
Keesokan harinya
Maya buru-buru berlari ke kamar mandi, dia merasa mual.
Uekkk......
Maya memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar. Maya merasa lelah, setelah memuntahkan isi perutnya. dia terduduk di lantai kamar mandi.
Hiksss....
Dia menangis memikirkan nasibnya dan bayinya. "Apa yang harus aku lakukan? ini sangat berat. Kenap aku harus memikirkan pria br***ek?"
Maya berfikir, Key akan selalu ada untuknya. Apalagi menjalani kehamilan pertama, kita butuh seorang suami untuk selalu ada buat kita.
Maya bangkit dan berusaha untuk tidak memikirkannya. Saat membuka pintu kamar mandi, sudah ada Bu Farah yang menunggu di depan pintu.
"Nak, apa kau tidak apa-apa? " tanya Bu Farah khawatir.
"Menjalani kehamilan sendiri itu sulit ya, Bu" ucap Maya sedih.
" Tidak Maya, kamu tidak sendiri, ada ibu dan Jihan di sini" Bu Farah menyemangati.
"Hikss..., maafin Maya ya, Bu, maya sudah merepotkan ibu dan Jihan!"
" Tidak, kami tidak merasa merepotkan olehmu, ibu malah senang kau ada di sini" Bu Farah memeluk Maya.
Maya hanya menangis, merasa terharu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, kenapa dia sangat mudah menangis? apa karena kehamilannya? dia pun tidak tahu.
"Ada apa ini? kok pada main peluk-peluk?" tanya Jihan, berjalan ke arah mereka.
"Akhh..Jihan, maaf" Maya merasa sungkan, karena memeluk bu Farah, sementara ada Jihan di sana.
"Jangan merasa sungkan kak, aku juga senang kakak ada di sini jadi aku punya teman selain ibu" ucap Jihan.
"Ahh.. kalian membuatku terharu" Maya kembali ingin menangis, tapi ia berusaha menahannya.
H**ahaha....
Bu Farah dan Jihan tertawa melihat tingkah Maya.
"Sudah-sudah, ayo kita makan! tidak baik untuk ibu hamil telat makan" Bu Farah menyuruh mereka berhenti.
Mereka akhirnya pergi ke meja makan untuk menyantap sarapan pagi. Setelah selesai Jihan bersiap untuk pergi bekerja di toko.
"Kamu kerja di mana, ji? tanya Maya.
"Aku kerja di toko sembako, kak. Yang di dekat taman tempat kakak pingsan kemarin"
"Ouuuh... dekat ternyata"
"Iya, hanya 7 menit"
"Boleh aku ikut kamu ke toko? aku bisa membantumu,mungkin!" Maya ingin ikut dengan Jihan bekerja, dia tidak ingin menjadi beban keluarga ini.
"Gak usah kak, kakak di sini aja" tolak Jihan
"Apalagi, kakak masih sering mual" sambung Jihan.
"Yahh.. baiklah. Hati-hati" Jihan hanya mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Disisi key.
"Ayo kita mencari Maya sekarang!" ucap key.
Key sudah sangat tidak sabar untuk segera mencari sang istri. Sejak semalam dia merasa gelisah, sulit untuk tidur.
"Lo urus sekertaris Lo terlebih dahulu, baru kita pergi untuk mencarinya" ucap Tama.
"Maya lebih penting darinya"
"Memang, tapi apa Kau membuat Maya tidak ingin kembali bersamamu, karena masih ada sekretarismu itu?" ucap Tama dengan penuh penekanan.
Key berfikir, "Biar Bagas yang mengurusnya" ucap key, menoleh kearah Bagas. Bagas hanya mengangkat jempolnya setuju.
"Selesaikan? apalagi? ayo kita cari!"
Tama memutar bola matanya malas, dia berdiri dan melangkah keluar dari markas untuk mencari istri dari sahabatnya itu.
Mereka sudah berada di mobil dan menuju titik terakhir di mana mereka melihat Maya dan Jihan berhenti sebelumnya.
Saat Tama menyuruh Key untuk istirahat semalam, dia kembali merasa CCTV untuk mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Maya dan Jihan.
Tama melihat taxi itu berhenti di depan sebuah gang di jalan ssxx dan Tama melihat Maya dan Jihan berjalan masuk ke dalam gang itu.
