Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Tangan kosong


__ADS_3

"Boo-boo" ucap key lirih.


Maya mendongak mendengar nama panggilan itu. Ia sangat kaget saat mengetahui siapa yang ada di depannya saat ini.


"Gor... gorge" ucap Maya kaget. Maya sampai terduduk di lantai saking kagetnya.


"Buat apa kalian di sini?" ucap Maya dingin. Dia berusaha mengontrol perasaannya, agar tidak terlihat lemah didepan key.


"Kumohon, pulanglah!" ucap key lirih. Key benar-benar tidak mampu mengontrol perasaannya, dia ingin memeluk Maya dan membawanya pulang.


"Kau menyuruhku pulang? untuk apa?"


"Kau bertanya untuk apa? kau istriku May, tentu saja kau harus ikut bersamaku"


"Cihh.. istri? tapi kau bersama wanita lain di luar sana, bahkan di kantormu sendiri dan kau datang ke sini hanya untuk menyuruhku pulang, tanpa meminta maaf sama sekali atas perbuatanmu di belakangku" Maya berdecih.


"Dari awal, ini semuanya sudah salah Key. Kau menikahiku bukan karena kau mencintaiku, bukan? tapi hanya kau merasa bersalah padaku benar, kan?" Maya mulai merubah panggilan sang suami menjadi namanya saja. Akibat rasa kecewa yang ada pada dirinya membuat dia harus tegas.


Key diam mendengarnya, cinta? dia bahkan tidak tahu apa itu cinta, tapi yang dia tahu, dia sangat nyaman berada di samping Maya, sang istri. Apakah dia mencintainya? dia pun tidak tahu.


"kenapa diam? benar kan, apa yang aku bilang?"


Hahaha...


Maya tertawa melihat Key yang terdiam. dia Menertawakan nasibnya yang akan merawat sang bayi sendirian. Air matanya menetes, Maya buru-buru menghapusnya.


" Tidak, itu tidak benar" key membantah.


"Apa yang tidak benar?"


"Aku menikahi bukan karena rasa bersalah. Memang awalnya aku berpikir seperti itu, tapi saat kau sudah sah menjadi istriku, ada perasaan aneh dalam diriku. Setiap menatapmu, hatiku merasa nyaman berada di sampingmu" ucapkan key dengan tulus.


Dia menatap wajah sang istri dengan intens dan syahdu menatap mata sang istri yang berkaca-kaca.


Key berdiri dari duduknya dan menghampiri sang istri yang masih terdiam duduk di tempatnya.


key memeluknya dan berbisik di telinganya, "Aku sangat mencintaimu Maya Wulandari alwa, untuk yang pertama kalinya aku berkata, maukah kau kembali menjadi istriku dan pulang bersama-sama, memperbaiki semuanya dan memulainya dari awal" ucap key panjang lebar.


Pernikahan mereka yang sangat dadakan. Tidak ada ungkapan cinta sebelumnya, sehingga membuat salah satu dari mereka salah paham.


Maya menangis sejadi-jadinya dipelukan Key. Maya tidak membalas pelukan itu.


"Tentang perempuan itu, aku akan menjelaskannya di rumah, tapi ku mohon kita pulang, ya?" ajak key.


Maya masih terdiam, otak dan hatinya berperang. Otaknya berkata untuk tidak ikut dengan Key, tapi hatinya yang paling dalam, dia juga merindukan sosok yang ada di depannya saat ini.


"Pulanglah nak, suamimu sudah meminta maaf padamu. Bicarakan masalah kalian dengan baik, jangan sampai hanya karena masalah itu, kalian harus bercerai" ucap Bu Farah dari arah dapur. Dia sejak tadi mendengar pembicaraan Maya dan key dari balik tirai pembatas.


"Berumah tangga memang memiliki banyak ujian, apalagi untuk pernikahan kalian yang masih seumur jagung, masalah pasti akan banyak menerpa" kata Bu Farah kembali.

__ADS_1


"Tapi, Bu..."


" Ini demi kebaikanmu dan bayimu" Bu Farah memotong perkataan Maya.


"Bayi?" ucap Tama dan key bersamaan.


Sejak tadi, Tama hanya duduk memperhatikan pembicaraan mereka sambil minum minuman yang Maya bawa.


