
" Karena aku merindukanmu" Ucap key dengan senyum genitnya.
"Ihhh.... bohong banget sih" Maya salah tingkah.
" Aku nggak bohong tahu. Buktinya aku cepet pulang hari ini"
" Pasti kamu melakukan kesalahan, ya?" tanya Maya curiga.
"Ehh.., mana ada"
"Yakin...?" Maya menatap key dengan intens. Maya memperhatikan gelagat suaminya. Key yang di tatap seperti itu menjadi kelabakan sendiri.
"Sebuah hubungan itu harus saling terbuka. Apa kamu tidak belajar dengan apa yang terjadi?" Maya memperingati sang suami.
Key terdiam mendengarnya, ia bukannya tidak ingin jujur pada istrinya, tetapi dia mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya.
Maya yang melihat suaminya terdiam pergi meninggalkannya. Ia semakin yakin jika sang suami menyembunyikan sesuatu darinya. Ia yang awalnya hanya ingin menggodanya, malah mendapatkan gelagat suaminya yang aneh.
Key yang melihat Maya pergi meninggalkannya segera berdiri dan mengikuti sang istri pergi ke kamar mereka. Maya yang mengetahui jika Key mengikutinya, hanya diam saja dan tetap berjalan dengan diam.
Saat di dalam kamar mereka, Maya duduk di pinggir kasur, sedangkan Key langsung mengambil posisi di samping sang istri.
"Boo" Panggil Key lembut. Key mengambil tangan sang istri yang ada di pahanya dan menggenggamnya.
Maya tidak menjawab panggilan itu .Maya hanya menoleh ke samping dan menatap manik mata sang suami.
Key menghirup udara yang banyak sebelum dia berbicara. "Yahh.. kau benar aku menyembunyikan sesuatu darimu. Aku bukan tidak ingin memberitahumu, tetapi aku sedang mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya padamu" Key akhirnya berani untuk membicarakannya pada sang istri.
" Apa itu hal yang rumit? kau menunda memberitahuku, karena kamu sedang berusaha menyelesaikannya, apa seperti itu?"
" Bisa dibilang seperti itu. Awalnya aku berfikir masalah itu udah selesai ditangani oleh Bagas, tapi ternyata dia belum menyelesaikan masalah itu"
"Maafkan aku!" Key merasa bersalah, karena tidak berhasil menuntaskan masalahnya.
"Baik, aku akan memaafkanmu, karena kamu udah mau jujur padaku. Walaupun kamu belum mau menceritakan masalah itu"
"Terimakasih. kamu memang istri yang pengertian" puji Key. Key yang sejak tadi menggenggam tangan sang istri kini melepaskannya dan berganti memeluk Maya.
Maya tersenyum dan membalas pelukan sang suami. Ia tidak ingin menjadi istri yang egois. Ia akan memberikan waktu pada sang suami untuk menyelesaikan masalahnya.
"Oh..Iyah, aku melupakan suatu" Key yang sedang memeluk Maya tiba-tiba mengingat sesuatu. Ia melepaskan pelukannya dan pergi ke arah lemari pakaian.
Key membuka lemari itu dan mengambil sebuah paper bag dan membawanya menuju sang istri. Key kembali duduk di sebelah Maya.
Maya yang sebelumnya sudah pernah melihat paper bag itu, merasa tidak asing lagi dan bahkan dia tahu apa isinya.
__ADS_1
" Ini.., handphone ini untukmu. Agar aku mudah untuk menghubungi nantinya" Key membuka kotak handphone itu dan memberikan isinya pada sang istri.
"Ini untukku?" tanya Maya.
"Benar, itu untukmu" Key mengangguk dan mengangkat tangannya dengan gerakan seperti meminta.
"Sungguh?" Maya masih seakan tak percaya dengan apa yang diberikan sang suami padanya.
"Iyah my boo-boo. Coba cek nomor kontak yang ada di dalamnya. Aku juga sudah menyimpan nomor Bu Sri"
Maya mendengar itu segara mengeceknya. Matanya memancarkan kebahagiaan. Ia menoleh ke arah Key dengan senyum bahagia. Maya langsung memeluk Key dan mengucapkan terima kasih.
"Terimakasih sudah memberikan ini padaku"
"Tentu, apapun akan kulakukan untukmu" jawab key.
