
Hari kedua setelah penembakan itu terjadi.Maya masih terbaring dengan peralatan maedis yang menempel ditubuhnya. Sudah dua hari Maya mengalami koma.
Dochtuir dan banaltra yang bertugas memantau perkembangan Maya setiap hari. Seperti saat ini mereka berdua ada didalam kamar untuk mengecek perkembangan Maya.
Sementara key,Bagas dan Tama mereka juga berada disana untuk mengetahui bagaimana perkembangannya Maya.
"Bagaimana?"Tanya Bagas saat melihat dochtuir sudah melakukan pemeriksaan.
"Belum ada perkembangan apapun tuan"Bagas mengangguk mendengarnya.
"Kalau begitu kami permisi tuan!"
"yah.."Jawab key singkat.
Mereka bertiga masih setia berdiri disisi tempat tidur Maya dan memperhatikannya.Maya yang memejamkan matanya terlihat seperti orang tidur, begitu tenang.
"Dia terlihat baik-baik saja.Tapi kenapa dia bisa koma?"Tama bingung melihat keadaan gadis yang dia lihat didepannya.
"Bukan karena luka itu yang membuatnya koma,tapi rasa shock dan trauma yang membuat nya seperti ini"Ujar Bagas.
Mereka kembali terdiam memperhatikan keadaan Maya.
"Sudahlah.jangan kalian lihat seperti itu terus" ucap key yang mulai tersadar dari lamunannya dan melihat sahabatnya masih setia memperhatikan Maya.
"Kau benar.Kenapa kita tinggal disini?"Tama merasa bodoh dengan dirinya.
"Ayo kita keluar dari sini"Ajak Tama.
Mereka akhirnya keluar dari sana dan melangkah keruang tengah.Saat mereka sudah duduk disana key mulai angkat bicara.
"Bagaimana penyelidikanmu?"Tanya key pada Tama.
"Tentu saja gue sudah mendapatkan nya"Jawab Tama dengan nada sombong.
"Jadi..?"
"Gadis itu tidak memiliki siapa-siapa.Dia hanya hidup sendiri dan dari yang gue temukan orang tua nya meninggal kerena kecelakaan. Dia anak tunggal dan keluarga dari orang tuanya tidak ada sama sekali"
"Tak memiliki keluarga sama sekali.Teman, apa dia tidak punya juga?"Tanya bagas.
"No..Dia tidak punya.Dia hanya punya tetangga yang sangat dekat dengannya bernama Bu sri"
"Jadi bagaimana sekarang.ternyata Maya tidak memiliki siapa-siapa"Tanya Bagas bingung.
Key hanya terdiam.Dia juga bingung harus melakukan apa.Gadis yang saat ini bersamanya bukan siapa-siapa baginya.Apa lagi dia seorang perempuan.
"Apa perlu kita membawa Bu Sri itu kesini?"Tanya Tama.
"Ide yang bagus" Bagas setuju dengan usulan Tama.
"Tapi bagaimana jika dia bertanya bagaimana semua ini bisa terjadi?" Ucapa Bagas kembali.
"Yahh.kita tinggal jawab dengan jujur"
"Kau benar.. Bagaimana key, apa kau setuju?"Tanya Bagas pada key yang sejak tadi masih terdiam.
"oke.Kalian lakukan saja"
"Baiklah jika kau setuju.Siapa yang akan pergi menjempitnya?"Tanya Tama.
"Kau lah"jawab Bagas
"Kenapa bisa seperti itu.Kau saja yang pergi.kau kan yang merekrutnya" Tama tidak setuju akan usulan itu.
"Enak saja.kau yang mengusulkan ide itu"
__ADS_1
"Tapi kau..." Tama belum selesai berbicara tetapi key sudah memotongnya.
"Cukup.Kalian berisik"
"Kalian berdua yang akan pergi" Perintah Bagas padat dan sangat jelas.
Setelah mengatakan itu Kay pergi dari sana sementara mereka berdua mereka terdiam mendengarnya.Jika key Sudah berkata seperti itu.Artinya itu harus dilakukan.
Tama dan Bagas menghela nafas.
"Baiklah ayo kita pergi"Ajak Bagas.
"Sekarang?"
"Bukan tahun depan" Bagas menjawabnya dengan ketus.
"Yaaahh.sekarang bego...Kau mau key marah?" Tama menggeleng.
"Yasudah.Ayo kita pergi"
Mereka benar-benar pergi untuk menjemput bu Sri.Tama dan Bagas hanya pergi dengan berbekalkan uang yang mereka bawa saja.
.
***
Saat ini mereka sudah berada di pesawat untuk menuju ketempat Bu Sri.
