Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda

Saat Bangun Tiba Tiba Menjadi Istri Tuan Muda
Ingin kembali bekerja


__ADS_3

" Kau benar, tuan Jang tidak menyukai Maya "


" Bibik juga berfikir sama denganku ?" Bagas tidak menyangka bik Nur berfikir sama dengannya, sedangkan Tama tidak berfikir ke sana sama sekali.


" Yahh..tuan Jang memandang seseorang dengan bibit dan bobot yang bagus. Dia sangat menjunjung tinggi sebuah kasta, apalagi dia tahu jika keponakannya adalah orang memiliki kasta yang tinggi. Tidak sembarang orang bisa menyentuhnya " Bagas mendengar perkataan bik Nur dengan serius.


" Dan yang seperti yang kamu bilang bahwa tuan Jang sengaja menjauhkan Maya dengan Key itu benar, karena dia tahu pasti Maya bukanlah orang dari kalangan atas. Maya hanya bertemu dengan Key, karena mereka bekerjasama di tempat yang sama dan menjadi bawahan Key. Otomatis tuan Jang akan memandang Maya dengan sebelah mata " lanjut bik Nur lagi.


" Uncle Jang ternyata seperti itu ?" Bagas tidak menyangka uncle memiliki sifat yang terbilang sangat jelek.


" Tuan Jang memang seperti itu sejak dulu. Apalagi dengan Key yang saat ini mengalami koma, tentu saja tuan Jang akan mengambil kesempatan ini untuk memisahkan Key dengan Maya "


" Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, bik. Uncle Jang pasti memiliki koneksi yang luas. Kita akan kesulitan untuk menemukannya " Bagas benar-benar bingung sekarang. Mereka harus melawan uncle Key sendiri yang jelas-jelas adalah orang yang hebat.


" Bibik tidak bisa memberikan solusi apapun. Kalau bukan tuan Jang sendiri yang akan muncul lebih dulu, kalian akan sangat sulit menemukan keberadaannya. Walaupun kamu bisa itu akan sangat kecil " bik Nur menepuk paha Bagas sekali, lalu berdiri.


" Bibik mau pergi mencari makanan, kamu berjagalah di sini " bik nur ingin pergi, tapi Bagas menahannya.


" Biar Bagas saja yang pergi, bik " Bagas ikut berdiri dan menatap bik nur.


" Baiklah " bik Nur setuju.


" Bagas harus beli apa ?" tanya Bagas.


" Apa saja, asalkan teksturnya lembut " bik Nur menyodorkan Bagas uang, tapi Bagas menolaknya dengan mendorong tangan bik Nur ke bawah.


" Oke, bik " Bagas pergi begitu saja tanpa mengambil uang yang akan bik Nur berikan padanya.


Kalau masalah uang bukan hal yang sulit baginya. Apalagi jika hanya mengeluarkan sedikit saja, itu bukanlah hal yang rumit baginya.


Bagas mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit. Ia akan pergi ke restaurant saja untuk membeli makanan. Ia khawatir membelinya di pinggir jalan, nanti tidak higienis.


Dalam perjalanan menuju restaurant, ponsel Bagas berdering dan tertera nama Tama di nama kontaknya.


" Ada apa ?" tanya Bagas saat ia sudah mengangkat telponnya.

__ADS_1


Gue sudah berada di perbatasan kota M, tapi tidak ada apapun di sini. Di sini hanyalah laut kosong saja, bahkan rumah wargapun tidak ada (suara Tama).


" Apa di situ hanya hutan ?"


Bukan juga hutan, tapi hanya hamparan laut saja. Laut di sini berada di pinggir jalan, tapi bukan jalan poros. Kalau di lihat dari pemukiman yang gue lewati, masih ada sekitar 3 jam untuk sampai di perbatasan ini ( suara Tama)


" Berarti uncle Jang meninggalkan kota M menggunakan kapal pribadinya " tebak Bagas. Ia berfikir seperti itu, karena mendengar cerita Tama bahwa tempat itu kosong.


Bagas berfikir ink memang sudah di rencanakan sejak awal. Uncle sudah menyediakan kapal untuk membawa Key pergi dan bahkan dokter Mikael juga tidak di temukan. Otomatis dokter Mikael ikut serta dengan mereka.


