
Setelah setengah hari bekerja, Maya sudah pulang lebih dulu sesuai janjinya pada Bagas untuk bekerja hanya setengah hari saja.
Dan kini Maya sudah berada di dalam kamarnya sedang mengganti pakaiannya. Setelah itu Maya turun ke dapur.
" Di mana bik Nur ?" tanya Maya pada salah satu pelayan di sana.
" bik Nur tadi ke kamarnya, nyonya "
Mendengar itu Maya berjalan ke kamar bik Nur, namun saat ia ingin mengetuk pintunya, Maya mendengar bik Nur tengah berbicara dengan seseorang .
Pintu yang tidak tertutup rapat menyisahkah cela-cela kecil sehingga Maya bisa melihat siapa yang bersama dengan bik Nur. Maya juga bisa mendengar lebih jelas pembicaraan mereka.
" Jadi.. kapan kamu akan menikahi Jihan ?"
" Aku tidak tahu, bik. Key belum di temukan dan Maya pasti sangat sedih. Aku tidak mungkin membuat pesta pernikahan dengan hati bahagia di antara Maya yang tengah sedih seperti ini "
" Kamu juga tidak bisa menunda-nundanya, berikan Jihan kepastian. Jangan sampai Jihan akan kecewa kepadamu nantinya. Dan perlu kamu ingat, perut Jihan sudah semakin membesar, jangan sampai anak kalian baru lahir kalian baru menikah "
" Bagaimana dengan Maya nantinya ?"
" Maya pasti mengerti, dia tidak mungkin melarangmu untuk menikahi Jihan. Maya pasti tidak akan mempermasalahkan "
" Nanti aku akan memikirkannya, bik. Jihan dan Bu Farah juga tahu tentang kehilangan Key, aku sudah memberitahu mereka "
" Walaupun begitu tetap saja jangan terlalu lama, perempuan akan beranggapan kamu lebih mementingkan sahabat kamu dari pada dirinya"
" Lagipula kamu tidak menghentikan pencarianmu pada Key kan ? masih ada para anggota kalian yang sibuk mencari keberadaan Key saat ini "
" Entahlah bik, aku bingung "
" Pikirkan baik-baik, Tama "
Mendengar semua pembicaraan mereka, Maya menutup mulutnya. Ia merasa bersalah pada Jihan, karena dirinya dia harus menunda pernikahannya.
Maya juga tidak mungkin akan melarang mereka untuk menikah di waktu dekat ini, walaupun Key belum di temukan. Maya tahu rasanya tidak ada yang memberikan perhatian pada kita saat hamil seperti ini. Mengingat kehamilan Jihan yang sudah memasuki 4 bulan dan tentunya dirinya sudah 3 bulan. Hanya selisih 1 bulan saja.
Maya yang mendengar Tama akan keluar, ia bersembunyi di balik lemari yang berdekatan dengan kamar bik Nur. Ia tidak mau ketahuan menguping.
Aku akan berbicara dengan kak Tama nanti _batun Maya, setelah melihat Tama keluar dari mansion. Entah kemana dia pergi, mungkin Tama akan menemui Jihan.
__ADS_1
Maya memilih pergi dari sana, ia akan kembali ke dapur untuk makan. Rencana awalnya tadi ia ingin mengajak bik Nur untuk membuatkan ia rujak, tapi malah mendengar pembicaraan mereka.
Malam harinya
Setelah mereka makan malam, Bagas pergi ke ruangan kerja milik Key untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai hari ini. Tama juga ingin menyusul Bagas, tapi di hentikan oleh Maya.
" Kak Tama ..." panggil Maya. Ia berusaha berjalan dengan cepat menghampiri Tama yang sudah ada di depan tangga.
" Pelan-pelan Maya " ucap Tama saat melihat Maya yang berusaha jalan cepat dengan perut yang membuncit.
" Aku ingin berbicar sesuatu dengan kak Tama. Apa kak Tama punya waktu ?" Maya berdiri di depan Tama.
" Boleh, kamu ingin berbicara di mana ?" Tama mau untuk berbicara dengan Maya.
" Di sana saja " tunjuk Maya pada sofa yang ada di depan TV.
