
"Kenapa pesan itu di kirim pada jam berbeda-beda?" tanya Key.
"Saat dia mengirim pesan pertama itu, gue langsung melacak nomornya dan juga mencari tahu kota yang di maksud dalam pesan itu, karena itu pertama kalinya gue tahu kota itu, sampai pesan kedua itu terkirim...." Tama berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
" Pesan ketiga di kirim saat gue tengah pergi mencari tempat pria bernama borxta itu. Sepertinya dia menyuruhku untuk berhati-hati" kata Tama.
"Apa yang kau dapat?" tanya Key.
"Gue tidak mendapatkan informasi apapun. Gue hanya dapat melihat situasi di sana. Borxta memiliki banyak anak buah, penjagaan di tempat miliknya sangat ketat. Gue tidak bisa mendekat, apalagi gue hanya datang sendiri waktu itu" jawab Tama.
"Kenapa kau tidak memberitahu kami ada masalah seperti ini? apa kau meragukan kami?" ucap Bagas.
"Bukan, bukan seperti itu. Gue hanya ingin kalian fokus. Key yang akan mengadakan resepsi dan pasti kau sibuk menghendel pekerjaan di perusahaan" jelas Tama.
"Terus apa saja yang kau lakukan seminggu ini. Dari cerita yang gue denger kau hanya menggunakan beberapa hari saja untuk mencari tahu tentang borxta itu" ucap Bagas.
"Ituu....gue..gue punya sedikit masalah dan gue menenangkan diri gue" jawab Tama. Ia tampak ragu untuk mengatakannya pada sahabatnya.
"Masalah apa?" tanya Key.
"Belum saatnya kalian tahu. Kalian tidak perlu khawatir, gue masih bisa mengatasinya"
Tama masih belum ingin masalahnya di ketahui oleh sahabatnya. Dia pasti akan memberitahunya, tapi tidak saat ini.
Setelah mengatakan itu, Tama meninggalkan mereka tanpa mau mendengar perkataan mereka selanjutnya.
"Tama" panggil Bagas. Tama tidak mau menoleh sama sekali.
"Jangan di paksa. Dia pasti akan meminta bantuan kita jika dia sudah tidak sanggup menghadapinya" ucap Key. Bagas hanya diam.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya. Ayo ke bawah, kita persiapkan alat untuk nanti malam!" ajak Key. Bagas mengangguk dan mengikuti Key untuk turun.
Ternyata di bawah sudah ada Tama yang bergabung dengan yang lainnya. Tama nampak berbincang dengan Maya.
"Boo.." panggil Key. Ia mendekat dan duduk di sebelah istrinya.
"Iya?" jawab Maya.
"Nggak mau istirahat dulu? nanti kamu kelelahan jika tidak istirahat. Agar nanti malam bisa bergerak lebih leluasa" ucap key. Ia yakin istrinya masih sangat lelah akibat ulahnya.
"Iyah, punggungku masih terasa sangat sakit" ucap Maya. Ia berdiri dengan di bantu suaminya.
__ADS_1
"Ji, kamu istirahat juga. Pasti kamu masih lelah, karena resepsi kemarin. Apalagi kehamilanmu sudah mulai sedikit membesar, pasti sudah terasa" ucap Maya.
"Iyah kak. Kakak duluan saja, nanti aku akan istirahat" jawab Jihan.
"Baiklah, aku istirahat duluan, yah?" ucap Maya. Jihan mengangguk.
Maya dan Key naik ke lantai atas untuk istirahat. Sedangkan yang lainnya masih berada di bawah untuk berbincang-bincang.
"Kamu pergilah untuk istirahat juga. Jangan di tunda-tunda seperti itu. Tidak baik untuk ibu hamil, kalau terlalu lama duduk" ucap Tama. Ia tidak suka melihat Jihan yang belum mau untuk istirahat. Apalagi kemarin dia juga kebanyakan bergerak.
"Benar yang di katakan Tama, ji. Pergilah untuk istirahat!" ucap Bu Farah. Ia juga setuju dengan ucapan Tama.
"Tapi Jihan tidak merasa lelah, bu" ucap Jihan.
"Kamu memang belum merasakannya, tapi nanti malam kamu pasti akan banyak bergerak" Tama menyela.
Jihan hanya diam mendengar ucapan Tama. Ia bingung kenapa Tama begitu memaksanya untuk istirahat, apa karena bayi yang ada di dalam perutnya. Jihan bingung.
