
Mereka saat ini sudah berkumpul di meja makan. Bagas dan Tama bahkan sudah ada di sana. Mereka baru saja datang dan langsung bergabung dengan yang lainnya.
Mereka memakan makanannya dengan nikmat, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar.
Setelah selesai mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Bu Farah dengan Jihan jadi pulang hari ini?" tanya Key.
" Maunya ibu seperti itu" jawab Bu Farah.
" Nggak sekalian besok aja?" tanya Key.
" Maafkan ibu sepertinya nggak bisa, karena Jihan besok harus bekerja" jawab Bu Farah.
" Besok aku akan antar kalian pagi-pagi" ucap Key.
" Maaf kak, aku nggak bisa. Bukan aku tidak nyaman di rumah ini, tapi aku selalu kesulitan tidur membuat aku mudah merasa lelah dan mengantuk" ucap Jihan.
" Kasihan loh, Gorge. nanti berdampak pada kehamilan Jihan" ucap Maya.
" Baiklah kalau begitu, aku akan mengantar kalian pulang" ucap Key. Ia juga tidak ingin membuat Jihan dan bayinya kenapa-napa.
" Nggak usah biar pak Han saja yang mengantar kami" tolak Bu Farah. Ia tidak ingin menyusahkan Key. Apalagi ia tahu, Key baru saja pulang sore tadi dan Key pasti lelah.
" Nggak apa-apa, sekalian aku ingin mengajak Maya keluar. Dia merasa suntuk di rumah terus. Sekali-kali me Time berdua" jawab Key seraya merangkul bahu istrinya.
" Idih ada orang mau jalan-jalan. Ikut dong?" Bagas menyela. Mendengar kata me Time ia juga ingin ikut.
" Lo mau jadi obat nyamuk?" tanya Tama.
" Ya enggaklah, kan ada lo" jawab Bagas seraya menunjuk kearah Tama.
" Enak aja. Gue gak mau jadi nyamuk yang selalu melihat kemesraan mereka" jawab Tama.
" Alah..Lo gak asik" ucap Bagas sok sedih.
" Idihh.. muka lo nggak cocok seperti itu" Tama ilfil melihat raut wajah Bagas seperti itu. Bagas yang mendengar itu menatap Tama tajam.
" kalau Lo gak mau ikut, gua pergi sama Bu Sri sama bik Nur aja" ucap Bagas.
" Yaudah, pergi aja sono" jawab Tama ketus.
" Mau ya Bu, kita jalan-jalan keluar?" tanya Bagas pada Bu Sri.
" Iya, ibu mau" jawab Bu Sri seraya menggangguk.
" Serius, Bu..?" tanya Bagas memastikan. Padahal ia hanya iseng saja mengajak Bu Sri dan ternyata dia mau.
" Iyah, ibu serius" jawab Bu Sri. Ia juga tidak keberatan untuk hanya sekedar jalan-jalan saja.
__ADS_1
" Ahh..aku jadi terharu. Aku juga akan tanya bik Nur dulu" ucap Bagas. Ia berjalan dan pergi mencari bik Nur untuk mengajaknya pergi.
Key dan Tama yang melihat itu menggelengkan kepalanya. Mereka tahu tingkah Bagas memang seperti itu, jadi mereka tidak merasa heran
" Yasudah. Jihan rapikan bajunya dulu, yah" ucap Jihan.
" Ya, pergilah. Kami akan menunggu" jawab Maya.
Jihan berjalan ke kamarnya. Tama yang melihat itu ikut berdiri.
" Mau ke mana lo?" tanya Key.
" ke belakang" jawab Tama. Ia kemudian berjalan ke belakang yang kebetulan letak kamar Jihan juga berada di arah yang sama.
" Jihan" Panggil Tama.
Jihan menoleh sebentar dan saat tahu siapa yang memanggilnya, Jihan mempercepat langkah kakinya. Tama yang tahu Jihan berusaha menghindari, ia mengejar.
" Jihan, tunggu!" Tama menahan tangan Jihan.
" Lepaskan, tuan" Jihan menghempaskan tanganya hingga genggaman Tama terlepas. Jihan kembali melanjutkan langkahnya tanpa mau mendengar perkataan Tama.
" Ji, izinkan aku berbicara, aku mohon" ucap Tama.
" Aku nggak mau, tuan" jawab Jihan. Ia tetap berjalan. Tama berusaha mengejar Jihan dengan mengimbangi jalannya.
" Aku mohon, sebentar saja" ucap Tama. Jihan hanya diam.
" Baiklah, tapi hanya sebentar" ucap Jihan.
" Iyah, aku janji. Kita bicara di taman belakang" ucap Tama. Mendengar itu Jihan langsung berjalan tanpa menunggu Tama.
