Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Aku merindukanmu, Gorge


__ADS_3

" Kami tidak bisa memastikan untuk membawamu ke sana, tapi kami akan berusaha. Kami akan mencari penginapan atau hotel yang dekat dengan rumah sakit. Jika memang ada kami bisa membawa dan kondisimu memungkinkan untuk pergi " Tama akhirnya mau untuk membawa Maya, tapi itu belum bisa di pastikan.


" Jadi kamu harus menunggu dulu " kata Bagas.


" Nggak apa-apa. Aku akan menunggu, asalkan kita bisa kesana " Maya tidak mempermasalahkan waktunya. Ia hanya ingin menemui suaminya saja.


" Baiklah. Kamu tunggu saja info dari kami. Kamu juga harus menjaga kondisi untuk tetap sehat dan tidak drop. Jika kamu drop, kami tidak akan membawamu " kata Tama.


" Yahh..aku pasti melakukannya "


Keesokan harinya


Mereka saat ini tengah memeriksa kandungan Maya dengan di antar oleh Tama dan di temani oleh bik Nur.


" Kandungan anda baik dan sehat. Saya akan memberikan vitamin pada anda " dokter obgyn menulis resep dan memberikannya pada Maya.


Setelah semuanya selesai, mereka kambali pulang.


" Apa kita jadi pergi besok, kak ?" tanya Maya.


" Aku belum tahu. Nanti malam aku akan memberitahumu kepastiannya " jawab Tama seraya melihat Maya dari kaca spion depan.


" Baiklah.."


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampi di mansion. Mereka berpisah dan kembali ke perkerjaan mereka masing-masing. Maya naik ke kamarnya dengan hati-hati. Perutnya yang sudah mulai membesar membuatnya sedikit kesusahan untuk naik tangga.


Selama suaminya tidak ada, Maya tidak pernah tidur di kamar mereka melainkan di kamar bik Nur. Setelah kejadian Maya hampir di culik malam itu membuat ia takut untuk tidur sendiri.


Sampai di kamarnya, Maya membuka gorden besar yang menghubungkan pintu balkon. Maya berjalan dan duduk di kursi bambu yang ada di balkon.


Menatap langit yang sangat cerah. Berbeda dengan hatinya yang mendung. Tak terasa air matanya mengalir mengingat sang suami. Maya sangat merindukannya, rasa rindunya membuat ia tersiksa. Terkadang di malam hari, Maya selalu menangis dengan diam, karena merindukan suaminya.


" Gorge..semoga kamu sudah sadar. Aku berharap saat aku datang melihatmu, kamu sudah membuka matamu " ucap Maya lirih.


" Aku merindukanmu, Gorge. Kami sangat merindukanmu..." Maya menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya. Membiarkan air mata itu mengalir di pipinya seraya mengusap perutnya.


Hingga Tampa sadar Maya tertidur di sana.


Boo..boo.. Boo-boo..


Jangan bersedih. Aku baik-baik saja. Aku pasti akan pulang, boo. Jaga dirimu baik-baik, tunggu aku pulang. Aku mencintaimu, boo.

__ADS_1


" GORGE...." Maya bangun dengan kaget.


Nafasnya tidak beraturan. Ia bermimpi melihat suaminya, tapi ia menghilang begitu saja setelah berbicara.


" Gorge..hikss.." ucap Maya lirih.


Maya menangis sendirian. Ia berusaha untuk tegar dan bangun dari duduknya. Ia keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.


Saat ia sudah hampir sampai, Maya tidak senga menginjak pinggiran tangga sehingga membuatnya hampir terjatuh. Untung saja ada Tama yang menahan tubuhnya.


" Maaf. Aku menyentuhmu" Tama melepaskan Maya dengan hati-hati. Ia refleks melakukannya, karena melihat Maya yang hampir terjatuh.


" Tidak apa-apa, kak. Untung ada, kak Tama yang menolongku. Terimakasih "


Tama mengangguk dan meninggalkan Maya di sana.


Maya bernafas lega. Dia sangat kaget tadi, saat ia merasa tubuhnya akan jatuh. Ia mengira dirinya akan terjatuh dan bayinya kenapa-napa.


" Maya " panggil bik Nur. Ia berjalan seraya mendekat ke arah Maya.