Mereka telah sampai di depan gang. Tama dan key mencoba untuk berjalan masuk ke dalam gang itu.
"Apakah rumah gadis itu jauh dari sini?" tanya Key.
"Gue juga nggak tahu, tapi ya kita coba tanya sama warga sekitar, Apakah mereka mengenal gadis itu?"
"Apa kau sudah tahu siapa nama gadis itu?"
"Sudah, gue sudah mencarinya semua biodatanya semalam"
Tama dan Key yang melihat para gerombolan ibu-ibu, anak-anak serta bapak-bapak, ini kesempatan untuk mereka mencari tahu di mana rumah Jihan.
"Permisi, Bu" sapa Tama.
"Ada apa tuan?" tanya salah satu warga disana.
"Apa kalian tahu di mana rumah gadis yang bernama Jihan?"
"Jihan? anaknya Bu Farah?"
"Iya benar, anaknya Bu Farah, apa ibu tahu di mana rumahnya?"
"Oh rumahnya Bu Farah, kalian tinggal lurus, belok kanan, terus lurus kembali, ada rumah kayu dengan kursi bambu di depan rumahnya" jelas seorang ibu disana.
"Terima kasih, Bu" ucap Tama, sedang key, dia hanya menjadi pendengar disana.
Key dan Tama pergi mengikuti jalan yang ditunjuk salah satu warga.
"Apakah yang itu rumahnya?" tanya Tama. Saat mereka melihat rumah yang persis yang disebutkan salah satu warga tadi.
"Gue rasa iya" ucap key.
Key melangkah kearah rumah itu dan mengetuknya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Permisi" ucap key.
"Tunggu sebentar" terdengar suara dari dalam.
Tama dan key menunggu pintu terbuka.
Ceklekkk....
Bu Farah kaget melihat dua pria asing di depan rumahnya.
"Maaf, anda sendang mencari siapa?" tanya Bu Farah.
"Apa benar ini rumahnya Jihan anak dari Bu Farah?" tanya Tama.
"Benar, saya bu Farah ,Jihan anak saya" Tama dan key bernafas lega mendengarnya, akhirnya mereka menemukan.
" Ada apa anda mencari anak saya?" tanya Bu Farah
"Sebenarnya kami tidak mencari anak ibu. kami mencari seorang perempuan yang pergi bersama Jihan dan tinggal di rumah ini" jelas Tama.
Bu Farah mulai berpikir, ia menatap kedua pria yang ada di depannya, " apakah mereka tahu jika ada Maya di sini? apa salah satu dari mereka adalah suami Maya" batin Bu Farah.
" Bu Farah" Panggil key. Dia bingung kenapa Bu Farah hanya terdiam di sana.
"Akh.. ayo masuk dulu tuan-tuan, kita berbicara di dalam" Bu Farah mempersilahkan key dan Tama untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Maaf, kursinya hanya kursi plastik" ucap Bu Farah
" Tidak apa-apa nyonya" ucap Tama.
"Saya buatkan Anda dulu minum" Bu Farah bergegas pergi kenapa untuk membuat minuman.
" Di luar ada siapa, Bu?" tanya Maya yang baru saja keluar dari kamar.
" Ibu juga nggak kenal" Maya hanya ber'oh.
" Mau Maya bantu, Bu?" tawar Maya.
" Boleh, kamu bawa ini keluar,yah. Ibu akan ambil kue di lemari" Bu Farah memberikan Maya nampan yang berisi dua gelas minuman.
Maya membawa nampan itu keluar dengan hati-hati. Maya hanya menunduk memperhatikan gelas itu agar tidak tumpah. Dua tidak memperhatikan sekitarnya dan tidak memperhatikan siapa tamunya.
Key yang melihat Maya hanya menunduk dan berjalan kearah sangat kaget. Perasaan campur aduk, ingin rasanya dia berlari dan memeluk sang istri.
Matanya mulai berkaca-kaca, dia merasa ingin berteriak memanggil nama sang istri agar dapat melihatnya.
Maya meletakkan minuman itu.
" Boo-boo" ucap key lirih.
Maya mendongak mendengar nama panggilan itu. Ia sangat kaget saat mengetahui siapa yang ada di depannya saat ini.
"Gor... gorge" ucap Maya kaget.
.
.
.
__ADS_1
.
. Lanjut....