Bu Farah yang melihat anaknya hanya diam, menyentuh tangannya dan memberi Koda untuk segera pergi beristirahat. Jihan menghela nafas dan berjalan untuk ke kamar yang sudah di sediakan untuknya.
Bagas yang sejak tadi ada di sana mulai bingung. Apalagi melihat sahabatnya yang memaksa Jihan untuk beristirahat. Dia bertanya-tanya pada dirinya, sejak kapan mereka kenal, sedangkan Tama baru pulang dan ia juga baru tahu, kalau Jihan ternyata hamil juga.
Ia tidak pernah melihat suami Jihan. Begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya, tapi dia hanya menyimpannya saja. Tidak mau untuk bertanya.
Semua yang ada di manssion tampak sibuk berlalu-lalang ke taman belakang membawa makan dan beberapa daging sapi dan ayam untuk di bakar.
Acara yang hanya sederhana untuk orang-orang yang ada di manssion. Para pria yang sibuk membakar ayam dan memanggang daging sapi. Sedangkan para wanita sibuk menyiapkan makanan lainnnya, tapi berbeda dengan Maya dan Jihan. Kedua wanita hamil itu bukannya membantu, mereka malah memakan ayam yang sudah di bakar.
"Astaga, kalain ini kenapa menghabiskan ayamnya?" tanya Bagas. Ia heran melihat keduanya yang sibuk menghabiskan ayam bakarnya.
"Itu, masih banyak yang kakak bakar. Masih ada juga yang belum di bakar" Maya menunjuk ayam yang masih di bakar dan menunjuk ayam masih belum di bakar.
"Kalau yang ini sudah habis, sudah yah. Nanti tidak cukup untuk di bagi-bagi" ucap Bagas.
"Oke, kak" jawab Maya. Jihan hanya mengangguk, karena mulutnya masih penuh. Tama yang melihat Jihan seperti itu, hanya tersenyum melihatnya.
Tak berselang lama, semua makan sudah jadi. Mereka duduk di atas karpet yang sudah di siapkan.
"Wuuuhhh...Kalian para ibu-ibu memang sangat pandai dalam membuat makanan" puji Bagas.
" Kakak nggak memujiku?" tanya Maya, karena Bagas hanya mengatakan ibu-ibu saja.
__ADS_1
"Kamu kan tidak membantu, hanya makan saja" jawab Bagas.
"Hehe..kerja butuh tenaga, kak" jawab Maya cengengesan, sementara Jihan menunduk malu.
"Sudah, ayo kita makan. Perut bibik rasanya sudah sangat lapar" bik Nur menghentikan mereka.
Mereka mulai mengambil makanan di depan mereka. Key yang sesekali menyuapi sang istri yang ada di sampingnya. Bik Nur yang mengambilkan makanan untuk Tama dan Bagas.
Bik Nur sudah kembali seperti dulu yang selalu memperhatikan mereka, setelah Bagas dan Key mengungkapkan kerinduan pada sang bibik.
Jihan berada di tengah-tengah antara Bu Farah dan Bu Sri. Matanya sejak tadi mencuri-curi pandang pada daging panggangnnya, tapi sangat jauh di depan. Tangannya tidak sampai.
"Bu, aku ingin daging panggang itu" bisik Jihan pada ibunya.
Bu Farah melihat daging itu sangat jauh, dia pun tidak sampai juga.
"Ibu tidak sampai, ayamnya saja" ucap Bu Farah. Jihan cemberut mendengarnya.
Tama yang selalu memperhatikan Jihan tampak mengetahui keinginannya. Dia mengambil sepotong daging besar dan memberikannya kepada Jihan.
"Makanlah, nanti bayinya ileran nantinya, kalau ibunya tidak bisa memkan daging panggang ini" ucap Tama.
Jihan tersentak kaget melihatnya. Ia terdiam melihat daging itu yang sesekali melirik Tama.
"Cepat ambil, tanganku pegal memegangnga seperti ini" ucap Tama. Bu Farah yang melihat itu memukul pelan paham Jihan dan mumbutnya tersadar.
Jihan mengambil daging itu dari tangan Tama. Sementar yang lainnya hanya memperhatikan interaksi keduanya.
"Gorge, sepertinya kak Tama suka sama Jihan" bisik Maya pada Key.
"Tidak tahu, jangan sok tahu. Habiskan saja makananmu" jawab Key.
"Isss.. nyebelin" gumam Maya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
LANJUT...