Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Takut, hanya hayalan


__ADS_3

"Ap..apa..kah i..ni mi..mpi?" Maya masih sangat lemah dan kesusahan berbicar dengan lancar. Ia juga mengangkat tangannya dengan sangat pelan ingin menyentuh wajah Key.


"Bukan. ini bukan mimpi boo" Key meraih tangan Maya dan meletakkan di pipinya.


"Be..nar..kah?" Maya menggerakkan jari-jarinya untuk memastikan apa yang ia sentuh adalah nyata.


"Benar boo"


"Se..tiap aku tid..ur aku selalu meli...hatmu dalam mim..piku dan sel..alu mend..endengar suaramu mem..anggilku. Itulah yang mem..buatku betah tertidur. Aku takut apa yang aku li..hat di depanku saat ini, ha.. nyalah hayalanku" Maya begitu kesulitan berbicara dengan jelas. Masih sangat pelan dan kurang lancar.


"Tidak boo" Key menggeleng cepat. "Ini bukan hayalanmu! ini nyata. Lihat, bahkan kamu bisa menyentuh semunya" Key mengarahkan tangan Maya memegang seluruh wajahnya, bahkan sampai turun ke dadanya agar Maya bisa mendengar suara detak jantungnya.


"Kamu merasakannya bukan?" tanya Key.


Maya mengangguk sangat pelan. Ia merasakan detak jantung Key dengan sangat kencang.


"Yahh..ini aku dan ini putri kita" Key menunduk ke bawah. Di mana bayi mereka masih minum asi. Air mata Key tidak terbendung lagi dan mengalir membasahi pipinya.


Maya mengikuti arah pandang Key. Memperhatikan bayi itu dengan diam tanpa mengatakan apapun.


"Maaf tuan, nyonya, waktunya bayi kalian kembali ke NICU" ucap salah satu suster.


Mendengar itu Key berbalik dan melepaskan genggamannya di tangan Maya. Key menghembuskan nafasnya perlahan dan mengangguk.


Key dengan terpaksa menghentikan putrinya yang masih minum susu dan menggendongnya, lalu meletakkan di atas kasur kecil yang tadi ia dorong. Untung saja putri mereka tidak menangis ketikan Key melepasnya.


Suster kemudian membawa bayi mereka kembali. Maya sejak tadi hanya diam ketika melihat putrinya di bawa. Dia masih bingung dengan situasi saat ini.


"Boo" panggil Key.


Maya yang masih melihat ke arah pintu mengalihkan penglihatannya ke arah Key dan mengangkat sedikit kedua alisnya.


" Kenapa? kamu mau minum?"


"Ii..iyah"


Key mengambil air minum dan mengarahkan sedotannya ke mulut Maya. Setelah selesai Key menaruhnya kembali.


" K..key" panggil Maya.


"Yahh..?" Key sebenarnya bingung kenapa Maya hanya memanggilnya dengan nama, tapi ia tidak ingin membahasnya dulu. Ia berfikir mungkin kata itu mudah untuk Maya keluarkan, mengingat dia masih sedikit kesulitan untuk berbicara dengan jelas.

__ADS_1


"Ka.. mu___"


Perkataan Maya terhenti, karena mama Sheila tiba-tiba menyela.


"Key, apa kita tidak memanggil dokter? dokter bilang kita harus memanggilnya saat istrimu sudah sadar"


"Ahh..iya, mah. Key lupa" Key langsung bergegas berdiri dan memanggil dokter.


Tinggal ketiga wanita beda usia itu. Maya hanya diam memperhatikan mama Sheila yang juga diam menatapnya. Mama Sheila kemudian melemparkan senyuman kepada sang menantu, tapi Maya tidak membalas.


Maya mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan wajah wanita di depannya yang terbilang tidak muda lagi, tapi masih cantik. Ia bertanya-tanya siapakah wanita di depannya itu dan kenapa Key memanggilnya dengan sebutan mama? padahal yang ia tahu orang tua Key sudah meninggal.


Melihat mereka hanya diam saling tatap-tatapan, Jihan merasa kikuk dan memilih menghampiri Maya.


"Kak Maya" panggil Jihan ketika ia sudah di dekat Maya.


Maya tersenyum sangat kecil menanggapinya dan matanya mengarah kearah perut Jihan.


