
"Baiklah.Kita juga sepertinya haru mencari baby sitter" ucap Key
"Tapi aku ingin merawat baby Kim sendiri tanpa baby sitter"
"Kamu tetap bisa merawat baby Kim sampai kapanpun, boo. Kita menggunakan jasa baby sitter hanya untuk membantumu saja. Seperti di saat kamu ingin makan, tapi tidak ada yang menjaga baby Kim. Dan seperti saat ini, kita butuh baby sitter untuk menjaga baby Kim di rumah, walaupun ada bik Nur, tapi bik Nur sudah tidak kuat untuk menggendong baby Kim terlalu lama"
Maya diam. Ia mulai memikirkan perkataan suaminya. Ia melihat wajah putrinya yang terlihat menyambung kembali tidurnya.
"Baiklah aku mau, tapi baby Kim akan tetapi tidur dengan kita dan semua kendali tetap padaku. Aku akan memberikan baby Kim pada baby sitter jika memang aku sangat butuh saja"
"Iya, boo. Itu terserah dirimu saja. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu kelelahan hanya karena mengurusku dan baby Kim"
"Aku tidak pernah kelelahan mengurus kalian. Kalian sudah menjadi tanggung jawabku " Maya memegang rahang Key.
Key tersenyum dan mencium tangan Maya dengan lembut.
"I love you more" ucap Key tulus.
" Too"
"Kamu pergilah mandi, Key. Setelah baby Kim selesai minum susu, aku akan mandi juga dan setelah itu baru kita ke rumah sakit!"
"Ckk..kenapa sekarang kamu memanggilku dengan nama saja? semenjak aku kembali kamu hanya memanggil namaku saja. Apa kamu masih kecewa padaku?" Key menangkup kedua pipi Maya.
"Tidak" Maya menggeleng. "Aku hanya mulai terbiasa memanggil namamu saja. Semenjak kamu pergi dan kak Tama maupun kak Bagas tidak tahu keberadaanmu, aku menyebut namamu saja ketika aku bertanya pada mereka tentang keberadaan mu, sehingga aku mulai terbiasa dengan hal itu"
"Tapi sekarang aku sudah kembali dan jangan pernah lagi menyebut namaku. Oke?"
"Iyah" Maya mengangguk lagi.
Key tersenyum dan meraup bibir Maya hingga puas. Setelah itu, Key pergi ke kamar mandi untuk bersiap ke rumah sakit.
Setelah beberapa menit kini mereka telah selesai bersiap. Key gantian menggendong baby Kim yang sudah bangun ketika Maya sedang mandi. Key membawa putrinya ke lantai bawah di mana mama Sheila dan papa Syam tengah bersantai.
Uncle jang sudah kembali ke Jepang, karena dia tidak ingin meninggalkan bisnisnya terlalu lama.
"Kalian mau kemana sudah rapi seperti itu?" tanya mama Sheila saat melihat Key dan Maya sudah sampai di lantai bawah.
"Kami akan ke rumah sakit. Bu Farah baru menelponku tadi, katanya Jihan sudah melahirkan di rumah sakit"
"Wahh... benarkah?"
"Iya, Mah" jawab Maya.
"Kalian mau ikut?" tanya Key.
"Kalau kita semua pergi, siapa yang akan menjaga baby Kim di sini? kita tidak mungkin membawa baby Kim ke rumah sakit" ucap Mama Sheila.
"Ada bik Nur. Kita hanya sebentar di rumah sakit"
__ADS_1
"Kasian bik Nur kalau kita menitipkan baby Kim padanya. Mama tidak akan ikut serta kalian. Biar mama yang menjaga baby Kim di sini. Lain kali mama akan melihat bayi Jihan" mama Sheila tidak ingin bik Nur yang menjaga baby Kim, karena ia tahu bagaimana kondisi bik Nur yang sudah tidak kuat menggendong baby Kim terlalu lama.
Mama Sheila juga ingin menghabiskan waktunya bermain dengan sang cucu kesayangannya.
"Baiklah kalau begitu" Key memberikan baby Kim pada mama Sheila.
"Papa dan mama pergi ke rumah sakit dulu yah, sayang. Papa dan mama hanya sebentar kok" ucap Key. Ia kemudian mengecup ubun-ubun baby Kim.
Key lalu menoleh kearah Maya dan mengangguk. Tanda ia mengajak Maya untuk pergi.
"Kami pergi dulu mah" ucap Maya. Mama Sheila hanya mengangguk dan terlihat sibuk mengajak berbicara baby Kim.
