Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Mengantar Jihan ke rumah sakit


__ADS_3

Pagi hari berbeda yang di rasakan Tama. Bangun dengan sendirinya, tanpa siapapun yang bisa dia peluk. Berbeda dengan sahabatnya Key yang sudah bisa memeluk sesuatu yaitu istrinya.


Jam 07:00 pagi dia baru bangun dan biasanya kedua sahabatnya sudah makan sejak 30 menit yang lalu. Tama menuju meja makan dan ingin mengisi perutnya, tapi ia melihat makanan di atas meja belum tersentuh sama sekali.


" Bik, apa belum ada yang sarapan ?" tanya Tama sambil menoleh ke dalam dapur.


" Belum. Key dan istrinya belum turun dan Bagas sudah pergi lebih dulu ke kantor. Dia tidak makan, karena dia tidak mau makan sendiri. Jadi bibik membuatkan bekal untuk dia bawa " jawab bik Nur.


Tama mengangguk setelah mendengar jawaban bik Nur.


" Bibik nggak mau temenin Tama makan ?" tanya Tama. Ia juga merasa aneh, kalau makan sendiri. Seperti tidak ada selera untuk makan.


" Bibik tidak enak dengan yang lainnya "


" Kali ini aja bik. Tama rasanya malas untuk makan kalau hanya sendiri di meja makan yang besar ini " Tama menyimpan sendoknya kembali setelah ia memegang sebelumnya.


Bik Nur merasa kasihan mendengarnya. Ia akhirnya berjalan dan duduk di sebelah Tama. Bik Nur mengambil piring Tama tanpa meminta.


" Terimakasih, bik " Tama menerima piring yang sudah di isi oleh bik Nur.


Bik Nur mengangguk dan tersenyum. Lalu ia mengusap rambut Tama seperti anaknya. Tama tidak protes dengan itu, malahan dia merasa senang.


Bik Nur mengambil makanan untuk dirinya dan memakannya bersama. Sesekali Tama meminta untuk menambah lauknya dan bik Nur dengan senang hati menuruti permintaannya.


**


Key nampak turun dari tangga seorang diri. Ia ingin mengambil makanan dan membawanya ke kamar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dua orang beda usia tengah makan bersama.


Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Pemandangan yang langka untuk ia lihat. Tama yang selalu memendam masalahnya sendiri dan bik Nur yang selalu menolak untuk ia ajak makan bersama, tapi kali ini berbeda. Mereka makan bersama seperti seorang ibu dan anaknya.


Key mendekat tanpa mereka sadari. Ia memeluk bahu bik Nur. Membuat bik Nur tersentak kaget.


" Ada yang lagi makan bareng nih " Key menaik turunkan kedua alisnya dan menatap kedua-nya secara bergantian.


" Astaghfirullah. Bibik kaget " bik Nur mengusap-usap dadanya, karena kaget.


" Maaf, bik " Key meminta maaf.


Key mengambil dua piring di atas meja dan mengisinya.


" Kamu ingin makan di kamar ?" tanya bik Nur saat melihat Key mengisi dua piring.


" Iya bik, tapi bibik makan saja. Biar aku yang membawanya sendiri " Key seketika berkata seperti itu, karena melihat bik Nur yang ingin membantunya.


Bik Nur tidak jadi membantu Key. Ia lanjut menghabiskan makanannya. Key membawa dua piring naik ke atas kamarnya

__ADS_1


Setelah Key hilang dari pandangan mereka, makanan di hadapannya juga sudah habis. Bik Nur mengambil piring Tama dan membawanya ke wastafel.


" Bibik, aku keluar dulu " pamit Tama.


" Mau ke mana kamu ?" tanya bik Nur.


" Sepertinya ke markas, bik " jawab Tama.


Bik Nur memang sudah tahu tentang kegiatan lain mereka. Ia tahu Key, Bagas dan Tama yang membangun markas itu. Sebelum mereka membuat markas, mereka memberitahu nya terlebih dahulu.


" Jangan ke markas terus. Pergilah jalan-jalan sekedar mencari angin. Biarkan kepalamu merasa tenang dengan berjalan-jalan, agar tidak terlalu tegang " saran bik Nur


" Nanti aku lihatlah, bik " ucap Tama. Ia berbalik dan meninggalkan bik Nur yang masih menatapnya.