Maya melepas pelukannya dan mencium bibir key sekilas. Key keget dengan tingkah istrinya, sampai akhirnya ia tersenyum. Key lalu menarik tengkuk sang istri dan mencium bibirnya. ( Dan terjadilah sesuatu yang di inginkan oleh pembaca).
Malam hari
Setelah aktivitas mereka siang tadi, hingga membuat mereka tidur sampi menjelang malam.
Sepasang suami istri itu tengah bersantai di ruang TV dengan ditemani semangkuk kue pisang. Ada pula susu khusus untuk Maya di sana.
"Gorge" Panggil Maya.
"Kenapa..hmm?" Key melepas tangannya pada perut sang istri dan berpindah mengusap sudut bibirnya, karena ada sisa-sisa kue di sana.
"Aku ingin menceritakan tentang Jihan. Aku berencana ingin meminta tolong padamu"
"Ada apa dengannya? apa yang ada masalah?"
"Ada, bahkan bisa dibilang masalahnya sangat rumit" Maya memasang wajah serius. Membuat Key juga mendengarnya dengan serius.
"Apa itu? coba ceritakan!"
"Saat kamu pergi ke rumah Jihan waktu itu, kan kamu tahu jika dia juga hamil sepertiku. Kamu bertanya padanya ' apakah Jihan sudah menikah' waktu itu" Maya mulai menceritakan masalah Jihan pada sang suami.
"Lalu?" Tanya Key.
"Ternyata Jihan belum menikah" Maya mengatakannya dengan memajukan wajahnya kearah Key. Key sampai memundurkan wajahnya, takut jidad sang istri mengenaik dagunya.
"Benarkah? terus kenapa dia bisa hamil?" Kay tidak percaya mendegarnya, karena yang ia lihat Jihan sepertinya anak baik-baik, tidak mungkin dia melakukan hal yang tidak senonoh itu.
"Ada yang merampas mahkotanya secara paksa dan pria itu tidak ingin bertanggung jawab pada Jihan. Malahan pria brengsek itu menyalahkan Jihan. Padahal jelas-jelas dia yang mabuk dan menarik Jihan dengan paksa" Ucap Maya sedih. Key yang mendengar itu juga bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
"Kasian dia" key juga merasa iba.
"Itulah aku memberitahumu, karena aku minta tolong bantu Jihan untuk mencari pri bajingan itu, yah..." Mata berkedip-kedip cepat di sertai tangan yang mengatup. Dia memohon pada sang suami untuk membatu.
"Memang sia nama pria itu?" tanya key.
"Nah..itu dia. Dia tidak mengenal pria itu, yang dia tahu hanya wajahnya saja"
"Terus bagaimana caranya kita mencari tahu, kalau kita tidak tahu siapa namanya"
"Makanya aku meminta bantuan padamu. Bukankah kau bisa menemukanku dengan mudah?" Key yang mendengar itu menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"It..itu beda, boo"
"Apanya yang beda? sama-sama orang, kan?" Maya menjawab dengan judes. Dia menatap sang suami dengan dahi mengkerut.
"Baiklah-baiklah, aku akan membantumu, tapi aku belum pernah bertemu dengan Tama beberapa hari ini. Hanya dia yang sangat mudah mencari jejak seseorang"
"Kamu kan, bisa telpon" Maya benar-benar memaksa suaminya untuk mencari pria brengsek itu.
"Hp nya gak aktif boo-boo ku" Key tak habis pikir dengan istrinya yang memaksa dirinya. Dia juga bingung dengan sikap istrinya yang berubah. Biasanya dia tidak memaksakan kehendak apapun, tapi kali ini berbeda.
"Pokoknya kamu harus mencarinya" Maya melipat tangannya di dada dan tidak mau menoleh ke arah Key.
"Woi..." Maya dan key terkejut mendengar suara itu secara tiba-tiba. Badan mereka bahkan tersangka dari sofa saking kagetnya.
"Lo apa-apaan, sih. Baru datang bukannya beri salam, malah kagetin" key marah-marah ke arah Bagas.
"Hehehe.. maaf-maaf" Bagas duduk di salah satu sofa di sana.
"Kalau istri gue jatuh gimana?"
"Gue juga udah minta maaf. Maaf yah Maya"
"Gak apa-apa, kak"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...