
"Halo, bik" ucap Key saat sambungan telepon sudah terangkat.
"Ada apa nak Key?" tanya bik Nur.
"Bik, buatkan Maya rujak buah. Dia ingin memakan buatan bibik setelah dia dampai di manssion nanti" ucap Key. Ia menoleh ke arah istrinya yang menempelkan telinganya di handphone.
"Iyah, bibik akan membuatnya"
"Terimakasih bik"
Tut...
Key mematikan sambungan telponnya.
"Udah, kan?" tanya Key.
"Iyah..." jawab Maya.
Manssion
Mobil mereka sudah sampai di halaman manssion. Bik nur menyambut mereka di depan pintu.
"Selamat datang semuanya" sapa bik nur.
"Terimakasih, bik" ucap Key. Mereka masuk ke dalam dan bersantai di ruang keluarga.
"Bik, pesananku mana?" tanya Maya.
"Tunggu, bibi ambil dulu" bik Nur pergi ke dapur dan mengambilnya.
Maya tersenyum melihat rujak buah yang ada di depannya.
"Bik, apa Tama ada pulang ke sini?" tanya Key.
"Tidak ada" jawab bik Nur seraya menggeleng. Mendengar itu Key menghela nafas.
Key berdiri dan berjalan menuju dapur. Ia ingin membuat sesuatu untuk istrinya.
"Ji, kamu kamu?" Maya menawarkan rujaknya pada Jihan.
"Emang itu enak, kak?" tanya Jihan. Ia tidak pernah memakan rujak buah yang lengkap seperti itu, yang pernah ia makan hanya rujak mangga atau jambu.
"Enak banget loh. Cobain deh!" Maya menyodorkan semangkuk rujaknya pada Jihan.
Jihan mencicipi sepotong apel. Jihan mengunyah makanan itu dengan diam, dia benar-benar merasakan putongan buah itu.
"Bagaimana? enak kan?" tanya Maya.
"Kakak benar, ini sangat enak" ucap Jihan berbinar. Ia mengambil sepotong buah lagi dan mereka memakan rujaknya bersama-sama.
Bu Farah dan Bu Sri tersenyum melihat kedekatan keduanya. Tak berselang lama Key tampak keluar dari dapur dengan membawa gelas berisi susu.
"Boo, setelah makan rujaknya, minum susu ini dulu, yah!" ucap key. Ia menyimpan gelas itu di hadapan istrinya.
__ADS_1
"Ini juga untukmu, ji. Kamu juga harus minum susunya" Key juga membuat susu untuk Jihan, karena ia tahu Jihan selalu minum susu selama di rumahnya, tapi karena semalam dia menginap di hotel pasti dia belum minum susu.
Jihan kaget, Key membuatkannya susu juga. Ia menatap ke arah Maya, ia takut Maya cemburu padanya, tapi ternyata Maya terlihat biasa saja dan malah tersenyum padanya.
"Terimakasih, kak" ucap Jihan.
"Hmmm.." Key hanya berdehem.
"Yuhuu...gue pulang gays..."
Mendengar suara itu, mereka yang ada di ruang TV saling pandang, terutama Key dan Bagas.
"Tama" ucap Key dan Bagas bersamaan. Mereka berdiri dan ingin memastikan, namun baru selangkah yang di tunggu muncul juga.
"Hai gays, gue pulang" ucap Tama. Ia merentangkan tangannya berharap kedua sahabatnya datang memeluknya.
Key dan Bagas mendekat ke arahnya. Bagas memeluk Tama dengan erat.
"Ukhhh...lepas, bas" Tama terbatuk, karena Bagas memeluknya sangat erat.
"Dari mana aja lo?" tanya Bagas. Ia sudah melepas pelukannya dan sedikit menjauh darinya.
"Ceritanya panjang, nanti gue akan menceritakannya" jawab Tama.
Plakkk....
Key menampar pipi Tama. Raut wajahnya tampak datar.
"Kenapa lo tidak menepati janji lo?" tanya Key.
"Gue menepati janji gue untuk hadir di acara lo"
"Kau ingin berbohong? jelas-jelas kami tidak melihatmu kemarin" ucap Key.
"Kalian saja yang tidak melihat gue, tapi mereka melihat gue" Tama menunjuk kearah Bu Sri, Bu Farah, dan Jihan. Ia lalu meninggalkan mereka dan naik ke atas lantai dua. Tama melirik Jihan yang menunduk tidak ingin melihatnya.
