
" Dan nyonya, tuan, ini adalah Jihan sekaligus istri Tama" bik nur kembali memperkenalkan Jihan pada mereka.
" Ohh..kamu istrinya Tama?" ucap aunty Sheila.
" Iya, nyonya"
" Kalau begitu jangan panggil nyonya dong, panggil aku aunty seperti Tama memanggilku"
" Ii..iya aun..aunty" jawab Jihan kaku.
Aunty Sheila tersenyum mendengarnya. "Soon we will have two grandchildren, Pah" (Sebentar lagi kita akan punya dua cucu pah) ucap Sheila seraya menoleh ke arah suaminya. Ia merasa sangat tidak sabar menggendong cucunya setelah cucunya di izinkan pulang oleh dokter.
" Yes, mah" paman Syam mengangguk. Hanya itu yang bisa paman Syam katakan. Ia tidak pandai berbasa-basi dengan orang baru, tidak seperti istrinya.
Tak berselang lama terdengar suara langkah sepatu memasuki ruang keluarga. Mereka sama-sama menoleh dan ternyata itu adalah Tama. Jihan yang melihat itu langsung berdiri dan menghampiri suaminya dengan berjalan pelan.
Tama yang melihat Jihan kesusahan berjalan merasa kasian, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi kodratnya seorang perempuan. Tama mempercepat langkahnya agar bisa menggapai Jihan, ia tidak ingin melihat Jihan terlalu lama berjalan.
"You shouldn't have to stand like this" (Seharusnya kamu tidak perlu berdiri seperti ini) bisik Tama saat ia sudah memegang bahu. Ia juga menuntun Jihan kembali ke sofa.
" I just wanted to mention you"(Aku hanya ingin menyambut mu) jawab Jihan di sela Tama menuntunnya kembali ke sofa.
"Won't Key come home?" (Apa Key tidak ikut pulang, Tam?) tanya aunty Sheila saat sepasang suami-istri itu sudah duduk.
"No, aunty. Key wants to look after Maya in the hospital and wait for her to wake up" (Tidak aunty. Key ingin menjaga Maya di rumah sakit dan ingin menunggunya sadar)
Mendengar itu aunty Sheila membuang nafas lesu. Ia mengingat keadaan Key yang belum peluh total. Key masih butuh waktu untuk istirahat dan harus selalu meminum obatnya untuk membuat lukanya benar-benar kering, tapi aunty Sheila juga tidak ingin memaksa Key untuk pulang. Ia tidak ingin egois, mengingat ada istri Key yang membutuhkan sosok suaminya sendiri.
__ADS_1
"Key should not have stayed in hospital, his condition has not yet fully recovered. Key must get lots of rest and must not be tired. He has to go home!" ( Key seharusnya tidak tinggal di rumah sakit, kondisinya masih belum pulih sepenuhnya. Key harus banyak istirahat dan tidak boleh kelelahan. Dia harus pulang!)
Bukan aunty Sheila yang berbicara melainkan uncle Jang. Dia sangat over protective dengan keponakan satu-satunya. Hal yang wajar di saat kita sangat menghawatirkan kondisi Key, tapi di sisi lain dia harus mengingat Maya sebagai istri Key yang sangat membutuhkan keberadaan Key sejak awal.
Uncle Jang yang membawa Key pergi menjauh dari Maya dengan sengaja, karena alasan ingin Key mendapatkan perawatan yang lebih baik, tapi dengan cara yang sangat salah. Dia menyembunyikan Key dari Maya, agar tidak ada yang menganggu kondisi Key. Dia tidak seharusnya memisahkan Key dengan Maya agar kejadian seperti ini tidak terjadi.
" Di rumah sakit Key tidak akan terlalu lelah, karena dia hanya diam di dalam ruangan menunggu Maya sadar. Jadi untuk kelelahan Key tidak akan merasakannya" Tama tidak suka dengan perkataan uncle Jang yang melarang Key untuk tinggal di rumah sakit.
"Tapi di sana sangat banyak bakteri yang akan mempengaruhi kesehatan Key" mereka mulai berdebat.
" Itu tidak akan berdampak pada kondisi Key, uncle. Key saat ini hanya butuh banyak istirahat dan mengurangi beban-beban pikirannya saja" Tama mulai kesal dan sedikit menaikkan intonasi suaranya.
