Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Musuh di balik selimut


__ADS_3

Para pria tampak berkumpul di ruang kerja milik Key. Mereka tengah membahas tentang kondisi Maya saat ini. Dokter Michael menjelaskan kondisi Maya pada Key.


" Saya lihat istri anda dalam kondisi yang stabil. Istri anda sudah pandai mengontrol dirinya sendiri. Dan yang dia butuhkan hanya dekapan dari orang sekitarnya saja. Dia akan merasa takut saat dia tidak melihat siapapun di dekatnya. Dia akan merasa aman bersama dengan keluarganya " kata dokter Michael.


" Jadi menurut anda, istri saya baik-baik saja. Psikisnya tidak terlalu berdampak padanya ?"


" Benar tuan. Yang perlu anda lakukan hanya selalu berada di sisinya dan membuat dia selalu ceria. Itu juga baik untuk kehamilannya"


" Baiklah, saya mengerti " Key mengerti maksud dari dokter Michael.


" Kalau begitu saya pamit undur diri, tuan-tuan. Tugas saya sudah selesai " dokter Michael berdiri dari duduknya dan berjabat tangan dengan mereka.


" Saya akan mengantar anda kedepan " kata Bagas.


Bagas mengantar dokter Michael sampai di depan pintu hingga mobil milik dokter Michael meninggalkan halaman manssion. Bagas kembali ke ruang kerja Key.


" Sekarang bagaimana ? Apa kau ingin tetap pergi besok atau tetap tinggal di sini menemani istrimu, key ?" tanya Tama.


Mereka akan pergi ke pinggir kota esok hari untuk menyelesaikan yang seharusnya mereka selesaikan sejak awal.


" Gue tetap akan pergi. Gue gak mungkin hanya tinggal bersantai di sini sementara kalian berjuang di sana. Apalagi ini masalah gue "


" Tapi, bagaimana dengan istrimu ? dia butuh lo saat ini "


" Gue akan berbicara pelan-pelan padanya. Maya pasti mengerti. Di sini masih ada bik Nur yang akan menemaninya "


" Yasudah, terserah lo "


" Key, gue denger dari rud dan hud, mereka menemukan sebuah kain kecil. Kain kecil apa itu ?" tanya Bagas yang mengingat tentang cerita Rud dan Hud saat datang membawa tahanan itu.


" Kain kecil itu lambang jaket yang di kenakan olehnya. Rud merobek lambang itu dari jaketnya dan menyuruh temannya untuk memberikannya pada gue " Key mengeluarkan kain kecil itu dari saku celananya.


Tama mengambil kain itu lebih dulu sebelum Bagas mengambilnya. Bagas yang di dahului milirik Tama sinis, tapi Tama tidak menggubrisnya.


" Oh yah Tam, apa lo mendapat sesuatu dari tahan itu ?" tanya Key pada Tama.


" Yah..gue mendapatkannya. Walau sedikit harus memaksanya dulu " Tama memberikan kain itu pada Bagas saraya menjawab pertanyaan Key.


" Semuanya berkaitan. Tentang lambang bendera yang di kirim ke gue dan kain itu, semuanya berhubungan. Lo benar key, kita tidak salah menyiapkan diri kita untuk melawan borxta "

__ADS_1


" Apa kau mendapat berita baru ?" tanya Key.


" Yah..lihat ini !" Tama memberikan Hp nya yang menampilkan sebuah foto seseorang.


" Ini sahabat papaku. Dia di kabarkan meninggal satu hari setelah keluargaku terbunuh dan jasadnya tidak di temukan sampai sekarang" Key kaget melihat foto yang di perlihatkan Tama padanya.


" Apa kau tidak curiga dengan kematiannya ?"


" Sebenarnya menurut gue kematiannya sangat aneh. Tidak ada berita yang mengatakan apa penyebab dia meninggal. Sebenarnya apa maksudmu memperlihatkan foto ini ?" Key tidak mengerti maksud dari Tama.


" Dia borxta " seru Bagas yang sejak tadi hanya diam menyimak.


" Apa ! borxta? jangan bilang dia sebenarnya tidak mati, melainkan dia bersembunyi dari kasus pembunuhan yang dia buat. Borxta adalah dalang di balik pembunuhan orang tuaku. Apa itu maksud kalian ?" Key menebak maksud kedua sahabatnya.


" Benar sekali. Anda memang cerdas tuan Key " sahut Bagas.


" Sial**n " umpat Key


" Gue juga sudah mendapatkan data dirinya dan latar belakangnya " kata Tama.


" Kirim ke email gue !" pinta Key.