" Iyah, bik " Maya menoleh.


" Terimakasih, bik " Maya menerimanya dan meminumnya sedikit.


" Kok gak di habiskan ?"


" Aku akan mimunya sedikit-sedikit, bik " jawab Maya tersenyum. Padahal ia sedang tidak nafsu untuk memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya saat ini.


" Jangan terlalu banyak pikiran. Semuanya pasti akan baik-baik saja " bik Nur seakan tahu isi hati Maya. Ia mengusap tangan Maya dengan ibu jarinya.


" I know that, bik. Aku sedang berusaha "


Bik Nur tersenyum dan meninggalkan Maya sendirian di sana.


Malam harinya


Mereka tengah berada di meja makan. Tampak Bagas, Tama, bik Nur dan juga Maya tengah menyantap makan mereka. Bik Nur sudah bergabung dengan mereka semenjak Key pergi.


Mereka memakan makan mereka dengan lahap, tapi tidak dengan Maya yang hanya terlihat makan sedikit saja.


" Aku sudah selesai " Maya mendorong piringnya dan mengambil segelas air putih.

__ADS_1


" Kenapa kamu hanya makan sedikit, Maya ?" tanya Bagas.


" Aku sudah kenyang, kak "


" Kamu sudah kenyang atau tidak nafsu makan ?" tanya Tama ikut menimpali.


" Kamu harus banyak makan. Bagaimana kamu bisa pergi menemui Key besok, kalau kamu hanya makan sedikit seprti ini " kata Bagas.


" Hah.. maksud kak Bagas kita bisa pergi besok ?" tanya Maya kaget.


" Yah..kita akan ke sana. Apa kamu tidak mah ikut ?" tanya Bagas seraya meminum air putih.


" Aku mau " jawab Maya dengan sangat antusias.


" Tapi, kamu harus banyak makan " Bagas memberikan sebuah syarat. Ia melakukan hal ini agar Maya tetap selalu sehat. Ia tahu jika Maya sulit untuk memasukkan sesuatu kedalam mulutnya.


" Baiklah.." Maya setuju dan mengisi piringnya lagi. Ia menghabiskan makanannya dengan lahap.


Bik Nur tersenyum melihat itu dan bernafas lega. Setelah selesai makan, mereka kembali ke pekerjaannya mereka masing-masing.


Bik Nur menemani Maya ke kamarnya untuk membereskan pakaian yang akan dia bawa besok. Maya memasukkan pakaiannya dan juga pakaian untuk suaminya. Ia berfikir, suaminya pasti tidak memiliki pakaian di sana.


Setelah selesai membereskannya, Maya membawa tas itu turun dengan di bantu bik Nur. Maya membawanya turun, agar saat berangkat besok akan lebih mudah dan tidak perlu naik tangga lagi.


Sampai di kamar bik Nur, Maya segera tidur. Ia tidak sabar untuk menjemput hari esok dan bertemu dengan suaminya. Dengan mata yang sudah tertutup, Maya tampak tersenyum membayangkan akan bertemu dengan suaminya.


...****************...


Pagi hari sudah datang. Maya dan Tama sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit di kota A. Bik Nur sudah membekali makanan untuk Maya makan di dalam mobil.


Maya hanya pergi dengan Tama, karena Bagas harus mengurus pekerjaan di perusahaan selama Key tidak ada. Ada juga penjaga yang selalu mengikuti ke manapun Maya pergi tanpa sepengetahuannya, tapi Tama tahu keberadaan penjaga tersebut.


Selama di perjalanan, Maya hanya diam saja. Ia tidak berani mengeluarkan suara dan tidak pula bertanya. Yang ia tahu, tempat yang akan mereka datangi memakan waktu yang cukup lama.


Sebenarnya Tama bisa saja meminta anggota Key untuk membawa mereka menggunakan helikopter. Tapi, ia takut Maya tidak terbiasa dan malah akan tekut saat naik helikopter. Jadi Tama memilih untuk menggunakan mobil saja dan berusaha membuatkan posisi yang nyaman untuk Maya. Mengingat Jihan juga pernah merasa tidak nyaman saat duduk terlalu lama.


.


.


LANJUT..

__ADS_1


__ADS_2