
Setelah Maya dan Jihan hanya di mansion saja, kini mereka berencana pergi ke taman untuk sekedar jalan-jalan sore saja. Mengingat perkataan dokter juga, jika mereka harus sering-sering berjalan pagi ataupun sore agar persalinan mereka lancar nantinya.
Dan saat ini, mereka tengah berjalan di pinggir taman sambil bercerita dan memperhatikan orang-orang yang berada di sana. Sebelum pergi ke taman, Jihan sudah meminta izin pada suaminya yaitu Tama. Walaupun Tama sempat melarangnya, tapi Jihan berusaha menyakinkan Tama dan mengatakan, kalau ia pergi dengan Maya serta pengawal Maya. Hal itu membuat Tama mengizinkannya pergi. Tama sudah tidak khawatir lagi, mengingat ada Hud dan Rud bersama mereka.
" Kita istirahat dulu, kak. Kakiku sudah capek jalan terus " Jihan berjalan ke pinggir taman dan duduk di pinggiran pot panjang di taman.
Maya pun mengangguk dan mengikuti Jihan duduk di pinggiran pot. Rud dan Hud yang selalu mengikuti nyonya mereka, kini menghampirinya.
" Nyonya, minumlah dulu" Rud menyodorkan 2 botol air kepada Jihan dan Maya.
" Terimakasih, Rud" ucap Maya setelah menerima botolnya.
Setelah minum mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing. Begitupun dengan Rud dan Hud yang ikut diam melihat nyonya mereka diam.
" Ayo pergi ke mall!" hingga akhirnya Maya bersuara dan mengajak Jihan ke mall.
" Boleh deh. Ayok" Jihan pun setuju.
Mereka akhirnya pergi ke mall. Entah apa yang akan mereka beli di sana. Rud dan Hud pun mengambil mobil mereka, karena Maya dan Jihan akan naik di mobil dengan pak Han yang menyetir.
****
Berbeda di mansion Syam. Bik Nur terlihat sibuk membereskan kamar Maya. Walaupun kamar itu secara kasat mata terlihat bersih, tapi bik Nur tetap membersihkannya.
Hingga sampai di mana bik Nur merapikan tempat tidur Maya agar debu-debu menghilang. Di angkatnya bantal itu dan tidak sengaja bik Nur melihat sebuah amplop dengan beberapa foto.
" Bukankah ini Key?" ucap bik Nur saat melihat foto itu.
Bik Nur buru-buru keluar dari kamar dan membawa foto itu keluar. Ia akan menghubungi Tama untuk memberitahu tentang foto itu.
Halo bik _terdengar suara Tama di sebrang telpon.
" Apa kamu sibuk?"
" Tidak, bik. Memang ada apa?"
" Bibik menemukan foto di bawah bantal Maya . Bibik yakin foto itu foto Key yang sedang duduk di kursi roda"
__ADS_1
Tama yang sedang duduk di hadapan Bagas di perusahaan langsung berdiri, karena kaget mendengar perkataan bik Nur.
" Maksud bibik ada seseorang yang mengirim foto ke Maya?"
" Sepertinya begitu, karena saat membersihkan kamar Maya, bibik menemukannya di bawah bantal"
" Apa Maya dan Jihan belum juga pulang?"
"Belum"
" Baiklah. bibik simpan foto itu baik-baik. Aku akan ke sana sekarang"
" Iyah " bik Nur menyimpan handphonenya kembali. Ia berjalan ke ruang tamu dan akan menunggu Tama di sana.
Bik Nur berharap dengan adanya bukti foto kiriman ini, Tama bisa menemukan jejak Key melalui foto ini. Ia sangat merasa prihatin melihat Maya yang selalu menangis diam-diam di kamarnya. Ia juga tidak mau mengganggunya dan membiarkan Maya menumpahkan kesedihannya sampai dia merasa puas.
***
Tak berselang lama terlihat mobil Tama memasuki halaman mansion. Tama buru-buru keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam mansion.
" Bibik" ucap Tama karena kaget melihat bik Nur berdiri di depan pintu.
