
"Pasti masalah kakak berat?" ucap Jihan.
Maya hanya senyum menanggapinya.
"Jadi sekarang kakak mau ke mana?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak punya siapa-siapa di sini" ucap Maya.
" Bagaimana kalau kakak ikut denganku untuk sementara?" tawar Jihan.
"Bolehkah?"
"Tentu, tapi rumahku tak sebagus itu"
"Tidak masalah"
Tok tok
Pintu ruangan Maya diketuk, muncullah dokter dan suster yang akan memeriksa Maya.
"Semuanya sudah membaik, jaga pola makan anda nona dan jangan terlalu lelah!" ucap dokter itu.
"Terimakasih dokter. Apakah saya sudah boleh pulang?" tanya Maya.
"Anda sudah boleh pulang" dokter mengizinkan.
Suster mencabut infus di tangan Maya dan menutup bekas infusnya dengan perban.
Jihan membantu Maya turun dari brankar. Mereka keluar dari rumah sakit dengan Jihan menuntun Maya keluar. Mereka pergi ke rumah jihan menggunakan taxi.
Rumah Jihan
"Ini rumahku! hanya rumah kecil" ucap Jihan merendah.
"Tidak masalah, aku suka tempat ini" ucap Maya.
"Assalamualaikum" kata Jihan
"Waalaikumsalam" balas dari dalam rumah.
"Jihan..." ucap Bu Farah.
"Hallo, Bu, saya Maya" Maya menyapa Bu Farah.
"Eh.. ayo masuk, kita berbincang di dalam" Bu Farah mengizinkan Maya masuk.
Mereka duduk di ruang tamu kecil yang menggunakan kursi plastik.
"Bu.., kenalin ini Maya. Dia ingin tinggal di sini untuk sementara" jelas Jihan.
Bu Farah bingung mendengarnya, "Tinggal?"
"Benar, Bu. Apakah boleh?" tanya Maya.
Bu Farah terdiam diam. Dia kebingungan dan menatap anaknya. Jihan yang mengerti tatapan sang ibu hanya mengkode dengan gerakan matanya, dia akan menjelaskannya nanti.
"Boleh, tapi kami hanya punya dua kamar di sini!" ucap Bu Farah.
"kak Maya akan tidur di kamarku" balas Jihan.
" kita tidur sama-sama saja, bagaimana?" tanya Maya pada Jihan.
"Apakah kakak tidak keberatan?" tanya Jihan kembali.
__ADS_1
"Tentu saja tidak"
"Ayo aku akan antar kakak ke kamar" ajak Jihan.
Maya mengikuti Jihan pergi ke kamar. Jihan membuka kamarnya dan Maya mengikutinya. Maya memperhatikan keadaan kamar itu, walaupun dindingnya terbuat dari kayu, tapi terlihat sangat bersih.
"Maaf kak..." belum selesai Jihan berbicara, Maya memotong ucapannya.
"Jangan selalu merendah padaku, Jihan. Aku sama sepertimu. Aku juga terlahir dari keluarga yang sederhana" jelas Maya.
"Maaf kak" Jihan menyadari perbuatannya.
"Jangan sungkan"
"kakak beristirahatlah! aku akan keluar sebentar" ucap Jihan. Maya menggangguk sebagai jawaban.
Jihan keluar dari kamar dan menghampiri ibunya. Bu Farah yang melihat anaknya, langsung mencecer dengan berbagai pertanyaan.
"siapa gadis itu? kenapa kau bisa membawanya ke sini? Apa itu teman kerjamu?"
"Pelan-pelan, Bu, Jihan jadi bingung, mau menjawab yang mana dulu" Jihan kebingungan mendengar pertanyaan ibunya.
" Jawab saja, Jihan" ucap Bu Farah.
Jihan membuang nafasnya pelan, Dia mulai menjelaskan pada ibunya apa yang terjadi pada Maya. setelah mendengar penjelasan anaknya, Bu Farah akhirnya mengerti dan mengizinkan Maya untuk tetap tinggal di sana.
"Terima kasih, Bu, ibu memang baik" Jihan mengucapkan terima kasih pada Bu Farah dan memeluknya anak. Bu Farah hanya tersenyum dan mengusap kepala Jihan.
"Ya sudah, Kau pergilah Panggil Maya untuk makan. Ini sudah malam, dia pasti lapar!" pinta Bu Farah. Jihan mengangguk dan pergi memanggil Maya di kamar.
