Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Di pindahkan


__ADS_3

Perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tama dan Maya sudah memasuki kota M.


" Kita ke penginapan dulu untuk istirahat. Besok baru aku mengantarmu ke rumah sakit" kata Tama seraya menoleh ke arah Maya.


" Bisa kita ke rumah sakit saja dulu ? aku ingin langsung melihat suamiku " keinginan Tama dan Maya berbeda-beda.


Maya ingin melihat Key lebih dahulu, karena rasa rindu dan khawatir sudah sang membuncah pada dirinya.


" Apa kamu tidak lelah ?" tanya Tama.


" Tidak, kak. Kita kan hanya duduk saja selama di perjalanan. Jadi buat apa aku lelah"


" Baiklah, kalau kau maunya seperti itu " Tama setuju-setuju saja. Asalkan Maya tidak merasa lelah.


Tama melajukan mobilnya lebih cepat ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian mobil mereka telah sampai di depan gedung rumah sakit.


Maya dan Tama sama-sama keluar dari mobil. Mereka melangkah masuk, seingat Tama keberadaan ruang perawatan Key.


Saat sudah sampai di depan ruangan tersebut, Tama mendekat dan melihat dari balik kaca pembatas. Namun, dia tidak melihat Key yang tengah berbaring di s dalam.


Tama yang berfikir positif, mungkin Key sudah di pindahkan ke ruangan lain dengan keadaan yang lebih baik.


" Di mana ruangan suamiku, kak ?" tanya Maya.


" Ruangan Key itu di sini, tapi dia sudah tidak ada di dalam " Tama menunjuk ruang tersebut .


Maya mengintip di balik kaca dan benar saja tidak ada siapapun di dalam sana. Hanya alat-alat medis yang masih tersisa.


" Lalu sekarang dia ke mana ?" Maya mulai merasa khawatir. Pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana.


" Mungkin Key sudah di pindahkan ke ruangan lain. Aku akan bertanya pada perawat " Tama berjalan dan menghampiri perawat yang pernah menangani Key saat berada di sini pertama kali.


" Permisi " kata Tama. Perawat itu menoleh dan menyanyikan apa gerangan Tama menghampirinya.


" Pasien yang di rawat di ruangan tengah itu di pindahkan ke mana ? " tanya Tama.


" Ohh. Pasienn pria yang koma, karena terkena peluru di kepalanya itu ?" perawat mastikan maksud dari pasien yang di tanyakan oleh Tama.


"Benar sekali. Di mana dia di pindahkan ?"


" Pasien itu memang di pindahkan dari rumah sakit ini, tapi di pindahkan ke mana saya tidak tahu, tuan"


" Apa tidak ada data pasien yang mengatakan di pindahkan ke mana ?"

__ADS_1


" tidak ada, tuan. Keluarga pasien mengatakan itu tidak perlu untuk di masukkan datanya, karena tidak ada hal yang sangat mendesak pemindahan pasien. Dokter yang ikut bersama mereka juga sudah menjelaskan bagaimana kondisi pasien kala itu "


" Kapan pasien di pindahkan ?"


"Pasien di pindahkan kemarin pagi "


" Kenapa di pindahkan ? apa keadaan pasien semakin memberuk ?"


" Tidak sama sekali, tuan. Keluarga pasien ingin memindahkannya ke tempat lain dengan alasan agar lebih dekat dengan keluarga lainnya dan perawatannya lebih terjamin "


Dahi Tama mengkerut. Yang dia tahu, Key saat ini hanya memilih uncle Jang saja dan tidak ada keluarga lainnya lagi selain uncle Jang.


" Keluarga yang bersamanya adalah seorang pria yang bersama kami dua hari yang lalu ?"


" Iya, tuan. Tapi ada sepasang suami istri yang datang sebelum pasien di pindahkan dan mengaku mereka juga adalah keluarga pasien "


Tama semakin bingung. Sepasang suami istri? apa Key memiliki keluarga lain, tapi Key mengatakan tidak memiliki keluarga yang jauh selain uncle Jang_ batin Tama_


" Boleh saya lihat CCTV ? saya ingin memastikan siapa mereka "


" Ahh..maaf tuan. Kebetulan CCTV di rumah sakit ini dalam keadaan mati sejak dua hari yang lalu "


" Baiklah kalau begitu, terimaksi" Tama berbalik dan meninggalkan perawat itu tanpa mendengar jawabannya.