Taman belakang
Tama dan Jihan duduk di bangku panjang yang berada di taman belakang manssion. Di sisi kiri dan kanan mereka, berdiri dua tiang dengan lampu bulat di atasnya.
Tama duduk di sebelah Jihan, tapi berjarak. Mereka masing-masing duduk di pinggir bangku. Tama menggaruk tengkuknya, ia gugup untuk memulai pembicaraan.
"Emm.. Sudah umur berapa perutmu?" tanya Tama.
" 5 minggu" jawab Jihan tanpa melihat Tama.
" Apa dia baik-baik saja?" tanya Tama.
" Tentu saja dia baik. Anda mengira saya akan membiarkan anaka saya kenapa-napa begitu?" jawab Jihan kesal.
" Buk..bukan seperti itu. Maksudku apa dia sehat?" tanya Tama gugup. Ia salah bicara.
" Tentu saja dia sehat" jawab Jihan.
__ADS_1
" Apa kau merasa kesulitan dalam kehamilanmu?" tanya Tama.
" Menurut anda?" bukannya menjawab Jihan malah berbalik bertanya. Tama menggaruk kepalanya mendengar jawaban Jihan.
" Sebenarnya mau anda apa? jika hanya anda ingin tahu keadaan bayi ini, dia baik-baik saja. Saya tidak punya waktu untuk membicarakan hal ini dengan anda" ucap Jihan. Ia kesal mendengar pertanyaan Tama yang menurutnya hanya membuang waktu saja.
" Tunggu..Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Tama. Ia menahan Jihan yang ingin pergi.
" Terus mau anda apa, tuan?" tanya Jihan kesal.
" Maafkan kesalahanku dan membuatnya hadir di perutmu. Aku baru tahu, kalau dia hadir di sana. Aku ingin kita perbaiki semuanya dan merawatnya bersama" ucap Tama. Ia mulai mengatakan keinginannya.
Mendengar perkataan Tama, Jihan tertawa sinis.
" Apa anda bilang? merawatnya bersama? Haha... kenapa anda ingin merawatnya? bukankan anda tidak menginginkan bayi ini, karena anda menggap saya, sayalah yang datang menemui Anda?" tanya Jihan.
" Maafkan aku. Kala itu pikiranku dangkal. Siapa yang tidak akan mengira, kalau semua wanita bekerja di sebuah bar pasti menlaya lni seorang pria" jawab Tama.
" Yahh.. memang. Anda memang benar, tapi bukankah Anda tahu perbedaan wanita yang belum dengan sudah tersentuh dan saya yakin anda melihat dengan jelas bercak merah yang ada di seprei waktu itu.." Jihan menghemtikan ucapan. Rasa sesak pada dadanya membuat ia menangis.
" Anda dengan entangnya bertanya tentang harga kepada saya. Anda jelas-jelas MENGANGGAP SAYA SEORANG PEL***R dan anda meninggalkan selembar cek kepada saya, lalu Anda pergi begitu saja" ucap Jihan.
Jihan sudah tidak bisa menahan tangisannya. Dadanya begitu sesak mengingat malam yang begitu buruk baginya dan sekarang pria itu datang dengan begitu entengnya meminta meminta maaf yang tidak dapat merubah segalanya.
Tama terdiam mendengar perkataan Jihan. Ia tahu, ia salah. Padahal ia sangat tahu, kalau Jihan saat ini masih per***n dan ia lah yang menarik Jihan masuk ke kamar pada saat itu, tapi entah kenapa ia menggap Jihan lah yang datang sendiri padanya.
" Maaf" ucap Tama menunduk.
" Hanya kata itu kan yang mampu anda katakan?" tanya Jihan remeh.
" Maaf ji. Izinkan aku memperbaiki semuanya dan beri aku kesempatan" ucap Tama.
" Jangan harap. Aku tidak ingin apapun darimu. Aku tidak butuh pertanggung jawabanmu" ucap Jihan. Ia meninggalkan Tama yang masih duduk di bangku.
"Jihan" Panggil Tama. Jihan menoleh dan mengangkat tangannya untuk menyuruh Tama berhenti.
" Diam di sana! tolong anda diam di sana!" Jihan memperingati. Tama menghentikan langkahnya.
" Anda jangan coba-coba mengikutiku. Cukup hari ini kita bertemu. Jangan pernah mencariku, jika kita bertemu di luar anggap saja kita tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Aku sudah sangat nyaman dengan hidupku. Ada ibuku yang akan membantuku merawat bayi ini, aku tidak butuh bantuanmu" ucap Jihan panjang lebar.
Jihan kemudian berlari masuk kedalam kamarnya. Air mata tidak berhenti menetes di sepanjang fiat berlari.
Tama masih diam berdiri di taman. Dia hanya menatap Jihan yang pergi meninggalkannya. Dia tahu, Jihan menangis dan itu karena dirinya.
.
.
.
__ADS_1
.
LANJUT...