Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Mirip ibumu


__ADS_3

"Aku pengen makan yang manis-manis" ucap Maya. Lidah terasa pahit setelah mengeluarkan isi perutnya tadi.


"Pengen makan manis?" tanya Key memastikan.


Key menoleh ke arah Bagas yang tertidur. Maya juga mengikuti arah pandang suaminya.


"Jangan menyuruh kak bagas! kasian dia, dia pasti kelelahan" ucap Maya. Key menatay Maya tersenyum dan mengusap ubun-ubun nya.


Key berjalan dan mendekat ke arah Bagas. dia berdiri sarjana di dekat Bagas dan menarik jas Bagas agar dia bangun.


Bagas sampai kelabakan. Dia menatap sekitarnya dengan bingung. Nyawanya belum terkumpul sempurna, tapi Key sudah memaksanya untuk bangun.


"Hah..kenapa?" tanga Bagas linglung.


"Lo pergi cari makanan manis sana!" ucap Key. Dia menepuk-nepuk pipi Bagas agar tersadar.


"Oh..oke-oke" Bagas berdiri dan berjalan menuju pintu. Bagas berjalan seperti orang mabuk, oleng.


Puakkkk...


Kepala Bagas terbentur pintu, karena tidak memperhatikan jalannya.


"Aduh.. sejak kapan pintu ini pindah" ucap Bagas. Ia memegang dahinya yang sakit.


Buahhahh....


Key tertawa melihat tingkah Bagas. " Rasakan" ucap Key.


"Kamu jahat sekali menertawakan kak bagas. Kasian dia, dia terlihat sangat mengantuk" ucap Maya, saat melihat Bagas yang masih oleng.


" Tidak apa-apa. Itu juga hukuman untuknya" ucap Key. Ia kembali mendekat ke arah istrinya.


" Kamu jangan terlalu keras padanya!" Maya memperingati.


"Tidak, boo"


" Mau duduk?" tanya Key.


"Boleh" jawab Maya. Key membantu Maya untuk duduk. Dia membuat kepala brankar agak condong kedepan, supaya bisa sander dan menaruh bantal di punggungnya.


"Sudah nyaman?" tanya Key, setelah ia memperbaikinya. Maya hanya mengangguk sebagai jawaban.


****


"Nihh.. makanannya" ucap Bagas. Dia sudah pulang dari membeli makananya. wajahnya tampak kesal, ia menaruh kantongan plastik itu dengan kasar.


" Makanan manis apa yang kau beli?" Key menoleh ke arah Bagas yang kembali bersantai di sofa.


" Lihat saja sendiri" jawab Bagas ketus.

__ADS_1


" Ketus amat, pak" ejek Key. Lalu ia membuka kentongan itu dan membawanya ke arah Maya.


" Terimakasih, kak. Maaf membuat kakak kesusahan" ucap Maya. Ia merasa tidak enak hati dengan Bagas, apalagi melihat raut wajahnya yang nampak kesal.


"Tidak apa-apa. tidak mungkin kau yang membelinya sendiri" jawab Bagas, tersenyum kecil.


"Yaudah, ambillah kue ini, kak! kakak juga membelinya sangat banyak" ucap Maya. Maya gambar ikan beberapa kuenya pada Bagas dan Bagas menerimanya.


" Untuk aku mana, boo?" tanya Key. Tangannya sudah meminta pada Maya.


"Nggak ada, kalau aku kasi kamu ini udah nggak cukup" menutup pantangan plastik itu dan mendekapnya di dadanya.


"Kok gitu? suami kamu yang mana sih, aku apa Bagas?" tanya Key.


" Kamulah"


" Tapi kenapa bagian aku nggak ada?" tanya key tidak terima.


" kamu memang suamiku, tapi yang menuruti kemauannya si dede itu kak bagas, bukan kamu" jawab Maya menohok.


"Pfttthhhh..." Bagas berusaha menahan tawanya


" kenapa diam? bener kan yang aku bilang?" tanya Maya. Ia melihat suaminya yang terdiam hanya menatapnya.


"Heheh... Kenapa nggak bilang kalau kamu maunya dibeliin sama aku?" tanya Key cengengesan.


" Kan aku tadi sudah bilang, bahwa aku ingin makan manis gorge dan aku juga bilang jangan membangunkan, karena dia sedang tidur " jawab Maya kesal. Dia menatap suaminya dengan sinis dan memakan makanan itu dengan kesal. Key yang melihat itu menelan silva susah payah.