"Iya, apa kalian tidak tahu? Maya saat ini tengah hamil dan kehamilannya sudah satu minggu" jelas Bu Farah.


"kau hamil?" tanya key pada Maya.


Maya mengangguk malu sebagai jawaban.


"Arkkhh... sungguh?" key bertanya kembali untuk memastikan pendengarannya. Maya kembali mengangguk.


"Arkhhh...Tam, gue akan menjadi seorang papa" key berteriak senang kearah Tama.


Tama masih terdiam dia melongo tak percaya sampai akhirnya dia ikut bersorak memberi selamat pada sahabat.


"Selamat bro, jaga tu anak dengan baik!"


"Pasti" ucap key semangat.


"Hahahaha.. kalian ini. Ayo makan kue ini!" Bu Farah tertawa kecil melihat tingkah dua pria di depannya.


"May.., ayo kita pulang!" ajak key.


"Kalian pulanglah" ucap Maya.


"Kenapa? aku kira kamu mau ikut denganku untuk pulang?" tanya Key bingung.


"Aku masih ingin di sini"


"Tapi...." Belum selesai key berbicara Maya langsung berlari masuk ke dalam kamar.


"Kalian pulanglah dulu! Dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Ibu akan membujuknya untuk pulang bersama kalian" kata Bu Farah


" Besok kalian kembali lagi ke sini. Ibu yakin, besok dia akan ikut pulang bersama kalian" ujar Bu Farah.


Key mulai menimbang, " Baiklah, Bu. Kami akan kembali lagi besok" ucap key. Bu Farah menggangguk dan tersenyum.


"Kami pamit dan terima kasih sudah menyangkanya untuk saya" ucap key.


"Tentu.."


Key dan Tama akhirnya kembali pulang tanpa membawa Maya. Bu Farah menutup pintu kembali setelah kedua pria itu pergi.


Bu Farah membuang napas, dia melangkah ke kamar milik Jihan di mana Maya berada saat ini.

__ADS_1


Tok tok


"Boleh ibu masuk?" tanya Bu Farah dari luar pintu.


"Masuklah, Bu!"


Setelah diizinkan masuk Bu Farah membuka pintu itu. Diia melihat Maya sedang duduk bersandar di bahu kasur.


"Ada apa? kenapa kamu tidak ingin ikut dengan suamimu? Bukankah dia sudah meminta maaf?" tanya Bu Farah.


"Maya juga tidak tahu, Bu. Rasanya.... masih sangat berat untuk menerima semuanya. Maya butuh waktu untuk memikirkannya" ujar Maya.


"Ibu mengerti perasaanmu, tapi jangan terlalu lama untuk berfikir, suamimu tampaknya meminta maaf dengan tulus padamu" Bu Farah mencoba menjelaskan.


" Maya juga melihatnya begitu, tapi Maya butuh waktu untuk memikirkannya"


"Baiklah, jangan terlalu larut memikirkannya, kasihan bayimu" ucap Bu Farah.


"Iya, Bu"


" Ibu keluar, yah?" Maya tersey dan mengangguk.


Setelah Bu Farah keluar, Maya menghela nafasnya berat. Sebenarnya hatinya mulai membaik, tapi ia masih ingin melihat bagaimana key benar-benar serius untuk membujuknya pulang.


Dia tidak mau dengan mudah ikut key pulang begitu saja. Ia berfikir key akan memanfaatkan dirinya yang mudah luluh hanya karena sebuah kata manis yang keluar dari mulutnya.


"Maafkan mama, sayang. Mama belum bisa mengikuti kemauan mu untuk pulang bersama papa" ucap Maya pada bayi yang ada di dalam perutnya.


"Kita beri papa pelajaran, oke" ucap Maya sambil tersenyum pada perutnya.


Sedangkan di sisi key saat ini, dia pulang dengan tangan kosong. Dia tidak berhasil membujuk sang istri untuk pulang bersamanya.


"Gue gak tahu jika dia hamil. Gue merasa bersalah padanya" ucap key.


"Jangan merasa bersalah seperti itu, setidaknya Lo sudah berusah untuk nya" ucap Tama.


.


.


.


.


Lanjut...


Jangan lupa tinggalkan jejak, yah....


Like, komen, and vote....

__ADS_1


__ADS_2