*****
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Key menggandeng Maya selama berjalan ke arah ruang di mana Jihan di rawat setelah melahirkan.
Sesampainya di depan pintu ruang rawat Jihan, Key lebih dulu mengetuk pintunya lalu masuk.
"Assalamualaikum" ucap Maya dan Key bersamaan. Dan terdengar sahutan dari mereka.
"Wahh...Tama junior sudah ada nih" ucap Maya saat melihat bayi Jihan yang tengah tertidur do box khususnya
"Dia benar-benar mirip kak Tama. Kamu nggak kebagian sama sekali, Ji" tambah Maya.
"Aku juga heran kak. Aku yang mengandungnya selama 9 bulan, tapi wajahnya mirip Tama semua" sahut Jihan di atas brangkar nya.
Tama hanya tersenyum kecil mendengar perkataan istrinya. Ia begitu setia mendampingi Jihan. Saat Jihan ingin melahirkan, Tama benar-benar menemani Jihan. Ia tidak meninggalkan Jihan sedetik pun dari sisinya.
"Haha... tidak apa-apa. Dia kan bayi laki-laki jadi wajar mirip kak Tama. Nanti kalian bikin yang perempuan lagi, supaya wajahnya mirip kamu Ji" Maya tertawa pelan dan menggoda Jihan.
"Ini aja baru lahir kak. Aku belum berfikir untuk nambah lagi. Masa-masanya masih kerasa" Maya hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah merasa cukup melihat bayi Jihan, Maya mendekati Bu Farah dan duduk di sebelahnya di mana Key juga duduk di sana.
Tak berselang lama Key berdiri dan menghampiri box bayi.
"Ini duplikat lo banget, Tam" Key takjub melihat bayi Tama yang sangat mirip dengannya.
"Tentu saja. Dia putraku"Tama begitu bangga.
"Boleh gue menggendongnya?" tanya Key dan Tama pun mengangguk.
"Baby Kim udah punya teman bermain nanti" ucap Key setelah bayi Tama berada di gendongannya.
"Haha.. aku membayangkan mereka bermain sepertinya sangat lucu" ucap Maya.
"Iya kak. Membayangkan mereka berlari bersama-sama pasti sangat lucu" ucap Jihan
"Namanya siapa sih?" tanya Maya seraya mendekati Key yang masih asik menggendong Tama junior.
__ADS_1
Tama dan Jihan saling pandang. Sepertinya mereka belum menyiapkan nama untuk bayi mereka.
"Kalian belum punya nama untuk bayi kalain?"
Tama dan Jihan sama-sama menggeleng.
"Wahh..parah lo Tam. Masa anak sendiri belum di kasi nama"
"Gue tidak terfikir kesana. Gue terlalu sibuk jagain Jihan selama kehamilannya, jadi gue lupa kasi dia nama"
"Perlu gue bantuin buat dia kasi nama?" tanya Key dengan wajah tengiknya.
"Nggak usah. Masa nama anak gue dari lo. Gue bapaknya, bukan lo" ucap Tama datar.
"Hahaha..."Key tertawa melihat raut wajah sahabatnya.
"Sebenarnya ibu punya nama untuknya" sahut Bu Farah yang sejak tadi hanya diam.
"Oh yah, ibu punya nama untuknya?" tanya Jihan.
"Iyah. Entah kenapa, saat ibu tahu bayi kalian laki-laki, nama itu langsung muncul di otak ibu"
"Siapa namanya, Bu?" tanya Tama.
" Jasper" jawab Bu Farah.
"Jasper?"
"Iya, Jasper, artinya Anak yang kehadirannya bagaikan harta yang tak ternilai harganya" ucap Bu Farah dalam.
"Nama yang bagus"" ucap Jihan dan Tama bersamaan. Mereka saling pandang seraya tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Kita akan ambil nama itu, Bu. Kami suka nama itu. Kita bisa memanggilnya baby J" ucap Tama.
"Kalian setuju?" tanya Bu Farah bahagia.
"Iyah, Bu" jawab Jihan dan Tama bersamaan.
"Welcome baby J" ucap Maya dan Key bersamaan.
Kebahagiaan meliputi di ruangan itu. Keluarga baru kini hadir di tengah-tengah mereka.
.
.
LANJUT
Maaf yah, author 3 hari baru Up soalnya author lagi sibuk. Kebetulan kemarin author pulang kampung jadi tidak sempat untuk up. Tinggal 1 atau 2 bab lagi cerita ini akan tamat.
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia sampai sekarang 🙏😘🥰