
keesokan harinya
Di rumah Bu Farah, para perempuan tengah bersantai di ruang tamu. Mereka bercengkrama bersama.
"Ji.. hari ini kamu harus ke rumah sakit, kan?" tanya Bu Farah.
"Iya, Bu, tapi jadwalnya jam 10 nanti" jawab Jihan.
"Ke rumah sakit? buat apa?" tanya Maya.
"Ahh.. untuk memeriksa kandungan, kak" jawab Jihan tersenyum.
"Woaahh.. benarkah? boleh aku ikut? aku ingin melihatnya" ucap Maya.
"Boleh, tapi apa kakak gak akan kelelahan nantinya?"
"Enggak akan, kan hanya duduk aja"
Tok tok tok
Suara pintu rumah diketuk.
"Ada orang yang mengetuk pintu" ucap Maya.
"Assalamualaikum"
"Itu..dengar, kan" mereka mendengar seseorang mengucapkan salam dari luar.
"Kakak benar, aku akan melihatnya" ucap Jihan.
Jihan pergi memeriksanya.
"Ada apa, tuan?" tanya Jihan.
"Emm.. saya suami Maya, boleh saya bertemu dengannya".
Ternyata yang mengetuk pintu adalah Key. Dka datang kembali sesuai perkataan Bu Farah kemarin. Key akan mencoba kembali untuk membujuk Maya untuk pulang bersamanya.
"Ohh.. tentu, silakan masuk, tuan!" Jihan mempersilahkan key masuk.
Jihan memang tidak mengetahui kalau, kemarin ada key datang ke rumahnya, karena Maya dan Bu Farah tidak menceritakannya sama sekali.
"Kak.., ada suami kakak yang mencari di luar" Panggil Jihan pada Maya.
"Suamiku?" tanya Maya. Jihan mengganggu sebagai jawaban.
Maya terdiam di tempatnya. Bu Farah yang melihat itu menghampiri Maya.
"pergilah nak, temui dia!" ucap Bu Farah.
Maya membuang nafas, Maya berdiri untuk menghampiri suaminya.
"May.." Panggil key saat melihat sang istri muncul dari arah dalam.
"Kenapa?" tanya Maya to the point
"Aku tidak akan berhenti datang sebelum kamu mau ikut denganku untuk pulang" ujar key. Maya hanya terdiam mendengar ucapan suaminya.
"May.. apa yang harus aku lakukan agar kau mau ikut bersamaku?" tanya key.
"Aku butuh pengakuan. Aku ingin bertanya padamu, apa selama ini kamu benar-benar sudah memperlakukan aku sebagai istrimu?"
Key terdiam sesaat, "menurutku aku memperlakukanmu sebagai istriku. Aku tidak pernah membentakmu, aku selalu pamit jika aku ingin pergi.." key menjeda ucapannya
" Dan untuk cincin, aku baru mau memberimu saat aku pulang dari kota H" lanjut key kembali.
"Cincin?" tanya Maya.
"Yah, cincin. Cincin yang ada di lemari pakaian itu untuk mu" ucap key.
Maya mengingat cincin yang ada di lemari pakaiannya waktu itu, "ternyata itu untukku?" batin Maya.
__ADS_1
"Buk..bukan untuk perempuan itu?" tanya Maya memastikan.
"Bukan, itu untuk mu. Aku tahu pernikahan kita terjadi secara tiba-tiba dan aku belum memberi cincin waktu itu, tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku sangat mencintaimu, May" ucap key dalam.
Mata Maya berkaca-kaca mendengar ungkapan sang suami. Dia tidak menyangka suaminya ternyata mencintainya juga, dia mengira hanya dia yang mencintainya.
Key mendekat ke arah Maya, menangkup kedua pipinya dan menatap matanya dalam.
"Apa kau tahu? Setelah aku pulang dari kota H, aku akan memberikan sebuah kejutan padamu, tetapi karena masalah ini yang akhirnya aku tak bisa menunjukkannya"
"Tentang kau yang butuh pengakuan, bukan aku tak ingin kau diketahui oleh publik jika kau adalah istriku, tapi ada sebuah masalah yang aku tidak ingin kau terlibat di dalamnya dan terluka hanya karena aku" Key menjelaskan kepada Maya panjang lebar.
Air mata Maya semakin deras mendengar semua penjelasan suami nya. Dalam hatinya dia berkata, "Apa selama ini aku salah menilai tentangmu?".
Key menghapus air mata itu dan berkata kembali dengan lembut, "Aku mohon pulanglah, Aku ingin melihat kau dan bayi kita selalu sehat selama berada di sisiku" Key mengusap perut Maya dengan lembut.
"Mau, yah?" bujuk Key.
"Baiklah aku akan ikut" ucap Maya lirih.