Key menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Ia menutup matanya dan memikirkan semua yang terjadi. Ia tidak menyangka, sahabat papanya yang sangat di percaya, ternyata seorang penghianat.


Sang papa yang selalu memperketat penjagaan di manssion ini agar musuh tidak mudah menyerang keluarganya, teryata ada musuh di balik selimut. Dan sialnya lagi, sejak dulu sahabat papanya itu selalu tinggal di manssion ini.


Tanpa kedua sahabatnya sadari, Key tampak mengepalkan kedua tangannya mengingat saat-saat pembantaian itu terjadi. Dalam hatinya ia bersumpah untuk membunuh tua bangka sial**n itu. Ia tidak akan memberi ampun hingga membuatnya menyesal seumur hidupnya.


***


Saat ini Key tengah bersama dengan sang istri di dalam kamar mereka. Setelah selesai membahas masalah borxta dengan kedua sahabatnya, Key kembali menemui Maya yang masih ada bik Nur di kamar mereka.


Melihat Key sudah kembali, bik Nur meninggalkan mereka dan memberi ruang untuk sepasang suami istri itu.


Di dalam kamar Maya dan Key tidak melakukan apapun. Mereka hanya berbaring dengan Key memeluk Maya. Key mengusap-usap rambut istrinya yang telah melepas jilbabnya.


Tidak ada suara sama sekali. Kamar itu sangat hening. Key sebenarnya ingin memberitahu Maya tentang keberangkatannya esok hari, tapi ia masih mengumpulkan niatnya.


" Kamu akan ke kantor besok, Gorge ?" tanya Maya.

__ADS_1


" Tidak, boo "


" Kenapa? kamu takut meninggalkanku di sini ? aku tidak apa-apa. Kamu bisa pergi ke kantor besok. Lagi pula ada bik Nur di sini yang bisa aku ajak berbicara " Maya mengira Key tidak mau ke kantor karena dirinya yang sempat traumanya kembali.


" Aku memang tidak akan ke kantor besok, boo. Aku..aku ingin pergi ke tempat lain" Key sedikit ragu untuk mengatakannya.


" Ketempat lain? ke mana ?" tanya Maya.


Key mulai berfikir untuk mengumpulkan keberaniannya mengatakan pada sang istri. Ia juga tidak mungkin menyembunyikannya dengan istrinya.


" Boo, sebenarnya besok sore aku akan pergi ke pinggir kota. Aku akan pergi dengan Tama dan Bagas, tapi aku tidak tahu akan berapa lama di sana "


" Kak Tama juga ikut ? apa kalain ada kolega yang harus kalian temui di sana, tapi kenapa kak Tama juga ikut ? dia kan bukan bagian dari perusahaan "


" Kamu benar, boo. Aku punya pekerjaan di sana dan itu sangat penting. Kenapa Tama ikut, karena kali ini aku dan Bagas sangat membutuhkannya "


" Boleh aku tahu pekerjaan penting apa itu ?" Maya sangat heran dan penasaran. Tidak biasanya Tama ikut dengan mereka.


Key bingung harus mengatakan apa. Dia hanya diam memikirkan jawaban apa yang pas. Dia menatap mata istrinya yang menunggu jawabannya.


" Pekerjaan itu...aku punya penghianat dalam perusahaan dan dia merampas milikku. Dia bersembunyi di pinggir kota dan aku akan pergi menemuinya untuk meminta milikku kembali " Key membuat cerita berbeda, walaupun ada sedikit yang berkaitan dengan hal itu.


" Apa kalian akan berkelahi kembali ?" Maya kembali mengingat di mana suaminya berkelahi, karena memiliki masalah dengan kolega bisnisnya. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya dari dekapan suaminya.


" Yahh..bisa di bilang seperti itu "


Mendengar itu Maya menghela nafas berat.


" Apa kamu harus pergi ? bisakah aku melarangku untuk tidak pergi ?" mata Maya mulai berkaca-kaca. Ia tidak ingin Key pergi ke sana. Ia takut Key akan kenapa-napa.


" Itu tidak bisa, boo. Ini adalah masalahku dan tidak mungkin aku membiarkan mereka ke sana tanpa diriku. Teman macam apa aku membiarkan mereka melakukannya sementara aku bersantai di sini. Itu sangat jahat bukan ?"


Maya terdiam. Benar yang dikatakan suaminya. Dia menjadi orang yang sangat jahat . Dan dia juga menjadi orang jahat, karena tidak mengizinkan suaminya pergi.


.


.


LANJUT..

__ADS_1


__ADS_2