
Maya membuka pintu dan mencari seseorang yang sangat berisik tadi. Matanya dapat melihat seorang perempuan sedang berdiri di depan jendela besar di sana.
Pakaiannya sangat sexsi, baju yang dia kenakan memiliki kera yang sangat rendah, sehingga menampilkan belahan dadanya.
"Siapa kau?" tanya Maya.
Perempuan itu menoleh membuat Maya kaget.
"KAMU..." pekik Maya
"E, LO" ucap Kia. Mereka mengucapkannya secara bersamaan, karena kaget.
"Apa yang lo lakuin di sini?" tanya Kia. Ia berjalan mendekat ke arah Maya.
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu. Apa yang anda lakukan di ruangan suami saya?" ucap Maya. Maya berdecih mendengar ucapan Kia. Dia juga berjalan mendekat ke arah Kia.
"Apa? suami? hahahaha... Key belum menikah. Kamu jangan ngaku-ngaku" Kia tidak percaya, kalau Maya adalah istri key. Dia malah tertawa mendengar ucapan Maya.
"Berani sakali anda menyebut suami saya dengan sebutan nama saja. Di sini anda hanya seorang sekertaris, jadi anda tidak boleh sembarangan" ucap Maya kesal.
"Dan saya tidak mengaku-ngaku. Saya jelas adalah istrinya" ucap Maya sengit. Ia menatap Kia tajam.
"Saya memang seorang sekretaris dalam pekerjaan, tapi saya adalah kekasihnya di luar pekerjaan" ucap Kia pede. Dia tersenyum mengejek ke arah Maya.
"Kekasih? hahahh..." Maya tertawa mendengar ucapan Kia. Jelas-jelas ia adalah istri sah nya.
"Kenapa kamu tertawa? dasar gila" umpat Kia
"Anda yang gila. Mengaku kakasih, apa anda tidak memahami ucapan saya? saya adalah istrinya, sah secara agama dan negara" Ucap Maya. mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan jarinya yang terpasang cincin pemberian dari suaminya.
Kia kaget melihat itu, tapi dia berusaha menepisnya dan tidak percaya begitu saja, karena yang ia tahu key belum menikah, jika memang dia sudah menikah pasti sudah heboh diberitakan.
"Hah..berani sekali kau mengatai ku gila" ucap Kia marah, lalu dia mendorong bahu Maya menggunakan jari telunjuknya.
Maya yang sejak awal sudah sangat kesal, karena tidur terusik di tambah ada seseorang yang ingin bermain api dengan nya menjadi sangat marah.
Maya melangkah ke depan dan langsung menarik rambut Kia dan memutarnya.
"Berani sekali anda mendorongku. Rasakan ini"
"Arkhhh...woi, hentikan.." Kia beteriak dan berusaha melepaskan cengkeraman Maya, tapu kekutan Maya sangat kuat akibat ia terlalu marah.
Maya mendorong Kia setelah ia puas menjambak rambutnya.
Gudubrakkk...
Kia jatuh kelantai dengan sangat keras. Tangan kanannya yang pertama terbentur oleh lantai.
"KAU...." teriak Kia. Dia tidak terima, ia berdiri dan ingin menyerang Maya.
Maya menghindari dari serangan itu, mengakibatkan Kia hampir saja terjungkal ke depan. Posisi kia saat ini membelakangi Maya. Maya yang melihat kesempatan Manarik baju Kia dari belakang.
Srekkk...
__ADS_1
Suara sobekan baju terdengar.
"Hahaha...rasakan itu" ejek Maya.
"HAH..." Kia kaget mendengar suara bajunya yang robek. Dia memutar badannya dan berlari ke arah Maya. Dia ingin mendorongnya.
Maya yang terlalu asik tertawa, tidak waspada. Dia tidak menyadari, kalau Kia tengah berlari ke arahnya dan ingin mendorongnya.
"Arkhh..." Maya terjatuh di lantai. Pa***atnya terbentur laintai.
"Hahah...sakit bukan" Kia tertawa melihat Maya yang mengaduh ke sakitan memegang perutnya.
"Akhh.. perutku" ucap Maya lirih.
Kia masih tertawa melihat itu. Dia belum merasa puas dan ingin menendang Maya. Kakinya sudah siap mengenai perut Maya, namun tiba-tiba...
Brakkk...
Pintu di buka secara kasar dari luar.
Akhhh...
Kia berteriak, karena ia terjatuh dan kepalanya terbentur pinggiran meja.
