
" Oh astaga..hanya itu saja dan dia membuatku kaget tadi. Yang benar saja " gumam Tama. Ia tidak habis fikir dengan tingkah Jihan tadi.
Tama berjalan lesu menghampiri Jihan .
" Kamu beli apa, Ji ?" tanya Tama.
" Anda gak lihat saya beli apa ?" Jihan malah balik memberikan pertanyaan dengan sinis.
" Nggak. Saya nggak lihat " jawab Tama kesal. Padahal ia hanya ingin basa-basi saja dan berusaha mendekatinya.
" Sabar tuan. Ibu hamil memang seperti itu. Mood nya mudah sekali marah, tapi istri anda pasti akan kembali manja lagi nanti " seru penjual es kelapa muda.
Jihan meminta Tama berhenti secara mendadak, karena melihat penjual kelapa muda di pinggir jalan. Air liurnya menjadi menetes.
" Haha.. anda benar. Istri saya memang seperti itu "Tama dengan sengaja mencari ribut dengan Jihan. Ia menimpali perkataan ibu penjual itu.
Ekspresi Jihan mulai berubah. Wajahnya sudah mengkerut dan ingin marah. Tama yang melihat itu segara mencari cara agar Jihan tidak marah dan meledak di sini.
" KAU...." Jihan menunjuk Tama dengan intonasi suara yang mulai naik.
Tama mengangkat kedua tangannya dan memberikan dua jari pada Jihan.
" Hehe...pitsss..." Tama cengengesan di sertai wajah takut.
" Ini kelapa anda nona " ibu penjual kelapa muda memberikan kelapanya pada Jihan.
Jihan tidak jadi memarahi Tama. Emosinya teralihkan melihat es kelapa muda di tangannya.
" Terimakasih, Bu " ucap Jihan dengan full senyuman.
Jihan berjalan ke salah satu meja khusus untuk pelanggan yang membeli es kelapa muda. Ia memakan isi dari kelapa muda itu dan meminum airnya yang sangat segar di tenggorokannya.
" Saya pesan satu juga dong, Bu " pesan Tama.
" Baik tuan. Tunggu sebentar "
" Nanti, antarkan ke meja yang di tengah itu yah, Bu " tunjuk Tama di mana Jihan duduk.
" Baik tuan "
Setelah memesannya, Tama berjalan ke arah Jihan dan duduk di depannya.
" Buat apa anda di sini ?" tanya Jihan. Setiap Jihan bertanya dan menjawab pada Tama selalu terdengar ketus.
" Aku sedang menunggu pesananku "
" Terus kenapa anda duduk di sini. Pindah kursi lain sana " usir Jihan.
" Aku mau duduk di mana. Semua kursinya sudah penuh "
__ADS_1
Jihan menoleh dan melihat sekitarnya. Ternyata ucapan Tama memang benar. Ia akhirnya membiarkan Tama duduk bersamanya, tapi iaselalu meliriknya tajam.
Mereka kembali diam. Tidak ada perdebatan lagi. Hingga akhirnya, pesanan Tama datang dan mulai memasukkan es kelapa muda ke dalam mulutnya.
Jihan yang sudah menghabiskan miliknya, mulai mencari makanan lain. Ia melihat sekeliling untuk mencari penjual yang dekat dari sana. Sampai matang melihat gerobak yang menjual pisang bakar. Ia ingin berdiri dan membelinya, tapi tangannya di tahan oleh Tama.
" Mau kemana kamu ?" tanya Tama.
" Pengen tahu aja. Lepas ..." Jihan menghempaskan tanganya dan berjalan ke penjual itu.
" Mau kemana lagi dia ?" gumam Tama, tapi ia tetap mengikutinya.
" Pak, saya pesan pisang bakarnya 3 porsi yah " pesan Jihan pada penjual pisang bakar.
"Makan di sini atau bungkus ?" tanya penjual.
" Makan di..." belum selesai Jihan berbicar, Tama sudah lebih dulu berbicara.
" Bungkus aja pak "
" Anda apa-apaan " Jihan tidak terima.
" Diam lah. Ini sudah mau sore. Apa kamu tidak ingin pulang ? atau kau sangat betah jalan-jalan bersamaku ?" goda Tama. Ia manik turunkan alisnya dengan mata menelisik ke arah Jihan.
Jihan sadar dan merasa malu. Wajahnya memerah.
Tama terkekeh melihat tingkah Jihan. Ia mengeluarkan dompet dari kantong celananya dan membayar pesan Jihan.