Tama mengangguk dan berjalan ke sofa, Maya pun mengikutinya. Tama yang duduk di sofa singel, sedangkan Maya duduk di sofa panjang berdekatan dengan sofa Tama.
" Apa yang ingin kamu bicarakan ?" tanya Tama seraya menoleh ke arah Maya.
" Emm...aku minta maaf " Maya menunduk dan merasa bersalah mengingat pembicaraan Tama dengan bik Nur tadi sore.
" Kenapa kamu meminta maaf ?" Tama bingung dengan permintaan Maya, sedangkan dia tidak memiliki kesalahan apapun.
Tama kaget Maya bisa tahu, kalau dirinya berencana menikahi Jihan.
" Di mana kamu bisa tahu, kalau aku akan menikahi Jihan ? apa Jihan yang memberitahumu ?"
" Ehh. Jihan tidak memberitahuku, tapi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kak Tama dengan bik Nur tadi sore. Maaf kak " Lagi-lagi Maya menunduk, karena tidak sopan mengupit pembicaraan orang lain.
" Tidak apa-apa " Tama tidak mempermasalahkan Maya yang menguping.
" Kak Tama bisa kok menikah, aku tidak akan melarangnya "
" Apa kamu yakin? aku tidak ingin melangsungkan pernikahan, karena kamu masih sedih dengan kehilangan Key, sedangkan aku akan berbahagia dengan pernikahanku" Tama merasa berbahagia di atas penderitaan Maya, kalau ia menikah sebelum Key di temukan.
" Aku tidak mempermasalahkannya, kak. Aku juga ikut senang, kalau kalian menikah. Jadi, kak Tama temuliah Jihan dan kalian menikah. Kak Tama jangan merasa tidak enak padaku, aku pasti akan ikut bahagia melihat kalian menikah "
Tama tersenyum kecil mendengarnya, ia mengangguk dan akan melakukan yang sesuai Maya katakan.
__ADS_1
" Yahh..aku akan menemui Jihan besok dan akan menikahinya. Terimakasih Maya "
" Sama-sama, kak " Maya ikut bahagia melihat Tama yang begitu senang mendengar perkataannya tadi.
" Kak Tama sudah bisa pergi, hanya itu saja yang ingin aku katakan " Maya menyuruh Tama untuk kembali melakukan apa yang dia ingin lakukan sebelumnya.
" Baiklah. Kamu tidak ingin ke kamarmu juga ?" Tama berdiri dari duduknya seraya bertanya pada Maya.
" Aku juga ingin naik kok " Maya ikut berdiri.
" Ayok naik bersama !" Tama mengajaknya naik bersama, karena ia takut Maya akan terjatuh dan kesusahan nantinya.
Maya mengangguk, dia berjalan lebih dulu naik ke atas tangga dengan berpegang di pagar-pagar tangga. Tama mengikutinya dari belakang untuk berjaga-jaga agar Maya tidak terjatuh.
Setelah beberapa menit mereka menaiki tangga , akhirnya mereka sudah sampai di lantai atas. Tama dan Maya berpisah di sana. Maya yang pergi ke kamarnya, sedangkan Tama pergi menyusul Bagas yang berada di ruang karja milik Key.
Tama akan membicarakan tentang keinginannya menikahi Jihan di waktu dekat. Sampai saat ini Bagas maupun Key belum tahu, kalau Tama lah yang menghamili Jihan.
Tok..tok..
Tama mengetuk pintu terlebih dahulu, barulah ia masuk.
" Pekerjaan lo banyak hari ini ?" tanya Tama seraya duduk di sofa kecil yang ada di ruangan itu.
" Yahh.. begitulah, tapi sedikit berkurang karena Maya membantuku " jawab Bagas dengan masih fokus pada leptopnya.
" Memang kenapa ? tidak biasanya Ki nanya-nanya "
" Sebenarnya gue berencanaan menikahi Jihan di waktu dekat ini "
" Apa!!" pekik Bagas. Ia kaget dengan perkataan Tama yang ingin menikahi Jihan.
" Lo serius ?"
" Tentu saja "
" Sejak kapan ? sejak kapan lo berhubungan dengan Jihan ?"
.
__ADS_1
.
LANJUT