" Apa Bibik tahu di mana Maya mendapatkan foto ini ?" tanya Tama seraya berjalan menuju sofa.
" Tidak. Bibik bahkan baru tahu, kalau ada foto itu "
Tama memperhatikan foto itu satu persatu. " Apa Bibik tahu, siapa wanita yang duduk di sebelah Key?" Tama menunjukkan foto di mana Key duduk bersama seorang wanita.
"Bibik tidak tahu, tapi bibik merasa tidak asing melihat bentuk tubuh itu" bik Nur seakan pernah melihat wanita yang memiliki bentuk tubuh seperti itu, tapi sayangnya ia tidak ingat.
" Aku juga sepemikiran dengan bibik. Aku merasa tidak asing dengan wanita ini, tapi di mana aku pernah melihatnya?" Tama terlihat berfikir untuk mencari memori-memori yang bisa ia temukan, tapi tidak ia tumukan juga.
" Aku akan bertanya pada penjaga di depan. Mungkin mereka tahu siapa yang membawa foto ini" Tama kembali berdiri dan pergi ke pintu gerbang. Di mana penjaga berdiri di sana.
" Apa ada seseorang yang datang membawa sesuatu siang tadi atau pagi tadi ?" tanya Tama saat ia sudah sampi di depan beberapa penjaga.
" Hanya ada tukang pembawa surat, tuan"
__ADS_1
" Pembawa surat? maksudmu tukang pos?"
" Benar tuan. Saat kami bertanya surat apa itu, dia hanya menjawab 'tidak tahu'. Dan dia juga berkata surat itu untuk nyonya Maya"
" Jadi kamu yang menerimanya?"
" Iyah tuan, tapi Hud yang memberikan surat itu pada nyonya Maya"
Setelah merasa puas mendapatkan jawaban dari penjaga, kini Tama kembali berlari masuk ke dalam manssion. Tama sampai tidak melihat bik Nur yang masih menunggunya di ruang tamu dan melewatinya begitu saja.
Tama berlari masuk ke dalam ruangan Key. Ia ingin mengecek CCTV untuk melihat wajah pengantar surat itu.
Saat Tama berhasil mendapatkan gamabr dari wajah pengantar surat itu, Tama menghubungi pihak pos untuk mengetahui apakah benar ada di antara mereka yang mengantar surat ke mansion ini.
Saat telponya tersambung, Tama pun menanyakan hal tersebut. Hingga ia mengirim gambar wajah si pengantar surat. Setelah beberapa menit Tama mendengar penjelasan dari pos, Tama memutuskannya.
Saat sudah mendengar penjelasan dari mereka, Tama terlihat berfikir dan mengetuk jari-jarinya di atas meja.
" Apa foto ini yang dikirim uncle Jang? tapi baut apa dia mengirimnya pada Maya?" berbagai pertanyaan muncul di benak Tama, saat mengetahui tidak ada dari pihak pos yang mengirim surat ke mansion Syam.
" Sebenarnya apa alasan uncle tidak memberitahu kami ke mana dia membawa Key berobat. Dan di lihat dari foto itu Key sudah siuman dari komanya, tapi kenapa Key tidak pulang juga menemui Maya?"
Lagi-lagi Tama terdiam untuk memecahkan teka-teki di kepalanya. Sampai akhirnya Tama mencoba untuk menghubungi nomor uncle Jang. Tama dan Bagas selalu mencoba menghubungi uncle Jang untuk mengetahui keberadaannya, tapi sayang nomor itu tidak pernah aktif.
Tama juga pernah mencoba untuk melacaknya, tapi tidak ada Sinyal yang menghubungkan ke nomor uncle jang sama Sekali.
Dan Tama kembali ingin mencobanya. Ia berharap nomornya aktif kali ini.
Tut...
Belum juga panggilan itu berdering, handphonenya langsung mati. Membuat Tama bingung.
" Kenapa handphone ku mati? perasaan batrainya full" ucap Tama saat ia mencoba menyalakan kembali handphonenya.
.
.
__ADS_1
LANJUT
" Kenapa