Tama berlari ke mobil dan mendapati Jihan memakan pisang bakar itu dengan sangat lahap. Tama mulai menjalankan mobilnya. Namun tiba-tiba Jihan kembali menyuruhnya berhenti.
" Apa lagi ?" Tama mulai kesal.
" Aku belum membayarnya " jawab Jihan. Ia bersiap turun, tapi pintu mobil terkunci.
Jihan ingin meminta Tama membukanya, tapi Tama menyuruhnya diam.
" Diam. Aku sudah membayar makananmu. Jadi sekarang kita pulang. Oke "
Jihan mengatupkan bibirnya tidak jadi protes. Ia mendarkan punggungnya pada kursi.
" Ji..." Panggil Tama.
" Hmmm.." sahut Jihan.
" Mau kah kamu kembali mempertimbangkan keinginan ku ?" tanya Tama. Ia menyinggung kembali untuk memperbaiki semuanya.
" Tidak " jawab Jihan singkat.
" Tapi, aku juga ingin menemani perkembangan anakku "
__ADS_1
" Tidak perlu. Dia tidak memerlukanmu "
" Aku mohon ,Ji. Beri aku kesempatan " Tama memohon. Ia masih dalam kondisi mengemudi, tapi walaupun begitu ia tetap memperhatikan jalannya.
" Saya juga berhak untuk menolak. Anda yang lebih dulu mencampakkan kami. Bahkan sebelum bayi ini ada " suara Jihan mulai serak, karena menahan tangisannya.
" Aku tahu itu kesalahan terbesarku. Aku kalut waktu itu dan pada saat aku tahu, kalau kau hamil anakku. Aku bertekad untuk memperbaikinya "
"Hanya untuk anak ini? apa anda tidak memikirkan perasaanku ? saya adalah ibunya. apa anda ingin memisahkan kami ?" Jihan mulai marah. Tampak air mata keluar dari pelupuk matanya.
Tama menepikan mobilnya dan menoleh ke arah Jihan yang sedang menghapus air matanya.
" Aku tidak akan pernah memisahkan kalian. Yang aku inginkan, kita merawat bayi itu bersama. Aku tahu, aku pernah melakukan kesalahan besar terhadapmu. Tapi, aku mohon beri aku kesempatan untuk selalu ada di sisi kalian "
Jihan menatap mata Tama. Ia mencari kebohongan di sana. Ia sadar selama ini ia butuh seseorang yang selalu memberinya perhatian. Walaupun ada sang ibu yang selalu ada untuknya, tapi itu akan berbeda jika kita bersama ayah dari bayi kita.
Ada rasa tersendit untuk itu. Kesenangan bayi akan berdampak juga padanya. Ia masih ragu untuk menerima Tama di sisinya, tapi ia juga tahu kedepannya akan berdampak pada anaknya jika dia tidak memiliki seorang ayah.
" Aku tahu, melalui kehamilan sendiri itu sangat tidak enak. Dan Tuhan memberiku hukuman atas kesalahanku padamu. Setiap pagi, aku selalu muntah dan mengeluarkan isi perutku. Sifatku yang kadang berubah-ubah. Kadang juga aku meminta makanan aneh pada bik Nur " Tama mulai menceritakan yang di alaminya dua bulan terakhir.
Pantas saja aku tidak pernah merasa mual di awal kehamilanku. Ternyata, ayah anakku yang menanggungnya. batin Jihan.
" Ji..." panggil Tama. Karena sejak tadi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Jihan.
" Buktikan " ucap Jihan.
Tama kaget dan kurang mengerti maksudnya.
" Maksudnya ?"
" Pikir sendiri " jawab Jihan.
Tama malahan tersenyum mendengar jawaban Jihan. Ia sudah tahu maksud dari perkataannya.
" Terimakasih, Ji. Aku pasti akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik " ucap Tama senang.
" Kita pulang " Tama kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Jihan.
Sepanjang perjalanan Tama tidak henti-hentinya tersenyum. Sementara Jihan hanya diam saja dan menatap lurus ke depan.
Beberapa menit perjalanan, mereka telah sampai di depan gang rumah Jihan. Tama akan mengantar Jihan sampai di depan rumahnya dan Jihan tidak protes sama sekali, karena sejujurnya ia butuh bantuan untuk berjalan. Rasa sakit pada perutnya belum juga hilang.
" Kalian..."
.
.
LANJUT..
__ADS_1