Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Hukuman Tama


__ADS_3

" B**t" umpat Tama kasar. Ia melempar handphonenya ke lantai sampai hancur.


Bagaimana Tama tidak kesal, ternyata handphonenya di berikan virus saat ia menelpon uncle Jang. Hal itu membuat handphone mati dan tidak bisa di gunakan lagi. Tama harus membeli handphone baru.


" Sampai segitunya uncle Jang tidak ingin di hubungi " Tama mendarat bokongnya dengan kasar di sofa yang ada di dalam ruang kerja Key.


 Ckkkkk....


Tama berdecak, lalu meninggalkan ruang kerja untuk pergi membeli handphone baru. Tama harus secepatnya punya yang baru, karena ia takut Rud maupun Hud akan menghubungi tentang Maya dan Jihan.


Namun, saat Tama baru sampai di lantai bawah, ia sudah melihat istrinya dan Maya yang baru saja pulang.


" Kenapa kalian baru pulang?" tanya Tama saraya berjalan ke arah mereka.


" Kami pergi ke mall sebentar" jawab Jihan saraya duduk di sofa. Kakinya terasa pegal, karena terlalu lama berjalan.


" Kenapa kamu sudah pulang? kamu bilang akan lama " tanya Jihan.


" Ada yang harus aku cek, Makanya aku cepat pulang" Tama yang melihat Jihan memijit-mijit kalinya, kini mendekatinya dan berganti ia yang memijit kaki Jihan.


" Kenapa nggak pakai kursi roda ?"


" Karena aku malas"


Mendengar itu Tama geleng-geleng kepala dan menghela nafas. Setelah itu Tama fokus memijit kaki Jihan yang ada di atas pahanya, sedangkan Maya sibuk makan roti yang dia beli di mall.


Setelah beberapa menit ruangan itu senyap, kini Tama menghentikan kegiatannya dan beralih menoleh ke arah Maya.


" Maya..." panggil Tama.


" Iyah" Maya menoleh.


" Kemarilah ! aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" Tama menanggal Maya dengan gerakan tangannya dan menepuk sofa di sebelah Jihan, kemuadian Tama yang berpindah tempat.


" Kenapa kak?" tanya Maya saat ia sudah duduk di sebelah Jihan.


Sebelum berbicara Tama menarik nafas terlebih dahulu. " Apa kamu menerima surat hari ini ?" Tama hanya ingin memastikan, apakah Maya akan menjawabnya dengan jujur.


Maya kaget dengan pertanyaan Tama. Namun ia mengondisikan ekspresinya kembali.


" Tidak " Maya berbohong.

__ADS_1


" Jangan berbohong, Maya!" Tama menatap Maya datar. Ia sangat tidak suka Maya yang berbohong padanya. Apalagi menyembunyikan hal penting seperti ini.


" Kalau kak Tama tahu, kenapa kak Tama nanya lagi?" entah kenapa Maya kesal dengan pertanyaan Tama. Dan ia meninggalkan sepasang suami istri itu di sana.


Tama yang mendengar jawaban Maya sedikit kaget. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Maya menjawab ketus seperti itu dan meninggalkannya begitu saja, sedangkan ia masih butuh jawaban darinya.


Bukk..


" Jihan..." Tama menekan ucapanya, karena Jihan melempar wajahnya dengan bantal sofa.


" Look, Maya is angry because of you" (Lihat, Maya marah karena kamu). Jihan menatap Tama tajam. Ia tidak suka dengan Tama yang sempat menatap Maya tajam.


" Aku hanya menyuruhnya agar tidak berbohong" ucap Tama santai.


" Tapi caramu yang salah, Tama..." Jihan menekan ucapanya di akhir.


" Di mana salahnya?" Tama benar tidak tahu kesalahan, sedangkan Jihan malah kesal mendengar jawaban suaminya sendiri.


Jihan yang sangat kesal, berdiri dari duduknya dan mencubit lengan Tama, kemuadian meninggalkanya. Tama sampai mengusap-usap lengannya, karena merasa perih.


Tama yang tidak terima, menyusul Jihan yang belum jauh. Dengan cepat Tama menggendong Jihan dengan ala bridal style. " Akhh.." Jihan berteriak kaget, karena Tama yang menggendongnya secara tiba-tiba.


