Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
..


__ADS_3

Setelah drama panjang, yang memperdebatkan masalah ikan goreng dan Tama yang pergi dari rumah entah kemana, key dan Maya yang masih nonton tv.


"Gorge..."panggil Maya.


Key menoleh "Kenapa?"


"Apa, sikap kak Tama memang seperti itu?"


"Tidak, aku juga bingung, ada apa dengan anak itu? biasanya dia tidak akan bersikap seperti itu? apa lagi memperebutkan makanan seperti tadi, itu bukan dirinya" ujar key.


"Terus kenapa dia sensitif sekali?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu"


"Dia seperti orang hamil saja?"


"Mana ada laki-laki hamil"


"Nah, itu dia, anehkan?"


Tring tring


Hp milik key berbunyi, dia melihat nama kontaknya, ternyata Bagas yang menelponnya.


"Hmmm.."


"Apa kau tidak bisa menghendelnya?"


"Ckk, baiklah, gue kesana sekarang"


"Hmmm"


Key mematikan sambungannya telponnya.


"Kenapa?" tanya Maya.


"Ada klayen yang memajukan jadwal pertemuannya, aku harus keperusahaan sekarang!"


"Oh, yaudah"


"Gak apa-apa,yah?" Key memastikan, Maya mengizinkannya atau tidak. Dia tidak ingin bertengkar dangan istrinya.


"Aku ke kantor dulu" Pamit key.


key lalu mencium kening istrinya, dan bergegas ke perusahaan.


Setelah menempuh waktu selama dua puluh lima menit, akhirnya dia sampai di perusahaan. Key turun dengan terburu-buru, para karyawan yang melihat atasannya baru tiba, menunduk hormat.


Key pergi menuju ruangan rapat yang ada dilantai lima. Key membuka pintunya, membuat orang-orang yang ada didalam sana menoleh secara bersamaan kearahnya.


"Selamat siang, pak" Sapa si tamu itu.


"Selamat siang" Key membalas sapaannya.


Mereka menjabat tangan satu sama lain, sebagai tanda awal pertemuan mereka hari ini.


Mereka mulai membahasnya. Satelah hampir dua jam mereka disana akhirnya pembicaraan itu selesai.


"Senang bekerjasama dengan anda, pak"


"Terimakasih"


"Kalau begitu, kami permisi, pak key"

__ADS_1


"Tentu, silahkan" Key mempersilahkan tamunya untuk keluar.


Key dan Bagas juga keluar dari sana dan pergi keruangannya.


"Apa kau tahu? Tama hari ini bersikap sangat aneh" Ucap key.


"Oh, aku tahu, dia datang keruanganku dan membuat kekacauan disana"


"Benarkah?" Key tidak percaya.


" Gue gah bohong, bahkan, dia menangis meraung-raung, gara-gara gue menolok untuk memberikannya ice crem" Bagas


menjelaskannya dengan serius.


"Apa yang terjadi dengan bocah itu?" Key mulai berfikir.


"Gue rasa, kita perlu membawanya ke rumah sakit!"


"Kenapa harus kerumah sakit? dia kan gak sakit" Tanya key bingung, menurutnya sifatnya saja yang berubah dan itu tidak perlu untuk dibawa ke rumah sakit.


"Dia selalu muntah-muntah seperti kemarin pagi"


"Dia juga muntah pada pagi ini?"


"Yah.."


Mereka telah sampai dilantai paling atas perusahaan.


"Gue pengen lihat bocah itu!"


"Dia ada di ruanganku, ayo kita kesana" ajak Bagas.


Key mengangguk dan mengikuti Bagas keruangan. Saat mereka sampai disana, mereka sangat shock, mata mereka terbelalak melihatnya.


Bagas dan key saling pandang, mereka benar-benar tidak tahu harus berkata apa sekarang.


Bagas masuk dengan kesal dan raut wajahnya terlihat garang.


"TAMA...." teriak Bagas.


Tama terlonjak kaget, ia menjatuhkan ice crem yang dia pegang.


"APA YANG KAU LAKUKAN?" Bagas belum menurunkan intonasi suaranya.


Bagas mengusap wajahnya kasar, ruangannya berantakan akibat ulah sahabatnya. Ingin rasanya dia memukul Tama saat ini.


Bagas mulai berusaha mengontrol emisinya.


"Gue kira lo gak mau makan ice crem, Kerena perutmu mual mencium baunya?"


"Itu hanya rasa vanila saja, yang gue makan bukan vanila" Tama menunjuk ice crem yang dia makan.


Key memukul kening sendiri. Dia benar-benar tak habis fikir melihat ini.


"Gue rasa Lo perlu ke rumah sakit jiwa" Ucap Bagas.


" Gue gak gila"


"Kalau gak gila, apa namanya?"


"Waras" jawab Tama enteng.


Arkhhhh..

__ADS_1


Bagas berteriak, dia pusing melihat semua ini. Dia keluar dari sana dan pergi ke ruang key. Key juga meninggalkan Tama sendirian disana dan pergi menyusul Bagas.


"Woi... kalian mau kemana?"


"Mereka itu aneh sekali" ucapnya pelan. Dia tidak menyadari tingkahnya yang begitu aneh.


Key melewati meja Kia yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Kia yang melihat atasannya ada disana, mulai menyapanya.


"Selamat siang, pak" key hanya mengangguk dan melewatinya begitu saja.


Kia yang melihat kesempatan, mulai mencari perhatian pada key.


Key masuk kedalam ruangannya dan mendapati Bagas sedang duduk disofa. Bagas memijit pelipisnya.


Tok tok tok


"Boleh saya masuk, pak?"


"Ada apa?" tanya key.


"Pak key dan pak Bagas terlihat sangat lelah, mau saya buatkan kopi?" tawar kia.


Mereka berdua mulai berfikir, kayaknya enak minum kopi di saat pusing seperti ini.


Key yang ingin menolaknya, tapi Bagas ternyata menginginkannya.


"Tidak..."


"Boleh" Bagas memotong perkataan key.


"Pak key?"


"Baiklah, buatkan saya juga"


"Baik, pak"


KIA pergi membuat kopi.


Bagas dan key yang masih tinggal disana, mereka hanya terdiam satu sama lain.


"Oh ya, Saat kita akan pergi ke kota B besok, gue gak bisa ikut" ucap Bagas.


Mereka harus ke kota B besok untuk menghadiri pertemuan bisnis dengan para koleganya.


"Kenapa?"


"Kan, gue harus temenin Tama besok, untuk menemui tukang kebun itu"


"Kau benar, gue lupa akan hal itu.."


"Terus, gue harus pergi sendiri gitu?, itu gak mungkin bas"


"Kan ada Kia, dia yang akan menemanimu"


"Sebenarnya, gue malas dengan anak itu"


"Memang kenapa dia?"


"Gue juga gak tahu, gue gak suka aja lihat wajahnya yang penuh dengan bedak itu"


Buahhahahha...


Bagas tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan key. Dia juga mengakui, kalau kia memang memakai bedak sangat tebal.

__ADS_1


__ADS_2