" Itu dia. Kau bilang Key harus mengurangi beban pikirannya saja, sedangkan yang membuat Key banyak pikiran karena istrinya yang tengah berbaring di rumah sakit. Key seharusnya tidak tinggal di sana, karena dia akan selalu melihat kondisi istrinya dan membuatnya banyak pikiran"
" Yang membuat Key seperti itu, karena uncle"
" Tentu saja. Di sini uncle lah yang membuat Key memiliki beban pikiran dan selalu menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga Maya" Jihan memegang tangan Tama agar tidak terbawa emosi, tapi Tama tidak terlalu menghiraukannya.
" Heii!!" uncle Jang menunjuk Tama. Ia mulai emosi. " Aku membawanya pergi untuk kebaikannya, agar Key cepat sembuh"
" Untuk kebaikannya? Cihhh.." Tama berdecih dan bola matanya menatap uncle Jang sinis. "Kebaikan yang uncle maksud seperti apa? karena dia mendapatkan perawatan yang baik? ya..memang Key mendapatkan perawatan yang baik, tapi uncle membuat psikis seseorang menjadi terganggu"
" Maya istri Key, berbulan-bulan menanti kepulangan Key. Dia harus menahan rindu yang luar biasa di tengah dirinya yang sedang hamil. Maya sering menangis sendirian setiap malam. Menahan sakit pada tubuhnya akibat kehamilannya yang semakin membesar kala itu. Maya selalu mendapat usapan dari Key setiap malamnya, tapi karena uncle menyembunyikan Key selama berbulan-bulan membuat Maya tidak lagi mendapatkanya. Dia selalu menahan rasa sakit itu sendirian, bahkan Maya pernah tidak sanggup untuk berdiri karena merasa sangat sakit pada pinggangnya"
Tama menceritakan penderitaan Maya selama beberapa bulan belakangan. Tama tahu bagaimana menyiksanya Maya setiap malam. Menahan rindu yang dia tidak tahu kapan Key akan pulang.
Mereka yang ada di sana menjadi bungkam, tidak ada suara yang terdengar di sana. Hanya nafas Tama yang terlihat naik turun, karena menahan emosi melihat uncle Jang yang sangat egois.
__ADS_1
Aunty Sheila, bik Nur dan Jihan hanya menunduk menatap lantai keramik di bawah mereka. Mereka tidak berniat menimpali perkataan mereka, sedang paman Syam dia juga terdiam dengan pikiran yang entah ke mana.
" Dan aku rasa aunty tahu bagaimana rasanya menjadi diri Maya, begitupun dengan paman" Tama menatap aunty Sheila dan paman Syam.
" Kalian yang..." uncle Jang ingin membela dirinya lagi, tapi perkataannya terhenti saat paman Syam memegang bahunya dan menggeleng.
" Sudah cukup, Jang! di sini kita memanah yang salah. Kita tidak seharusnya menyembunyikan Key dari istrinya" ucap paman Syam.
" Pergilah ke rumah sakit dan berikan obat ini kepada Key" aunty Sheila mengeluarkan obat dari tasnya dan memberikan pada Tama.
Tama mengambil obat itu dan menyimpannya di saku celananya. " Baik, aunty" Tama berdiri dan melirik uncle Jang sekilas, lalu meninggalkan mereka di sana.
Uncle Jang tidak lagi berbicar. Entah apa dia menyadari kesalahannya atau dia hanya diam, karena paman Syam yang memintanya. Hanya dia yang tahu apa isi pikirannya saat ini.
" Tuan, nyonya, mari saya antar anda ke kamar" ucap bik nur.
Paman Syam dan aunty Sheila mengangguk. Mereka berdiri dan mengikuti bik Nur dari belakang. Uncle Jang juga mengikuti mereka dan tinggallah Jihan sendiri di sana.
" Maaf tuan, nyonya, kalian berada di kamar bawah, kerena kamar atas sudah penuh" bik Nur berbalik setelah mereka sampai di depan salah satu kamar.
" Tidak apa-apa, bik" ucap Sheila
.
.
LANJUT
__ADS_1