Mereka saat ini sudah berada di meja makan, menyantap hidangan yang dibuat oleh ibu Jihan.
"Ini.., ibu buatkan kalian susu, agar kandungan kalian semakin sehat dan kuat" Bu Farah memberikan Jihan dan Maya susu hamil.
"Apa Jihan juga hamil, Bu?" tanya maya memastikan.
"Iyah, Jihan sudah hamil 4 Minggu" Jawab Bu Farah tersenyum.
"Benarkah? Ternyata kamu hamil juga. Anak kita seumuran, hanya selisih 3 minggu" ucap Maya antusias.
"Haha..kakak benar, mereka bisa berteman nantinya" Jihan tertawa.
"Bagaimana jika nanti suamimu pulang dan aku ada di kamarmu, dia akan tidur di mana?" tanya maya khawatir.
Jihan dan Farah yang mendengarnya terdiam. Mereka bingung harus mengatakan apa pada Maya. Jihan menunduk, membuat Maya merasa bersalah.
"Emm.. maaf aku tak tidak bermaksud...." ucap Maya.
"Tidak apa apa. kakak tidak perlu khawatir dia tidak akan pernah pulang" ucap Jihan tersenyum.
"Sejak kapan suamimu meninggal?" Maya mengira suami Jihan meninggal, karena Jihan tampak sedih.
"Ehh...Su..suamiku tidak meninggalkan kak"
"Hah...terus apa dong?" Maya bingung.
Jihan hanya terdiam, tidak membalas perkataan Maya.
"kalian pergilah tidur! ini Sudah malam, tidak baik untuk ibu hamil" Bu Farah membuka suara, dia tidak ingin sang anak mengingat hal itu lagi.
"Baik, Bu. Terimakasih untuk makanan" ucap Maya. Bu Farah hanya tersenyum dan mengangguk.
Maya dan Jihan akhirnya ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
sedangkan di tempat yang berbeda, lebih tepatnya di markas. Rocky dan Jack sudah pulang dari mengecek Maya di rumah sakit, namun mereka tidak menemukan Maya di sana.
"Maaf tuan kami tidak menemukan nona Maya di sana" lapor Rocky.
" Nona Maya sudah keluar dari rumah sakit sebelum kami sampai. Dari informasi yang kami dapatkan, ada seorang perempuan yang bersama dengan nona Maya keluar dari rumah sakit" sambung Jack.
"Seorang perempuan?" tanya key.
"Benar king"
"Siapa perempuan itu?" tanya Bagas
"kami juga tidak tahu tuan"
"Gue akan mencarinya!" Tama kembali meretas CCTV yang ada di rumah sakit. mereka memperhatikan video itu dengan seksama, namun Tama merasa janggal dengan seorang perempuan yang bersama dengan Maya.
"Tunggu, seperti gue kenal gadis ini" Tama mulai berpikir, di mana dia bertemu dengan gadis itu.
"Akh.. gue ingat" Tama mengingatnya.
"Siapa dia?" tanya Key.
"Dia adalah gadis yang aku tabrak di minimarket waktu itu, bas" Tama tidak ingin sahabatnya tahu, bahwa dia pertama kali bertemu dengan Jihan di sebuah bar, bahkan sampai tidur dengannya.
"Gue ingat" ucap Bagas.
"Apa kau tahu di mana rumahnya?" tanya key.
"Tidak, gue tidak tahu"
" Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya key.
"Besok kita mencari tahu, ini sudah sangat larut malam" jawab Tama.
"Tidak bisa seperti itu, kita harus menemukan Maya! bagaimana kalau gadis itu berbuat Jahan padanya?" key mengira Jihan akan berbuat sesuatu dengan Maya.
"Gue yakin, Maya akan baik-baik saja dengan gadis itu" Tama meyakinkan Key.
"kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya key curiga.
"Ya..., karena.., itu feeling gue" Tama kelabakan menjawab pertanyaan key.
"Gue nggak akan tenang sebelum tahu bagaimana keadaannya" key tetapi kekeh ingin mencari keberadaan Maya.
"Tunggulah sampai besok pagi, kita akan mencarinya bersama-sama. Ini sudah sangat larut malam kita akan kesulitan mencarinya" Tama benar-benar berusaha meyakinkan key.
Hufft....
Key membuang nafasnya kasar. Dia akhirnya pasrah dan setuju untuk mencari Maya esok hari.
.
.
.
.
Lanjut...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian sesudah membaca ceritanya.
Like, komen, and vote
__ADS_1