Dia dan Bagas yang selama ini bersama Key tentu saja ikut merasa khawatir. Namun uncle Jang yang tiba-tiba muncul dan memindahkan Key begitu saja tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu.


Arkhh... bagaimana sekarang ? Maya pasti akan khawatir. Apalagi gue nggak tahu Key di pindahkan ke kamana saat ini _batin Tama_


Tama menggaruk kepalanya dengan kasar, karena merasa frustasi. Tama menghampiri Maya yang masih setia menunggu di kursi tunggu. Maya yang melihat kedatangan Tama, berdiri dari duduknya karena tidak sabar.


" Di ruangan mana suamiku di pindahkan, kak ?" tanya Maya.


" Duduk dulu, May " Tama tidak menjawab pertanyaan Maya terlebih dahulu. Ia menyuruh Maya duduk untuk mendengarkan jawaban darinya.


" Bagaimana, kak " Maya begitu tidak sabar.


" Begini, May. Kata perawat tadi, Key memang di pindahkan saat ini, tapi bukan ke ruangan lain. Melaikan ke tempat lain "


" Ke tempat lain ? kalau begitu ayo kita ke sana sekarang " Maya kembali berdiri dan ingin segera pergi.


" Tidak bisa Maya. Aku tidak tahu di mana Key di pindahkan. Perawat itu juga tidak tahu dan tidak ada data informasi ke mana Key di pindahkan " perkataan Tama membuat Maya duduk kembali ke posisi semula.


" Lalu atas usual siapa gorge di pindahkan ?" tanya Maya.

__ADS_1


" Keluarganya. Saat kami mengantar Key ke rumah sakit ini, ada uncle Jang sebagai adik dari papah Syam. Dialah yang bersama Key saat ini"


" Apa tidak ada dokter yang menemaninya pergi? "


" Ada "


" Kenapa kak Tama tidak menanyakan pada dokter itu di mana Gorge di pindahkan ?"


" Ohh..kau benar. Aku melupakan tentang hal itu " Tama lupa tentang dokter yang bersama mengantar Key di pindahkan.


" Kalau begitu kamu tunggu di sini. Aku akan menemui dokter itu " Tama sudah berdiri dan ingin melangkah, tapi perkataan Maya membuatnya berhenti.


" Aku ikut, kak " Maya menghampiri Tama.


" Kamu di sini saja. Nanti kamu kelelehan jika ikut bersamaku " Tama melarang.


" Tidak, kak. Aku tidak akan kelelahan. Jika aku diam di sini saja, yang ada kepalaku akan pusing kerena merasa gusar"


" Baiklah, ayok " Tama membearkan Maya untuk ikut. Ia juga berfikir untuk tidak meninggalkan Maya sendirian di sana.


Tama kembali menghampiri perawat tadi dan menanyakan nama dari dokter yang mengantar Key dengan Maya di sebelahnya.


" Namanya dokter Manuel Blanco, tapi saat ini belum tidak ada di tempat "


" Apa besok dokter Manuel akan datang ?" tanya Maya.


" Tidak nyonya. Dokter Manuel sedang dalam masa cuti satu Minggu ke depan "


" Kalau begitu berikan saya alamat rumah dokter Manuel " minta Tama.


" Tunggu sebentar, tuan " Perawat itu mengambil kertas di laci dan menulis alamat dokter Manuel. Dia kemudian memberikan alamat itu pada Tama.


" Terimakasih "


Tama mengajak Maya untuk kembali dengan memberi kode anggukan kepala. Maya mengikuti langkah Tama sampai di depan mobil.


" Kita ke penginapan dulu untuk istirahat, kemuadian mencari alamat dokter Manuel " Tama menjalankan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan rumah sakit.


.


.


LANJUT

__ADS_1


__ADS_2