Key dan Bagas saling pandang, mereka tidak mengerti dengan perkataan Tama.
"Apa benar kalian melihat Tama kemarin di hotel?" tanya Key.
Bu Farah dan Jihan terdiam, tapi Bu Sri yang menjawab pertanyaan Key.
"Itu benar, Tama ada di hotel kemarin" jawab Bu Sri.
"Kenapa Bu Sri tidak memberitahu kami? Tama menghilang lebih dari satu minggu ini" ucap Bagas.
"Ibu mana tahu, kalau anak itu tidak pernah pulang. Ibu juga mengira, dia sudah bertemu dengan kalain" jawab Bu Sri. Setelah mendengar jawaban Bu Sri, Key naik ke lantai atas untuk menemui Tama, Bagas pun mengikuti.
"Tama" panggil key.
"Oi, gue di sini" jawab Tama dari balik pintu ruang kerja Key. Mereka menghampirinya dan duduk di sana.
"Ke mana saja lo menghilang selama lebih dari seminggu?" tanya Key to the point. Tama menatap Key datar dan memajukan tubuhnya.
__ADS_1
"Gue mendapat sebuah petunjuk tentang pembunuhan itu" jawab Tama. Alis Key mengkerut.
"Petunju?" tanya Bagas.
"Saat Key berhasil membawa Maya untuk pulang ke manssion waktu itu, secara bersamaan ada seseorang yang mengirim pesan pada gue" ucap Tama.
"Pesan? apa pesan itu dari pihak lawan?" tanya Key.
"Bukan, pesan itu malah memberitahuku tentang seseorang yang ingin berniat jahat sama lo. Gue juga masih bingung siapa yang mengirim pesan itu" jawab Tama.
"Apa kau tidak melacak nomarnya?" tanya Bagas.
"Gue sudah pernah mencoba melacaknya dan sepertinya dia menggunakan nomor samaran atau bisa di bilang dia yang membuat nomor itu sendiri" jawab Tama.
"Apa isi dari pesan itu?" tanya Key. Tama menoleh ke arah Key dan mengambil handphone yang dia letakkan di atas meja.
" Ini, bacalah" Tama menyodorkan handphone pada Key untuk dia membacanya. Key mulai membaca isi pesan itu.
" Kau pergilah ke kota B di daerah pedalaman desa. Di sana kau akan menemukan hutan yang begitu lebat. Berjalanlah ke arah timur untuk menemukan tempat persembunyian pria bernama borxta dan antek-anteknya" Isi pesan pertama pada pukul 12:00.
" Saya tahu, kalau saat ini kau sedang mencari dalang di balik pembunuhan keluarga Smith. Kau harus berhati-hati, karena borxta tengah merencanakan sesuatu pada sahabatmu, keylbert dan saya tahu keylbert akan memperkenalkan istrinya kepada publik" isi pesan kedua pada pukul 14: 22.
" Berhati-hatilah" isi pesan ketiga pukul 01:30.
" Di mana dia bisa tahu, kalau gue sudah menikah dan akan memperkenalkannya pada publik? pesan ini satu minggu sebelum resepsi, kan?" tanya Key.
"Gue juga tidak tahu bagaimana dia bisa tahu dan kau benar pesan itu satu minggu sebelum resepsi" jawab Tama.
"Apa mungkin ada mata-mata dalam manssion ini?" duga Bagas.
"Gue yakin tidak ada. Gue menduga dia yang selalu memata-matai kita, bisa di bilang mungkin dia memantau menggunakan CCTV yang ada di sini tanpa ketahuan" jawab Tama.
"Kenapa pesan itu di kirim pada jam berbeda-beda?" tanya Key.
"Saat dia mengirim pesan pertama itu, gue langsung melacak nomornya dan juga mencari tahu kota yang di maksud dalam pesan itu, karena itu pertama kalinya gue tahu kota itu, sampai pesan kedua itu terkirim...." Tama berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
" Pesan ketiga di kirim saat gue tengah pergi mencari tempat pria bernama borxta itu. Sepertinya dia menyuruhku untuk berhati-hati" kata Tama.
.
.
.
.
.
.
.
LANJUT....
__ADS_1