"Benarkah? kau benar ikut denganku?" tanya key memastikan. Maya mengangguk sebagai jawaban.
Key yang melihat itu sangat bahagia, dia langsung memeluk Maya dengan erat.
"Ak..aku sesak" ucap Maya.
"Maaf-maaf" key langsung melepas pelukannya.
"Apa papa juga membuatmu sesak?" tanya key pada bayi yang ada di perut Maya.
"Ak..aku juga tidak apa apa papah" sahut Maya malu-malu.
Key tersenyum mendengar itu, dia menunduk dan mencium perut Maya. Maya yang merasakan itu tersenyum.
"Ayo pulang!" ajak key.
"tunggu dulu, aku panggil ibu sama Jihan dulu, ya" ucap Maya.
Maya berdiri dan pergi memanggilmu Farah dan Jihan. Mereka akhirnya kembali ke tempat di mana key berada.
"Halo, Bu, nona" sapa key pada Bu Farah dan Jihan. Bu Farah hanya mengangguk.
"Panggil Jihan aja, tuan" ujar Jihan.
"Baiklah, panggil key saja"
"Akh..aku akan memanggil anda kak key saja bagaimana?" Jihan merasa tidak sopan jika hanya memanggil key dengan sebutan nama saja.
"Tidak masalah"
"Bagaimana? Apa kamu mau ikut dengan suamimu?" tanya Bu Farah pada Maya.
"Iyah, Bu, Maya akan ikut"
"Baguslah, jika ada masalah bicarakan dengan baik, agar masalah itu tidak berlarut-larut" ucap Bu Farah.
"Iyah, Bu" ucap Maya dan key bersamaan.
"Oh Iyah, ibu dan Jihan mau ke rumah sakit, kan?" tanya Maya.
"Iya, kakak mau tetap ikut?" tanya Jihan.
"Hmm.." Maya menganguk.
"Kita antar Jihan ke rumah sakit, yah?" tanya Maya pada key.
"Rumah sakit? untuk apa?" tanya key.
"Jihan ingin memeriksa kandungannya" ucap Maya.
"Jihan sudah menikah juga? aku kira belum" ucap key.
__ADS_1
"Mau ngga, anterin?" Maya mengalihkan pertanyaan key, karena dia tidak ingin Jihan sedih.
"Boleh, sekarang, kan?" tanya key.
"Iyah"
Yaudah, ayo" ajak key.
Key berdiri dan menunggu mereka di luar.
"Ayo, Bu, jihan!" ajak Maya.
"Apa tidak merepotkan, kak?" tanya Jihan.
"Tidak, ayok" Maya menarik Jihan dan Bu Farah keluar.
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit bersama-sama.
Di rumah sakit.
Jihan menunggu giliran dia masuk untuk diperiksa.
"Ibu Jihan" Panggil suster.
"Itu aku, aku masuk yah, kak" ucap Jihan. Maya dan key menganguk.
"Nggak periksa kandungan juga sekalian?" tanya key.
"Aku udah periksa dua hari yang lalu"
"Tapi akukan enggak ada, jadi kamu periksa lagi yah, aku ingin melihat?" key mengusap perut Maya
"Boleh, yah" key memelas.
"Hah... baiklah" Maya pasrah.
Key tersenyum mendengarnya. Dia bergegas mendaftar nama sang istri disana. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya nama Maya dipanggil. Jihan juga sudah selesai memeriksa kandungannya.
"Kalian tunggu di sini sebentar!" ucap key. Bu Farah dan Jihan mengganggu.
Fi dalam ruangan pemeriksaan Maya tengah melakukan USG dan menampilkan keadaan bayi di dalam perutnya.
"Ini anak anda tuan dan nyonya" ucap dokter obgyn.
Key yang melihat itu matanya berkaca-kaca, dia terharu. Dia tidak menyangka akan menjadi seorang papa.
"Bayinya masih sebesar biji kacang, jika si bayi sudah berumur 4 bulan baru dia akan terlihat badan, tangan dan kakinya" lanjut dokter obgyn.
"Terima kasih dokter" ucap Maya.
Setelah pemeriksaan, mereka keluar dari sana dan menghampiri Bu Farah dan Jihan.
"Ambilah ini, kamu bayar terlebih dahulu, aku ada telpon, sekalian bayarkan Jihan juga, yah?" key memberikan kartu ATM miliknya kepada Maya.
"Iyah" Maya mengajak Jihan dan Bu Farah untuk melakukan pembayaran dan mengambil vitamin.
Sementara key dia pergi menjauh dari Maya dan menelepon seseorang.
"Gue akan pulang, apa semua yang sudah siap?" tanya key pada seseorang di seberang telepon.
"Bagus, gue sudah menuju ke sana"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut..