Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Melamar Jihan


__ADS_3

" Memang kenapa ? tidak biasanya Ki nanya-nanya "


" Sebenarnya gue berencanaan menikahi Jihan di waktu dekat ini "


" Apa!!" pekik Bagas. Ia kaget dengan perkataan Tama yang ingin menikahi Jihan.


" Lo serius ?" Bagas tidak percaya, karena setahunya Jihan sangat tidak suka dengan Tama dan kenapa tiba-tiba Tama mengatakan akan menikahinya.


" Tentu saja " jawab Tama serius.


" Sejak kapan ? sejak kapan lo berhubungan dengan Jihan ?" Bagas bertanya-tanya, karena ia tidak pernah melihat Tama pergi menemui Jihan dan Tama juga selalu sibuk dengan urusan di markas di tambah dengan hilangnya Key.


" Sudah lumayan lama. Sebelum kita mengetahui data diri tentang borxta " Tama mulai menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan jihan dan memberitahu Bagas bahwa dialah yang menghamili Jihan.


Tama juga mulai menceritakan bagaimana ia berusaha untuk memperbaiki kesalahannya selama beberapa bulan ini, hingga akhirnya ia dengan berani menayakan keseriusannya untuk menikahi Jihan. Walaupun Jihan tidak langsung memberikn jawaban, tapi Tama tetap sabar menunggunya hingga masalah kembali menghampiri tentang hilangnya Key, sehingga ia belum mendengar jawaban dari Jihan sampaj sekarang.


Dan Tama berencana akan menemuinya dan akan langsung melamarnya. Ia sudah mempersiapkan dirinya dengan jawaban yang akan Jihan berikan. Tama sudah berusaha untuk membuktikan dirinya yang begitu serius memperbaiki kesalahannya dan ingin memulainya dari awal untuk menghilangkan keburukan yang di alami Jihan. Walaupun itu akan masih ada yang membekas dan tidak akan hilang.


" Jadi..anak yang dikandung Jihan adalah anak lo?" Bagas masih merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


" Yahh..itu anak gue " Tama mengangguk.


" Itu memang yang harus lo lakuin. Jangan sampai anak lo udah lahir dan lo belum menikahinya ibunya"


" Maka dari itu, gue minta saran dari lo untuk kapan bagusnya gue bisa melamar Jihan dan bantu gue untuk mempersiapkan segalanya "


" Kalau menurut gue, lebih cepat lebih bagus. Kalau perlu besok lo bisa melamarnya. Ajak bik Nur untuk menjadi walimu. Dan untuk membantu, gue pasti akan melakukannya "


"Thanks, bro " Tama mendekatu Bagas dan menepuk-nepuk bahunya.


" Yahh..dan selamat juga untuk adanya calon bayimu "


" Hahah..lo juga harus nyusul " Tama tertawa renyah. Dirinya dan Key sama-sama akan memiliki bayi, sedangkan Bagas belum.


" Ckk.. pergi sanah " Bagas kesal mendengarnya dan mengusir Tama untuk keluar. Apalagi Tama masih berdiri di depan pintu.


Hahaha...

__ADS_1


Tama tertawa meninggalkan Bagas di sana.


Keesokan harinya


Hari kembali berganti, sudah 1 Minggu Key belum ada jejak sama sekali. Para anggotanya tidak henti-hentinya mencari keberadaan Key hingga saat ini.


Tama tidak pergi bersama anggotanya untuk mencari Key hari ini, karena ia berencana akan pergi ke rumah Jihan untuk melamar. Dan saat ini Tama tengah sarapan dengan Bagas serta Maya, ada bik Nur juga di sana.


" Bik..aku ingin melamar Jihan hari ini " Tama memberitahu bik Nur saraya sarapan.


" Itu bagus. Jam berapa kamu akan ke sana ?" tanya bik Nur seraya menoleh ke arah Tama.


" Bagaimana kalau jam 9?"


" Boleh " bik Nur setuju.


" Tapi bibik harus menemaniku yah ?" Tama tidak ingin sendirian ke sana. Setidaknya jika ada bik Nur, Jihan akan berpikir-pikir untuk menerima lamarannya.


" Iyah. Apa kamu sudah mempersiapkan apa yang akan kamu bawa nanti ?"


" Aku boleh ikut gak?" tanya Maya. Ia ingin melihat Tama yang melamar Jihan dan juga ia sudah lama tidak bertemu Jihan dengan Bu Farah. Ia ingin melepas rindu dengan mereka.


" Boleh. Itu malah lebih bagus " Tama setuju Maya ikut dengannya, karena ia tahu Maya sangat dekat dengan Jihan dan Bu Farah. Jihan pasti akan senang melihat Maya, karena Jihan sering menanyakan Maya di kala ia bertemu dengannya.


" Aku boleh nggak kerja hari kan, kak ?" Maya kini menoleh ke arah Bagas yang berada di seberang meja berdekatan dengan Tama yang berada di ujung meja.


"Boleh Maya. Tidak perlu memikirkannya "


Maya tersenyum senang mendengarnya. Maya yang sudah menggunakan baju kantor akan menggantinya nanti untuk pergi ke kamar Jihan.


Setelah mereka sarapan, Bagas yang seperti biasanya berangkat ke perusahaan. Pekerjaan menumpuk selalu menantinya. Tama, bik Nur dan Maya pergi ke kamar mereka masing-masing untuk mempersiapkan diri mereka.


**


Beberapa jam kemudian, mereka sudah berkumpul di ruang tamu. Seperti biasa Maya menggunakan sebuah gamis, mengingat perutnya sudah membuncit membuat ia kesulitan menggunakan celana. Maya menggunakan jilbab berwarna merah muda untuk menutupi rambut cantiknya.


Di mana Tama yang juga sudah sangat rapi, tapi tidak menggunakan sebuah jas. Ia hanya menggunakan kaos berwarna putih dengan celana panjang berwarna crem.

__ADS_1


Bik nur juga sudah tampak cantik di usianya yang tidak lagi muda. Ia seperti Maya yang menggunakan sebuah gamis, tapi tidak menggunakan jilbab. Ia hanya menggunakan bando agar anak rambutnya tidak jatuh.


" Semuanya sudah saya angkat ke mobil, tuan Tama " pak Han sudah mengangkat barang yang akan Tama bawa ke rumah Jihan.


" Terimakasih pak Han " ucap Tama. Pak Han pun mengangguk.


" Apa perlu saya yang mengantar anda ?" tanya pak Han.


" Itu lebih bagus, Han. Biar Tama duduk tenang di mobil, nanti dia gugup dan tidak fokus menyetir" bukan Tama yang menjawab melainkan bik Nur.


Mereka naik ke atas mobil dan pergi ke rumah Jihan. Beberapa menit perjalanan mereka sudah sampi di rumah Bu Farah. Di lihat dari luar rumah tampak sepi, mungkin Jihan pergi bekerja. Walaupun begitu masih ada Bu Farah yang akan mereka temui.


Bik Nur menggenggam tangan Maya bukan tangan Tama, karena ia takut Maya tersandung sesuatu. Tama mengikuti dua wanita beda usia di depannya. Tama sedikit gugup untuk bertemu dengan Jihan, walaupun dia tidak tahu apakah di dalam ada Jihan atau tidak.


Bik Nur mengetuk pintunya dan tak berselang lama pintu sudah di buka. Saat pintu sudah terbuka sempurna, mereka bisa melihat siapa yang membuka pintunya.


" bik nur, Maya..kalian ada di sini ?" ternyata yang membuka pintu adalah Jihan. Ia sedikit kaget mereka datang tanpa memberitahu.


Maya tersenyum melihat Jihan, matanya turun melihat perut Jihan yang sudah sangat jelas terlihat kalau dia sedang hamil.


" Iyah. Apa Bu Farah ada ?" tanya bik Nur.


" Ada, bik. Kalian masuklah!" Jihan mempersilahkan mereka masuk.


Bik Nur dan Maya pun masuk, sehingga mereka meninggalkan Tama yang masih berdiri menaruh di depan pintu. Jihan juga baru menyadari kehadiran Tama di sana saat Maya dan bik Nur sudah masuk.


" Tama, kamu ada di sini juga ternyata, aku tidak melihatmu tadi "


" Ii..Iyah " jawab Tama gugup.


" Masuklah! " ajak Jihan. Ia sudah melangkah lebih duku menyusul bik Nur dan Maya di dalam.


.


.


LANJUT

__ADS_1


__ADS_2