"Gorge" ucap Maya lirih saat ia menyadari ternyata yang membuka pintu itu ternyata suaminya dan Bagas.
"BOO-BOO" teriak Key. Ia segera menghampiri sang istri yang terduduk di lantai dengan kesakitan.
"Boo...apa yang terjadi?" tanya Key panik. Maya menatap ke arah Kia yang juga kesakitan memegang kepalanya akibat Bagas mendorongnya dengan keras tadi.
Key melihat arah pandang istrinya. Dia mulai menyadari jika sekertaris Kia lah yang membuat istrinya seperti ini. Dia berdiri dengan amarah yang memuncak dan mendekat ke arah Kia.
"Arkhh.. pak Key" ucap Kia. Dia kaget, karena Key tiba-tiba menarik rambutnya membuat dia mendongak dan menatap wajah atasannya.
Key hanya terdiam mendengar rintihan sekertaris Kia. Dia membenturkan kepala Kia sekali lagi ke meja kerjanya"
Pukk..
Suaranya terdengar sangat sakit. Bagas yang melihat itu sampai meringis. Apalagi sudah ada datang yang keluar dari dahi Kia. Bagas mendekat untuk menghentikan aksi Key selanjutnya.
"Bawa istrimu secepatnya ke rumah sakit. Biar dia, gue yang urus" ucap Bagas. Key tersadar dan dengan cepat menggendong istrinya membawa ke rumah sakit.
Bagas berjongkok di hadapan sekertari kia yang sudah tampak pucat.
"Tolong saya, pak" lirih Kia.
"Berdirilah!" perintah Bagas.
Bagas berdiri dan tidak membantu Kia sama sekali. Wajahnya terlihat tenang, tapi dalam hatinya ia juga merasa marah dengan perlakuan kia terhadap Maya. Apalagi Maya tengah mengandung, ia berharap bayinya tidak terjadi apa-apa.
Kia meringis dan mencoba berdiri sendiri. Ia memegang meja sebagai tumpuannya.
"Ayo ikut saya! bisa jalan, kan?" ucap Bagas. Dia berjalan mendahului Kia.
__ADS_1
Kia merasa kasihan dengan dirinya sendiri, karena tidak ada yang membantunya. Ia mencoba berjalan dengan pelan, tapi rasa pusing pada kepalanya membuat dia oleng.
BRakk...
Kia pingsan. Bagas yang mendengar itu, menghela nafasnya. Ia menoleh ke belakang dan menatap Kia sebal.
"Ckk...menyusahkan" ucap Bagas. Ia menggendong Kia seperti karung beras, padahal dia sedang pingsan. Bagas tidak memperlakukan Kia dengan baik.
Bagas membawa kia kerumah sakit yang sama, di mana key membawa istrinya. Para karyawan yang melihat kedua atasannya menggendong seorang perempuan menjadi bingung.
Rumah sakit
Maya saat ini tengah di tangani oleh dokter. Key menunggu di luar dengan harap cemas. Dia bolak- balik seperti setrika di depan pintu penanganan Maya.
Cekklek...
Pintu ruang terbuka. Key buru-buru mendekat ke arah dokter dan menanyakan keadaan istrinya dan bayi nya.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Key.
"Istri anda baik-baik saja. Janinnya juga baik, dia kuat di dalam kandungan ibunya dan sepertinya benturan pada bokongnya tidak terlalu keras, sehingga guncangan tidak terlalu fatal. Saat ini istri anda sedang istirahat, karena kami memberinya obat tidur agar dia tidak shock nantinya" Dokter menjelaskannya secara rinci.
Key yang mendengar itu bernafas lega. Dia memjamkan matanya dan mengucapkan syukur dalam hatinya.
"Pindahkan istri saya ke ruang VIP, dok" ucap Key.
"Baik, tuan. Setelah suster mempersiapkan ruangan yang akan istri anda tempati" jawab dokter.
"Boleh saya lihat istri saya, dok?" tanya Key.
"Silahkan, tuan" dokter mempersilahkan.
Key mengagguk dan masuk ke dalam ruang penanganan istrinya. Dia dia sejenak di depan pintu melihat istrinya terbaring di brangkar.
.
.
.
.
.
.
LANJUT...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN SETELAH MEMBACANYA...
LIKE, COMMENT, AND VOTE
SAMPAI JUMPA DI UP BERIKUTNYA....
__ADS_1