
"Kenapa bapak bisa menikahi daya"
"Itu karena....."
"Key, Maya " Belum selesai key melanjutkan perkataannya, ada seseorang yang memanggil namanya. Mereka menoleh ke asal suara.
" Iya Bu.. kata Kay saat ia menoleh ternyata Bu Sri yang memanggilnya.
Bu Sri mendekat kearah mereka.
"Kalian sudah makan?" Tanya Bu Sri. Ia melangkah mendekati kearah mereka
"Belum bu.." Jawab key.
"Kalau begitu ayo kita makan"
Mereka memang belum sarapan pagi ini. Dan saat Maya bangun key Langsung menawarkannya berjalan keluar dipagi hari.
Maya mendongak menatap key dan key juga menatapnya kembali.
"Pak key harus kekantor pagi ini Bu.."
Pagi ini adalah hari senin, Maya tahu jika hari ini key harus pergi kekantor.
"Tapi kamu belum makan nak" Bu Sri menatap key.
"Baiklah ayo kita makan" Key langsung mendorong kursi Maya kemeja makan.
" Bapak sudah sangat telat. Apakah itu tidak apa-apa?"
"Nanti saja. Lagi pula aku sangat lapar"
"Apa kamu melarangku untuk makan?" Lanjut key.
"Ehh...tidak" Maya menyentu lehernya karena merasa gugup.
"Buk...bukan begitu" Maya merasa bingung harus menjawab apa. Dia tidak bermaksud seperti utu., Ia hanya takut jika orang yang tadi akan marah pada key.
"Lalu" Key memberhentikan kursi rodanya dan menatap Maya dari arah samping.
Hal itu membuat Maya sangat gugup. Ini kedua kalinya wajah mereka sangat dekat.
"Emmm..ti..tidak" Maya menolehkan kepalanya kearah lain.
Key tersenyum melihat itu. Dia tahu Maya malu melihatnya.
Mereka telah sampai dimeja makan. Key duduk disamping kursi Maya.
"Apa kamu mau duduk dikursi ini?" tunjuk key pada kursi yang ada dimeja makan.
"Tidak usah. Saya duduk disini saja." Maya tidak ingin pindah kekursi lain. Dia tidak ingin key menggendongnya lagi dan tidak ingin membuat key merasa susuh.
"Baiklah lah" Key duduk kembali ditempatnya semula.
Bu Sri dan para koki menyiapkan makan diatas meja. Bu Sri ikut membantu para koki untuk memasak, karena serela mereka berbeda. Bu Sri tidak dapat memakan makanan western, ia hanya suka makanan lokal saja.
"Sini puringnya ibu isi" Bu Sri meminta piring Maya untuk diisi makanan.
Setelah mengisi piring itu. Maya mulai makan. Tangan kanannya yang terluka membuat Maya tidak menggunakan itu. Jalan satu-satunya dia hanya bisa menggunakan tangan kirinya yang masih menempel jarum infus.
Saat mulai makan Maya merasa sangat sulit menggunakan tangan kirinya. Key yang melihat itu mengambil alih piring Maya.
__ADS_1
Maya sangat keget melihat itu.
"Buka mulutmu" Key mengarahkan sendok itu kemulut Maya. Maya membulatkan matanya.
"Ehh..enggak usah pak. Saya bisa sendiri" Maya ingin mengambil sendok itu dari tangan key, tapi key mengelak.
"Buka mulutmu" Sekali lagi key menyuruh may untuk membuka mulut.
"Tapi..."
"Kau ini bandel sekali" Key langsung menangkap mulut Maya, Sehingga mulutnya terbuka.
Key langsung memasukkan makan itu kedalam mulutnya. Sementara Maya dia masih sangat kaget dengan apa yang dilakukan key padanya.
Bu Sri yang sejak tadi memperhatikan mereka dari arah dapur pun tersenyum. Dia semakin yakin jika key adalah orang yang tepat untuk Maya.
"Apa yang bapak lakukan?"
"Menurutmu" Key menatapa key dengan alis mengkerut.
"Tapi, tidak seperti itu juga" Maya menunduk saat mengatakannya.
"Terus maumu seperti apa?"
"Yaa... itu.."