" Apaan sih, lepasin!!" Jihan mengayunkan kedua kakinya agar Tama mau menurunkannya.


" Tama.." Jihan berteriak.


" Ckk.. jangan memanggilku seperti itu!" Tama tidak suka Jihan hanya memanggil namanya saja, karena selama ia menikah mereka sepakat untuk mengubah nama panggilan mereka.


" Turunkan aku " Jihan merengek.


Tama tidak memperdulikan rengekan Jihan dan tetap berjalan santai menggendong Jihan ke kamarnya. Sesampai di kamar, Tama menurunkan Jihan di atas kasur dengan hati-hati.


Setelah membaringkan Jihan di atas kasurnya, Tama langsung menindih Jihan. Jihan membulatkan matanya saat Tama menindihnya, karena ia tahu jika Tama sudah seperti itu, itu tandanya mereka akan bermain.


" Minggir ih.." Jihan mendorong dada Tama, tapi tenaganya tidak mampu membuat Tama berpindah. Tama tersenyum miring melihat Jihan yang berusaha membuatnya berpindah dari posisinya.


Tama yang sudah tidak tahan, langsung menangkap tangan Jihan yang mendorongnya dan menaruh kedua tangan Jihan di atas kepalanya.


" Kamu harus mendapatkan hukuman" Tama ****t bibir Jihan dengan lembut, tapi lama-kelamaan ciuman itu semakin menuntut.


Emmm...

__ADS_1


Jihan mendorong dada Tama Dey sekuat tenaga agar dia melepasnya. " Aku kehabisan nafas, Tama" gerutu Jihan.


" Aku bilang jangan pernah memanggil namaku!!" Tama tidak suka dengan panggilan Jihan dan langsung membungkam kembali bibirnya agar tidak berbicara.


Jihan memberontak, tapi Tama tetap tidak ingin melepaskannya dan tangan membuka pakaian yang di kenakan Jihan, hingga sampai di mana hanya tinggal dalam saja.


" Hentikan, Tama!! Kita sedang di mansion " Jihan menahan kedua pahanya agar Tama tidak bisa membukanya.


" Memang kenapa? di sini lebih aman dari pada di rumah " ucap Tama seraya membuka paksa kedua paha Jihan hingga berhasil.


" Tapi..." Jihan tidak bisa melanjutkan protesnya, karena Tama lebih dulu ****t bibirnya.


Jihan yang sudah tidak bisa lepas dari kungkungan suaminya memilih pasrah menerima permainannya. Jihan hanya bisa menikmatinya saja.


Akhh...


Untuk lertama kalinya suara-suara aneh itu terdengar di kamar Tama. Yang mana biasanya hanya kamar Maya dan Key saja yang seperti itu, tapi tidak lagi sekarang.


Kalau di kamat Tama mereka sedang asik bermain, berbeda dengan Maya yang tengah menangis di kamarnya. Maya bukan menangis, karena Tama menatapnya seperti itu, tapi karena ingatannya yang harus kembali memikirkan Key. Padahal ia sudah susah payah mengalihkan pikirannya dengan pergi ke taman dan mall bersama Jihan.


Maya juga memikirkan Key yang belum juga kembali. Padahal Key sudah siuman. pikiran-pikiran negatif muncul di benaknya. Apa Key sudah tidak mencintainya lagi ? apa Key juga sudah melupakannya hingga dia tidak kembali?.


 Ting....


Sebuah pesan masuk ke dalam handphone milik Maya. Maya membuka pesan itu yang ternyata dari Albert.


Bisa kita ketemu di cafe dekat KPS Company?_ isi pesan Albert_


" Jam berapa?" balas Maya.


Makan siang


" Oke, baiklah" setelah membalasnya, Maya menyimpan handphonenya kembali dan tidur. Ia sudah merasa lelah terlalu lama berjalan dan juga lelah menangis.


Keesokan harinya


Meja makan kali ini lebih ramai dari biasanya, karena Jihan dan Tama menginap semalam. Biasanya di meja makan itu hanya ada Bagas dan Maya, itupun kalau Bagas tidak terburu-buru. Jika Bagas sedang buru-buru di pagi hari dia akan melewatkan sarapan pagi di rumah dan akan sarapan di kantor atau dengar rekan bisnisnya. Dan tinggallah Maya sendirian di meja makan kala itu.


.


.

__ADS_1


LANJUT


__ADS_2