"Kenapa?" tanya Maya. Key menggeleng.


"Yaudah, sana duduk! nggak capek berdiri terus?" ucap Maya. Ia belum berubah nada bicaranya.


"Iyah, boo" Dengan patuh Key duduk disebelah Bagas.


"Gimana rasanya dimarahin istri?" ejek Bagas. Ia berbisik di telinga Key yang sudah mendaratkan bokong nya di sofa.


"Diam lo" ucap Key.


"Hahah..." Bagas terkekeh. Ia memakan makanan itu sampai habis tanpa memberikannya sedikitpun kepada Key.


5 HARI KEMUDIAN...


Hari yang di tunggu-tunggu oleh kedua sepasang suami istri itu. Hari dimana mereka akan mengumumkannya pada publik.


Pernikahan mereka yang sudah dua bulan lamanya dan bertepatan dengan hari ini mereka akan melaksanakan resepsi pernikahan yang tertunda.


Walaupun begitu, kedua pasangan itu tetap sangat bahagia dengan terjadinya hari ini, apalagi sudah ada malaikat yang masih sangat kecil di dalam perut istrinya.


Pernikahan mereka diadakan di hotel yang baru diresmikan seminggu yang lalu oleh KPS company. Hotel MUA, nama hotel tempat mereka melaksanakanya dan di salah satu kamar hotel itu ada empat perempuan di dalam ruang itu, dengan salah satunya sedang di rias, karena hari ini dia akan menjadi ratu sehari.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik, nak" ucap Bu Sri. Ia terpukau melihat wajah Maya yang sangat cantik.


"Make up nya yang cantik, bu" ucap Maya. Ia menatap dirinya di pantulan cermin.


"Kamu memang sudah sangat cantik, seperti ibumu. Di tambah lagi dengan make up-nya, kau tambah cantik" ucap Bu Sri tersenyum ke arah Maya yang masih tetap setia menatap ke arah cermin.


"Benarkah? Apa aku benar mirip seperti ibuku?" tanya Maya. Ia akhirnya menoleh ke arah Bu Sri.


"Tentu, nak. Hidung ini, mulut, apalagi matamu, Bu Sri seperti melihat Melati menatapku" ucap Bu Sri.


Ia memegang semuanya yang ada di wajah Maya. Bu Sri menjadi teringat ketika Melati- ibu Maya menikah dengan Hanif- ayah Maya waktu itu. Wajah Maya benar-benar sangat mirip dengannya, hal itu membuatnya seperti mengulang masa itu.


"Bu.. jangan seperti ini, Maya juga ikut sedih jika ibu sedih" ucap Maya. Ia memegang tangan Bu Sri yang sedang mengusap wajahnya.


"Ahh..maafkan ibu. Ibu hanya mengingat ibumu" Bu Sri tersadar dan menghapus air matanya yang tidak ia sadari keluar.


"Ibuku pasti senang, karena ada Bu Sri di sini menemani Maya" ucap Maya tersenyum. Bu Sri juga tersenyum melihat senyuman Maya.


"Jangan pada sedih dong, kita harus bahagia untuk Maya hari ini" ucap Bu Farah.


Bu Farah juga datang di resepsi Maya, sesuai permintaan Maya waktu itu pada Jihan. Maya dan Bu Sri sama-sama menoleh ke arah Bu Farah.


"Kamu benar. Ayo acaranya sebentar lagi dimulai!" ajak Bu Sri. Ia menarik tangan Maya untuk keluar dari kamar.


"Aku ingin Bu Sri dengan Bu Farah yang menemaniku ke pelaminan nantinya" ucap Maya. Ia menatap kedua secara bergantian.


"Tentu, nak. kami akan mengantarmu, benarkan Farah?" ucap Bu Sri.


"Benar Bu Sri. Ayo kita berjalan bersama"


Bu Sri dan Bu Farah memegang kedua tangan Maya. Membanya keluar dari kamar menuju dimana Key berada. Jihan membantu dari belakang dengan memperbaiki gaun Maya yang menjuntai di belakang.


.


.


.


.


.


.


.


LANJUT...


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN.

__ADS_1


LIKE, COMMENT, AND VOTE..


__ADS_2