Tama mengambil mobilnya di bagasi. Tama yang awalnya ingin membelokkan setirnya ke kanan menuju markas tiba-tiba putar haluan. Ia tidak jadi ke markas dan mengikuti bik Nur untuk sekedar jalan-jalan mengelilingi kota.


Tama merasa haus dan ingin membeli minuman dingin. Melihat sebuah mini market, Tama melakukan mobilnya ke sana dan masuk ke dalam mini market membeli minuman. Setelah itu, ia keluar sambil meminum minuman. Matanya tidak sengaja menangkap seorang wanita yang sangat ia kenal berjalan menyebrang jalan.


Tama bersandar pada bodi mobilnya dan memperhatikan wanita itu dengan intens. Namu saat melihat wanita itu menyebrang dan tidak menyadari ada mobil dengan kecepatan tinggi ke arahnya, dengan kecepatan penuh ia berlari dan berharap bisa maraih wanita itu.


" Gawat. Aku harus cepat " batin Tama.


Hap..


Tama berhasil meraih tangan wanita itu ke pinggir jalan. Tama menatap wajah Jihan dengan perasaan aneh.


Tama hanya memperhatikan Jihan yang berjalan meninggalkannya. Namun melihat Jihan meringis, Tama mendekatinya dan ingin membawanya kerumah sakit.


Jihan sempat menolak, tapi Tama berusaha menahan padanya. Hingga akhirnya Jihan mau dan Tama membawanya ke rumah sakit.


Dan di sinilah Tama sekarang. Duduk di ruang tunggu depan ruang obgyn, setelah Jihan menyuruhnya keluar. Ia malu, karena hampir saja melihat perut Jihan.


" Bodohnya aku " batin Tama seraya menepuk jidatnya.


Beberapa menit menunggu, tampak Jihan keluar di ikuti oleh dokter. Jihan melirik Tama dan meninggalkannya begitu saja. Dia tidak mengatakan apapun, tapi Tama mengejarnya.


" Terimakasih dok. Saya permisi " Tama terburu-buru. Membuat dokter geleng kapal melihat pasangan itu.


" Jihan. Tunggu " teriak Tama. Ia mensejajarkan langkahnya.


" Nggak mau pake kursi roda saja ?" tawar Tama.


" Nggak " jawab Jihan ketus.


Tama mengatupkan bibirnya, tidak jadi berbicara lagi setelah mendengar jawaban Jihan yang begitu ketus.

__ADS_1


" Aku akan ambil mobil dulu "


" Hmmm..."


Jihan hanya menunggu satu menit saja dan Tama sudah datang membawa mobilnya. Tama membukakan pintu depan untuk Jihan. Ia ingin menawarkan bantuan, tapi Jihan menolaknya.


Di dalam perjalan, mereka hanya diam. Tama ingin bertanya, tapi ia ragu. Ia mengambil nafas dan mencoba bertanya.


" Apa kata dokter tadi ?" tanya Tama seraya menoleh.


" Dia baik-baik saja " jawab Jihan tanpa menoleh.


" Apa penyebab perutmu sakit? apa itu tidak apa-apa " Tama belum puas dengan jawaban Jihan.


" Bayiku sudah mulai membesar. Berlari juga salah satu penyebabnya "


Tama merasa tidak terima mendengar perkataan Jihan yang mengatakan bayiku. Padahal itu adalah bayinya juga.


" Bayiku juga " ucap Tama tidak terima.


" Saya yang mengandungnya " Jihan tidak ingin kalah.


" Aku yang menanamnya di sana " Tama menatap Jihan datar.


" Saya tidak meminta "


Tama menjadi diam. " Sial, gue kalah talak " batin Tama.


Mereka kembali diam selama perjalan. Tama yang menyadari harus mengamtar Jihan ke mana dan ingin bertanya, tapi Jihan tiba-tiba memukulnya.


Plakkk...


"Berhenti " seru Jihan.


Tama yang kaget spontan mengerem mobilnya.


" Ada ap..." pertanyaan terhenti, karena Jihan sudah lebih dulu turun dari mobil.


Tama buru-buru mengikuti ke mana Jihan ingin pergi. Saat melihat ke arah mana dia pergi, Tama membuang nafasnya kasar.


" Oh astaga..hanya itu saja dan dia membuatku kaget tadi. Yang benar saja " gumam Tama. Ia tidak habis fikir dengan tingkah Jihan tadi.


Tama berjalan lesu menghampiri Jihan .


.

__ADS_1


.


LANJUT...


__ADS_2