"Apakah tempatnya jau?"Tanya Bagas.
"tidak juga.Hanya sekitar 2 hari perjalanan"Jawab Tama dengan enteng.
Bagas yang mendengar ucapan Tama langsung menoyor kepala Tama.
"Haiiss.Sakit bego"Tama mengusap kepalanya yang ditoyor Bagas tadi.
"Gue benar lah.Kau kira gue bohong apa"Lanjut Tama.
"Satauku hanya beberapa jam perjalanan saja"Ucap Bagas tidak terima dengan perkataan Tama.
"itu jika kau hanya dibandara Soekarno"
"Lahh.. terus mau kebandara mana lagi?"
"Kau ini banyak tanya sekali.Diam dan duduk saja.Kau akan tahu nanti.Buat pusing saja" sahut Tama kesal.Tama pusing mendengar pertanyaan Bagas yang tidak ada habisnya.
" gue hanya bertanya" Bagas menjawab seadanya.
Dia masih bingung dengan perkataan Tama.Karena yang dia tahu kalau mereka berdua akan tiba dibandara Soekarno saja.bukan bandara lain.
"Lagi pula apa kau tidak mengecek dari mana dia bersal sebelum kau merekrutnya?" Sahut Tama kembali.
"gue mencarinya.Tapi yang kudapatkan hanya dia berasal dari Indonesia saja" Jawab Bagas polos.
"Kau memeang b*doh."
setelah mengatakan Tama menyandarkan punggungnya dan menggunakan headphone.Ia malas jika harus mendengar pertanyaan-pertanya Bagas lagi.
.
.
***
Key berada didalam kamar perawatan Maya dan menutup pintu itu.Ia duduk didekat kasur Maya dan menatapnya dengan diam.
__ADS_1
"Maaf membuatmu berada disituasi seperti ini"Key berkata dengan pelan sambil menatap kearah Maya.
"Bisakah kau membuka matamu.Aku tidak bisa selalu merawatmu disini.Walau ada tim medis yang merawatmu.Tapi disini buka tempatmu"
Key tertunduk lesuh mengatakan itu.
Tok
Tok
pintu diketuk dari arah
"Permisi king, saya ingin membersihkan bada nona maya"ucap seorang banaltra dari arah pintu.
"Silahkan"
Pada saat ini memang hari sudah sore dan waktunya pasien dibersihkan tubuhnya.
Setelah dipersilahkan masuk,banaltra itu mulai mendekat kearah Maya.
"Kau bersihkanlah.Saya akan keluar"
"Baik king" Banaltra itu membungkuk hormat pada key.
Key melangkah keluar dan mulai mencari keberadaan kedua sahabatnya.
Bagas dan Tama pergi ke Indonesia Tampa memberi tahu key terlebih dahulu.Walaupun key menyuruh mereka pegi.Tapi setidaknya mereka memberitahunya.
"Mereka benar-benar"
"Pergi tanpa memberi tahu sama sekali.Bahkan tanpa membawa apa-apa dasar" Lanjut key.
Key benar-benar bingung dengan kedua sahabatnya itu. Mereka selalu mengambil tindakan tanpa dipikir-pikir terlebih dahulu.
**
Saat key tengah bersantai tiba-tiba ia melihat banaltra itu berlari dengan terburu-buru keluar dari ruangan Maya.Key yang melihat itu kebingungan,Ia mulai bertanya-tanya dalam dirinya."Apa yang terjadi,kenapa banaltra itu berlari seperti itu.Apa sesuatu terjadi pada Maya?"
Kelawatiran itu mulai bertambah saat dochtuir juga mulai berlari masuk kearah ruanagn Maya.Key bangkit dari duduknya dan juga inkut berlari keruangan Maya.
"Apa yang terjadi dochtuir?"Tanya key dengan was-was.
"Nona Maya tadi menggerakkan tangannya,king"
"Apa dia sudah sadar?"
"Belum king.itu hanya rangasangan dari tubuhnya" key menghembuskan nafasnya.Ia berharap Maya membuka matanya,ternyata dugaannya salah.
"Terus bagaimana perkembangannya sekarang?"
"Belum ada perkembangan sama sekali.Nona Maya butuh suport dan diajak berbicara agar dia dapat membuka matanya.Dalam keadaan seperti ini,nona Maya masih bisa mendengar suara kita"ujar dochtuir.
"Diajak berbicara?"
"Benar,king"
"Tapi siapa yang akan mengajaknya berbicara?"
"Anda king.Karena kami tidak tahu apapun tentanya" usul dochtuir.
"Baiklah.saya akan mencobanya.
.
Lanjut
__ADS_1