saya, bu" ucap Tama menunduk.
"Silahkan kau pergi dari sini!" usir Bu Farah.
"Tapi Bu, aku ingin bertanggung jawab dengan perbuataanku" Tama tidak ingin pergi dari sana.
"Apa kau tidak lihat wajah putriku yang takut melihatmu?" Bu Farah menunjuk Jihan yang ketakutan di pojok ruangan.
Tama menoleh dan benar saja, Jihan begitu ketakutan padanya. Tama membuang nafasnya kasar.
__ADS_1
"Baiklah, saya pergi" ucap Tama. Ia pergi dari sana dan melewati Jihan yang begitu takut melihatnya.
Jihan yang sudah melihat Tama pergi, segera berlari ke ibunya.
"Ibu.." Panggil Jihan takut. Ia memeluk ibunya dengan ketakutan.
"Ohh.. putriku. Tidak apa-apa, dia sudah tidak ada di sini" ucap Bu Farah. Ia menenangkan sang anak dengan mengusap rambutnya. Sesekali ia juga menciumnya.
"Kenapa dia bisa ada di sini, bu?" tanya Jihan.
"Ibu juga tidak tahu. Tiba-tiba saja dia datang menghampiri ibu yang sedang asik bercerita dengan Bu Sri" jawab Bu Farah.
"Jihan takut, Bu. Jihan takut, dia akan merebut anak Jihan" ucap Jihan.
"Tidak, nak. Itu tidak akan terjadi, kamu tenang, yah" Bu Farah berusaha menenangkan putrinya.
"Kamu tenang lah, nak. Ayo duduk terlebih dahulu, tenangkan dirimu!" ucap Bu Sri yang sejak tadi mendengar ucapan keduanya. Ia merasa kasihan dan mendekati Jihan.
"Bu Sri.." ucap Jihan. Ia baru mengingat, kalau ada Bu Sri di sana.
"Kamu duduklah dulu!" ajak Bu Sri. Jihan mengikutinya dengan Bu Farah memegang sang putri. Dia juga ikut duduk di sebelah putrinya.
"Apa kamu ingin pulang lebih dulu?" tanya Bu Sri.
"Tidak. Acaranya masih berlangsung, aku sudah berjanji pada kak Maya untuk selelu di sini sampai acaranya selesai" jawab Jihan.
"Yasudah, tenangkan dirimu terlebih dahulu. Jangan seperti ini" ucap Bu Sri. Jihan mengangguk dan berusaha menetralkan perasaannya.
Jihan yang mendengar itu, baru mengingat, kalau ia datang ke sini untuk memanggil ibunya dan Bu Sri.
"Oh.. terimakasih" ucap Jihan pada seorang WO
"Ayo, Bu, Bu Sri. Kak Maya memanggil kita!" ajak Jihan. Ia menarik lengan keduanya untuk berdiri.
"Apa kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Bu Farah.
"Tidak, Bu. Aku sudah tidak apa-apa" jawab Jihan.
"Yasudah, ayo kita hampir mereka!" ajak Bu Sri. Bu Farah dan Jihan menganguk.
Mereka mengikuti seorang WO yang memanggil mereka. Mereka naik ke atas pelaminan yang di mana ada Maya dan Key berdiri di sana.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Maya saat mereka sudah ada di dekatnya. Ia menunggu ketiganya selam tiga puluh menit.
"Heheh...maaf kak, ada yang kami lakukan tadi" jawab Jihan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Maya kembali. Ia menatap ketiganya secara bergantian.
"Kami sedang makan tadi, benarkan farah?" jawab Bu Sri bohong dan menatap Bu Farah.
"Benar" jawab Bu Farah seraya mengangguk.
__ADS_1
"Pantas saja. Kalau begitu ayo kita foto bersama!" Maya memercai ucapan mereka dan mengajak mereka untuk berfoto bersama.
"Ayo..ayo..ayo" ucap ketiganya.
Mereka mengambil posisi masing-masing dengan Bu Sri di samping Maya, Bu Farah di samping Key dan Jihan di samping ibunya.
"Tunggu, di mana Bagas?" tanya Bu Sri yang baru menyadari, kalau Bagas tidak ada di sisi mereka.
"Oh ibu benar, kita melupakan Bagas" ucap Key yang juga melupakan sahabatnya sekaligus keluarga baginya.
"Di mana dia?" ucap Key. Maya dan Bu Sri ikut celingak-celinguk mencari Bagas di kerumunan para tamu.
"Itu di sana" tunjuk Maya di salah satu tempat makanan di siapkan. Key mengikuti arah jari istrinya dan benar saja di sana ada Bagas yang sedang mengambil makanan.
"BAS..." teriak Key. Bagas yang mendengar namanya di panggil menoleh. Dia melihat tangan Key yang menyuruhnya datang ke arahnya.
Bagas menyipitkan matanya dengan heran, dia membuat gerakan mulut dengan kata 'apa'. Key yang mengerti membuat gerakan tangan membentuk kamera. Bagas pun mengerti dan menyimpan makanan, berlari ke atas pelaminannya.
"Kalian kenapa nggak bilang-bilang, kalau ada sesi foto seperti ini?" protes Bagas.
"Makanya kami memanggil Lo kesini, karena Lo pasti ngambek" ucap Key.
"Enak ajak, enggak yah" Bagas tidak terima.
"Sudah-sudah. Kapan fotonya, kalau kalain bertengkar terus?" ucap Bu Sri yang melerai keduanya. Ia melihat tukang fotonya yang sejak tadi menunggu.
"Hehe.. maaf-maaf. Ayo kita foto!" ucap Bagas. Ia berdiri di sisi Bu Sri dan memegang lengannya begitupun Bu Sri yang juga menegang tangan Maya.
"Sudah siap?" tanya tukang foto. Mereka semua mengangguk tanda mereka sudah siap.
" 1...2...3....cekrikkk..." tukang foto itu mengangkat jarinya untuk memberi mereka aba-aba dan foto mereka berhasil di abadikan dengan senyum yang sangat bahagia terpancar dari wajah mereka.
Sedangkan di sekumpulan kerumunan para tamu, berdiri seorang pria yang memperhatikan mereka dari jauh. Dia hanya berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada tanpa ekspresi apapun.
.
.
.
.
.
.
LANJUT...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN SETELAH MEMBACANYA...
LIKE, COMMENT, AND VOTE...
__ADS_1