Tindakan apa yang harus gue lakukan sekarang ? gue tidak mungkin menyebrangi lautan untuk melihat ada apa di ujung sana, sedangkan kita tidak memiliki persiapan apapun ( Suara Tama)


" Kembalilah kemari ! kita akan menyusun rencana bersama " Bagas sudah sampai di restaurant dan tengeh berjalan masuk ke dalam.


Baiklah


Tama setuju-setuju saja, karena ia pun tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Setidaknya ia tahu ke mana ia akan berlabu nantinya.


Bagas mematikan sambungan telponnya dan mulai memesan makanan.


Kini Bagas telah kembali dari membeli makanan dan saat ini ia tengah berada di ruang rawat Maya. Maya tengah makan saat ini dengan bik Nur yang menyuapinya.


Infusnya sudah hampir habis dan setelah Maya makan, mereka akan berencana untuk pulang.


Setelah makanan itu habis dan sudah membayar biaya administrasi mereka kembali ke manssion.


Di dalam mobil Maya duduk di sebelah bik Nur, sedangkan Bagas menyetir. Pak Han dan Rud mengikuti mereka dari belakang.


" Kak.." panggil Maya, Bagas melihat Maya memalalui kaca dasboard.


" Kenapa ?" tanya Bagas.


" Apa belum ada kabar dari kak Tama ?"


Bagas menghembuskan nafasnya perlahan mendengar pertanyaan Maya. Memikirkan Maya masuk rumah sakit, karena stres memikirkan Key membuat ia sedikit bingung untuk mengatakannya.

__ADS_1


" Maya, aku sebenarnya agak ragu untuk memberitahu padamu. Kamu masuk rumah sakit, karena stres dan itu pasti karena kamu terlalu memikirkan keadaan Key "


" Maaf, kak. Aku sangat takut Key tidak akan kembali " Maya menunduk dan merasa bersalah, karena ia membuat orang lain khawatir dengan dirinya.


" Key pasti akan kembali, aku yakin itu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah berdoa agar Key cepat siuman dan kembali lagi ke sini. Kmu boleh memikirkannya, tapi jangan sampai itu membebanimu. Ingat Maya !! saat ini kamu tengeh hamil, ada nyawa yang harus kamu jaga " Bagas mengatakannya dengan panjang lebar.


" Aku benar-benar minta maaf telah membuat kalian khawatir dengan kondisiku. Aku akan berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya"


" Tidak apa-apa, Maya. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada kami "


" Iya, kak " jawab Maya.


Mobil kembali hening sampai mereka memasuki pekarangan mansion. Bik Nur membantu Maya turun dengan memegang tangannya sampai di ruang tengah.


" Kak Bagas nggak kembali ke perusahaan ?" tanya Maya setelah ia duduk di sofa.


" Tidak. Pekerjaanku tidak terlalu banyak hari ini " jawab Bagas bohong. Padahal pekerjaannya semakin banyak saat Key tidak ada. Apalagi sudah tidak ada sekertaris yang menggantikan Kia lagi saat ini.


Maya yang mendengar itu tahu jika Bagas berbohong padanya. Mana mungkin pekerjaannya hanya sedikit sementara Bagas hanya sendiri mengerjakannya.


" Boleh aku bekerja lagi ?" Maya ingin kembali bekerja dan membantu Bagas.


" Ehh..tentu saja tidak bisa. Key akan marah pada jika membiarkan kamu bekerja dalam kondisi hamil seperti ini " Bagas sediki kaget dengan permintaan Maya yang tiba-tiba.


" Tapi kalau aku di rumah terus, aku akan selalu memikirkan Gorge terus. Berbeda jika aku memiliki kesibukan, itu akan mengalihkan pikiranku "


" Tidak bisa, Maya. Kamu tengah hamil dan kamu tidak bisa kelelahan. Kamu bahkan tidak boleh duduk terlalu lama " Bagas menolak untuk membiarkan Maya bekerja. Itu akan sangat beresiko nantinya.


" Aku mohon kak, hanya sebentar saja. Aku tidak perlu bekerja Samapi sore, siang aku akan pulang " Maya memohon dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Bagas menatap Maya yang memohon padanya. Ia mendadak menjadi bingung. Ia tidak ingin Maya bekerja dan jika Key tahu akan hal ini, dia akan sangat marah. Tapi melihat wajah Maya yang memohon padanya, ia merasa kasihan.


.


.

__ADS_1


LANJUT


__ADS_2