"Diamlah. Makan saja. Jangan banyak protes" key kembali menyuapi maya dan Maya yang diperlukan seperti itu hanya pasrah saja.
**
"Bagaimana penyelidikanmu tentang pria pekerja kebun dirumahku?" Tanya key pada tama.
Didalam ruangan key saat ini ada Bagas dan Tama yang ingin membahas penyelidikan mereka sebelum semua tertunda akibat kecelakaan itu.
"Dari hasil yang gue dapat tukang kebun itu hanya pion saja. Mereka menyuruhnya menyampaikan informasi keadaan dalam mansion waktu itu. Mereka juga memberikan iming-iming uang yang sangat banyak jika tukang kebun itu memberitahu mereka?" ucap Tama menjelaskan.
"Jadi dia hanya pion dan bukan anggota dari mereka?" tanya key kembali.
"Benar. Tukang kebun itu hanya rakyat biasa yang mereka bayar"
"Dimana tukang kebun itu sekarang?" Tanya Bagas.
"Dia dirumahnya saat ini"
"Kenapa kau membiarkannya. Bagaimana jika dia memberitahu mereka lagi, kalau kita sedang mencarinya" Bagas langsung memotong perkataan Tama
"Makanya dengarkan dulu. Jangan main potong aja" Jawab Tama dengan ketus. Bagaimana tidak Bagas memotong perkataannya sebelum dia melanjutkannya.
Heheh Bagas cengengesan mendengarnya.
"Gue memang membiarkannya dirumahnya saat ini, tapi gue tetap menyimpan penjagaan disana. Untuk melaporkan kegiatan tukang kebun itu" Tama mulai menjelaskan kembali.
"Kau meletakkan penjagaan bayangan?"
"Tentu saja"
"Kenapa tidak terang-terangan saja?"
"Otakmu itu bagaimana" Tama menoyor kepala Bagas.
" Jika kita terang-terangan yang ada dia tidak akan menunjukkan kemana saja dia akan pergi"
__ADS_1
"oowwhhh..macem tu" Bagas mulai manggut-manggut.
Key yang mendengarkan pembicaraan mereka hanya geleng-geleng kepala. Yang satu teman blo'on, yang satu mudah emosi. Kepalanya akan pusing jika mendengar mereka bertengkar.
Tapi Bagas memiliki sifat penyayang di saat-saat tertentu saja. seperti waktu itu saat key tersulut emosi menghadapi Jacob.
"Jadi kemana saja dia pergi" Tanya key.
"Nah itu dia...tukang kebun itu. Tidak menunjukkan apapun saat ini"
"Dia hanya melakukan aktifitasnya seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali" Lanjut Tama kembali.
"Kenapa mencari jejaknya sangat sulit seperti ini" Bagas mulai mengeluh.
"Entahlah.Gue sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mencarinya". ucap Tama
Mereka kembali terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka masih merasa sangat sulit mencari dalang semua ini.
"Oh ya key" Key menoleh mendengar suara Bagas.
"Apa?"
"Apa kau tidak ingin membawa Maya kekontraka mu?"
"Memang kenapa?" bukan nya menjawab key malah bertanya kembali.
"Tidak mungkin kalian tinggal dimarkas. Itu sangat berbahaya untuk nya" Bagas mulai menjelaskan.
"Benar yang dikatakan Bagas. Tidak mungkin kau membirkan Maya tinggal disana. Apa lagi saat ini Maya masih dalam masa pemulihan" Tama mebenarkan perkataan Bagas.
Key mulai menimbang-nimbang perkataan mereka.
"Perkataan mereka benar juga" Kata key dalam hati.
"Kalian benar juga. Nanti sore Kalian membantuku untuk membawa Maya ke mansion" Perintah key.
"Mansion?"
Mansion?"
Kata Tama dan Bagas serentak.
"iyah.memang kenapa?"
"Tidak..." Ucapa Tama.
"Biasanya kau tidak ingin kesana jika bukan hal penting saja" kata Bagas.
"gue pengen tinggal disana lagi sekarang. Apa lagi Maya masih butuh perawatan. Jika gue merawatnya di apartemen itu terlalu kecil dan tidak ada siapapun disana" ujar key.
"Baiklah.Kami akan membantumu nanti" ucap Bagas.
.
.
.
.
Lanjut...
__ADS_1