"Dia su..dah sangat be..sar" Maya mengangat tangannya dan mengusap perut Jihan dengan perlahan.


"Iya, kak. Dia juga sebentar lagi akan keluar" Maya mengangguk pelan.


"Aku senang kak Maya sudah sadar. Semua orang menghawatirkan keadaan kak Maya Rerutama kak Key, dia sangat sedih dan selalu menunggu kak Maya di sini. Padahal dia juga masih harus untuk menjaga kondisinya "


"Aku rasa kak Key tidak merasakan itu. Dia akan selalu sehat dan kuat untuk menjaga kak Maya" Maya tersenyum mendengarnya.


Tak berselang lama Key sudah kembali dengan membawa seorang dokter. Dokter pun memeriksa keadaan Maya.


"Ini adalah perkembangan yang sangat bagus. Responnya begitu cepat dan itu tidak hilang dari dukungan dari keluarganya" ucap dokter setelah memeriksa keadaan Maya.


"Apa tidak ada kendala lagi, dok?" tanya Key.


"Sudah tidak ada. Hanya tinggal menunggu bekas jahitan di perut pasien mengering. Jangan terlalu banyak bergerak, karena bisa membuat jahitannya kembali terbuka" jawab dokter.


"Saat anda bergerak, anda akan sedikit merasa sakit pada perut anda yang di jahit, tapi itu bukan masalah yang besar. Itu memang terjadi bagi setiap ibu hamil yang lahir secara cesar" ucap dokter seraya menoleh kearah Maya.


Maya mengangguk. mendengar penjelasan dokter.


"Setelah ini, anda cobalah untuk bangun agar otot-otot Anda tidak mati rasa dan menegang"


"Iya, dok" bukan Maya yang menjawab melainkan Key.

__ADS_1


"Baiklah. Pemeriksaan sudah selesai, saya pamit" ucap dokter. Dokter pun meninggalkan ruang rawat Maya.


"Aku ingin bangun" ucap Maya setelah dokter itu pergi.


"Apa kamu tidak ingin istirahat dulu, boo?" tanya Key. Ia sedikit khawatir Maya akan kelelahan, kalau dia langsung bangun. Apalagi yang ia lihat Maya masih terlihat lemah.


"Tidak. Aku sudah capek tidur terus"


"Baiklah" Key pun pasrah dan membantu Maya duduk dengan memegang punggung Maya.


"Ji, ubah kepala brangkar agar sedikit tinggi!" Key meminta tolong pada Jihan untuk membantunya dan Jihan pun melakukannya.


Setelah selesai Key kembali menyandarkan punggung Maya di sana.


"Sudah nyaman?"


"Iyah"


"Kami butuh sesuatu? kamu mau makan?"


"Tidak" jawab Maya singkat.


Mereka akhirnya kembali diam. Sampai akhirnya para pria kembali masuk. Tama menghampiri Jihan, papah Syam menghampiri mamah Sheila dan uncle Jang memilih berdiri di dekat kakak iparnya.


"Key, gue pamit pulang. Maya sudah sadar dan Jihan tidak baik terlalu lama di rumah sakit" Tama ingin pulang lebih dulu. Ia juga sudah merasa capek dan takut Jihan juga terkena virus, karena terlalu lama berada di rumah sakit.


"Oke. Kalian pulanglah. Kasian Jihan, dia pasti sudah lelah sejak tadi" ucap Key.


Tama mengangguk dan memeluk pinggang Jihan, walaupun ia tidak bisa leluasa memelukmu, karena pinggang Jihan sudah sangat lebar.


"Aku pulang duluan kak Maya. Semoga kakak cepat pulang" Maya mengangguk dan tersenyum kecil.


"Kalau begitu kami juga pamit, sayang. Besok kami akan ke sini lagi" ucap Mama Sheila. Ia juga ingin pulang, karena ia ingin memberi ruang pada anak dan menantunya untuk melas rindu yang selama ini mereka tahan.


"Baiklah,mah. Kalian hati-hati" Mama Sheila dan papah Syam mengangguk. Mereka pun meninggalkan Key dan Maya, uncle Jang pun ikut pulang dengan mereka.


"Mer..Eka seb..enarnya siapa?"


.


.

__ADS_1


LANJUT


__ADS_2